Seorang pemuda bernama Wang Fei yang dianggap lemah dan tertindas berusaha mendobrak batasan dan ingin menentukan nasibnya sendiri dengan menjadi lebih kuat.
"Jika langit tidak adil dan ingin membatasi takdirku, maka aku bersumpah akan meruntuhkan langit itu.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jin kazama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9. Amarah dan tekad Wang Fei.
Bab 9. Amarah dan tekad Wang Fei.
"Haha, bagus! Lima ekor serigala lagi langsung tumbang. Xue Jian, kau sungguh hebat," ucap Wang Fei senang.
Mendengar hal tersebut, pedang patah itu bergetar. Hal itu membuat Wang Fei kembali tertawa.
"Tampaknya kau benar-benar sangat menyukai pujian, ya," serunya sambil menyeringai.
Kemudian tanpa ragu dia segera melepaskan pedangnya. Pedang patah tersebut langsung meluncur dan berputar. Dengan kontrol luar biasa dari kekuatan mental dan jiwa, pedang itu bergerak seperti badai, terus menebas dan membunuh satu demi satu serigala yang mencoba menghampirinya tanpa mampu memberikan perlawanan sedikit pun. Setelah beberapa saat, lima ekor serigala kembali tumbang.
"Hehehe... tidak kusangka tugas ini dapat aku selesaikan secepat ini," kekehnya sambil mengusap pedang patah yang baru saja kembali ke genggamannya.
Beberapa jam yang lalu, karena merasa sangat cocok dengan pedang patah tersebut, Wang Fei meneteskan darahnya ke bilah pedang itu. Ketika darah tersebut menyentuh permukaan pedang, Resonansi Jiwa antara dirinya dan pedang di hadapannya langsung terhubung.
"Hah... Resonansi Jiwa? Apakah ini merupakan pedang spiritual?" serunya dengan keterkejutan luar biasa.
Di saat yang sama, dia merasa sangat senang. Dia tidak menyangka pedang yang terlihat usang dan tidak berharga di sudut ruangan ternyata merupakan senjata spiritual.
Setelah mengamatinya lebih dalam melalui pemahaman dari ingatan Jie Fang, ternyata pedang tersebut merupakan senjata tingkat Hitam yang setara dengan bintang 3.
"Sungguh luar biasa," ucapnya kagum.
Lalu tiba-tiba kepalanya berdenyut hebat. Rasa sakitnya bahkan membuatnya meringis. Pada saat itu, seberkas ingatan asing mengenai sejarah pedang patah tersebut mulai membanjiri pikirannya.
Tidak lama kemudian, setelah semua ingatan itu masuk ke dalam benaknya, Wang Fei akhirnya kembali normal.
"Jadi begitukah? Kau ingin aku membalaskan dendam atas kematian tidak adil yang dialami tuanmu sebelumnya? Baiklah, aku berjanji. Jika suatu saat aku menjadi kuat, aku sendiri yang akan menebas kepala pengkhianat itu. Dan juga karena kau memiliki aura yang sangat haus darah, mulai sekarang namamu adalah Xue Jian."
Kembali ke masa sekarang.
Setelah menyelipkan Xue Jian di pinggangnya, dan menyimpan 10 mayat serigala angin ke dalam cincin ruangnya, alih-alih kembali ke sekte, Wang Fei justru masuk lebih dalam ke Hutan Kabut. Tujuannya hanya satu, yaitu menemukan lebih banyak Binatang Iblis untuk menyerap esensi darah dan vitalitas mereka.
Saat ini, aspek yang paling kurang darinya adalah kekuatan fisik, dan ini adalah waktu yang tepat baginya untuk melatih Teknik Tubuh Iblis Hegemon Penelan Langit.
Jika itu Binatang Iblis, maka dia tidak akan ragu. Dan mengenai manusia...
"Mari serap esensi darah mereka yang berniat membunuhku. Dengan begitu aku tidak akan memiliki perasaan bersalah," ucapnya menyeringai.
Kemudian, dengan Langkah Petir, dia segera melesat masuk ke dalam hutan.
"WUSH!"
Udara bergetar. Seberkas kilat biru menyala terang saat sosoknya menghilang dari tempat berpijak.
Baru seperempat jam bergerak, tiba-tiba indera pendengarannya yang tajam menangkap suara pertarungan sengit.
"Hmm... apakah ada pertarungan?" serunya terkejut.
Setelah berpikir sejenak, dia pun memutuskan.
"Baiklah, mari kita periksa sebentar."
Lalu, dipandu oleh pendengarannya yang tajam, dia kembali melesat ke arah barat mencoba mendekati lokasi pertarungan. Hal ini sangat berlawanan dengan tujuan awalnya yang ingin terus bergerak ke arah timur.
