Mereka membunuhnya karena dia manusia murni.
Kesalahan terbesar yang pernah Benua Sangakama buat.
Arjuna Sasrabahu bangkit dari kematian membawa sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari dendam, sebuah sistem kekuatan warisan naga abyss yang haus akan darah dan kekuasaan. Di dunia yang memandang ras manusia sebagai kotoran paling hina, seorang pria yang seharusnya sudah mati justru sedang menghitung satu per satu nama di daftarnya.
Tujuh prefektur. Tujuh ras. Satu manusia murni dengan kalkulasi yang tidak pernah meleset.
Pertanyaannya bukan apakah dia akan menang? Pertanyaannya adalah berapa banyak yang akan jatuh sebelum Benua Sangakama menyadari kesalahan mereka?
[Ding!]
[Devil Dragon System teraktivasi sepenuhnya. Inang diterima]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BE SA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Fusion Protocol
Reploid besar itu mengangkat kepalan mekanisnya untuk ketiga kalinya.
Manusia yang tergantung di rantai energi itu sudah tidak bersuara, dan kepalanya terkulai ke depan dengan darah menetes dari dagu ke tanah.
Kepalan itu menghantam dada manusia itu dengan tenaga penuh. Suara retak yang terdengar bukan lagi tulang yang retak, melainkan tulang yang hancur. Tubuh manusia itu tidak bergerak lagi.
"Sayang sekali," decih Reploid besar itu, tawanya meledak penuh kepuasan. "Sampah ini tidak tahan lama. Benar-benar manusia sampah!"
Reploid kedua mendekati tubuh yang sudah tidak bernyawa itu. Lensa merahnya memindai dengan dingin.
"Buang saja," perintah Reploid kedua, suaranya datar seperti mesin yang menyelesaikan pekerjaan. "Tidak ada gunanya lagi. Walaupun sampah sayang tidak bisa didaur ulang, cih!”
Arjuna mengamati dari bayangan pohon, dan matanya merah membara.
Sesuatu bergerak di dalam dadanya, bukan kesedihan, bukan pula belas kasihan. Sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari itu.
"Ras manusia," gumam Arjuna, suaranya rendah dan mengerikan, "Kalian berani membunuh ras manusia di hadapanku."
Panel hologram bergetar di gelangnya.
[Jantung ras Reploid terdeteksi dalam radius 30 meter]
[Jantung ras Demonia sub ras Vampire tersedia di inventaris. Aktifkan penyerapan?]
Arjuna menjentikkan jari.
[Penyerapan diaktifkan]
[Skill Pasif Baru: Crimson Lifesteal — Mencuri 20% energi vital dari setiap serangan yang diterima]
[Artefak Amuk Marugul tersedia di inventaris. Aktifkan?]
Arjuna tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan dengan hentikan jari.
Dia melangkah keluar dari bayangan pohon, dan cahaya merah mulai memancar dari seluruh tubuhnya.
Tiga Reploid berbalik serentak. Lensa merah mereka memindai sosok yang baru muncul dengan cepat.
"Siapa kau?" bentak Reploid besar itu, suaranya penuh penghinaan yang sudah menjadi kebiasaan. "Manusia murni lain yang ingin mati?"
"Manusia murni? Ingin mati?" ulang Arjuna, senyuman muncul di sudut bibirnya tapi tidak sampai ke matanya. "Kalian selalu menggunakan kata itu seolah itu adalah penghinaan terbesar yang bisa kalian lontarkan."
Arjuna mengangkat tangan kanannya, dan cahaya keemasan yang menyilaukan meledak dari tubuhnya.
Gold Magna Cyborg Armor muncul lapis demi lapis menutupi setiap inci tubuhnya dari kaki, hingga bahu dengan armor ksatria keemasan yang megah, dan menakutkan.
Panel ornamen bersayap mengembang di punggungnya, setiap detail armor memancarkan aura yang membuat udara di sekitarnya bergetar.
Hanya wajah Arjuna yang terbuka. Matanya merah membara di balik keagungan armor keemasan itu.
"Artefak Amuk Marugul," desah Arjuna, suaranya bergema seperti dua nada berbicara bersamaan. "Sudah saatnya kalian merasakan apa artinya melecehkan ras manusia."
Reploid besar itu tertawa, suaranya meledak penuh penghinaan.
"Armor bagus untuk sampah manusia," ejeknya, energi mekanis mengumpul di kedua tangannya. "Tapi armor tidak akan mengubah fakta bahwa kau hanyalah kotoran yang berjalan."
"Kotoran?" ulang Arjuna, kepalanya miring sedikit dengan ekspresi yang jauh lebih mengerikan dari kemarahan biasa. "Kalian membunuh manusia yang tidak berdaya di hadapan kalian, lalu menyebut kami kotoran?"
Kemudian tawa licik keluar dari bibirnya. "Izinkan aku membuktikan siapa yang sebenarnya kotoran di sini."
Devil Phantom Raijin secara otomatis aktif sendiri, domain 20 meter itu terbentuk seketika di sekitar Arjuna dengan energi merah yang berputar seperti badai.
Arjuna melesat maju dengan kecepatan domain, Abyssal Fang berkilau di tangan kanannya.
Reploid besar itu bergerak menghindari dengan kecepatan yang mengejutkan, tubuh mekanisnya melompat ke kiri dengan presisi yang sempurna.
