Bram bekerja sebagai marketing di perusahaan retail di Jakarta. Hidupnya hanya kerja, gym, dan cari wanita lewat app atau club. Dia ahli di ranjang tapi takut komitmen. Cerita mengikuti perjalanan Bram yang terus berganti pasangan, menghadapi konflik dari mantan, keluarga, kantor, dan masalah kesehatan. Dia ingin tetap bebas, tapi tekanan semakin besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iskak M, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Malam Yang Berantakan
Pulang kerja jam delapan malam bikin kepala Bram rasanya mau pecah. Dari siang dia dipaksa revisi laporan sama Ria berkali-kali, belum lagi client yang bawel dan deadline yang terus dikejar. Begitu keluar kantor, macet Jakarta Barat langsung menyambut kayak musuh lama.
Lampu kendaraan memenuhi jalanan. Klakson bersahutan. Bram nyender di kursi mobil sambil mengusap wajahnya kasar.
“Anjir... hidup gue gini amat.”
Dia memutuskan berhenti sebentar di mall dekat kantor. Niat awal cuma beli kopi sama rokok biar kepala agak tenang sebelum pulang ke apartemen.
Mall malam itu lumayan ramai. Orang-orang baru pulang kerja masih mondar-mandir cari makan atau sekadar jalan santai. Bram baru aja berdiri di depan pintu masuk ketika suara familiar memanggil dari kejauhan.
“Bram! Woy!”
Dia menoleh.
Seorang perempuan melambaikan tangan sambil nyengir lebar di dekat mobil sedan hitam.
Vera.
Rambutnya sedikit berantakan tertiup angin malam, tapi justru bikin dia kelihatan makin menarik. Tank top hitam ketat dan rok pendek yang dia pakai langsung bikin beberapa orang melirik diam-diam.
“Buset,” Bram ketawa kecil sambil mendekat. “Lo masih hidup ternyata.”
Vera ngakak. “Kurang ajar. Gue malah baru mau bilang lo ngilang.”
Mereka saling tatap beberapa detik sebelum akhirnya sama-sama ketawa. Ada rasa akrab yang langsung muncul lagi meski udah lama nggak ketemu.
“Ngapain di sini?” tanya Bram.
“Nunggu temen tadinya. Tapi dia cancel. Dasar nyebelin.” Vera menyandarkan tubuh ke mobilnya. “Lo free?”
Bram sebenarnya capek banget. Badannya pengen langsung rebahan. Tapi ketemu Vera selalu bikin suasana jadi beda. Cewek itu punya energi liar yang susah dijelasin.
“Kenapa?” tanya Bram balik.
“Ke rooftop gedung sebelah yuk. Pemandangannya bagus. Kita ngobrol santai aja.”
Bram sempat melirik layar ponselnya. Ada chat Laras yang belum dibalas sejak sore.
Hatinya agak nggak enak.
Tapi akhirnya dia menghela napas kecil lalu mengangguk.
“Sebentar doang.”
“Siap, Bos.”
---
Rooftop gedung perkantoran itu cukup sepi malam itu. Angin Jakarta terasa lebih dingin di atas sana. Lampu kota membentang di kejauhan, terlihat cantik meski penuh kemacetan dan hiruk-pikuk.
Vera duduk di bangku beton sambil mengeluarkan botol kecil vodka dari tasnya.
“Lo masih begini aja ya,” kata Bram sambil geleng kepala.
“Ya masa berubah jadi ustazah.”
Mereka minum bergantian sambil ngobrol soal banyak hal. Tentang kerjaan, kehidupan lama mereka di club, teman-teman yang udah sibuk masing-masing.
Awalnya santai.
Lama-lama nostalgia mulai muncul.
“Lo masih sama Laras?” tanya Vera tiba-tiba.
Bram mengangguk pelan. “Masih jalan.”
“Serius?”
“Ya... dicoba.”
Vera menatap Bram sambil tersenyum miring. “Lo tuh bukan tipe cowok serius.”
“Orang bisa berubah.”
“Bisa,” jawab Vera cepat. “Tapi bukan lo.”
Bram cuma ketawa kecil.
