NovelToon NovelToon
Sistem 2bit: Dari Sampah Jadi Dewa

Sistem 2bit: Dari Sampah Jadi Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Action / Sistem / Harem / Komedi / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: HAMBALANGVERSE

Raka Pratama pernah menjadi kebanggaan keluarganya.

Bakat luar biasa. Masa depan cerah. Tunangan idaman.

Sampai sebuah misi menghancurkan meridiannya.

Kultivasinya mandek. Pertunangannya dibatalkan. Keluarganya membuangnya ke gubuk tua di pinggir desa.

Saat semua orang menganggap hidupnya telah berakhir, sebuah warisan kuno terbangun.

Sistem 2Bit.

Sistem murahan yang mengaku dirinya kelas dua.

Tapi bagi yang sudah kehilangan segalanya, kesempatan sekecil apa pun sudah cukup.

Mereka mengira kisah Raka telah berakhir.

Padahal baru dimulai.


━━━━━━━━━━━━━━━

⚔️ ORIGINAL HAMBALANGVERSE ⚔️

Genre:
#Cultivation
#System
#Action
#Fantasy
#Harem
#Revenge
#Survival
#Hambalangverse.


🗓️ Jadwal update:
Sampai Matahari Padam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMBALANGVERSE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

“Bunuh gadis itu. Jangan sampai hidup.”

Suara itu terbawa angin. Jelas. Dingin. Tanpa keraguan. Ini bukan penyelamat. Ini eksekutor.

Raka menatap Laras di belakangnya. Gadis itu menggigit bibir bawahnya hingga pucat. Tangannya gemetar memegang pedang patah. Tapi matanya kering. Tidak ada air mata. Hanya fokus tajam yang dipaksakan.

“Mereka dikirim keluarga besarku,” bisik Laras. Suaranya serak, tapi stabil. “Mereka ingin aku mati.”

“Kenapa?”

“Karena aku punya sesuatu yang mereka inginkan.”

Langkah kaki semakin dekat. Gemerisik daun kering. Ritme teratur. Terlatih.

[!] Deteksi tujuh target. Level Tahap 2-3. Satu target Tahap 4.

Dahi Raka berkerut. Tahap 4. Sama seperti Babi Batu tadi. Tapi ini manusia. Manusia lebih berbahaya. Mereka punya strategi.

[!] Probabilitas kemenangan Host: 12%. Saran: evakuasi segera.

“Aku tahu.”

Raka tidak menunggu Sistem selesai. Dia sudah menghitung risikonya.

Dia menatap Laras. Gadis itu kecil. Kurus. Lukanya masih segar, perban di perutnya mulai tembus darah.

“Laras. Kamu bisa lari?”

“Mungkin.”

“Secepat apa?”

“Cukup jauh. Tapi tidak secepat kamu.”

Raka mengeluarkan semua Akar Berduri Emas dari kantong kain. Delapan batang. Dimasukkan paksa ke saku Laras.

Laras menatapnya. Matanya bertanya, tapi tidak ada suara.

“Kalau aku lari, mereka bakal nyari kamu. Jadi aku tinggal.”

Laras terdiam. Lalu mengangguk sekali. Tegas. Tidak ada debat. Tidak ada rasa terima kasih yang berlebihan.

Raka berdiri. “Kamu lari ke timur. Sampai sungai, ikuti aliran ke selatan. Sampai desa.”

“Terus kamu?”

“Aku jadi umpan.”

Laras menggigit bibir lagi. Tapi dia tidak menangis. “Aku tidak suka ini.”

“Aku juga.”

Raka mendorong bahunya pelan. Bukan dorongan kasar. Dorongan yang memberi arah. Laras berlari. Terhuyung sesaat, lalu menemukan keseimbangan. Tidak menoleh. Tidak ragu.

Raka berbalik menghadap suara langkah kaki.

Dia berdiri di tengah jalan setapak. Terbuka. Tidak bersembunyi. Postur tubuhnya rileks, tapi otot-ototnya siap meledak.

