NovelToon NovelToon
Janda Muda Pilihan CEO

Janda Muda Pilihan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: nazla bibah

Bagi Nazya, janda muda yang membawa trauma mendalam akibat mantan suaminya yang abusif, pernikahan adalah neraka yang tidak akan pernah ia masuki lagi. Namun, takdir berubah dalam semalam ketika mobil mewah milik Dafa Mahardika, seorang CEO dingin dan berkuasa, menabrak motor yang ia tumpangi bersama ayahnya hingga membuat Nazya mengalami cacat sementara.
Dihantam rasa bersalah sekaligus ketertarikan kuat pada pandangan pertama, Dafa langsung menyetujui tuntutan ayah Nazya untuk bertanggung jawab dengan cara menikahi putrinya. Nazya yang pasrah terpaksa menurut demi sang ayah.
Pernikahan mewah pun terjadi, namun penderitaan baru justru dimulai di kepala Nazya. Terjebak dalam trauma masa lalu, Nazya selalu ketakutan setiap kali berdua dengan Dafa—ia tak berani makan duluan, takut meminta nafkah, dan refleks menghindar karena mengira sang suami akan memukulnya.
Di tengah dinding trauma yang begitu tebal, mampukah kelembutan dan perlindungan posesif dari sang CEO menyembuhkan hati Nazya y

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazla bibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34: JAMUAN MAKAN MALAM YANG HANGAT

Sinar matahari sore yang keemasan perlahan-lahan mulai tenggelam di balik cakrawala barat, digantikan oleh hamparan langit malam yang dihiasi kerlip bintang di atas langit puncak bukit kediaman utama Mahardika. Lampu-lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit aula utama kini telah dinyalakan, memancarkan cahaya kekuningan yang hangat dan sangat mewah, memantul sempurna di atas lantai marmer mengkilap. Suasana di dalam rumah megah tersebut terasa begitu tenang, damai, dan dipenuhi oleh kehangatan kekeluargaan yang sudah sangat lama tidak dirasakan oleh penghuninya.

Di dalam kamar utama lantai atas, Nazya Humaira sedang berdiri di depan cermin rias besar sembari merapikan gaun rajut panjang berwarna pastel yang dipadukan dengan jubah kardigan sutra yang longgar. Wajah cantiknya yang polos tanpa riasan berlebih memancarkan rona kebahagiaan yang teramat manis. Sore panjang yang dihabiskan di dalam dekapan hangat Dafa telah mengusir seluruh rasa lelah dan sisa ketegangan batinnya. Namun, saat Nazya mencoba melangkah sedikit menjauhi meja rias, ia kembali menahan napasnya sembari memegangi tepi meja. Kaki kanannya masih terasa kaku dan nyeri jika dipaksakan menumpu berat badan secara tiba-tiba, sebuah tanda nyata bahwa kondisi pincangnya masih membutuhkan waktu pemulihan.

Sebelum tubuh ramping Nazya sempat kehilangan keseimbangan, sepasang lengan kekar yang sangat familiar dan kokoh sudah melingkar sempurna di pinggang rampingnya dari arah belakang. Aroma maskulin parfum kayu cendana yang mahal langsung menghujam masuk ke dalam pusat kesadaran sang janda muda, membawa rasa aman yang mutlak. Dafa Mahardika telah berdiri di belakang istrinya, mengenakan kemeja kasual premium berwarna abu-abu gelap yang sengaja dibuka dua kancing teratasnya, menampilkan kesan maskulin yang sangat dominan namun santai.

Dafa merendahkan wajah tegasnya, menempelkan bibirnya yang hangat di pelipis Nazya sembari memberikan kecupan lumat yang lama di sana. "Sudah kubilang untuk menungguku, Nazya. Jangan pernah mencoba menguji kekuatan kakimu sendiri tanpa pengawasanku," bisik Dafa dengan suara baritonnya yang berat, rendah, dan dipenuhi oleh aura posesif yang teramat kental.

Nazya mendongakkan wajah cantiknya sedikit, menatap pantulan mata elang suaminya di dalam cermin dengan senyuman ketulusan yang teramat manis. "Aku hanya ingin bersiap-siap lebih cepat, Mas. Aku tidak sabar ingin menemani Ayah Handoko makan malam bersama di bawah. Ini adalah makan malam pertama kita sebagai keluarga yang utuh di rumah ini."

