NovelToon NovelToon
Terjerat Cinta Sang Pewaris Ranch

Terjerat Cinta Sang Pewaris Ranch

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Showbiz
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: velvetsky

Ellara Dawson adalah gadis desa yang bekerja sebagai perawat kuda di Blackwood Ranch, peternakan kuda terbesar dan paling bergengsi di negara bagian itu. Hidupnya sederhana hingga kedatangan Noah Blackwood, pewaris tunggal kerajaan ranch bernilai miliaran dolar.

Noah sudah memiliki kekasih resmi, Bianca Laurent, seorang sosialita cantik yang dipersiapkan menjadi nyonya Blackwood. Namun takdir terus mempertemukan Noah dan Ellara. Dari jalur berkuda di hutan pinus, danau pribadi ranch, hingga malam-malam panjang di arena latihan kuda, keduanya perlahan menjadi semakin dekat.

Ketika cinta mulai tumbuh, Ellara sadar satu hal dia hanyalah pekerja biasa. Sedangkan Noah adalah pria yang sudah menjadi milik wanita lain.

Di balik kisah cinta mereka, tersimpan rahasia keluarga Blackwood yang bisa menghancurkan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon velvetsky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak di Atas Pasir Putih

Hari ini, Noah mengajak Ellara menuju arena dressage yang berada di sisi timur Blackwood Ranch. Arena itu jauh lebih megah daripada yang pernah dibayangkan Ellara. Hamparan pasir putih terbentang luas, diratakan dengan sempurna hingga tak terlihat jejak kaki sedikit pun. Pagar-pagar kayu dicat mengkilap membingkai arena berbentuk persegi panjang itu. Di sisi utara berdiri tribun kecil beratap hitam tempat para tamu penting biasa menyaksikan latihan maupun kompetisi internal. Beberapa pekerja tampak sibuk menyiapkan rintangan latihan ringan.

Di tengah arena, dua ekor kuda putih bergerak anggun bersama penunggang mereka, melangkah perlahan lalu berbelok secara bersamaan seperti sedang menari mengikuti irama yang tak terdengar.

Ellara menghentikan langkah, matanya membesar. "Indah sekali..."

Noah yang berjalan di sampingnya tersenyum tipis. "Kuda-kuda di sini dipersiapkan untuk dressage."

"Dressage bukan hanya soal kecepatan." Ia menunjuk seekor kuda abu-abu yang sedang melangkah menyilang dengan gerakan sangat teratur. "Mereka harus cerdas, disiplin, dan mampu memahami setiap isyarat kecil dari penunggangnya."

Ellara memperhatikan dengan takjub. Gerakan-gerakan itu terlihat mudah. Tetapi ia tahu tidak mungkin semudah itu. Ada kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun antara manusia dan kuda.

"Kau pernah mencoba?" Noah menoleh padanya.

Ellara menggeleng. "Saya hanya terbiasa menunggang di desa. Untuk bekerja, bukan untuk... seperti ini."

Noah memandangnya beberapa saat. Lalu tersenyum.

"Kalau begitu aku ingin melihat kemampuanmu."

Ellara berkedip. "Apa?"

"Kau bilang kau bisa menunggang."

"Saya memang bisa."

"Buktikan."

Ellara mengerutkan hidung. "Anda tidak percaya?"

"Bukan begitu." Noah tertawa kecil.

"Aku hanya penasaran." Tatapan abu-abunya memandang Ellara lekat. "Dan aku ingin tahu seberapa hebat kau sebenarnya."

Entah kenapa...kalimat itu membuat pipi Ellara sedikit memanas.

Sepuluh menit kemudian...Ellara berdiri di depan seekor kuda betina berwarna cokelat kemerahan. Namanya Ruby. Kuda dressage yang terkenal sensitif.

Bahkan beberapa pekerja memilih menghindarinya.

"Kau yakin?" tanya Noah.

Ellara mengusap leher Ruby pelan. Kuda itu mendengus, lalu menggesekkan moncongnya ke bahu Ellara.

Noah mengangkat alis. "Aneh."

"Apa?" "Dia biasanya tidak suka orang baru."

