NovelToon NovelToon
Putri Quraisy Dari Masa Depan

Putri Quraisy Dari Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Reinkarnasi / Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: MOEROUL

Maya Farida, mahasiswi Al-Azhar yang terobsesi pada sejarah Islam dan sains, meninggal dalam kecelakaan tragis tepat di hari kelulusannya di Kairo.
Namun kematian bukanlah akhir.
Ia terbangun kembali sebagai bayi perempuan bangsawan Quraisy di Mekah abad ke-6 puluhan tahun sebelum kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW.
Di dunia yang belum mengenal Islam, Maya harus hidup sebagai Qatilah binti Naufal, putri dari keluarga elit Bani Asad yang berkuasa. Dengan pengetahuan modern yang tak seharusnya ada di zaman itu, ia perlahan mengubah kehidupan di sekitarnya melalui logika, sains, dan kecerdasannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MOEROUL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9

BAB 9

Kami dibawa ke sebuah bangunan batu yang lembap. Di sana, aku dan belasan anak lainnya dikumpulkan untuk dimandikan.

Air dingin diguyurkan ke tubuh kami, lalu para pekerja wanita di pelabuhan itu menggosok kulit kami menggunakan sikat sabut.

Di sela-sela rintihan anak-anak lain, mataku tanpa sadar menyapu kerumunan, mencari rambut pirang kusut milik Elara.

Tentu saja aku tidak menemukannya. Entah ke mana mereka membawa gadis itu. Aku bahkan tidak tahu apakah ia masih berada di pelabuhan yang sama, atau sudah ditarik paksa ke dalam kapal lain menuju nasib yang berbeda.

Setelah selesai, kain goni basah dan berbau apak yang menempel di tubuhku sejak di kapal dibuang. Sebagai gantinya, mereka memberiku selembar tunik linen putih yang sederhana namun bersih.

Saat kami sedang disuruh duduk berbaris di atas tikar jerami, pintu ruangan berderit terbuka.

Kapten kapal yang menangkapku melangkah masuk. Ia tidak sendiri. Di sebelahnya berjalan seorang pria berpakaian rapi dengan jubah linen cerah dan beberapa cincin di jarinya. Pria itu tampak tenang dan sangat teliti, ciri khas seorang pedagang yang sudah bertahun-tahun menjalankan bisnis.

Pria itu berjalan mengelilingi kami, mengamati satu per satu anak yang duduk ketakutan. Saat ia berhenti di depanku, ia terdiam cukup lama. Tangannya menyentuh daguku, memaksaku mendongak menatap wajahnya.

"Ochi. Afti einai poli akrivi gia to katarameno meros."

(Tidak. Yang ini terlalu mahal untuk tempat ini.)

Pria itu berkata dalam bahasa asing kepada sang kapten.

"Ti ennoeis, Petros?"

(Apa maksudmu, Petros?)

balas kapten kapal itu dengan dahi berkerut.

Pedagang itu melepaskan daguku.

"Koita afto to paidi. To derma tis, ta xaraktiristika tis."

(Lihat anak ini. Kulitnya, bentuk wajahnya.)

"Apo pou tin pires?"

(Di mana kau mendapatkannya?)

"Stin akti tis Erythras Thalassas."

(Di pesisir Laut Merah.)

Kapten itu bersedekap.

"Otan tin piasame, forouse katharo metaxi. Enas nearos tin prostateve mexri thanatou. Kai ypirxan Arives ippeis pou tous kinigousan."

(Saat kami menangkapnya, dia memakai sutra murni. Ada seorang remaja yang melindunginya mati-matian. Dan ada sekelompok prajurit berkuda Arab yang mengejar mereka.)

Mendengar penjelasan itu, alis pedagang tersebut terangkat. Ia mengangguk pelan; otaknya jelas sedang menghitung nilai keuntunganku. Pria itu lalu berlutut di depanku. Ketika ia membuka mulutnya, ia beralih menggunakan bahasa Arab yang cukup fasih.

"Anak manis, siapa namamu?" tanyanya dengan nada lembut namun menuntut.

Aku menatap lurus ke matanya dan mengatupkan bibirku rapat-rapat.

Petros tersenyum tipis.

"Pakaianmu sutra. Pengawalmu rela mati untukmu. Dari keluarga bangsawan mana kau berasal? Banu Hasyim?"

Aku tetap diam, tidak berkedip.

"Banu Umayyah?" tanyanya lagi, kali ini menyipitkan matanya.

Aku menundukkan pandangan, menjaga raut wajahku agar tetap datar.

Jika aku menangis dan menjawab seperti balita pada umumnya, mereka akan tahu bahwa keluargaku sudah hancur dan tidak ada lagi yang akan membayar tebusan.

"Kalau begitu kau memang berasal dari keluarga penting," gumamnya. Ia menyipitkan mata menatapku. "Atau seseorang pernah mengajarimu untuk tidak berbicara kepada orang asing. Anak seusiamu biasanya sudah menangis sejak tadi."

Ia tersenyum tipis.

"Menarik."

"Apantise, katarameno paidi!"

(Jawab, anak sialan!)

bentak sang kapten kehilangan kesabaran.

Ia tidak paham bahasa Arab, tetapi dari kebisuan dan ketenanganku, ia tahu aku sengaja membangkang.

Satu tamparan mendarat keras di pipiku.

Tubuh kecilku terpelanting menghantam lantai batu. Rasa kebas bercampur nyeri menjalar dari rahang hingga ke leherku, disusul rasa asin darah di rongga mulut. Kapten itu melangkah maju, mengangkat tangannya untuk melayangkan pukulan kedua.

"Stamata, ilithie!"

(Berhenti, bodoh!)

teriak pedagang itu, buru-buru menahan lengan sang kapten.

