Kupikir menikah dengan pria yang kucintai adalah awal dari kehidupan yang bahagia. Namun, aku tidak pernah menyangka bahwa musuh terbesarku justru tinggal serumah denganku.
Mertuaku menganggapku hanya menumpang hidup. Aku dipaksa mengerjakan seluruh pekerjaan rumah, difitnah di depan tetangga, diperas secara materi, bahkan harga diriku diinjak setiap hari. Sementara suamiku... selalu memilih mengalah demi ibunya.
"Fitri, mengalah dulu ya. Mama cuma ingin yang terbaik."
Kalimat itu terus kudengar selama tiga tahun pernikahan kami.
Hingga suatu hari, aku sadar. Seorang istri tidak seharusnya berjuang sendirian mempertahankan rumah tangga.
Saat kesabaranku habis dan perceraian menjadi satu-satunya jalan, penyesalan justru datang kepada mereka yang selama ini menghancurkan hidupku.
Sayangnya, beberapa penyesalan memang selalu datang ketika semuanya sudah terlambat.
ikuti untuk bab selanjutnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Pulang Terlambat
Sudah hampir 2 bulan ku bekerja. Aku mulai mengenal teman-teman kantor dan ritme pekerjaanku. Meski setiap hari harus bangun sebelum subuh lalu pulang untuk kembali mengurus rumah, aku tetap bersyukur karena Allah masih memberiku kesehatan.
Hari itu, atasanku meminta seluruh staf administrasi lembur karena laporan bulanan harus selesai malam ini.
"Bu Fitri."
"Iya, Pak?"
"Kalau memungkinkan, hari ini lembur sampai laporan selesai ya."
Aku melirik jam dinding. Baru pukul empat sore. Aku sebenarnya ingin segera pulang agar bisa memasak makan malam tapi aku tidak bisa menolak perintah atasan hanya karena itu.
"Baik, Pak."
Aku mengangguk pelan. Aku segera mengambil ponsel dan mengirim pesan kepada Mas Viyan.
"Mas, hari ini aku lembur ya. Mungkin pulangnya agak malam."
Tak lama kemudian balasan masuk.
"Iya sayang. Hati-hati ya. Nanti kalau kemalaman Mas jemput."
Aku tersenyum membaca pesan itu.
"Enggak usah Mas. Nanti aku naik ojek online saja."
"Kalau begitu kabari terus ya."
"Siap."
Aku kembali bekerja. Pukul setengah delapan malam laporan akhirnya selesai. Aku mengucapkan salam kepada rekan-rekan kerja lalu segera memesan ojek online.
Sesampainya di rumah, suasana sudah sangat sepi. Begitu membuka pintu, Bu Mirna langsung berdiri dari sofa.
"Wah...akhirnya pulang juga."
Aku tersenyum meminta maaf. "Maaf ya, Ma. Tadi lembur."
"Lembur atau jalan-jalan?" Ucap mertuaku.
Aku langsung terdiam.
"Ma? Aku lembur kok sampai malam. Memang ada laporan yang harus selesai, Ma."
"Halah."
Beliau tertawa kecil. "Siapa juga yang tahu."
Dadaku terasa sesak. Beliau bahkan tidak bertanya apakah aku sudah makan atau belum. Yang pertama kali beliau lakukan justru menuduhku.
Aku masuk ke dapur. Ternyata tidak ada makanan yang tersisa. Panci nasi kosong. Lauk juga sudah habis. Aku membuka kulkas. Hanya ada sebotol air minum dan sedikit sambal. Aku menghela napas. Tidak apa-apa. Aku masih punya mi instan. Saat baru mengambil panci kecil, Dinda masuk ke dapur.
"Lho Mbak."
"Iya?"
"Mau masak lagi?"
"Iya."
"Kirain tadi sudah makan sama teman-teman kantor."
Aku hanya tersenyum tipis.
"Belum sempat."
"Oh..." Dinda mengangkat bahu lalu pergi.
Tak lama kemudian Mas Viyan keluar dari kamar. Begitu melihatku sedang memasak mi instan, wajahnya berubah heran.
