NovelToon NovelToon
Dua Wajah Dibalik Satu Lencana

Dua Wajah Dibalik Satu Lencana

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / TKP
Popularitas:212
Nilai: 5
Nama Author: Chocolate Chase

Menceritakan tentang seorang mantan pembunuh berantai, yang di bebaskan untuk membantu polisi dalam memecahkan sebuah kasus, yang kemudian membuat dirinya secara resmi menjadi konsultan khusus kepolisian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chocolate Chase, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keluarga Yang Terlalu Sempurna

Keesokan paginya, sinar matahari New York menyusup lemah melalui tirai tipis apartemen pengawasan. Arthur berdiri di depan cermin kamar mandi yang kecil, mencoba merapikan rambut hitamnya yang acak-acakan. Ia mengenakan kaus hitam polos dan celana jins pemberian Manuel semalam. Rasanya masih aneh, pakaian yang longgar, udara bebas, dan tanpa suara pintu sel yang berderit.

Dari dapur kecil, terdengar suara Manuel menuangkan kopi. "Mau kopi?" tanya Manuel dengan suara yang masih serak karena kurang tidur.

Arthur keluar dari kamar mandi sambil menyunggingkan senyum miring. "Boleh. Kalau bisa yang agak manis. Empat tahun di penjara membuatku rindu rasa yang enak."

Manuel mendengus pelan, tetapi tetap menuangkan kopi untuk Arthur. Mereka duduk berdua di meja kecil, menikmati minuman dalam keheningan. Arthur memperhatikan Manuel yang sesekali mengusap cincin kawin di ibu jarinya. Begitu cangkir mereka kosong, keduanya sepakat bahwa saatnya telah tiba untuk memulai penyelidikan hari itu.

Tak lama kemudian, mobil sedan hitam mereka sudah meluncur pelan membelah kemacetan pagi Manhattan menuju kediaman keluarga Harrington di pinggiran kota yang lebih tenang. Sepanjang jalan, Arthur sesekali melirik keluar jendela untuk menikmati pemandangan gedung-gedung tinggi yang berlalu. Sementara itu, Manuel tetap bergeming dengan tangan mencengkeram kemudi sedikit lebih erat dari biasanya.

Rumah itu berdiri besar dan megah, dikelilingi taman luas serta pagar besi yang tinggi. Begitu mobil berhenti di depan pintu utama, seorang pelayan berpakaian rapi langsung menyambut mereka. Manuel menunjukkan lencananya, sedangkan Arthur berdiri di belakang dengan tangan terbenam di saku hoodie. Mata hijaunya bergerak aktif mengamati segala hal kecil di sekitar mereka, mulai dari pot bunga yang tersusun rapi hingga kamera pengawas di sudut pagar.

Mereka kemudian dipandu menuju ruang tamu yang luas dan mewah. Dua orang ternyata sudah menunggu di sana.

Hannah Harrington duduk di sofa dengan postur tegak. Wanita paruh baya itu mengenakan blus sutra krem yang mahal dengan rambut cokelat yang ditata rapi, tetapi matanya jelas membengkak karena terlalu banyak menangis. Di sebelahnya duduk Stevie Harrington, adik perempuan Anton yang berusia dua puluh dua tahun. Gadis ramping itu mengikat asal rambut hitam panjangnya, berbalut hoodie oversized dan celana jins robek. Matanya menatap tajam, langsung menghujam Arthur dengan rasa penasaran bercampur tidak suka.

"Terima kasih sudah datang, Detektif Vin," kata Hannah dengan suara pelan namun terkontrol. "Kami ingin kasus ini cepat selesai. Anton adalah anak yang baik."

Manuel mengangguk sopan, lalu memperkenalkan Arthur secara singkat sebagai konsultan khusus mereka. Mendengar itu, Stevie langsung mengangkat sebelah alisnya.

"Konsultan? Kelihatan lebih seperti model yang salah masuk ke rumah duka," komentar Stevie dengan nada sinis.

Arthur tersenyum lebar, sebuah senyuman yang terlalu tampan untuk suasana berkabung seperti ini. "Terima kasih, Stevie. Aku menganggap itu sebagai pujian."

Setelah semua duduk, Manuel mulai mengajukan pertanyaan rutin mengenai kapan terakhir kali mereka melihat Anton, siapa saja teman-temannya, dan apakah ada ancaman belakangan ini. Hannah menjawab semuanya dengan tenang sambil sesekali menyeka sudut mata menggunakan tisu.

