NovelToon NovelToon
The System'S Guide To Ruining The Villainess

The System'S Guide To Ruining The Villainess

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Transmigrasi / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: DinaRyu

Up setiap hari

Stella Odette Rosewood terbangun dengan reputasi hancur, dikelilingi teman toxic, dan adik tiri bermuka dua yang ingin merebut segalanya termasuk Neo Hayes Blake, CEO dingin incaran banyak orang.

Satu-satunya jalan keluar adalah "Vix", sistem berwujud rubah ekor sembilan cerewet yang memaksanya menjalankan berbagai misi demi bertahan hidup. Stella pun mengubah taktik: membuang orang-orang toxic, merombak penampilannya, dan sengaja mendekati Neo untuk menghancurkan rencana adik tirinya.

Awalnya, interaksi mereka canggung dan Neo terlihat tak peduli. Namun, di balik kelakuan absurd dan omelan Stella pada sesuatu yang tak kasatmata, Neo melihat sosok wanita cerdas yang mati-matian berjuang sendirian.

Saat bahaya sesungguhnya dari intrik keluarga mulai mengancam nyawa Stella, sang CEO mengambil langkah.

Pria dingin itu kini menjadi pelindung posesif yang tak segan menghancurkan siapa pun yang berani mengusik miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DinaRyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 28: Siap Bertempur

System Glitch

[ Misi Selesai dengan Sempurna! ]

[ Peringatan Sistem: Afeksi Neo Blake melonjak tajam! Status saat ini: 40%. Tingkat Obsesi: Berbahaya! Harap Host menjaga jarak aman dari target jika tidak ingin diterkam. ]

Mendengar peringatan Vix, Stella buru-buru menarik pandangannya. Jantungnya berdebar gila-gilaan, nyaris melompat keluar dari tulang rusuknya.

 Sialan. Tatapan Neo barusan benar-benar membuatnya merinding. Ia segera menunduk, membuka tutup pena emas putih itu, dan membubuhkan tanda tangannya di halaman terakhir kontrak dengan tangan yang sedikit gemetar.

"Selesai,"

Stella mendorong map itu kembali ke arah Neo, berdehem pelan untuk menetralkan suaranya.

Ia meletakkan pena itu di atas meja, tidak berani mengembalikannya langsung ke tangan Neo.

"Kontraknya sudah sah. Timku akan segera memulai pra-produksi siang ini."

Neo menatap pena yang diletakkan Stella. Pria itu mengambilnya dengan gerakan pelan, pandangannya masih tidak lepas dari wajah Stella yang kini sedikit merona merah.

"Kau selalu tahu cara bermain api, Rosewood," bisik Neo dengan suara serak yang mematikan.

Menyisipkan pena itu kembali ke saku jasnya, hal yang membuat Liam di pojok ruangan membelalakkan mata, karena Neo tidak pernah menggunakan barang yang sudah disentuh orang lain tanpa disterilkan lebih dulu.

"Pastikan kau tidak menangis saat kau akhirnya terbakar nanti."

Stella memaksakan senyum tengilnya, meski lututnya sedikit lemas. "Aku lebih suka menjadi pihak yang menyalakan apinya, Tuan Blake."

Neo menyeringai tipis, seringai yang sangat gelap dan mempesona. "Kita lihat saja. Omong-omong soal api, aku punya sebuah pemberitahuan untukmu."

Pria itu membuka laci mejanya yang lain, mengeluarkan sebuah amplop tebal berwarna emas dengan segel lilin merah berlambang keluarga Rosewood. Ia melempar amplop itu ke atas meja.

"Besok malam, ayahmu akan mengadakan Malam Amal Tahunan Keluarga Rosewood di The Grand Crystal Ballroom," ucap Neo datar, bersandar ke kursinya.

"Blake Group adalah salah satu donatur terbesar dalam acara amal busuk itu. Ayahmu secara khusus mengirimkan undangan ini padaku, dan dia dengan sangat antusias menyebutkan bahwa acara ini akan menjadi momen 'pembersihan nama baik' keluargamu dari skandal."

Stella menatap amplop emas itu dengan jijik. Rasa mual seketika menghantam perutnya.

Ingatan tubuh aslinya kembali berkelebat. Ayah kandung Stella, Richard Rosewood. Pria pengecut yang lebih peduli pada citra publik dan pandangan elit sosial daripada nyawa putri kandungnya sendiri.

Pria yang dengan mudahnya dimanipulasi oleh istri mudanya, Elena (ibu Chloe), untuk terus memojokkan Stella.