Tebasan Arjuna membelah udara kosong.
"Hah," desah Reploid besar itu, lensa merahnya berkedip dengan analisis yang cepat. "Domain amplifikasi kecepatan. Radius 20 meter. Lompatan instan jarak pendek."
Reploid kedua, dan ketiga bergerak menjepit Arjuna dari dua sisi sekaligus. Serangan mekanis mereka terkoordinasi dengan sempurna.
"Kami sudah membaca pola seranganmu," ucap Reploid kedua, tinjunya menghantam sisi kiri Arjuna dengan tenaga penuh, "Manusia murni tidak akan pernah bisa melampaui kalkulasi Reploid."
Armor keemasan Arjuna menyerap sebagian benturan, tapi energi mekanis Reploid itu tetap menembus, dan menciptakan luka ringan di sisi tubuhnya.
Reploid ketiga menyerang dari kanan, dan tendangannya menghantam paha Arjuna dengan kecepatan yang melampaui antisipasi.
Arjuna terhuyung satu langkah ke belakang, dan darah tipis mengalir dari sudut bibirnya.
Panel hologram berkedip.
[Crimson Lifesteal diaktifkan: 20% energi vital dari serangan masuk diserap]
[Artefak Amuk Marugul diaktifkan: 50% kerusakan yang diterima dikembalikan ke penyerang]
Reploid kedua, dan ketiga tiba-tiba merasakan sesuatu yang tidak pernah mereka antisipasi.
Energi merah gelap memancar balik dari tubuh Arjuna, dan menghantam mereka seperti gelombang kejut yang tidak bisa dihindari.
"Apa ini?!" jerit Reploid ketiga, tubuhnya terpental ke belakang dengan luka yang jauh lebih parah dari serangan yang baru saja dia lancarkan.
Arjuna berdiri tegak, dan luka ringannya mulai menutup perlahan. Karena Crimson Lifesteal yang bekerja tanpa henti.
"Menarik," ucap Arjuna, suaranya dingin dan penuh kalkulasi. "Kalian bisa membaca domain, dan pola gerakanku. Menarik"
Senyuman licik kembali merayap di wajahnya. "Tapi kalian tidak bisa membaca artefak milikku."
Reploid besar itu mundur dua langkah, lensa merahnya berkedip dengan frekuensi yang tidak pernah Arjuna lihat sebelumnya.
"Protocol: Fusion Mechanoid!" ucap mereka bertiga serentak, suaranya berubah menjadi tiga nada sekaligus seperti mesin yang membaca perintah dari dalam. "Diaktifkan!"
Tiga Reploid itu bergerak serentak ke titik yang sama.
Tubuh mereka saling mendekat, panel armor membuka, dan sambungan mekanis terbuka seperti pintu yang menunggu untuk dikunci.
Sendi bertemu sendi, baja menyatu dengan baja, dan energi mekanis ketiganya bergabung menjadi satu arus yang mengerikan.
Ledakan cahaya merah mekanis membutakan seluruh jalanan tanah itu. Ketika cahaya itu padam, satu sosok raksasa berdiri di hadapan Arjuna.
“Hahahaha … aku akan mencabik-cabikmu manusia sampah! Hahahaha …,” ujar Reploid Raksaka dengan tiga suara senada.
Tingginya tiga kali lipat Reploid biasa sekitar 700 cm, armor segmental hitam pekatnya kini dipenuhi retakan cahaya merah yang berdenyut seperti jantung yang berdetak.
Lensa merahnya bukan lagi sepasang, melainkan enam sekaligus, tersusun simetris di wajah yang setengah manusia setengah mesin.
"Spirit Awakening Realm: Silver Star," gumam Arjuna, matanya memindai sosok raksasa itu dengan kalkulasi yang tidak berhenti. "Sementara, tapi cukup berbahaya."
Raksasa Reploid itu mengangkat kepalan yang sebesar batu besar, dan energi mekanis berputar di sekitarnya seperti badai yang siap menghancurkan segalanya.
"Manusia murni." Reploid itu berkata dengan suara yang bergema dari tiga sumber sekaligus, dalam, berat, dan mengerikan. "Kami akan menghapusmu dari Benua Sangakama."
Arjuna tidak mundur satu langkah pun.
"Kalian menyatukan diri karena takut," ucap Arjuna, suaranya tenang seperti permukaan danau di tengah badai. "Tiga Reploid Spirit Awakening Realm harus bergabung hanya untuk menghadapi satu manusia."
Tawa licik meledak dari bibirnya. "Itu bukan kekuatan. Itu keputusasaan."
Panel hologram berkedip di hadapannya.
[Peringatan: Target mencapai Spirit Awakening Realm Lapisan 2 sementara hanya bertahan lima menit]
[Kemajuan Kultivasi: Mortal Frame Realm, Lapisan 6: Celestial Star — 0% menuju 5%]
Energi merah dari Gold Magna Cyborg Armor menguat, ornamen bersayap di punggungnya mengembang penuh, dan aura keemasan bercampur dengan merah gelap membentuk pola sisik naga yang berputar di seluruh tubuhnya.
Arjuna mengarahkan Abyssal Fang ke arah raksasa di hadapannya.
"Kalkulasi sudah selesai," desahnya, dua nada suara manusia dan naga bergema bersamaan. "Sekarang giliran aku yang bergerak."