Dia sebenarnya sadar Vera ada benarnya. Belakangan hidupnya makin berantakan. Ada Laras yang bikin dia nyaman. Ada Aprilia yang selalu hadir saat dia butuh teman. Ada Ria di kantor yang terus bikin pikirannya kacau. Belum lagi Nina dan semua masalah lain yang belum selesai.
Dan sekarang Vera muncul lagi.
“Dulu lo beda,” kata Vera pelan sambil melihat lampu kota. “Waktu kita sering bareng... lo keliatan lebih hidup.”
“Dulu gue juga lebih goblok.”
“Nah itu baru gue setuju.”
Mereka ketawa lagi.
Vodka terus berkurang sedikit demi sedikit. Suasana malam makin larut. Angin dingin bercampur aroma parfum Vera yang familiar bikin Bram perlahan merasa nyaman.
Jam hampir sebelas malam saat Vera duduk makin dekat.
“Gue kangen ngobrol sama lo,” katanya pelan.
Bram menoleh.
Tatapan mata Vera beda malam itu. Nggak seceria biasanya. Ada rasa sepi yang samar.
“Lo kenapa?” tanya Bram.
“Capek aja.” Vera mengangkat bahu. “Kadang hidup tuh rame, tapi kosong.”
Kalimat itu bikin Bram diam beberapa detik.
Karena anehnya... dia ngerti perasaan itu.
Mereka akhirnya turun ke basement parkiran. Bukan karena sesuatu yang dramatis, tapi karena security rooftop mulai patroli dan menyuruh area segera ditutup.
Di parkiran yang sepi, mereka masih ngobrol sambil duduk di dalam mobil Bram.
Musik pelan mengalun dari speaker mobil.
“Lo masih suka nyetir malem tanpa tujuan?” tanya Vera.
“Kadang.”
“Masih suka kabur dari masalah juga?”
Bram tertawa pelan. “Mungkin.”
Vera menatapnya beberapa saat lalu bersandar santai.
“Lo tahu ga sih,” katanya lirih, “gue selalu nyaman sama lo meski lo brengsek.”
“Wah makasih banget.”
“Pujian itu.”
Mereka tertawa lagi.
Tapi di balik candaan itu, Bram sadar hubungan mereka memang selalu aneh. Tidak pernah benar-benar serius, tapi juga nggak pernah benar-benar selesai.
Malam makin larut.
Akhirnya Bram mengantar Vera ke apartemennya karena kondisi Vera sudah terlalu lelah untuk menyetir sendiri.
Sampai di apartemen, Vera langsung menjatuhkan diri ke sofa.
“Gila... kaki gue pegel,” keluhnya.
“Makanya jangan sok kuat.”
“Bawel.”
Bram mengambil dua botol air dingin dari kulkas lalu melempar satu ke arah Vera.
“Thanks.”
Mereka ngobrol lagi sampai hampir subuh. Kali ini lebih tenang. Tanpa suara musik keras, tanpa lampu club, tanpa kepura-puraan.
Vera cerita soal hidupnya yang makin nggak jelas. Tentang hubungan-hubungan singkat yang bikin capek. Tentang rasa kosong yang datang tiap pulang malam.
Bram cuma mendengarkan.
Untuk pertama kalinya setelah lama kenal, mereka benar-benar ngobrol sebagai manusia biasa.
Menjelang pagi, Vera akhirnya tertidur di sofa sambil memeluk bantal.
Bram menatap sebentar lalu mengambil selimut dan menutup tubuh perempuan itu pelan.
“Tidur aja sana,” gumamnya.
---
Besoknya Bram berangkat kerja dengan mata berat.
Hari itu dia harus kunjungan client seharian. Meeting sana-sini bikin energinya makin habis. Kepalanya penuh revisi, target, dan omelan manager.
Sore hari saat pulang ke apartemen, Vera sudah pergi.
Kunci apartemen dititipkan ke satpam.
“Mas Bram, tadi ada mbak-mbak nitip ini,” kata satpam sambil menyerahkan kunci.
“Oh iya, makasih Pak.”
Begitu masuk apartemen, Bram melihat secarik kertas di meja.
“Thanks buat semalem. Hati-hati ya, Bram. — Vera.”
Bram membaca itu sambil tersenyum tipis.
Hubungan mereka memang rumit. Tapi setidaknya Vera selalu jujur jadi dirinya sendiri.
