NovelToon NovelToon
Istri Paruh Waktu

Istri Paruh Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Romansa Fantasi
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: aurora23

Nadira terpaksa menerima pernikahan kontrak dengan seorang CEO dingin bernama Arka Mahendra demi melunasi utang ayahnya. Dalam perjanjian itu, ia hanya akan menjadi "istri paruh waktu"—seorang istri yang hadir saat keluarga besar membutuhkan, tetapi tak pernah benar-benar dicintai.
Arka masih terikat pada cinta masa lalunya, Selena, yang tiba-tiba kembali setelah bertahun-tahun menghilang. Tanpa ragu, Arka mengabaikan Nadira dan diam-diam menjalin hubungan kembali dengan Selena, membuat Nadira berkali-kali dipermalukan.
Semua orang menganggap Nadira hanyalah perempuan miskin yang mengejar harta keluarga Mahendra. Namun, di balik sikap lembutnya, ia menyimpan identitas yang tak seorang pun ketahui.
Ketika penghianatan demi penghianatan terus terjadi, Nadira memilih pergi tanpa membawa apa pun. Kepergiannya justru membuka rahasia besar yang membuat Arka menyesal seumur hidup.
Sayangnya, saat Arka akhirnya menyadari bahwa perempuan yang ia sia-siakan adalah cinta sejatinya, Nadira telah b

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aurora23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eps 5 : Kontrak yang Menyakitkan

Sore itu langit mulai diselimuti awan kelabu ketika mobil yang membawa Arka dan Nadira meninggalkan gedung Mahendra Group. Pertemuan Nadira dengan Selena masih terus terbayang di benaknya. Kalimat-kalimat wanita itu seolah berputar tanpa henti di dalam pikirannya.

*"Kau hanya pengganti sementara."*

*"Arka tidak menikahimu karena cinta."*

*"Jangan terlalu nyaman di tempatmu sekarang."*

Nadira memejamkan mata sejenak. Ia sadar bahwa semua ucapan Selena sebenarnya tidak sepenuhnya salah. Sejak awal ia sendiri mengetahui bahwa pernikahan ini hanyalah sebuah kontrak. Tidak ada janji cinta, tidak ada impian membangun rumah tangga yang sesungguhnya.

Namun mendengar kenyataan itu diucapkan oleh seseorang yang pernah menjadi bagian dari kehidupan Arka tetap saja meninggalkan rasa perih yang sulit dijelaskan.

Sepanjang perjalanan pulang, Arka kembali tenggelam dalam pekerjaannya. Tablet berada di pangkuannya, sementara sesekali ia membalas pesan dari sekretaris dan para direktur perusahaan.

Nadira memilih memandang keluar jendela.

Keduanya sama-sama diam.

Keheningan itu telah menjadi kebiasaan yang perlahan mulai mereka terima.

---

Sesampainya di rumah, Arka langsung menuju ruang kerjanya.

"Aku masih ada beberapa laporan yang harus kuselesaikan."

Nadira mengangguk.

"Baik."

Pria itu berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

"Kalau kau membutuhkan sesuatu, sampaikan kepada Wati."

"Terima kasih."

Setelah itu Arka menutup pintu ruang kerjanya.

Nadira berdiri beberapa saat di koridor.

Rumah megah itu kembali dipenuhi kesunyian.

Ia berjalan perlahan menuju kamarnya sambil mengingat semua kejadian hari itu.

Tatapan sinis Selena.

Ucapan penuh keyakinan tentang masa lalu Arka.

Dan sikap Arka yang sama sekali tidak menyinggung pertemuan mereka.

Seolah semuanya bukan persoalan yang penting.

Begitu memasuki kamar, Nadira duduk di sofa dekat jendela.

Pandangannya tanpa sengaja tertuju pada sebuah map hitam yang beberapa hari lalu diberikan Arka.

Map itu masih berada di atas meja kecil.

Selama ini ia hanya membaca ringkasan isi kontrak sebelum menandatanganinya. Saat itu pikirannya dipenuhi kecemasan mengenai utang ayahnya sehingga ia tidak benar-benar memperhatikan setiap pasal secara rinci.

Hari ini, entah mengapa, ia ingin membacanya kembali.

Dengan perlahan ia mengambil map tersebut.

Di halaman pertama tertulis jelas:

**PERJANJIAN PERNIKAHAN KONTRAK**

Di bawah judul itu tercantum nama lengkap mereka.

Arka Mahendra.

Nadira.

