NovelToon NovelToon
PRIMUS ARISTOKRAT

PRIMUS ARISTOKRAT

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:359
Nilai: 5
Nama Author: elzio_yanuar

PRIMUS ARISTOKRAT
Dikhianati tunangan.
Diremehkan keluarga.
Bahkan dibunuh demi harta warisan.
Semua orang mengira hidup Primus Valerian Aristokrat telah berakhir.
Mereka salah.
saat kembali dari ambang kematian, Primus membawa kemampuan yang membuat seluruh dunia terkejut.
Bisnis? Tak ada yang bisa mengalahkannya.
Bela diri? Musuh-musuhnya tumbang dalam hitungan detik.
Strategi? Bahkan para konglomerat dan bangsawan tua dipermainkan olehnya.
Ketika identitas aslinya perlahan terungkap, para petinggi dunia mulai gemetar.
Karena pria yang dulu mereka hina ternyata adalah kunci menuju kekayaan, kekuasaan, dan rahasia terbesar keluarga Aristokrat.
Mereka pernah menginjaknya saat jatuh.
Kini giliran Primus berdiri di puncak dan menentukan nasib mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elzio_yanuar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

nama tak seharusnya muncul

DUBRAK!

Adrian meletakkan gelas kristalnya ke atas meja dengan dentuman yang cukup keras, membuat wine merah di dalamnya terciprat keluar. Ekspresinya yang tadinya santai mendadak berubah menjadi sangat dingin dan tajam.

"Dia membongkar detail sekecil itu?" bisik Adrian, suaranya bergetar antara amarah dan ketidakpercayaan.

*"Primus... jadi selama ini kau menyembunyikan taringmu di balik buku-buku tebal itu?"* batin Adrian, tangannya mengepal erat hingga kuku-kukunya memutih. *"Kau mempermalukanku dengan cara yang paling elegan."*

Beberapa detik keheningan yang mencekam berlalu. Lalu, secara mengejutkan, Adrian tertawa. Kali ini, tawanya terdengar berbeda—lebih gelap, lebih haus darah, namun juga penuh dengan rasa ketertarikan yang gila.

"Menarik," ujar Adrian sambil berdiri dan berjalan menuju jendela besar yang menghadap Kota Aurelia. "Sangat menarik. Akhirnya, permainan ini tidak lagi terasa seperti menendang anak anjing."

Adrian menatap pantulan dirinya di kaca, matanya berkilat penuh obsesi untuk menghancurkan. "Kalau begitu... mari kita naikkan level permainannya ke tahap yang lebih mematikan."

---

Di sisi lain kota, di dalam kantor Direktur Marcus yang kini terasa lebih hangat, Primus sedang mempelajari laporan keuangan asli yang baru saja diberikan Marcus sebagai bentuk kompensasi atas kesetiaannya.

Namun, saat Primus membuka halaman pertama dari daftar hitam perusahaan yang merusak Cabang Timur dari luar, gerakannya terhenti. Matanya terpaku pada satu nama perusahaan cangkang yang terus-menerus memotong jalur distribusi mereka.

Nama pemilik perusahaan bayangan itu... adalah seseorang yang sangat ia kenal.

"Vanessa Laurent?" bisik Primus, jantungnya berdenyut kencang karena rasa tidak percaya yang tiba-tiba menyerang.

*"Vanessa? Tunanganku sendiri?"* batin Primus, tangannya gemetar sedikit saat memegang kertas itu. Ada rasa pahit yang jauh lebih pedih dari kopi hitamnya tadi pagi. *"Apakah semua perhatiannya selama ini hanya bagian dari akting? Ataukah... dia sedang dipaksa oleh keluarganya untuk menusukku dari belakang?"*

Primus menyandarkan punggungnya, menatap langit-langit kantor dengan pandangan kosong. Untuk pertama kalinya, ia merasa sedikit lelah. Di dunia ini, ternyata tidak ada tempat yang benar-benar aman bagi seorang Aristokrat. Bahkan di pelukan orang yang dianggapnya paling dekat.

"Mari kita lihat seberapa dalam pengkhianatanmu, Vanessa," gumam Primus, matanya kini kembali dingin, jauh lebih dingin dari sebelumnya.

Berikut adalah revisi untuk **Bab 1 Part 6**. Saya telah menghaluskan diksinya agar lebih mengalir, memperdalam monolog batin Primus, dan membangun ketegangan yang lebih "mahal" tanpa terasa kaku.

---

Ruang kerja direktur kembali ke titik senyapnya. Keheningan kali ini terasa berbeda; bukan lagi tentang ancaman audit, melainkan tentang retakan di pondasi kepercayaan.