---
Malam harinya Bram ketemu Laras di kafe langganan mereka.
Begitu melihat Laras duduk di dekat jendela dengan blouse putih dan senyum lembutnya, suasana hati Bram langsung berubah.
Tenang.
Berbeda jauh dari energi Vera yang liar dan meledak-ledak.
“Kangen,” kata Laras sambil memeluk Bram erat saat dia duduk.
Bram membalas pelukannya pelan.
“Gue juga.”
Mereka ngobrol lama malam itu. Tentang kerjaan Laras, tentang makanan aneh yang dia coba minggu lalu, sampai cerita receh soal kucing liar dekat kosannya.
Sederhana.
Tapi justru itu yang bikin Bram nyaman.
Kadang dia heran sendiri kenapa Laras masih mau bertahan sama cowok kayak dirinya.
Setelah dari kafe, mereka jalan santai di taman kecil dekat sana. Udara malam cukup adem, lampu taman remang-remang bikin suasana terasa hangat.
Laras menggenggam tangan Bram pelan.
“Capek ya akhir-akhir ini?” tanyanya.
“Kelihatan banget?”
“Iya.”
Bram tersenyum kecil. “Kerjaan lagi ribet.”
Laras mengangguk paham. Dia nggak banyak menuntut. Itu yang bikin Bram merasa bersalah.
Saat mengantar Laras pulang, mereka berhenti sebentar di depan rumahnya.
Laras menatap Bram beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum malu.
“Apa?”
“Gapapa.”
Bram mendekat lalu mengecup bibirnya singkat.
Lembut.
Hangat.
Tidak liar, tidak penuh nafsu, tapi justru bikin dada Bram terasa aneh.
Laras membalas pelan sebelum menunduk malu.
“Hati-hati ya pulangnya.”
“Iya.”
Bram baru saja keluar dari komplek rumah Laras ketika ponselnya berbunyi.
Aprilia.
Bram, boleh nginap di apartemen kamu malam ini? Aku lagi males sendirian.
Bram menghela napas sambil tersenyum kecil.
Hidupnya benar-benar nggak pernah sepi.
---
Aprilia datang sekitar setengah jam kemudian dengan tas kecil dan wajah lelah.
“Kamu habis nangis?” tanya Bram begitu melihat matanya sedikit merah.
Aprilia menggeleng cepat. “Enggak kok. Cuma capek aja.”
Mereka membeli makanan dulu sebelum naik ke apartemen.
Tidak ada suasana aneh malam itu.
Tidak ada godaan atau permainan seperti biasanya.
Mereka cuma makan sambil nonton film random yang bahkan nggak terlalu diperhatikan.
Aprilia akhirnya rebahan di samping Bram sambil menyandarkan kepala ke dadanya.
“Nyaman,” gumamnya pelan.
Bram mengusap rambutnya perlahan.
“Tidur aja kalau capek.”
Aprilia mengangguk kecil.
“Aku cuma pengen ditemenin malam ini.”
“Iya.”
Lampu kamar dimatikan. Suasana apartemen jadi sunyi.
Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari yang kacau, Bram merasa sedikit tenang.
Subuh-subuh dia terbangun karena suara hujan di luar jendela.
Aprilia masih tidur di pelukannya.
Bram menatap langit-langit kamar sambil menghela napas panjang.
Pikirannya mulai ramai lagi.
Vera muncul kembali setelah lama menghilang.
Laras semakin masuk ke hidupnya.
Aprilia selalu ada di saat yang aneh.
Ria masih jadi sumber stres di kantor.
Belum lagi Nina dan masalah lain yang belum selesai.
Semua bercampur jadi satu.
“Kenapa belum tidur?” suara Aprilia terdengar pelan.
“Tiba-tiba kebangun aja.”
Aprilia mengangkat kepala lalu menatap Bram beberapa detik.
“Kamu banyak pikiran ya?”
Bram tertawa kecil. “Kelihatan banget?”
“Iya.”
Hening beberapa saat.
Lalu Aprilia menggenggam tangan Bram pelan.
“Jangan bikin diri kamu tenggelam sama semuanya.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi cukup bikin Bram diam lama.
btw, sy juga baru mula menulis novel. kalau ada masa terluang bole lah singgah profile saya. terima kasih 😄😍