Jemari Nadira sedikit bergetar saat membuka halaman berikutnya.

Ia mulai membaca satu per satu pasal yang disusun secara resmi oleh tim hukum keluarga Mahendra.

Pasal pertama berisi tujuan pernikahan.

Pernikahan dilakukan atas dasar kesepakatan kedua belah pihak tanpa adanya unsur paksaan dari pihak penyelenggara kontrak.

Nadira tersenyum pahit.

Kalimat itu terdengar begitu formal.

Padahal kenyataannya, keadaanlah yang memaksanya menerima semua ini.

Ia melanjutkan membaca.

Pasal kedua membahas kewajiban masing-masing.

Arka berkewajiban melunasi seluruh utang keluarga Nadira, menyediakan tempat tinggal yang layak, menjamin kebutuhan hidup Nadira selama masa kontrak, serta menjaga nama baiknya di hadapan publik.

Sebaliknya, Nadira berkewajiban menjalankan peran sebagai istri ketika dibutuhkan, menjaga nama baik keluarga Mahendra, merahasiakan seluruh isi kontrak, dan mematuhi semua aturan yang telah disepakati.

Semua itu telah ia ketahui.

Namun semakin ia membaca, semakin berat pula perasaannya.

Halaman demi halaman berlalu.

Hingga akhirnya pandangannya berhenti pada sebuah pasal yang diberi garis tebal.

**Pasal Kesembilan.**

Nadira membaca perlahan.

*"Masa berlaku perjanjian ini adalah satu tahun sejak tanggal akad nikah dilaksanakan."*

Ia mengernyit.

Matanya kembali mengulang kalimat itu.

Satu tahun.

Ia melanjutkan membaca bagian berikutnya.

*"Setelah masa kontrak berakhir, kedua belah pihak sepakat untuk mengakhiri ikatan pernikahan melalui perceraian yang dilakukan secara baik-baik."*

Jantung Nadira berdetak lebih keras.

Tangannya mulai terasa dingin.

Namun isi pasal itu belum selesai.

*"Pihak kedua, yaitu Nadira, tidak berhak menuntut perpanjangan hubungan, harta bersama, kepemilikan aset keluarga Mahendra, maupun kompensasi tambahan dalam bentuk apa pun."*

Napas Nadira tercekat.

Ia membaca lagi kalimat berikutnya.

*"Setelah perceraian resmi dilaksanakan, masing-masing pihak kembali menjalani kehidupan sendiri tanpa membawa hak ataupun kewajiban terhadap pihak lainnya."*

Beberapa detik Nadira hanya menatap lembar kontrak itu.

Seolah pikirannya menolak memahami setiap kata yang tertulis.

Satu tahun.

Hanya satu tahun.

Setelah itu semuanya selesai.

Ia akan kembali menjadi orang asing.

Bukan hanya harus berpisah dengan Arka.

Tetapi juga meninggalkan rumah yang kini ditempatinya, nama Mahendra yang disandangnya, dan kehidupan yang sedang dijalaninya.

Yang paling menyakitkan bukanlah kehilangan kemewahan.

Melainkan kenyataan bahwa sejak hari pertama pernikahan mereka, tanggal perpisahan ternyata sudah ditentukan.

Nadira menutup mata perlahan.

Dadanya terasa sesak.

Ia sebenarnya tidak pernah berharap menjadi istri sungguhan bagi Arka.

Namun mengetahui bahwa akhir dari hubungan mereka telah dirancang sedemikian rinci tetap meninggalkan luka yang tidak kecil.

Ia melanjutkan membaca bagian terakhir kontrak.

*"Selama masa perjanjian berlangsung, kedua belah pihak dilarang membangun hubungan emosional yang dapat mengganggu objektivitas pelaksanaan kontrak."*

Nadira tersenyum pahit.

Bahkan perasaan pun diatur.

Seolah hati manusia dapat dikendalikan semudah menandatangani dokumen.

Ia menutup map itu perlahan.

Ruangan mendadak terasa semakin sunyi.

---

Malam mulai turun.

Lampu-lampu taman menyala menerangi halaman mansion.

Nadira masih duduk di tempat yang sama ketika terdengar ketukan pelan.

"Nyonya."

Suara Wati terdengar dari balik pintu.

"Silakan masuk."

Wati membawa secangkir teh hangat.

"Nyonya belum makan malam."

"Saya belum lapar."

Wati meletakkan cangkir di meja.

"Nyonya terlihat sedang banyak pikiran."

Nadira tersenyum tipis.

