Aruna mencoba segala cara agar pertunangannya dengan seorang Panglima TNI bernama Axel dibatalkan. Tapi semua cara yang ia lakukan itu justru tidak membuahkan hasil sama sekali. Axel justru semakin menyukai dirinya, dan memberikan apapun yang dia mau. Bagaimana kelanjutan kisahnya? ikuti terus hanya disini..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakorang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 : I'm Yours.
Suasana di dalam toko perhiasan itu terasa hangat dan penuh kemewahan. Cahaya lampu yang memantul dari kaca-kaca etalase membuat permata-permata berkilau indah. Namun, bagi Aruna, semua itu hanyalah pemandangan biasa. Ia hanya berdiri diam, membiarkan Axel dengan penuh perhatian menyelipkan cincin berlian yang berkilauan di jari manisnya.
Cincin itu terasa berat, bukan karena ukurannya, tapi karena makna yang dibawanya. Di sekitar mereka, beberapa pegawai toko bahkan pelanggan lain menyempatkan diri melirik, wajah-wajah itu terpancar rasa iri dan kagum melihat kemesraan pasangan yang terlihat begitu serasi ini. Bagi mereka, momen ini adalah definisi romansa yang sempurna. Tapi bagi Aruna? Itu tidak penting sama sekali. Rasanya seperti sedang memakai benda asing, bukan simbol janji seumur hidup.
"Habis ini kita mau kemana?" tanya Aruna memecah keheningan, suaranya datar tanpa nada antusias.
Axel tersenyum lebar, senyum yang selalu berhasil membuat hati gadis-gadis lain berdebar, tapi tidak untuk Aruna. Dengan gerakan cepat dan penuh rasa memiliki, pria itu langsung menarik pinggang ramping Aruna hingga tubuh mereka berdekatan.
"Kamu maunya kemana, sayang?" tanya Axel balik, matanya menatap tajam namun lembut ke dalam manik mata Aruna.
"Pulang aja deh... aku capek," ucap Aruna malas, bahunya terkulai lemas. Ia benar-benar ingin segera berbaring di kasurnya yang empuk.
"Mau belanja gak? Kamu bisa beli apa aja yang kamu mau, aku yang bayar." tawar Axel murah hati, jarinya bermain-main di pinggang gadis itu.
"Gak!" tolak Aruna tegas. Tangannya langsung mendorong wajah tampan Axel yang terus mendekat, berusaha menjaga jarak. "Jangan deket-deket!"
Axel terkekeh pelan melihat tingkah kekanak-kanakan Aruna.
"Kalau gitu, ayo ke rumahku."
"Buat apa?" Aruna mendelik, tidak suka dengan rencana mendadak itu.
"Aku punya sesuatu buat kamu," jawab Axel misterius, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum menggoda.
Aruna menghela napas panjang, merasa lelah untuk berdebat lebih lama.
"Ya... baiklah," jawabnya pasrah dengan wajah yang masih terlihat malas.
***
Perjalanan menuju rumah Axel terasa singkat. Begitu sampai, suasana rumah besar itu terasa sangat sunyi dan sepi. Hanya ada mereka berdua di sana. Orang tua Axel sedang pergi keluar, mengurus berbagai keperluan dan persiapan acara pertunangan mereka yang akan segera digelar, meninggalkan kediaman megah itu sepenuhnya untuk pasangan muda ini.
Mereka berjalan melewati lorong panjang yang dihiasi lukisan-lukisan mahal. Langkah kaki Axel terdengar tegap dan cepat, berbeda dengan Aruna yang mulai tertinggal sedikit di belakang.
Tiba-tiba...
"Axel... tunggu... pelan-pelan jalannya..." seru Aruna. Kakinya terasa perih luar biasa. Saat ia hendak melangkah lebih cepat, kakinya terasa berat dan tidak stabil. Tubuhnya limbung, hampir saja ia terjatuh mencium lantai marmer yang dingin.
Namun, Axel terlalu sigap. Sebelum tubuh Aruna menyentuh lantai, tangan kekar pria itu dengan cepat menangkap pinggangnya, menariknya kembali ke dalam pelukan hangat. Tanpa banyak bicara, Axel langsung mendekap tubuh mungil itu dan menggendongnya seperti seorang putri.
"Aku jalan terlalu cepat ya?" tanya Axel, suaranya lembut sambil menatap wajah Aruna yang sedikit memerah karena malu dan kesakitan.
"Bukan..." jawab Aruna pelan, matanya memicing menahan sakit. "Tapi kakiku sakit... Sepertinya aku salah pakai sepatu."
Ia menggerakkan kakinya sedikit, merasakan gesekan yang menyakitkan di bagian tumit dan jari-jari kakinya. Sepatu hak tinggi yang ia pilih pagi tadi ternyata jauh lebih menyiksa dari yang ia bayangkan.
Axel menghentikan langkahnya. Ia menatap kaki Aruna yang terbungkus sepatu cantik itu, lalu kembali menatap wajah gadis itu dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
"Kamu ini ya... kalau sakit kenapa gak bilang dari tadi?" omelnya pelan, tapi nada suaranya penuh perhatian. "Udah, jangan jalan dulu. Biar aku yang bawa kamu."
Tanpa menunggu jawaban, Axel kembali melangkah, membawa Aruna di pelukannya menuju ruang tamu yang lebih nyaman, membiarkan rasa sakit di kaki gadis itu sedikit demi sedikit tergantikan oleh hangatnya sentuhan pria di depannya.