Jika Richard menyebutkan 'pembersihan nama baik', itu artinya Richard akan menggunakan acara amal tersebut untuk mengkambinghitamkan Stella di depan publik demi menyelamatkan muka keluarga.

"Acara sirkus para elit," gumam Stella sinis, matanya berkilat dingin.

"Pria tua itu pasti berniat memaksaku meminta maaf di atas panggung dan menyerahkan kursi direktur pada Chloe dengan dalih 'pemulihan mental'. Betapa menjijikkannya."

"Mereka memang menjijikkan," Neo membenarkan dengan mudah, nada suaranya tidak memiliki empati sedikit pun pada keluarga Stella.

Pria itu mencondongkan tubuhnya ke depan. "Tapi yang membuatku peduli adalah... kau sekarang adalah rekan bisnis resmi ku. Wajahmu adalah wajah proyek bernilai ratusan juta Poundsterling milikku."

Mata obsidian Neo menajam, menembus pertahanan mental Stella.

"Jika kau membiarkan pria tua pengecut dan keluarga ularmu itu menginjak-injak harga dirimu di depan publik besok malam, itu sama saja dengan kau mempermalukan Blake Group. Dan aku sangat benci dipermalukan."

Stella mengangkat dagunya, harga dirinya tersentil oleh peringatan Neo.

"Kau pikir aku akan diam saja dan membiarkan mereka menamparku? Jangan bercanda, Neo. Stella yang dulu mungkin akan menangis di pojokan, tapi aku yang sekarang akan memastikan mereka menyesal karena telah mengirimkan undangan itu."

"Buktikan kata-katamu, Nona Tengil," Neo berdiri dari kursinya, merapikan kancing jasnya dengan satu gerakan elegan.

"Besok malam. Jam tujuh tepat. Mobilku akan menjemputmu di lobi apartemen usangmu itu. Kau akan datang ke acara amal itu bukan sebagai putri yang terbuang, melainkan sebagai partner resmi Blake Group. Dan aku tidak menerima penolakan."

Stella membelalakkan matanya. "Tunggu, kau mau kita datang bersama? Sebagai rekan?"

"Jangan terlalu percaya diri. Ini murni untuk menjaga aset bisniskuku agar tidak terlihat menyedihkan," Neo memberikan tatapan meremehkan yang familiar, namun ada kepemilikan yang sangat pekat di baliknya.

"Gunakan sisa harimu untuk mencari gaun yang tidak akan membuat mataku sakit. Keluarlah. Aku punya rapat lain."

Stella mengertakkan gigi, kesal dengan arogansi pria itu, namun di sisi lain ia tahu bahwa kedatangannya bersama Neo Hayes Blake akan menjadi pukulan telak bagi ayahnya dan Chloe.

Dengan senyum sinis, Stella berdiri dan membalikkan badannya.

"Aku akan membuat mereka menangis darah, Tuan Blake," ucap Stella penuh tekad, melangkah keluar dari ruangan itu dengan langkah kemenangan.

Waktu: 15:30 PM

Kediaman Keluarga Rosewood, Ruang Kerja Richard

Asap cerutu tebal memenuhi ruang kerja berpanel kayu ek yang klasik tersebut.

Richard Rosewood, seorang pria berusia awal enam puluhan dengan rambut yang mulai memutih dan perut buncit, duduk di kursi kebesarannya.

Wajahnya memerah karena amarah yang sedari tadi ditahannya.

Di hadapannya, Chloe berdiri menunduk sambil menangis terisak, sementara Elena ibu nya yang selalu tampil elegan dengan perhiasan berlian mengelus bahu putrinya dengan wajah penuh kesedihan yang dibuat-buat.

"Ayah... hiks... aku sudah mencoba membantunya," Chloe terisak, memeras air mata buayanya dengan sangat ahli.

"Aku diam-diam masuk ke timnya untuk memastikan draf proyek Blake Group tidak berantakan. Tapi Kak Stella malah memaki-makiku. Dia menghina Ayah, mengatakan bahwa Ayah adalah pria tua yang tidak berguna, dan dia menanamkan virus ke laptopku sampai semua dataku hilang!"

Richard menggebrak mejanya dengan keras hingga asbak kristalnya terlonjak.

"Anak tidak tahu diuntung! Setelah dia membuat skandal menjijikkan di hotel dan mencoreng nama baik Rosewood, sekarang dia bertindak seolah-olah dia memiliki segalanya karena berhasil menjebak Arthur?!"

"Sabar, Sayang,"

Elena menenangkan suaminya dengan suara lembut bagai racun yang dibalut madu.