"Hanya sedikit lelah."

Wati memperhatikan map hitam yang masih berada di atas meja.

"Nyonya membaca kontrak?"

Nadira mengangguk pelan.

"Iya."

Wanita paruh baya itu tidak bertanya lebih jauh.

Namun dari sorot matanya terlihat bahwa ia memahami perasaan Nadira.

"Saya sudah bekerja di rumah ini cukup lama."

Nadira menoleh.

"Menurut Ibu..."

Wati tersenyum lembut.

"Tidak semua yang tertulis di atas kertas akan berjalan persis seperti yang direncanakan."

Nadira memandangnya penuh tanya.

"Maksud Ibu?"

"Hidup sering kali mempunyai cara sendiri."

"Kadang orang yang paling yakin tidak akan berubah justru menjadi orang yang paling banyak berubah."

Kalimat itu terdengar sederhana.

Namun cukup membuat Nadira berpikir.

Sebelum keluar dari kamar, Wati berkata pelan.

"Jangan terlalu membebani hati, Nyonya."

"Pikiran yang terlalu berat hanya akan membuat hari-hari terasa lebih panjang."

Nadira menganggukkan kepala.

"Terima kasih."

---

Beberapa saat kemudian Nadira memutuskan keluar menuju balkon lantai dua.

Udara malam terasa lebih dingin dibanding biasanya.

Dari kejauhan terlihat lampu-lampu kota yang berkilauan.

Namun pikirannya tetap dipenuhi isi kontrak tadi.

Satu tahun.

Tiga ratus enam puluh lima hari.

Lalu semuanya berakhir.

Ia mencoba menghitung.

Hari pertama telah berlalu.

Artinya waktu mereka sudah mulai berkurang.

Entah mengapa, kesadaran itu justru membuat setiap hari terasa lebih berharga.

Padahal sebelumnya ia hanya berniat menjalankan kewajiban tanpa banyak berpikir.

---

Di sisi lain rumah, Arka masih berada di ruang kerjanya.

Berbagai berkas memenuhi meja.

Namun fokusnya malam itu tidak sepenuhnya tertuju pada laporan perusahaan.

Ia membuka laci meja.

Di dalamnya terdapat salinan kontrak yang sama.

Tatapannya berhenti pada halaman terakhir.

Satu tahun.

Angka itu sejak awal dipilihnya dengan penuh pertimbangan.

Cukup lama untuk memenuhi keinginan sang kakek.

Cukup singkat agar tidak mengganggu kehidupannya.

Baginya, itulah keputusan yang paling logis.

Arka menutup kembali map tersebut.

Ia bangkit dari kursinya dan berjalan menuju jendela.

Tanpa sengaja pandangannya tertuju ke balkon lantai dua.

Di sana terlihat siluet Nadira yang sedang berdiri sendirian memandang langit malam.

Beberapa saat Arka hanya memperhatikannya.

Wanita itu tampak begitu kecil di tengah rumah besar yang megah.

Sendiri.

Sunyi.

Entah mengapa, bayangan itu membuatnya terdiam cukup lama.

Namun beberapa detik kemudian ia kembali memalingkan wajah.

Tidak.

Ia tidak boleh memikirkan hal-hal yang tidak perlu.

Kontrak tetaplah kontrak.

Perasaan hanya akan membuat semuanya menjadi rumit.

---

Keesokan paginya Nadira kembali membuka kontrak itu sebelum menyimpannya ke dalam laci.

Ia mengusap perlahan sampul map tersebut.

Lalu menarik napas panjang.

"Aku sudah memilih jalan ini."

Ia berbicara pelan kepada dirinya sendiri.

"Kalau begitu aku harus menjalaninya sampai akhir."

Ia tidak akan mengeluh.

Tidak akan menyesali keputusan yang telah diambil.

Selama satu tahun ke depan, ia akan menjadi istri Arka Mahendra sebaik mungkin sesuai isi perjanjian.

Dan ketika waktu itu habis...

Ia akan pergi tanpa membawa apa pun.

Tidak membawa harta.

Tidak membawa nama keluarga Mahendra.

Dan yang paling penting, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak membawa perasaan apa pun.

Karena sejak awal kontrak itu telah mengajarkan satu kenyataan yang sangat menyakitkan.

Bahwa dalam pernikahan yang dibangun di atas sebuah kesepakatan, bahkan akhir dari hubungan itu pun sudah ditentukan sebelum kehidupan mereka sebagai suami istri benar-benar dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!