NovelToon NovelToon
Serving The Ruthless Boss

Serving The Ruthless Boss

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Fantasi
Popularitas:367
Nilai: 5
Nama Author: seasoulune

Alesia Fiore mengira hidupnya di Korea Selatan sudah berada di titik paling damai. Demi memperbaiki ekonomi keluarga yang ironisnya hanya peduli pada uang kirimannya Alesia rela bekerja keras bagai kuda selama satu tahun sebagai admin pemasaran di Aetheris Games. Biarpun sering lembur, ia bahagia karena memiliki lingkungan kerja yang sehat dan sahabat-sahabat yang suportif.

Namun, kedamaian itu hancur berantakan saat takdir membawa Dante Luca Alessio masuk ke hidupnya.

Dimulailah hari-hari penuh kesialan, kejengkelan, dan kesalahpahaman kocak bagi Alesia yang harus melayani segala tuntutan ajaib dari bos barunya yang ruthless. Sanggupkah Alesia bertahan demi pundi-pundi won, atau justru benci di antara mereka berubah menjadi benih-benih cinta yang tak terduga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seasoulune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 10

Dante menatap nampan plastik di hadapan Alesia dengan kening berkerut.

"Kamu makan mi instan jam segini?" tanya Dante, suaranya terdengar datar namun menuntut penjelasan.

Alesia yang masih salah tingkah buru-buru membetulkan posisi duduknya. "Iya, Pak. Emangnya kenapa?"

"Itu tidak sehat. Apalagi setelah kamu mengabaikan jam makan siangmu," sahut Dante acuh tak acuh sembari membuka tutup botol minumannya.

Alesia mengerucutkan bibirnya tipis, merasa didekte.

"Tapi ini yang paling nikmat, Pak. Malam-malam begini, apalagi udaranya dingin, makan ramen instan pakai keju dan telur itu surga dunia."

Dante tidak mendebat soal selera makanan instan itu. Ia meletakkan botolnya ke meja, lalu menatap lekat-lekat mata bulat Alesia.

"Kenapa jam segini belum pulang? Lembur lagi?"

"Iya, Pak," jawab Alesia pendek.

"Kenapa?" tanya Dante lagi, seolah lupa siapa yang memberikan target gila itu.

Dalam hati, Alesia berteriak histeris, 'Kenapa Anda bilang?! Ini semua gara-gara Anda, Pak Singa Diktator!'

Namun, demi keselamatan kariernya, yang keluar dari mulut Alesia justru hal sebaliknya.

"Biar cepat selesai saja, Pak," ucap Alesia berbohong sambil tersenyum kaku.

Alesia kemudian memperhatikan penampilan Dante. Pria itu hanya mengenakan kemeja putih tipis dengan lengan yang digulung, tanpa jas luarannya yang biasa.

"Bapak sendiri gak kedinginan cuma pakai kemeja begitu?"

Dante menaikkan sebelah alisnya, lalu melirik pakaian yang melekat di tubuh Alesia.

"Saya tidak akan kedinginan kalau karyawan saya nyaman memakai jas mahal saya dan memakainya seperti daster."

Alesia tertegun. Ia menurunkan pandangannya dan baru menyadari tekstur kain hitam tebal yang membungkus tubuhnya.

Wangi parfum maskulin yang mahal dan familier langsung menusuk hidungnya. Mata Alesia membelalak sempurna saat melihat detail jahitan premium di bagian kerah.

"Loh... kok bisa?!" pekik Alesia kaget.

Wajahnya langsung memerah karena malu. Ia buru-buru berdiri dan bersiap melepaskan jas tersebut untuk dikembalikan.

"Maaf, Pak! Saya benar-benar gak tahu kalau ini jas Bapak! Saya kira ini jaket cadangan saya yang tertinggal!"

"Sudah, pakai saja. Saya tidak dingin," potong Dante tegas, menahan gerakan tangan Alesia dengan isyarat matanya.

"Tapi, Pak—"

"Sudah saya bilang, pakai saja, Fiore," ulang Dante, suaranya merendah namun tidak menerima bantahan.

Alesia menelan ludah, akhirnya duduk kembali dengan pasrah. "Baik, Pak. Terima kasih."

Suasana mendadak hening selama beberapa saat. Hanya terdengar suara desis angin malam dan bising kendaraan yang sesekali lewat di kejauhan.

Dante memutar-mutar botol minumannya, tampak menimbang sesuatu sebelum akhirnya melontarkan pertanyaan yang cukup pribadi.

"Fiore, kenapa kamu memilih bekerja di Korea? Tempat ini sangat jauh dari keluargamu di Indonesia."

Seketika itu juga, raut wajah Alesia berubah mendung. Senyum tipisnya lenyap. Ingatan tentang pesan singkat ibunya yang selalu meminta uang tanpa pernah menanyakan kabarnya langsung melintas di benak. Rasa sesak kembali mencubit dadanya.