"Kok makan mi?" tanya mas Viyan.
"Tadi lauknya habis."
"Habis?"
"Iya."
Mas Viyan membuka tudung saji. Benar saja. Semuanya kosong.
"Ma."
Beliau memanggil ibunya. Bu Mirna keluar dari kamar.
"Iya?"
"Lauknya kok enggak disisakan buat Fitri?"
"Lho. Mana Mama tahu dia pulang jam berapa." ucap mertuaku.
"Kan tadi Fitri bilang lembur."
Bu Mirna menggeleng.
"Mama enggak baca chat."
Aku buru-buru menyela. "Sudah enggak apa-apa, Mas. mi instan juga engga apa kok."
Namun Mas Viyan terlihat kecewa. "Harusnya disisakan sedikit."
Bu Mirna langsung memasang wajah tidak senang. "Lho. Kalau lapar ya masak lagi."
"udah mas, Kan enggak susah." Ucap ku kembali menundukkan kepala.
Aku tidak ingin makan malam berubah menjadi pertengkaran.
**
Keesokan paginya. Aku baru saja selesai menjemur pakaian ketika Bu Siska, tetangga sebelah rumah, datang.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Bu Mirna langsung menyambutnya dengan ramah.
"Masuk Bu."
Aku tetap melanjutkan menjemur pakaian di belakang rumah. Namun suara mereka terdengar cukup jelas.
"Mir."
"Iya?"
"Kemarin saya lihat menantumu pulang malam."
"Iya."
"Kerjanya sampai malam ya?" tanya Bu Siska.
Bu Mirna menghela napas panjang. "Katanya sih lembur."
"Katanya?"
"Iya."
"Saya juga enggak tahu benar atau enggaknya." ucap mertuaku.
Aku yang sedang menjepit pakaian langsung menghentikan tanganku.
"Namanya perempuan..."
Bu Mirna melanjutkan dengan nada lirih.
"...kalau sering pulang malam kan enggak enak dipandang tetangga."
Jantungku berdegup kencang.
Beliau... Beliau sedang menanamkan prasangka buruk tentangku. Padahal aku benar-benar bekerja. Aku mengepalkan jemariku kuat-kuat. Aku ingin keluar dan menjelaskan semuanya. Namun aku kembali mengurungkan niat. Aku tidak ingin membuat keributan di depan tetangga.
------
Siang harinya. Saat jam istirahat makan siang, aku duduk sendirian di kantin kantor. Ponselku bergetar. Pesan dari Bu Siska.
"Fitri, maaf ya. Boleh kasih saran? Kalau perempuan sudah menikah jangan terlalu sering pulang malam. Kasihan suaminya."
Aku memejamkan mata. Tanganku gemetar memegang ponsel.
Fitnah itu... Mulai menyebar lagi. Aku membalas singkat.
"Terima kasih masukannya, Bu. Kemarin memang ada lembur dari kantor."
Tak ada balasan lagi. Aku hanya bisa menatap layar ponsel dengan perasaan campur aduk. Hari ini aku di perintahkan untuk menyelesaikan laporan yang lain hingga hari ini pun aku akan lembur kembali.
**
Malam harinya pukul 8 malam, aku baru sampai di rumah. Seperti biasa, piring kotor menumpuk, makanan habis. Aku terpaksa harus memakan mie instan lagi.
Setelah kenyang, aku masuk ke kamar. saat aku sedang melipat pakaian di kamar, Mas Viyan masuk sambil membawa segelas susu hangat.
"Minum dulu."
Aku menerimanya sambil tersenyum.
"Makasih."
Mas Viyan duduk di sampingku.
"Sayang."
"Iya?"
"Kalau memang sering lembur...Mas enggak apa-apa kok."
Aku menatap wajahnya. "Mas percaya kan sama aku?"
Tanpa ragu, Mas Viyan mengangguk. "Mas percaya."
Jawaban itu membuatku lega.
"Tapi..." ucap suamiku lagi.
Aku kembali menegang.
"Kenapa, Mas?"