Mendengar penuturan manis istrinya, pendaran kegelapan di sepasang mata Dafa seketika melunak menjadi kehangatan romantis tingkat tinggi. Tanpa membuang waktu atau memberikan bantahan, Dafa langsung menyusupkan lengan kekarnya di bawah lutut Nazya dan mengangkat tubuh ramping sang janda muda ke dalam gendongan bridal style-nya yang sangat protektif. Nazya terpekik pelan sembari refleks mengalungkan kedua tangan kurusnya di leher kokoh Dafa, membiarkan dirinya sepenuhnya dikuasai oleh pria dominan di hadapannya.

Dafa membawa Nazya melangkah keluar dari kamar utama, menuruni anak tangga melingkar yang megah dengan langkah kaki yang panjang, mantap, dan penuh wibawa seorang pemimpin puncak. Sepanjang jalan menuju ruang makan utama, tidak ada satu pun pelayan yang berani bersuara; mereka semua menundukkan kepala dengan hormat yang teramat dalam melihat betapa Tuan Muda mereka memperlakukan sang istri bagaikan sebuah permata paling berharga yang tidak boleh menapakkan kakinya di atas lantai sedetik pun.

Saat mereka tiba di ruang makan utama yang dikelilingi oleh dinding kaca besar, Pak Handoko sudah duduk dengan nyaman di salah satu kursi utama yang telah dilengkapi dengan bantal penopang medis yang empuk. Kondisi pria tua itu tampak jauh lebih segar bugar seutuhnya setelah menghabiskan waktu istahat di paviliun barat. Sisa-sisa efek racun berbahaya yang sempat membuat beliau kritis di ICU kini telah sepenuhnya dinetralkan oleh tim dokter pribadi bentukan Dafa. Guratan senyum hangat dan binar mata penuh kebanggaan terpancar jelas dari wajah tua Pak Handoko saat melihat menantunya menggendong putrinya masuk ke dalam ruangan.

Dafa mendudukkan Nazya dengan sangat hati-hati di kursi tepat di sebelah kursi Pak Handoko, lalu mengambil posisi duduk di kursi kepala meja yang memancarkan otoritas tertinggi. Dafa kemudian memberikan isyarat tangan yang tak terbantahkan kepada kepala pelayan yang berdiri di sudut ruangan.

Dalam hitungan menit, deretan pelayan mulai menyajikan berbagai hidangan makan malam di atas meja panjang bermaterial kayu ek solid tersebut. Aroma masakan yang menggugah selera langsung memenuhi ruangan. Sesuai dengan instruksi ketat Dafa sebelumnya, seluruh menu yang disajikan malam itu telah dikurasi secara khusus oleh ahli gizi: sup ginseng ayam kampung yang kaya akan nutrisi untuk memulihkan energi Pak Handoko pasca-racun, ikan salmon panggang segar dengan sayuran organik, serta hidangan penutup yang manis kesukaan Nazya.

"Bagaimana istirahatmu di paviliun, Ayah? Apakah fasilitas dan tim medis di sana sudah memenuhi semua kebutuhanmu?" tanya Dafa dengan suara baritonnya yang berat namun dipenuhi rasa penghormatan mutlak yang tinggi kepada mertuanya.

Pak Handoko terkekeh pelan, menganggukkan kepalanya dengan penuh rasa haru yang mendalam di dalam lubuk sanubarinya. "Lebih dari cukup, Dafa. Ayah merasa seperti terlahir kembali. Paviliun itu terlalu mewah untuk orang tua seperti Ayah, dan tim medismu merawat Ayah dengan sangat baik. Ayah benar-benar tidak tahu bagaimana cara membalas seluruh kebaikan dan perlindungan yang sudah kamu berikan kepada keluarga kecil kami ini."

Mendengar ucapan sang ayah, Nazya meraih jemari keriput Pak Handoko dan menggenggamnya erat, matanya berkaca-kaca oleh luapan rasa syukur. "Ayah tidak perlu berpikir seperti itu. Mas Dafa melakukan semua ini karena beliau sangat menyayangi kita, Yah. Yang penting sekarang Ayah fokus untuk makan yang banyak agar tubuh Ayah bisa sembuh total seutuhnya."

Dafa mengangguk tegas, menyetujui ucapan istrinya seutuhnya. "Nazya benar, Ayah. Menjamin keselamatan, kesehatan, dan kebahagiaan Ayah serta Nazya adalah tanggung jawab mutlak yang berada di bawah kekuasaanku. Ayah tidak perlu mengkhawatirkan hal lain lagi. Nikmatilah makan malam ini sebagai awal baru kehidupan kita yang damai."