Tujuh orang muncul dari balik pohon. Seragam hitam. Wajah datar. Mata tajam yang memindai lingkungan, bukan hanya target. Gerakan mereka sinkron. Terlatih.

Pemimpinnya, pria tinggi dengan pedang panjang di punggung, mengangkat tangan. Semua berhenti dalam satu gerakan. Hening.

Dia tidak bertanya. Tidak berteriak. Matanya menyapu sekeliling. Mencari jejak. Mencari pola.

“Anak itu mengulur waktu,” gumamnya. Suaranya rendah. Analitis.

Raka tidak bergerak. Napasnya diatur. Tenang.

“Kalian bertiga ke timur.” Pria itu menunjuk tanpa melihat anak buahnya. “Cari jejak. Jangan sampai lepas. Hidup atau mati, bawa kembali.”

Tiga orang berlari ke timur. Ke arah Laras. Langkah mereka cepat. Sunyi.

Raka mau bergerak. Tapi pemimpin itu sudah di depannya. Pedangnya belum ditarik. Tapi aura pembunuhnya sudah memenuhi udara.

“Kamu tidak ke mana-mana.”

Pria itu menyerang.

Tidak ada aba-aba. Tidak ada teriakan. Gerakannya cepat. Terukur. Efisien. Tidak ada gerakan sia-sia.

Raka menghindar. Memiringkan tubuh beberapa sentimeter. Tapi pedang itu sudah membaca arahnya. Ujung pedang mengenai lengan kanannya.

Cret!

Kain sobek. Kulit terbuka. Darah panas mengalir.

Raka tidak berteriak. Giginya terkunci. Dia memblok serangan berikutnya. Mundur. Membalas satu pukulan ke perut lawan.

BRAK!

Satu prajurit terjatuh. Napasnya tersengal. Tapi dua lainnya langsung menutup celah. Satu dari kiri. Satu dari kanan. Sinkron.

Raka memblok. Mundur lagi. Napasnya mulai berat. Otot kakinya terbakar. Lawan Tahap 4 itu tidak terburu-buru. Dia mengatur ritme. Memaksa Raka bereaksi. Memaksa Raka kelelahan.

[!] Stamina Host menurun 40%. Risiko cedera meningkat.

“Aku tahu.”

Pria Tahap 4 mengangkat pedang. Siap menebas leher. Gerakannya presisi. Fatal.

SLEBET!

Sebuah batu melesat dari balik pohon. Mengenai bahu pria itu. Bukan pelipis. Bukan titik vital. Hanya bahu.

Tapi cukup. Cukup untuk mengganggu keseimbangan. Cukup untuk membuat tebasan itu meleset beberapa sentimeter.

Pria itu tidak terkejut. Tidak berteriak. Tidak menoleh dengan wajah marah. Matanya hanya bergerak ke arah batu datang. Menganalisis. Menghitung.

Laras berdiri di balik pohon. Ketapel di tangan. Wajahnya pucat. Napasnya tertahan. Tapi matanya tidak menghindar. Dia tidak lari. Dia menciptakan celah.

Pria itu tersenyum tipis. Bukan senyum puas. Senyum orang yang menemukan variabel baru dalam persamaan.

“Target sekunder ditemukan,” gumamnya. Suaranya datar. “Ubah prioritas. Tiga orang ke sana. Jangan bunuh. Tawan. Gunakan dia sebagai leverage.”

Tiga orang yang tadi mengejar Laras berbalik arah. Berlari ke arah pohon tempat Laras bersembunyi. Langkah mereka lebih cepat. Lebih agresif.

Laras mundur. Tapi tidak cukup cepat. Kakinya masih lemah. Wajahnya tegang. Tapi tangannya masih memegang ketapel. Siap menembak lagi.

Raka menggigit bibir. Rasa sakit di lengan kanannya menjadi bahan bakar.

“Sistem.”

[!] Peringatan: Pelepasan batasan energi akan menyebabkan kerusakan jaringan permanen pada tangan kanan Host. Probabilitas koma pasca-aktivasi: 68%.

“Efek samping lain?”