Primus masih memaku pandangannya pada dokumen di tangan. Jemarinya yang tadi begitu stabil saat menghadapi Victor, kini terasa sedikit kaku.

Satu nama.

Satu nama yang seharusnya menjadi tempatnya pulang, kini justru tercetak di atas kertas kusam sebagai beban finansial perusahaan.

*Vanessa Laurent.*

Marcus, yang duduk di seberang meja, menyadari perubahan atmosfer itu. Ia melihat bagaimana binar di mata Primus meredup, digantikan oleh sorot mata yang sulit dibaca—dingin, namun ada sisa keterkejutan di sana.

"Ada masalah, Tuan Muda?" tanya Marcus hati-hati.

Primus tidak langsung menyahut. Ia menutup dokumen itu perlahan, lalu menggesernya kembali ke arah Marcus. "Tolong lihat halaman tujuh. Bagian vendor logistik pihak ketiga."

Marcus membuka halaman yang dimaksud. Tak butuh waktu lama bagi sang direktur tua untuk merasakan guncangan yang sama. Alisnya bertaut rapat.

"Perusahaan Laurent Holdings?" gumam Marcus. Ia menatap Primus dengan ragu. "Bukankah ini... milik keluarga Nona Vanessa?"

"Benar," jawab Primus singkat. Suaranya datar, namun di dalam kepalanya, potongan-potongan ingatan tentang Vanessa mulai berputar liar.

Marcus mulai meneliti angka-angka di sana dengan kacamata bacanya. "Ini tidak masuk akal. Dalam dua tahun terakhir, Cabang Timur terus menggunakan jasa logistik mereka dengan skema harga yang... luar biasa tinggi. Jauh melampaui standar pasar."

"Bukan hanya harganya, Marcus," sela Primus, suaranya kini terdengar lebih tajam. "Lihat klausul perpanjangannya. Kontrak ini diperbarui otomatis setiap enam bulan tanpa audit kinerja. Di sistem Aristokrat, itu sama saja dengan memberikan akses terbuka ke brankas keluarga."

Ruangan itu kembali sunyi. Ini bukan sekadar kesalahan administrasi; ini adalah kebocoran yang disengaja. Seseorang di dalam Cabang Timur telah membiarkan keluarga Laurent menghisap sumber daya perusahaan selama bertahun-tahun.

*"Semalam kau memperingatiku tentang Adrian, Vanessa,"* batin Primus. Tangannya mengepal di bawah meja. *"Apakah itu peringatan tulus, atau hanya taktik untuk membuatku tetap buta pada apa yang dilakukan keluargamu di sini?"*

Marcus berdeham, mencoba mencairkan ketegangan. "Tuan Muda, saya tidak bermaksud menuduh Nona Vanessa secara pribadi. Bisa saja ini dilakukan oleh ayahnya atau faksi lain di Laurent Holdings tanpa sepengetahuannya."

Primus mengangguk pelan, meski logikanya meragukan hal itu. Di keluarga besar seperti Laurent, tidak ada transaksi sebesar ini yang luput dari pengawasan anggota inti. "Fakta tetaplah fakta, Marcus. Uang mengalir keluar, dan nama keluarganya ada di sana. Simpan dokumen ini. Jangan biarkan siapapun menyentuhnya."

---

Menjelang sore, Primus melangkah keluar dari gedung Cabang Timur. Langit Aurelia mulai bersalin rupa menjadi jingga keunguan, memantulkan bayangan gedung-gedung pencakar langit yang angkuh.

Saat ia sedang menyetir sendiri menuju pusat kota—mencoba menjernihkan pikiran dari angka-angka yang memusingkan—ponselnya bergetar di dasbor.

*Vanessa.*

Nama itu muncul seolah-olah sang pemilik nama memiliki insting bahwa dirinya sedang dibicarakan. Primus menarik napas panjang sebelum menekan tombol terima.

"Halo," sapanya tenang.

"Primus," suara Vanessa terdengar di seberang sana, lembut dan menenangkan seperti biasanya. "Kau baru selesai bekerja? Suaramu terdengar lelah."

"Hanya hari yang panjang. Ada apa?"

"Aku ingin mengajakmu makan malam," sahut Vanessa. Ada nada riang yang sedikit dipaksakan di sana. "Ada restoran baru di Sky Garden yang ingin kucoba. Bisa kita bertemu jam tujuh?"

Primus menatap jalanan di depannya. Ada dorongan untuk menolak, namun rasa ingin tahunya jauh lebih besar. Ia perlu melihat mata gadis itu secara langsung. "Tentu. Aku akan di sana."