"Tadi Mama bilang..." lanjut suamiku sedikit ragu.
Beliau berhenti sejenak. "...katanya perempuan yang sering pulang malam biasanya gampang berubah."
Hatiku langsung terasa dingin. Aku menatap suamiku beberapa detik. Lalu tersenyum pahit. Ternyata... Benih keraguan itu mulai ditanam. Bukan dengan amarah. Bukan dengan bentakan. Melainkan dengan kalimat-kalimat sederhana yang perlahan menggerogoti kepercayaan seorang suami kepada istrinya.
"Mas, aku enggak akan berubah. Perkataan itu, perkataan kosong yang tidak ada buktinya. Mas harus percaya sama aku karena aku memang tidak menyembunyikan apapun. Aku hanya kerja, pulang, kerja, pulang mas." Jelas ku.
"Iya sayang, mas percaya kok sama kamu. Maaf sempat terkesan menuduh." Ucap Mas Viyan memeluk ku.
"Iya mas.."
Selepas perkataan itu, kami pun pergi beristirahat.
***
Ucapan Mas Viyan semalam terus terngiang di kepalaku.
"Tadi Mama bilang... perempuan yang sering pulang malam biasanya gampang berubah."
Aku tahu. Mas Viyan memang mengatakan kalau dia percaya kepadaku. Namun, aku juga sadar. Kalimat itu tidak mungkin muncul begitu saja jika Bu Mirna tidak terus-menerus menanamkan prasangka buruk tentangku. Aku menghela napas panjang. Aku harus tetap kuat.
Seperti biasa, pukul empat pagi aku sudah berada di dapur. Hari ini aku memasak nasi goreng, telur dadar, dan sup bening. Saat sedang mengiris daun bawang, Bu Mirna datang sambil menguap.
"Kemarin pulangnya jam berapa?" tanya mertuaku.
"Jam delapan lewat, Ma."
"Oh..."
Beliau membuka kulkas.
"Kerjaan apa sih sampai malam?"
"Ada laporan bulanan, Ma." Jawabku jelas.
"Hmmm..."
Beliau hanya mengangguk kecil. Namun raut wajahnya memperlihatkan kalau beliau tidak benar-benar percaya.
***
Selesai sarapan, Mas Viyan berangkat bekerja lebih dulu. Sebelum keluar rumah, ia sempat mencium keningku.
"Nanti berangkat nya hati-hati ya, Sayang." Ucap Mas Viyan.
"Iya, Mas."
"Kalau hari ini lembur lagi, kabari." Ucapnya lagi.
"Iya."
Aku mengangguk sambil tersenyum. Begitu motor Mas Viyan menghilang dari ujung gang, senyumku ikut menghilang.
"Fitri."
Aku menoleh. Bu Mirna berdiri di ruang tamu sambil melipat tangan.
"Iya, Ma?"
"Kamu sekarang sudah berani ya." Ucapnya dengan nada marah.
"Hah? Berani apa ma?"
"Berani bikin anak Mama enggak percaya sama orang tuanya." Jawab mertuaku menuduh.
Aku langsung menggeleng.
"Enggak, Ma. Aku enggak pernah..."
"Sudah." Beliau memotong ucapanku.
"Dulu Viyan nurut sama Mama. Sekarang apa-apa selalu bilang, 'Fitri bilang begini... Fitri bilang begitu'."
"Ma, aku sama sekali enggak pernah melarang Mas berbakti sama Mama."
"Halah." Beliau tertawa sinis.
"Perempuan memang paling pintar berpura-pura." Ucap mertuaku lagi.
Dadaku terasa sesak. Namun aku memilih berjalan ke kamar ku dan bersiap-siap berangkat lebih awal walaupun mertuaku masih mengoceh di ruang tamu. Setelah mengambil tasku, Aku pun keluar dan berpamitan pada mertuaku.
"Fitri berangkat dulu ya, Ma."
"Terserah." jawab nya dengan sinis.
Tak ada doa. Tak ada ucapan hati-hati. Aku keluar rumah dengan langkah berat.
Bersambung...