Ellara tersenyum kecil. "Mungkin dia menyukaiku."

Noah justru menatap Ellara lebih lama. Bukan Ruby yang membuatnya penasaran, melainkan gadis di depannya. Sejak datang ke Blackwood Ranch...Ellara seolah memiliki kemampuan aneh. Kuda-kuda menyukainya, bahkan Star yang terkenal keras kepala pun langsung jinak di dekatnya. Noah tidak pernah mengerti alasannya, tetapi ia menyukainya.

Ellara memasang pelana, gerakannya cekatan, sangat terbiasa. Noah memperhatikan tanpa sadar. Bukan hanya caranya memegang tali kekang, tetapi bagaimana ia memperlakukan Ruby. Tidak terburu-buru, tidak memaksa. Ia mengusap kepala Ruby lebih dulu, membisikkan sesuatu, baru kemudian naik ke atas pelana.

Noah terdiam. Gerakannya ringan, luwes. Seolah ia memang dilahirkan di atas punggung kuda. Ellara duduk tegak. Tangannya memegang tali kekang dengan tenang. Ruby mulai berjalan, pelan, kemudian berlari kecil. Lalu berputar mengikuti arahan Ellara. Tidak ada rasa gugup, tidak ada keraguan, seolah mereka sudah mengenal satu sama lain sejak lama.

Noah menyilangkan tangan di dada. Matanya tak pernah lepas. Sial. Ia tahu Ellara berbakat, tetapi tidak menyangka gadis itu sehebat ini.

Ellara mempercepat laju Ruby. Rambut cokelat yang tadi diikat mulai terlepas beberapa helai, angin menerbangkannya, dress biru mudanya berkibar lembut. Ruby bergerak semakin cepat. Lalu...dengan satu tarikan kecil pada tali kekang...kuda itu berputar dengan indah. Pasir putih beterbangan, dan Ellara tertawa. Tawa yang ringan, lepas.

Noah membeku. Ia jarang melihat Ellara tertawa seperti itu. Tanpa beban, tanpa rasa canggung. Dan untuk sesaat...Noah tidak melihat seorang pekerja ranch. Ia melihat seorang gadis yang bersinar. Begitu alami, begitu hidup, begitu...cantik.

"Astaga." Salah satu pelatih di belakang mereka ikut berseru.

"Tuan Noah, dia benar-benar baru?"

Noah mengangguk pelan. Tetapi matanya tidak berpindah, sedikit pun.

Beberapa menit kemudian Ellara menghentikan Ruby.

Ia turun dari pelana. Wajahnya sedikit memerah karena lelah. Napasnya memburu, tetapi matanya berbinar.

Noah berjalan mendekat. "Kenapa Anda menatap saya seperti itu?"

tanya Ellara. Noah tidak langsung menjawab. Ia masih memandangi gadis itu. Lalu berkata jujur, "Kau hebat."

Ellara terdiam.

Kalimat sederhana. Tetapi entah kenapa...membuat jantungnya berdetak lebih cepat.

"Saya hanya beruntung."

"Bukan." Noah menggeleng.

"Kau punya bakat. Kau mengerti kuda, kau mengerti ritme mereka."

Ellara menunduk.

Lagi-lagi Noah memuji kemampuannya. Dan lagi-lagi...

ia tidak tahu harus menjawab apa.

Sejak hari itu...Noah mulai semakin sering membawa Ellara ke berbagai bagian Blackwood Ranch. Pagi ke arena latihan, siang ke area pembiakan, Sore ke padang rumput tempat anak-anak kuda dilepas.

Awalnya Ellara mengira Noah hanya sedang mengajarinya. Tetapi lama-kelamaan ia sadar...Noah selalu mencari alasan agar mereka bersama.

"Ellara, ikut aku."

"Tuan Mason bisa mengurus kandang."

"Ellara, aku ingin kau melihat sesuatu."

"Ellara, ada anak kuda baru lahir."

Setiap hari. Selalu begitu. Dan yang membuat Ellara kesal...adalah dirinya mulai menunggu panggilan itu.

Suatu sore...mereka berada di padang rumput utara.