Arthur memilih diam pada awalnya untuk mengamati. Ia memperhatikan Hannah yang sering menyentuh kalung mutiara di lehernya setiap kali berbicara tentang Anton. Di sisi lain, Stevie terus menggigit bibir bawahnya sementara kakinya bergerak gelisah di bawah meja.

Tiba-tiba, Arthur memotong dengan nada ringan. "Maaf, Mrs. Harrington. Kapan terakhir kali Anton bertengkar dengan ayahnya?"

Hannah tampak terkejut. "Bagaimana Anda bisa tahu mereka bertengkar?"

Arthur mengangkat bahu santai. "Hanya tebakan. Anak sulung di keluarga seperti ini biasanya memikul tekanan yang besar."

Stevie tertawa kecil dengan nada sinis. "Anton memang mulai bosan. Dia bilang ingin keluar dari bayang-bayang Ayah. Namun, Ibu selalu bilang bahwa ini semua demi keluarga."

Hannah menatap putrinya dengan tajam. "Stevie, ini bukan saatnya membahas hal itu."

Arthur tersenyum kecil, lalu mengalihkan fokus matanya kepada Stevie. "Kau dekat dengan kakakmu?"

Stevie diam sejenak sebelum mengangguk. "Dulu dekat. Namun, akhir-akhir ini dia sering bermain rahasia. Aku curiga dia punya masalah dengan salah satu investor Ayah."

Manuel mencatat informasi itu dengan cepat di buku saku. Sementara itu, Arthur melanjutkan interogasi dengan nada santai namun menghujam.

"Stevie, kau bertangan kidal, ya? Kebiasaan menggigit bibir bawah seperti itu biasanya dilakukan oleh orang kidal saat mereka sedang gugup."

Stevie langsung membeku. Hannah pun menoleh ke arah putrinya dengan ekspresi terkejut.

"Itu tidak berarti apa-apa," kilah Stevie cepat. "Banyak kok orang yang bertangan kidal."

Arthur hanya mengangguk pelan, tetapi di dalam kepalanya ia sudah mencatat poin penting bahwa Stevie memiliki motif potensial, entah itu persaingan saudara atau rahasia penting yang sempat diketahui oleh Anton.

Interogasi itu berlangsung hampir satu jam penuh. Hannah bercerita bahwa pada malam kejadian, ia dan suaminya, Richard, sedang menghadiri acara amal, sementara Stevie berada di apartemennya sendiri. Tidak ada satu pun dari mereka yang memiliki alibi sempurna.

Saat sesi tanya jawab hampir selesai dan mereka hendak berpamitan, Arthur berhenti di depan pintu lalu menoleh kembali kepada Hannah. "Kalung mutiara itu, Anton yang memberikannya pada ulang tahun Ibu tahun lalu, bukan?"

Hannah menyentuh kalungnya lagi, matanya seketika berkaca-kaca. "Ya, benar. Bagaimana Anda bisa tahu?"

Arthur tersenyum tipis. "Hanya menebak. Hadiah dari seorang anak biasanya memiliki arti tersendiri."

Dalam perjalanan pulang, begitu Manuel menyalakan mesin mobil dan melaju, ia langsung melempar pertanyaan. "Bagaimana pendapatmu?"

Arthur menyandarkan kepalanya ke kursi, menatap ke luar jendela untuk memperhatikan gedung-gedung yang berlalu. "Hannah terlalu ketat mengontrol emosinya. Stevie gelisah dan jelas menyembunyikan sesuatu. Kemungkinan besar pembunuhnya berasal dari dalam keluarga ini, tetapi motifnya masih samar."

Manuel meliriknya sekilas. "Kau mencurigai Stevie?"

Arthur tertawa pelan. "Mungkin saja. Atau mungkin ada rahasia yang lebih dalam lagi. Besok kita harus berbicara dengan Richard Harrington."

Sore harinya, setelah mereka kembali ke apartemen pengawasan, Arthur tampak duduk di balkon kecil untuk menikmati angin sejuk New York. Manuel berdiri di ambang pintu, mengawasinya dengan saksama dari kejauhan.

"Kau benar-benar sudah berubah, Rutherford?" tanya Manuel tiba-tiba.

Arthur menoleh, menyunggingkan senyum tipis. "Entahlah. Namun, untuk saat ini, aku lebih suka memecahkan teka-teki daripada harus menciptakan teka-teki yang baru."

Malam mulai turun perlahan menyelimuti Manhattan. Di luar sana, entah di sudut kota yang mana, pembunuh Anton Harrington mungkin sedang tersenyum karena permainan ini baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!