"Terima kasih, Primus. Sampai jumpa."

Telepon terputus. Primus melempar ponselnya ke kursi penumpang. Sesuatu terasa tidak beres. Undangan yang tiba-tiba ini terasa terlalu pas dengan temuan dokumen tadi.

---

**Sky Garden, 19.30.**

Restoran itu adalah definisi kemewahan yang tenang. Musik piano mengalun di latar belakang, berpadu dengan gemericik air mancur buatan di tengah ruangan.

Vanessa sudah duduk di sana saat Primus tiba. Ia mengenakan gaun hitam sederhana yang justru menonjolkan kecantikannya. Saat melihat Primus, ia tersenyum lebar, namun Primus menangkap sesuatu yang tidak biasa. Ada kegelisahan yang tersembunyi di balik riasan wajahnya yang sempurna.

"Kau tampak sangat tampan malam ini, meski terlihat sedikit tertekan," goda Vanessa saat Primus duduk.

"Dunia bisnis tidak pernah santai, bukan?" sahut Primus ringan.

Sepanjang makan malam, percakapan mereka sebenarnya mengalir normal. Mereka tertawa mengenang masa kecil dan mendiskusikan kekacauan yang dibuat Adrian di pertemuan keluarga terakhir. Namun, Primus tetap waspada.

Ia memperhatikan bagaimana Vanessa berkali-kali melirik jam tangannya. Jemarinya terus memainkan serbet di pangkuannya, dan matanya sesekali melirik ke arah pintu masuk atau area VIP di lantai atas.

"Vanessa," panggil Primus lembut.

Gadis itu tersentak kecil, menjatuhkan garpunya ke piring dengan bunyi denting yang nyaring. "Ya? Kenapa?"

"Kau baik-baik saja? Kau terlihat seperti sedang menunggu seseorang... atau sesuatu."

Vanessa memaksakan tawa kecil yang terdengar hambar. "Tidak, hanya sedikit lelah karena urusan butik. Oh, lihat, hidangan utamanya datang."

Primus mengikuti arah pandang Vanessa, namun matanya justru menangkap hal lain. Dari pantulan kaca jendela besar di samping meja mereka, ia melihat siluet di lantai dua restoran.

Di sana, berdiri seorang pria dengan segelas wine di tangan, menatap ke bawah ke arah meja mereka dengan seringai kemenangan.

*Adrian.*

Darah Primus mendidih sesaat, namun ia segera meredamnya. Ia tetap memotong dagingnya dengan tenang, seolah tidak melihat saudaranya di sana.

*"Jadi ini jebakan,"* batin Primus. *"Vanessa membawaku ke sini sebagai umpan? Ataukah dia sendiri adalah pion yang sedang dikorbankan Adrian untuk melihat reaksimu, Primus?"*

Di lantai atas, Adrian berbisik kepada asisten tua di sampingnya. "Lihat dia. Masih bersikap seperti pria terhormat sementara dunianya sedang dipreteli perlahan. Vanessa melakukan tugasnya dengan baik."

"Bagaimana jika Primus curiga, Tuan Muda?" tanya si asisten.

Adrian tertawa kecil, tawa yang penuh dengan rasa percaya diri yang berlebihan. "Curiga? Tentu saja dia curiga. Primus tidak bodoh. Tapi rasa cintanya pada Vanessa adalah kelemahannya. Dia akan memilih untuk percaya pada kebohongan Vanessa sampai semuanya terlambat."

Adrian salah besar.

Primus tidak lagi melihat Vanessa sebagai tunangan yang perlu dilindungi. Di matanya saat ini, Vanessa adalah sebuah variabel dalam persamaan yang harus ia pecahkan.

"Vanessa," ucap Primus tiba-tiba, suaranya sangat tenang namun memiliki daya tekan yang kuat. "Keluargamu... Laurent Holdings... apakah mereka sedang mengalami kesulitan logistik akhir-akhir ini?"

Gerakan tangan Vanessa berhenti total. Wajahnya mendadak pucat pasi di bawah temaram lampu restoran. Di atas sana, senyum Adrian pun mulai memudar saat ia menyadari arah pembicaraan Primus.

Permainan baru saja dimulai, dan kali ini, Primus yang memegang kendali atas langkah pertama.

"BERSAMBUNG"

1
Toto Maki
sejauh ini alurnya bagus g muter" lanjut kembangkn lgi aku follow
yanuar saputra: terimakaaih kak atas saran nya, salam hangat☺
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!