[!] Kerusakan saraf motorik. Kehilangan fungsi genggaman. Permanen.

Raka melihat tangan kanannya. Sudah berdarah. Sudah bengkak. Tulang-tulang jarinya retak dari pertarungan sebelumnya. Tambah rusak atau tidak, sama saja. Fungsi genggaman sudah hilang sejak pertama kali dia memutuskan untuk tinggal.

“Lakukan.”

[!] Konfirmasi. Aktivasi batasan energi. Proses dimulai.

Tubuh Raka terbakar.

Bukan panas biasa. Panas seperti direbus dari dalam. Seperti darahnya mendidih di pembuluh vena. Setiap serat otot menegang hingga batas robek.

Dia berteriak. Bukan teriakan heroik. Teriakan primal. Suara hewan yang terluka. “AAAAARGH!”

Energi meletus dari meridiannya. Tidak terkendali. Brutal.

Pria Tahap 4 terpental. Bukan karena teknik bela diri. Karena gelombang energi mentah yang menghantam dadanya. Pedangnya terlepas. Tubuhnya membentur pohon jati. Kayu retak. Daun berjatuhan.

Raka berdiri. Matanya merah. Pembuluh darah di wajahnya menonjol. Tubuhnya mengeluarkan uap putih dari pori-pori. Bau daging terbakar samar tercium.

Dia tidak mengejar pria itu. Dia berlari ke arah Laras. Langkahnya berat. Tidak anggun. Tapi cepat.

Tiga orang yang mengejar Laras baru sadar ada ancaman lebih besar di belakang mereka. Mereka berbalik. Wajah mereka berubah. Bukan takut. Tapi kalkulasi ulang.

Raka meninju orang pertama.

BRAK!

Bukan pukulan teknik. Pukulan desperation. Tenaga penuh. Tulang rusuk lawan patah. Orang itu jatuh. Tidak pingsan. Menjerit kesakitan. Tulang yang patah menusuk paru-paru.

Orang kedua mundur. Tidak menyerang. Tidak berani. Dia melihat tangan Raka yang berasap. Melihat mata merahnya. Menghitung risiko.

“LARI!” teriak salah satu dari mereka. Suara pecah. Panik terkontrol.

Mereka kabur. Meninggalkan pemimpin yang masih terpental di bawah pohon. Meninggalkan rekan yang patah tulang di tanah.

Raka berdiri di depan Laras. Tubuhnya masih mengeluarkan uap. Napasnya tersengal-sengal. Tapi tangannya tidak bisa mengepal lagi. Jari-jarinya kaku. Bengkak biru kehitaman. Mungkin patah. Mungkin sarafnya putus.

“Raka… tangan kamu…” Suara Laras pelan. Bukan pertanyaan. Observasi.

Raka melihat tangan kanannya. Tidak merasakan sakit lagi. Hanya mati rasa. Dingin.

“Aku baik-baik saja.”

“Kamu tidak baik-baik saja.”

Raka tidak menjawab. Tidak ada gunanya berdebat dengan fakta.

Pria Tahap 4 itu perlahan bangun. Wajahnya penuh darah. Hidungnya patah. Matanya masih buram. Tapi dia tidak panik. Dia menilai situasi.

“Kamu… akan mati…” Suaranya serak. Tapi nada bicaranya tenang. Seperti dokter yang memberi diagnosis terminal.

Raka mengangkat tangan kirinya. Hanya tersisa tangan kiri yang masih bisa bergerak. Tangan kanan tergantung lemas di sisi tubuh. Seperti benda asing.

Pria itu melihat. Lalu tertawa pelan. Bukan tawa mengejek. Tawa lelah. Tawa orang yang mengerti harga sebuah kemenangan.

“Lain kali,” gumamnya.

Dia berbalik. Berlari ke dalam hutan. Langkahnya tidak stabil. Tapi dia tidak jatuh. Meninggalkan anak buahnya yang tergeletak. Meninggalkan Raka yang berdiri dengan satu tangan fungsional.

Raka tidak mengejar. Tidak bisa. Tubuhnya goyah. Matanya terpejam. Dunia berputar.