Benar saja, saat tiba di sana, matanya yang tajam menemukan empat murid dari Sekte Daehan sedang bertarung sengit melawan seekor Binatang Iblis bintang 3 tahap puncak, yaitu Harimau Tanduk Petir.
Mereka terdiri dari satu pria dan tiga wanita yang masing-masing memiliki aura cukup kuat. Yang lebih penting lagi, ketiga wanita tersebut juga memiliki kecantikan luar biasa.
Dari fluktuasi energi yang dipancarkan, pria tersebut sudah mencapai ranah Pembentukan Inti level 2 tahap puncak, sedangkan tiga lainnya berada di ranah Pengumpulan Qi level 4, 5, dan 6 dengan tahapan berbeda-beda.
Mengenai Harimau Tanduk Petir, kekuatannya setara dengan kultivator di ranah Pembentukan Inti level 9 tahap puncak. Jika berbicara tentang kombinasi kekuatan mereka berempat, jelas monster itu sama sekali bukan lawan yang seimbang.
Petir yang dikeluarkan harimau tersebut bukanlah petir biasa, melainkan petir ungu yang terkenal sangat ganas dan mematikan. Konon katanya, Harimau Tanduk Petir merupakan keturunan tidak murni dari binatang kuno.
Meskipun begitu, kekuatannya sama sekali tidak bisa diremehkan. Belum lagi tanduknya yang memercikkan petir. Bahkan cakarnya yang tajam saja bisa merobek tubuh mereka menjadi daging cincang dengan mudah.
"Kenapa mereka semua ceroboh sekali? Bukannya melarikan diri, kenapa mereka justru nekat melawan?" ujar Wang Fei sambil mengerutkan kening.
Namun ketika matanya menatap sekeliling, tidak jauh dari tempat mereka berada ternyata ada seekor anak Harimau Tanduk Petir yang telah tewas.
"Pantas saja harimau itu begitu murka. Ternyata mereka membunuh anaknya," kata Wang Fei.
Perlu diketahui, bagi seekor Harimau Tanduk Petir, melahirkan keturunan adalah hal yang sangat sulit.
Yang tidak diketahui Wang Fei dan yang lainnya adalah, beberapa tahun silam harimau jantan dari pasangan Harimau Tanduk Petir tersebut pernah melindunginya dari serangan kultivator manusia dan akhirnya tewas di tangan mereka.
Sejak saat itu, harimau betina tersebut bersumpah akan membalaskan dendam kepada siapa pun dari ras manusia yang mencelakainya.
Dan kini, seolah dipicu oleh bara api yang membakar, amarah dan dendamnya benar-benar mencapai puncak. Apa pun yang terjadi, empat orang di hadapannya harus mati.
"ROAR!"
Harimau Tanduk Petir kembali mengaum. Percikan listrik ungu menyebar ke seluruh tubuhnya. Dengan langkah besar, ia menerkam. Cakarnya yang tajam melesat cepat menuju kultivator pria yang menjadi pelaku pembunuhan anaknya.
"SWOSH!"
Merasakan niat membunuh yang begitu besar, wajah pria tersebut langsung pucat pasi. Namun tanpa rasa malu, dia justru menarik salah satu wanita ke depan untuk dijadikan perisai hidup.
Nama pria tersebut adalah Gong Yulong, sedangkan wanita itu bernama Shi Meilan.
Shi Meilan sangat terkejut karena tidak menyangka pria yang selama ini dikaguminya dan selalu dipanggil Kakak Senior dengan hormat benar-benar melakukan tindakan sehina itu.
"Gong Yulong! Dasar bajingan terkutuk! Aku berniat menolongmu, tetapi kau malah menjadikanku perisai hidup!" teriaknya dengan amarah bercampur ketakutan luar biasa.
Wajahnya yang pucat pasi dipenuhi keputusasaan saat cakar harimau itu mendekat dengan kecepatan seperti badai.
Sementara itu, Gong Yulong sama sekali tidak merasa bersalah. Bahkan senyum mengejek tersungging di bibirnya.
"Huh... silakan katakan apa pun yang kau mau. Bisa mati demi melindungi tuan muda ini adalah kehormatan bagimu," ucapnya dingin.
Lalu dengan langkah besar dia segera melesat pergi meninggalkan rekannya demi menyelamatkan diri.
Di balik semak-semak, Wang Fei yang melihat pemandangan itu langsung dipenuhi amarah dan rasa muak.
"Cih... padahal dia yang paling kuat, tetapi aku tidak menyangka ternyata sifatnya begitu sampah."
Tanpa ragu dirinya segera melesat. Dengan Langkah Petir, sosoknya berkelebat lalu dengan kecepatan luar biasa Xue Jian langsung dicabut dari pinggangnya.
Saat energi spiritual dikerahkan, api biru menyala hebat. Dengan gerakan bagaikan kilat, sosoknya menusuk tepat ke arah mata Harimau Tanduk Petir.