Atmosfer di meja makan malam itu mengalir dengan sangat hangat, intim, dan dipenuhi oleh obrolan kekeluargaan yang menyentuh hati. Pak Handoko menceritakan betapa takjubnya melihat kedisiplinan para pengawal di rumah ini, sementara Nazya sesekali menanggapi dengan tawa kecilnya yang teramat merdu, meruntuhkan seluruh gunung es keangkuhan Dafa. Sepanjang makan malam berlangsung, tangan kiri Dafa tidak pernah melepaskan genggamannya di atas paha ramping Nazya di bawah meja, memberikan remasan-remasan lembut penuh penekanan kepemilikan posesif yang membuat detak jantung istrinya selalu bergetar halus.

Setelah jamuan makan malam selesai, Pak Handoko meminta izin untuk kembali ke paviliunnya terlebih dahulu karena tim medis sudah bersiap untuk memberikan vitamin malam. Setelah memastikan sang mertua diantar dengan aman, Dafa kembali mengalihkan perhatian mutlaknya kepada sang istri yang masih duduk di sampingnya. Pria itu bangkit berdiri, lalu mengangkat tubuh ramping Nazya kembali ke dalam dekapan dadanya untuk dibawa ke kamar utama.

Namun, tepat saat langkah kaki tegap Dafa baru saja melewati ambang pintu ruang makan menuju aula utama, keheningan rumah megah itu mendadak pecah oleh suara derap langkah kaki yang terburu-buru dari arah lobi depan.

Mikael melangkah masuk dengan napas yang sedikit memburu, wajah asisten kepercayaan Dafa yang biasanya selalu tenang dan datar itu kini tampak pias, dipenuhi oleh ekspresi ketegangan yang teramat pekat. Langkah taktisnya berhenti tepat tiga langkah di depan Dafa, lalu ia membungkuk dalam dengan gestur yang sangat darurat.

"Tuan Muda..." ucap Mikael, suaranya bergetar rendah, mencoba menahan diri agar tidak terdengar oleh para pelayan lain. "Ada situasi darurat yang baru saja terjadi di perimeter luar bukat kediaman utama."

Sepasang mata elang Dafa seketika menyipit tajam, memancarkan pendaran kegelapan yang dingin dan sangat mengintimidasi. Lengan kekarnya refleks mempererat pelukannya pada tubuh ramping Nazya, menyembunyikan kepala istrinya di balik dada bidangnya untuk memberikan perlindungan instan. "Katakan, Mikael. Ada apa?" tanya Dafa dengan suara baritonnya yang berat dan menusuk.

Mikael mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata elang sang CEO dengan tatapan yang menggantung penuh ancaman. "Tim pengaman luar baru saja menemukan salah satu mobil patroli kita dalam kondisi hancur di gerbang bawah bukit. Seluruh sistem komunikasi perimeter luar terputus total dalam waktu tiga puluh detik yang lalu, Tuan Muda. Seseorang... atau sekelompok orang yang sangat profesional, baru saja berhasil menembus lapisan pengaman pertama kita dan sedang bergerak naik menuju rumah utama saat ini."

DEG!

Nazya menahan napasnya yang pendek, tangannya meremas kuat kemeja abu-abu Dafa saat rasa dingin ketakutan tiba-tiba kembali menjalar di sekujur nadinya. Ketenangan yang baru saja mereka kecap beberapa jam lalu seketika runtuh, digantikan oleh bayang-bayang bahaya yang kembali mengintai di kegelapan malam puncak bukit Mahardika, meninggalkan tanda tanya besar tentang siapa musuh maut yang berani menantang langsung kekuasaan mutlak sang CEO dominan di sarangnya sendiri.

1
bagus kak, detailnya juga oke, kayaknya authornya rajin riset nih🤭 btw kalo ada waktu mampir lagi ke karyaku ya, biar bisa saling dukung💪
hidup janda!!🤣
kokohnya🤭
/Cry//Cry/
sayangnya si janda masih trauma mas🤭
suasana langsung dramatis, di saat beliau terpikat oleh janda🤭
lah? teplanting ke mana tuh janda🤣
untung orangnya masih idup wak
hayoloh ...🤭
langsung pada protol🤣
kena deh🤭
untung masih ada yang peduli ya💪
nyaras apa nyaris kak🤭
sampe trauma gitu loh🤨
padahal lakinya yang gak becus cari nafakh🤨
kirain ditinggal mati
lakinya baru mati, janda anget nih🤭
authornya cukup ngerti tentang permesinan ya🤭
disuruh cepet kawin kah wkwk🤭
halo kak, aku mampir🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!