Axel perlahan berjongkok di hadapan Aruna, matanya meneliti kondisi kaki gadis itu dengan penuh perhatian. Jemarinya yang besar namun terampil bekerja dengan sangat hati-hati saat melepaskan tali sepatu hak tinggi yang menyiksa itu.
Saat kulit kaki Aruna akhirnya terbebas, sentuhan tangan Axel terasa begitu lembut, seolah-olah ia sedang memegang sebuah benda paling berharga di dunia yang rapuh dan mudah pecah. Gerakannya sangat pelan dan penuh kasih sayang, sama sekali berbeda dengan sikapnya yang liar dan mendesak saat di dalam mobil tadi.
Aruna terpaku. Ia benar-benar terkejut melihat sisi lain dari pria di depannya ini. Perubahan sikap yang drastis itu membuat jantungnya berdegup kencang, bingung antara rasa tidak percaya dan sesuatu yang hangat yang mulai menjalar di dadanya.
"Axel.." panggil Aruna pelan, suaranya sedikit bergetar.
"Ya? Kenapa? Kamu butuh sesuatu katakan saja," jawab Axel tanpa mengangkat wajahnya, matanya masih fokus memijat lembut pergelangan kaki Aruna.
Tiba-tiba, Aruna tersenyum jahil, ide nakal muncul di kepalanya.
"Katakan padaku siapa orang yang paling kamu cintai di dunia ini?" tanyanya menggoda.
Axel mengernyitkan dahi, seolah pertanyaan itu sangatlah mudah, dan tidak perlu dipikirkan panjang lebar.
"Kamu." jawabnya singkat dan tegas.
"Ah, bukan aku.. pasti Ibumu kan?" Aruna masih tidak mau menyerah, mencoba menggodanya lebih jauh.
Axel akhirnya mengangkat wajahnya, menatap manik mata Aruna dalam-dalam.
"Kamu lebih aku cintai, sayang.." bisiknya lembut.
Tanpa menunggu jawaban, Axel mendekatkan wajahnya ke kaki jenjang Aruna. Ia mulai mencium, mengulum, dan mengecup punggung kaki hingga betis gadis itu dengan penuh gairah dan kasih sayang. Sentuhan hangat dan basah itu menyebarkan sensasi listrik aneh yang menjalar hingga ke seluruh tubuh Aruna.
Aruna terengah-engah. Tubuhnya terasa lemas seketika, kakinya gemetar hebat. Tanpa ia sadari, tubuhnya semakin melorot dan akhirnya mendarat dengan lembut di atas sofa, matanya terpejam menikmati sentuhan ajaib dari pria yang kini sedang memanjakan kakinya itu.
"Sekarang katakan padaku... Bahwa kamu milikku..." ucap Axel, tak mau kalah jahilnya dengan Aruna, disertai seringai nakalnya.
"Ah, gak mau..." tolak Aruna manja.
"Kenapa gak mau?" tanya Axel sambil kembali mencumbu kaki sebelahnya lagi, jemarinya bergerak semakin berani.
"Ah... Axel... kamu ngapain sih... Ughhh... em... jangan gitu ah..." rengek Aruna, napasnya mulai memburu.
"Say Aruna... say it, you're mine!!" desak Axel, suaranya rendah dan penuh tuntutan.
"Gak mau..." Aruna mencoba berontak dan bersikeras menolak, tapi tubuhnya justru makin melengkung nikmat, apalagi saat tangan Axel perlahan berpindah menyentuh pahanya yang mulus.
"Ah, gak sopan banget kamu!! Kurang ajar... dasar gak punya etika!!" bentak Aruna pura-pura marah, sambil mencoba mendorong tangan nakal Axel yang semakin menjelajah.
"Katakan, Sayang... kamu milikku..." bisik Axel tepat di telinganya, membuat bulu kuduk Aruna meremang.
"Ah... iya... I'm yours, babe..." akhirnya Aruna menyerah dengan suara bergetar.
Seketika itu juga, gerakan Axel berhenti total. Ia mendongak, menatap Aruna dengan senyum puas yang sangat lebar terpampang di wajahnya, seolah baru saja memenangkan pertarungan terpenting dalam hidupnya.
Aruna mendengus kesal, pipinya memerah bukan karena malu, tapi karena emosi. Rencananya gagal total! Awalnya ia bermaksud menggoda Axel, membuat pria itu bingung dan justru mendesak dirinya untuk mengaku. Tapi siapa sangka, Axel justru membalikkan keadaan dengan sangat mudah. Sekarang malah dia yang kalah dan terpaksa mengaku kalah.
"Dasar licik!" gerutunya pelan, sambil memukul pelan lengan pria di depannya.
Axel tertawa renyah melihat wajah Aruna yang cemberut kesal. Ia mendekatkan wajahnya, menatap manik mata gadis itu dengan tatapan penuh kemenangan namun juga kasih sayang.
"Siapa suruh main api sama aku, Sayang?" bisiknya menggoda, jari telunjuknya mengusap lembut pipi Aruna yang hangat. "Kamu harus ingat, aku selalu punya cara buat menangin kamu."
Aruna memalingkan wajah, berusaha terlihat marah tapi mulutnya tak kuasa menahan senyum tipis. "Hhh, sombong banget sih!"
"Tapi kamu suka kan?" tanya Axel sambil terkekeh, lalu menarik tubuh Aruna agar semakin dekat dengannya, memeluk pinggang gadis itu dengan posesif.
"Sekarang kamu sudah resmi menjadi milikku, Aruna.."
***