Merasakan ancaman nyata tersebut, cakar yang awalnya mengarah kepada Shi Meilan segera berbelok menuju pedang Wang Fei.
"SWOSH!"
Bahkan hanya dari hembusan angin yang dihasilkan cakar Harimau Tanduk Petir, tubuh Shi Meilan langsung terhempas ke belakang bagaikan ranting kering tertiup badai.
Dirinya terpental beberapa meter dan memuntahkan beberapa teguk darah saat tubuhnya menghantam tanah.
Melihat itu, dua rekannya segera berlari untuk membantunya bangkit. Namun alih-alih mengucapkan terima kasih, tatapan Shi Meilan justru tertuju pada pemuda yang tiba-tiba datang menyelamatkannya.
Kembali ke medan pertempuran.
Ketika pedang dan cakar bertemu, suara dentingan logam terdengar sangat nyaring.
"TRANG! DUAR!"
Ledakan energi menggema ke segala arah. Akibat benturan tersebut, tubuh Wang Fei terpental ke belakang sejauh delapan meter dan baru berhenti setelah menghantam pohon.
"WUSH! BRAK!"
"UHUK!"
Seketika dirinya memuntahkan seteguk darah.
"Sial... aku tahu perbedaan kekuatan antara aku dan harimau itu sangat besar, tetapi aku juga tidak bisa membiarkan seseorang mati di hadapanku tanpa melakukan apa pun," pikirnya sambil terengah-engah.
Bukan karena dirinya sok pemberani atau ingin menjadi pahlawan bagi kecantikan wanita. Mungkin ini karena kebiasaan lama yang diajarkan ayah dan ibunya selama bertahun-tahun, bahwa jika memiliki kemampuan untuk menolong, maka tolonglah.
Lama-kelamaan, hal itu menjadi kebiasaan.
Apesnya, satu hal yang dia lupakan adalah menolong seseorang memang boleh, tetapi harus didasari kekuatan yang cukup.
Jika asal menolong sementara dirinya sendiri tidak mampu menjaga keselamatan diri, maka akibatnya seperti hari ini. Bukannya berhasil menyelamatkan orang lain, dia justru terseret ke dalam pertarungan hidup dan mati.
"Haha! Apakah aku ini anak yang terlalu naif?" ucapnya sambil memandang langit.
Kemudian matanya yang tajam kembali menatap Harimau Tanduk Petir.
"Terserah orang mau mengatakan aku naif atau apa. Yang terpenting, sejak aku bisa berkultivasi normal dan membangkitkan kekuatanku lagi, aku sudah bersumpah pada diriku sendiri bahwa aku akan menjadi kuat, tidak peduli bagaimana caranya," tekadnya dalam hati.
Di saat yang sama, saat sumpah itu terucap, dia membunuh rasa takutnya sendiri dan memutuskan mulai sekarang akan melawan siapa pun yang berani menghalangi jalannya, tidak peduli seberapa kuat sosok tersebut.
"Jika langit menghalangi, maka runtuhkan langit. Jika dewa menghalangi, maka bunuhlah dewa. Jika Buddha menghalangi, maka bunuhlah Buddha."
Setelah tekad itu muncul, niat membunuh yang sangat dahsyat segera menyembur keluar dari tubuhnya. Di saat yang sama, energi hitam pekat di dalam tubuhnya untuk pertama kalinya dikerahkan tanpa sisa.
"BOOM!"
Seketika suhu udara turun drastis. Tekanan mengerikan menyebar ke segala arah lalu terfokus pada Harimau Tanduk Petir.
Pada saat itu, amarah dari ribuan jiwa pendendam menghantam kesadaran harimau tersebut seperti badai kematian.
Meskipun niat membunuh itu hanya setara ranah Pembentukan Inti, karena jumlahnya mencapai ribuan, aura yang dipancarkannya menjadi sangat mengerikan.
Saat energi gelap itu menyebar, Xue Jian yang berada di genggaman Wang Fei tiba-tiba melayang di udara.
Lebih tepatnya, pedang itu mengambang di hadapannya. Detik berikutnya, Xue Jian mulai bergetar dan berputar dengan cepat.
Seolah beresonansi dengan energi gelap tersebut, niat membunuh yang selama ini terkubur di dalam pedang langsung meletus hebat. Ketika dipadukan dengan aura dari ribuan jiwa pendendam, tekanannya berubah seperti ombak raksasa yang menutupi langit, itu turun bagaikan tangan dewa kematian yang siap merenggut nyawa.
"BOOM!"
Merasakan niat membunuh yang begitu dahsyat dan berada di luar pemahamannya, Harimau Tanduk Petir yang sebelumnya ganas kini mulai gemetar ketakutan.
Di bawah penindasan aura mengerikan itu, tubuhnya ditekan habis-habisan hingga tertunduk bagaikan kucing kecil yang lemah dan tak berdaya.
utk itu saya uplaus satu vote