"Mathaino se afto to zwo tropous!"

(Mengajari binatang ini sopan santun!)

geram sang kapten.

"An to proswpo tis echei mwlopes, i timi tha pesei!"

(Kalau wajahnya memar, harganya akan turun!)

balas si pedagang tajam.

"Oi plousioi theloun teleia pragmata, oxi xalasmena!"

(Orang kaya mau barang sempurna, bukan barang rusak!)

Kapten itu mendengus kasar, namun akhirnya menurunkan tangannya.

"Kala, kala."

(Baiklah, baiklah.)

"Poso kostizei an tin poulisoume sto swsto meros?"

(Berapa harganya kalau kita menjualnya di tempat yang tepat?)

Petros merapikan jubahnya yang sedikit berantakan.

"Tha tin pame stin Alexandreia."

(Kita bawa dia ke Aleksandria.)

ucap Petros tenang.

"Tha mporouses na pareis pentinta xrisa nomismata gia aftin."

(Kau bisa mendapat lima puluh koin emas murni untuknya.)

Mata kapten itu membelalak lebar.

"Pentinta?!"

(Lima puluh?!)

"Einai oso deka enilikes!"

(Itu setara harga sepuluh orang dewasa!)

"Isos kai perissotero."

(Mungkin lebih.)

Pedagang itu mengangguk sambil melirik ke arahku.

"Oso to proswpo tis paramenei teleio."

(Selama wajahnya tetap sempurna.)

Sang kapten tertawa lebar. Amarahnya lenyap seketika, disapu oleh keserakahan.

"Teleia! Vres mou mia kali amaxa. Fevgoume gia tin Alexandreia avrio."

(Luar biasa! Carikan aku kereta kuda yang bagus. Kita berangkat ke Aleksandria besok.)

Kedua pria itu kemudian berbalik dan berjalan keluar ruangan, meninggalkan kami yang masih meringkuk di atas tikar.

Aku perlahan duduk kembali sambil mengusap darah di sudut bibirku.

Sambil menahan nyeri di rahang, aku meresapi kesunyian yang tiba-tiba terasa begitu menyesakkan. Hanya dalam beberapa menit, dua pria itu baru saja menakar hidupku seharga lima puluh keping emas.

Namun tetap saja, pada akhirnya, aku hanyalah barang dagangan.

Keesokan paginya, sebelum matahari terbit seutuhnya, aku sudah didorong paksa masuk ke dalam sebuah kereta kayu tertutup. Roda-rodanya berderit saat mulai menggilas pasir dan kerikil, meninggalkan pelabuhan Clysma di belakang kami.

1
Sarah
Hahaha 😂
Sarah
Yaelah. 😂
Sarah
Aduh, jangan sampai dikira nyolong. 😭
Sarah
Emang di zaman kuno ada yang kayak gini? raksasa gitu...? Maksudku, kalau ini zaman Nabi Adam sih make-sense karena tingginya kakek moyang kita ini juga.... 😭
Tapi kalau ini zaman sebelum kelahiran nabi... manusianya kan udah pada pendek. 😭
Sarah: Iyasih, kalau misalnya kelahiran zaman purba awal banget, Goram dan Mila pasti pendek kehitungnya. Tapi karena ini zaman pra-kelahiran rasul, tinggi mereka jadi terhitung terlalu tinggi dan gak normal. 🙂
total 2 replies
Sarah
Dia pasti masih hidup, Qatilah. Seharusnya, Waraqah bin Naufal akan bertemu Rasulullah untuk menyatakan kenabiannya nanti bukan? Tapi kalau apakah kalian bisa bertemu lagi... entahlah.
Sarah
Sakit banget baca bab ini... lihat remaja sama anak kecil survive berdua. 😭😖
Sarah
Kudanya pasti Syahid. Karena mengantar orang yang akan membenarkan kenabian Rasulullah saw bersama adiknya untuk bertahan hidup.
Sarah
Tapi... penyerangan ini... memang tidak pernah Maya baca di sejarah kah? Apa ini sesuatu yang tidak tercatat? Sesuatu yang dia lupa? Atau... sesuatu yang berubah?
Sarah: Iyasih, aku aja baru tahu Waraqah bin Naufal itu punya saudari. Dan pada dicari, rupanya bener. Cuma minim info, cuma ada yang tentang menawarkan diri ke Abdullah. 🙂
total 2 replies
Sarah
Antara dia gak diculik tapi diselamatin, atau udah diculik tapi berhasil diselametin.
Sarah
Diculik kah?
Sarah
Susu manis emang udah ada yah di zaman itu?
Maya: ada tapi bukan pake gula melainkan madu
total 1 replies
Sarah
Wah... yang mengenali kenabian nabi itu bukan sih? Yang sepupunya Siti Khadijah? Apa aku salah ingat yah?
Maya: yup betul 😄
total 1 replies
Sarah
Ah... gak bisa bayangin perasaan Abi Uminya... 😭
Sarah
Menarik, isekai tapi ke arab dan MC-nya muslimah. Meskipun nyatanya kalau orang mati ya... kagak ada reinkarnasi yang ada ditanyain man robbuka langsung. Tapi yah... di dunia ini ’kan ada banyak yang tidak ketahui. Bisa aja cewek ini diberikan takdir yang agak... lain...? Pasti ada alasannya kenapa dia malah dilemparin ke masa lalu. Bagus, thor. Konsepnya menarik banget. 👍😂
Sarah: Namanya juga fiksi kak. Nikmati aja hiburan. 😂
total 2 replies
Protocetus
kok jadi Isekai min?
Maya: lebih tepatnya historical isekai
total 1 replies
Protocetus
Thor beneran pernah kuliah di Al Azhar?
Maya: enggak hehehe 😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!