Wanita itu memijat bahu Richard dengan pelan. "Stella mungkin sedang mengalami tekanan mental akibat alkohol. Kita tidak bisa membiarkannya menghancurkan kerja kerasmu selama ini. Arthur sudah masuk penjara, jika Stella juga menghancurkan proyek Blake Group, perusahaan kita akan bangkrut."

"Aku tidak akan membiarkan anak kurang ajar itu menghancurkan perusahaanku!" desis Richard, matanya memancarkan ketidaksukaan yang mendalam.

Sebuah kebencian yang selalu ia rasakan setiap kali melihat wajah Stella yang sangat mirip dengan mendiang istri pertamanya yang keras kepala.

"Lalu apa yang harus kita lakukan, Ayah?" tanya Chloe polos, meski di dalam hatinya ia bersorak gembira melihat ayahnya termakan hasutannya.

Richard menghisap cerutunya dalam-dalam, lalu menghembuskan asapnya perlahan.

"Besok malam adalah acara amal kita. Semua media dan petinggi London akan hadir. Aku sudah mengirimkan pesan pada pengacaraku untuk menyusun surat pemindahan kekuasaan dengan alasan ketidakstabilan mental."

Mata Richard berkilat kejam. "Besok, saat dia datang ke acara itu, aku akan memanggilnya ke atas panggung. Aku akan memaksanya meminta maaf pada publik atas skandalnya, dan memaksanya menandatangani penyerahan posisi direktur kepada Chloe di depan semua saksi. Jika dia menolak, aku akan mencoret namanya dari kartu keluarga dan mengusirnya tanpa sepeser pun uang. Mari kita lihat apakah dia masih bisa bersikap sombong saat dia tidak memiliki nama Rosewood di belakangnya."

Chloe menyembunyikan senyum iblisnya di balik sapu tangan. Berakhir sudah riwayatmu, Stella. Besok malam, kau akan hancur hingga tak tersisa.

Waktu: 17:00 PM

Butik Eksklusif 'Maison de Rêve', Mayfair

Stella berdiri di depan cermin raksasa di ruang VIP butik desainer papan atas tersebut.

Ia baru saja selesai bekerja memimpin tim kreatifnya dan langsung kabur ke Mayfair untuk mencari senjata perangnya besok malam.

"Kau benar-benar serius mau memakai uang sisa gadai cincin itu untuk membeli satu gaun saja, Host?" Vix melayang mengitari Stella, menatap label harga sebuah gaun dengan mata terbelalak.

"Harganya 8.000 Poundsterling! Kau bisa makan Wagyu sebulan penuh dengan uang itu!"

"Penampilan adalah segalanya di medan perang sosial, Vix," jawab Stella dingin.

Matanya menyapu deretan gaun mewah di rak. Ia mencari sesuatu yang spesifik. Sesuatu yang tidak terlihat seperti 'putri yang rapuh', melainkan 'ratu yang siap memenggal kepala'.

[ Ding! ]

[ Misi Persiapan Perang Diaktifkan! ]

[ Misi: Pilih gaun paling mengintimidasi, dominan, dan mematikan di butik ini. Buatlah Pangeran Es kehilangan kata-kata saat menjemputmu besok. ]

[ Hadiah: 50 Poin Karma & Aura Karisma Level Maksimal selama acara berlangsung. ]

Stella menyeringai membaca misi tersebut. Ia berbalik menatap pelayan butik yang berdiri dengan sopan di sudut ruangan.

"Nona," panggil Stella.

"Singkirkan semua gaun berwarna pastel, putih, dan merah muda dari ruanganku. Aku tidak mau terlihat seperti kue macaron berjalan."

"B-baik, Nona Rosewood. Lalu, warna apa yang Anda cari?" tanya pelayan itu gugup.

"Merah marun gelap," titah Stella, suaranya dipenuhi otoritas.

"Atau hitam pekat. Berikan aku gaun sutra dengan potongan leher V yang tajam, belahan kaki yang tinggi, dan tanpa renda sama sekali. Aku mau gaun yang terlihat seperti terbuat dari ambisi dan balas dendam."

Pelayan itu menelan ludah, buru-buru mengangguk dan berlari ke ruang penyimpanan. Vix tertawa keras di udara.

"Keluarga ular itu berpikir mereka bisa mempermalukanmu besok malam, ya?" Vix bertengger di atas rak topi.

Stella menatap bayangannya sendiri di cermin. Mata monolid nya berkilat dengan tekad membunuh yang sangat dingin.

"Biar saja mereka bermimpi malam ini, Vix. Karena besok malam, saat aku melangkah masuk ke ruangan itu bersama Neo Hayes Blake... aku akan meratakan acara amal mereka dengan tanah."

To be Continued

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!