“Jangan pingsan,” kata Laras. Suaranya tegas. Bukan permohonan. Perintah. “Jangan pingsan, Raka!”

Raka membuka mata. Laras di depannya. Wajahnya dekat. Matanya mencari tanda kesadaran di wajah Raka.

“Kamu… jangan balik lagi lain kali.” Suaranya parau. Hampir tidak terdengar.

Laras tidak menjawab. Dia memegang tangan Raka yang bengkak. Perlahan. Hati-hati. Seperti memegang kaca pecah. Sentuhannya hangat. Nyata.

Raka tidak jatuh. Tapi dia tidak bisa melangkah. Kakinya seperti timah.

“Sistem.”

[!] Status Host: Kritis. Kerusakan jaringan tangan kanan: 87%. Fungsi motorik: Nol. Energi cadangan: 3%.

“Diam. Bawa aku pulang.”

[!] Sistem tidak memiliki kemampuan lokomosi.

Raka hampir tertawa. Tapi terlalu lelah. Otot wajahnya tidak merespons.

“Laras. Bantu aku.”

Laras mengangguk. Dia menyandarkan bahu Raka ke tubuhnya. Perlahan. Hati-hati. Raka tidak berat. Tapi dia sendiri juga lemah. Luka di perutnya masih nyeri setiap kali bergerak.

“Aku tidak tahu arahnya,” kata Laras. Suaranya jujur. Tidak berpura-pura tahu.

“Aku tahu.”

Raka menunjuk dengan dagu. Arah yang samar-samar diingat dari perjalanan kemarin. Laras menggertakkan gigi. Menahan rasa sakit di perutnya. Lalu melangkah.

Perlahan. Satu langkah. Dua langkah. Ritme mereka tidak sinkron. Tapi mereka bergerak. Bersama.

Raka tidak pingsan. Tapi dia hampir tidak sadar. Kesadarannya melayang-layang di antara gelap dan terang. Hanya sentuhan tangan Laras di bahunya yang menahannya tetap di dunia nyata.

[!] Detak jantung Host: 145 bpm. Tekanan darah turun. Risiko syok: tinggi.

Raka tidak menjawab. Tidak ada tenaga untuk bicara.

[!] Data fisiologis dicatat. Untuk evaluasi medis masa depan.

Raka ingin bilang “jangan catat itu”. Tapi mulutnya tidak bergerak. Lidahnya terasa tebal.

Dia hanya terus melangkah. Tertatih. Dengan satu tangan bengkak yang mati rasa. Dengan Laras di sampingnya yang menahan rasa sakitnya sendiri.

Hutan mulai gelap. Bayangan pohon memanjang seperti jari-jari kurus. Tapi di kejauhan, cahaya desa mulai terlihat. Titik-titik kuning redup. Harapan.

Raka tidak tahu berapa lama mereka berjalan. Waktu kehilangan makna. Yang dia tahu, dia masih bernapas. Masih merasa. Masih bergerak.

Dan itu cukup.

Cahaya desa semakin dekat. Suara anjing menggonggong samar terdengar. Bau asap dapur terbawa angin.

Raka menghela napas terakhir sebelum kakinya benar-benar menyerah.

Dia tidak pingsan. Tapi matanya tertutup. Kesadarannya tenggelam ke dalam kegelapan yang hangat.

Tangan Laras masih di bahunya. Hangat. Nyata.

Itu hal terakhir yang dia rasakan sebelum dunia padam.

Bersambung.

1
Chen Haoran
Bagus toh sistem nya lucu
KZ2: Kalau gw tulis sejarahnya sistem 2bit bakalan jadi 10 bab🚬🗿🤣.
thanks udah mampir
total 1 replies
Chen Haoran
menurut ku ini menarik di setiap kata-katanya ada dialog yang interaktif dan tidak kelihatan kaku🙏
Chen Haoran: yap euy
total 2 replies
Chen Haoran
lucu euy sistem nya bisa becanda 🤣
KZ2: wkwkkw emang novel absurd
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!