Puluhan anak kuda berlari bebas. Matahari mulai turun mewarnai langit dengan semburat jingga. Ellara duduk di pagar kayu memperhatikan mereka.

"Saya tidak pernah membayangkan ranch sebesar ini."

katanya pelan.

Noah berdiri di sampingnya. "Ayahku membangunnya dari nol."

Ellara menoleh. "Benarkah?"

Noah mengangguk. "Dulu hanya ada beberapa kandang, sedikit tanah, dan satu kuda."

Tatapannya mengarah ke kejauhan.

"Ayahku mempertaruhkan seluruh hidupnya untuk tempat ini. Dan sekarang..." Ia tersenyum kecil.

"Semua orang mengira aku mewarisi keberuntungan."

Ellara terdiam. Baru kali ini Noah berbicara tentang keluarganya. Nada suaranya terdengar berbeda.

Lebih lembut, lebih manusiawi.

"Kau terbebani?" tanya Ellara hati-hati.

Noah tertawa kecil. "Setiap hari."

Ellara ikut tersenyum.

Untuk pertama kalinya...ia melihat Noah bukan sebagai pria kaya yang memiliki segalanya. Tetapi seseorang yang juga memikul banyak beban.

Malam harinya...Noah kembali duduk di balkon mansion. Namun kali ini ia tidak sendirian. Bianca Laurent datang berkunjung. Wanita itu mengenakan gaun putih sederhana. Ia duduk di kursi seberang Noah.

"Kau sibuk akhir-akhir ini." katanya sambil tersenyum.

Noah mengangguk. "Banyak urusan."

"Di ranch?"

"Hm."

Bianca mengaduk tehnya perlahan. Lalu bertanya seolah tidak peduli.

"Aku mendengar ada pekerja baru yang cukup berbakat."

Noah berhenti meminum whiskey.

"Siapa?"

"Ellara Dawson."

Nama itu keluar begitu saja. Dan Bianca tidak melewatkan perubahan kecil di wajah Noah.

Sangat kecil hampir tidak terlihat, tetapi ada.

Noah menjawab santai. "Dia memang berbakat."

Bianca tersenyum. "Sepertinya kau cukup memperhatikannya."

"Tidak." Jawaban Noah terlalu cepat.

Justru membuat Bianca semakin penasaran. Ia tidak berkata apa-apa lagi. Tetapi dalam hati...ia mulai mengingat nama itu. Ellara Dawson.

Keesokan harinya...Bianca memutuskan berjalan-jalan ke area kandang. Ia ingin melihat sendiri. Siapa gadis yang membuat Noah mengingat namanya. Dan di sana...ia melihat Ellara. Dress biru muda, boots kulit tua, rambut yang diikat sederhana. Gadis itu sedang tertawa kecil saat memberi makan seekor anak kuda.

Tidak ada perhiasan mahal, tidak ada dandanan berlebihan, tetapi...ada sesuatu yang sulit dijelaskan.

Ia terlihat begitu alami, begitu hidup.

Bianca mengamati diam-diam. Lalu melihat Noah datang dari kejauhan. Dan sesuatu yang aneh terjadi.

Pria yang selama ini selalu terlihat dingin...tersenyum.

Hanya sedikit, tetapi Bianca melihatnya. Ia melihat bagaimana Noah menghentikan langkah. Melihat Ellara lebih dulu. Bahkan sebelum menyadari Bianca ada di sana.

Senyum Bianca perlahan memudar. Hanya sesaat, kemudian kembali normal. Mungkin ia terlalu banyak berpikir. Mungkin Noah hanya menghargai pekerja berbakat. Hanya itu. Bukan?

Namun untuk pertama kalinya...Bianca tidak begitu yakin. Dan jauh di dalam hatinya...sebuah perasaan asing mulai tumbuh, kecil, hampir tidak terasa. Tetapi cukup untuk membuatnya gelisah. Sementara Noah...

masih belum sadar. Bahwa kecanduannya pada Ellara...perlahan mulai diperhatikan orang lain.

1
chiara azmi fauziah
wow gila noah
Mila Sari
up nya bnyakin thor🤭🤭 jgn nanggung², g enak bet penasaran🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
Titik Ristiana
mn lanjutannya??
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!