"Pengen ngerasain kerja di luar negeri saja, Pak," ucap Alesia pelan, mencoba tersenyum meskipun matanya menyiratkan kelelahan yang mendalam.

Di dalam hatinya, Alesia meratapi nasibnya sendiri dengan getir. '

Mau aku pindah planet pun yang penting transferan lancar, Pak. Mereka mana peduli aku sakit atau kekurangan di sini, yang penting ATM berjalannya tetap mengirim uang.'

Dante yang memiliki kepekaan tajam langsung menangkap perubahan drastis pada ekspresi wajah Alesia. Ia tahu ia telah menyentuh batas privasi yang sensitif.

Tanpa ingin membuat gadis di hadapannya semakin murung, Dante langsung mengalihkan pembicaraan dengan nada bicara yang kembali tegas.

"Mulai besok, saya larang kamu untuk lembur."

Alesia yang baru saja mau menyuap sosisnya langsung mendongak kaget.

"Tapi, Pak! Batas waktu yang Bapak kasih tinggal kurang seminggu lagi!"

"Gak perlu sampai satu persen juga gak apa-apa. Kamu sudah bekerja keras belakangan ini, dan hasilnya sudah lebih dari cukup," ucap Dante datar.

Alesia mengerjapkan matanya tidak percaya. "Yang benar, Pak?"

"Hm." Dante bergumam pendek sebagai jawaban.

Binar kebahagiaan langsung terpancar dari wajah pucat Alesia. Saking senangnya, ia refleks menggenggam tangannya di depan dada.

"Makasih ya, Pak! Terima kasih banyak! Tapi... setelah ini utang saya soal kemeja luntur itu berarti sudah lunas, kan, Pak?"

"Belum," jawab Dante singkat dan kejam.

Senyum Alesia langsung ambruk.

"Loh? Kok belum? Kan Bapak sendiri yang bilang kalau saya bisa menaikkan pendapatan satu persen maka masalahnya selesai. Dan hasil sementara minggu ini saja sebenarnya sudah lebih dari satu persen, Pak!" Protes Alesia tidak terima.

"Targetnya saya naikkan jadi tiga persen," ucap Dante santai tanpa dosa.

"Tapi seperti yang saya bilang tadi, kamu tidak perlu lembur lagi untuk mengejar tiga persen itu."

Alesia menatap bosnya dengan pandangan horor.

"Bapak mau bunuh saya secara perlahan ya? Terus kalau saya gak perlu lembur sampai tiga persen, kenapa utang saya belum dianggap selesai?!"

"Karena kamu harus membayar sisa utangmu dengan cara lain."

"Caranya?" tanya Alesia curiga, menyipitkan matanya.

Dante mengetuk-ngetukan jarinya ke meja marmer toserba. "Besok saya pikirkan."

"Kenapa gak sekarang saja sih, Pak? Biar saya gak kepikiran semalaman!" gerutu Alesia kesal.

"Saya lelah," sahut Dante pendek, bersandar pada kursi plastiknya yang tidak nyaman.

Alesia mendengus pelan, lalu bergumam setengah berbisik dengan berani.

"Kalau Bapak lelah, kenapa malah di depan toserba begini? Kenapa gak langsung pulang saja?"

Dante menatap Alesia dengan pandangan intens. "Kamu mengusir saya?"

"Eh? Bukan! Bukan begitu maksud saya, Pak!"

Alesia langsung panik dan salah tingkah sendiri. Ia melambaikan kedua tangannya di udara dengan heboh.

'Aduuh, Alesia bodoh! Kenapa mulut ini lancang banget sih ngomong begitu ke bos!' rutapnya dalam hati sambil merutuki dirinya sendiri.

Dante tidak marah. Ia justru mengembuskan napas pendek yang terdengar seperti kekehan samar yang disembunyikan. Pria itu melirik mi instan Alesia yang mulai mendingin.

"Habiskan makananmu. Saya antar kamu pulang," perintah Dante, nadanya mutlak.

"Eh, gak usah, Pak! Apartemen saya dekat kok dari sini. Cuma perlu naik satu kali bus saja sudah sampai," jelas Alesia mencoba menolak dengan halus karena merasa tidak enak.

Dante berdiri dari kursinya, merapikan kemejanya, lalu menatap Alesia dari ketinggian posturnya yang tegap.

"Saya tidak menerima penolakan, Fiore."

Alesia akhirnya hanya bisa mengangguk pasrah dengan bahu merosot. "Baik, Pak..."

Malam itu, di bawah temaram lampu jalanan kota Seoul, Alesia berjalan mengekor di belakang sang bos raksasa, mengenakan jas mahal yang kebesaran, dengan perut yang akhirnya kenyang dan hati yang mendadak dipenuhi oleh debaran aneh yang tidak ia pahami.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!