Alana Wijaya tidak pernah menduga hidupnya akan berubah menjadi neraka dalam semalam. Demi menyelamatkan perusahaan keluarganya yang diambang kehancuran, ia dipaksa menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Devano Adhitama—seorang CEO arogan yang dikenal sebagai monster berdarah dingin dan harus duduk di kursi roda akibat kecelakaan misterius.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adawiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 jerat dalam sangkar emas
Keputusan Devano Adhitama adalah hukum yang mutlak dan tidak bisa diganggu gugat.
Hanya dalam waktu satu malam, sebuah meja kerja bermaterial kayu mahoni mewah bersanding dengan kursi ergonomis premium telah ditata rapi di sudut kanan ruang kerja CEO. Meja itu terletak tepat lima meter di depan meja kebesaran milik Devano. Latar belakangnya adalah dinding kaca raksasa yang memperlihatkan pemandangan metropolitan yang angkuh dari lantai lima puluh.
Alana duduk membeku di kursinya, memandangi tumpukan berkas analisis pasar di depannya dengan pandangan kabur. Seluruh tubuhnya terasa kaku. Sejak satu jam lalu ia duduk di sana, ia bisa merasakan sepasang tatapan mata yang luar biasa tajam, pekat, dan mengintimidasi terus terarah padanya tanpa henti.
Di seberang ruangan, Devano duduk di atas kursi roda elektriknya. Pria itu tampaknya sedang membaca laporan di tablet komputer, namun pandangan matanya secara berkala melirik ke arah Alana, menguliti setiap gerak-gerik, hela napas, bahkan getaran halus di jemari wanita itu.
Suasana di dalam ruangan itu begitu sunyi, menyisakan ketegangan tak kasat mata yang sangat menyesakkan dada. Alana merasa seperti seekor burung kenari kecil yang sengaja dikurung di dalam sangkar emas, tidak diizinkan terbang dan hanya boleh bernapas atas izin sang pemilik tirani.
Bzzzt.
Getaran pendek dari saku blazernya membuat Alana tersentak kecil. Dengan gerakan waspada, ia melirik ke arah Devano. Pria itu tampak kembali fokus pada layarnya. Alana perlahan merogoh saku pakaiannya dan mengeluarkan ponsel usangnya.
Sebuah pesan baru dari Siska.
"Lima ratus juta sudah masuk ke rekeningku. Kerja bagus, Adikku yang malang. Tapi ternyata biaya hidup di luar negeri jauh lebih mahal dari dugaanku. Aku butuh satu miliar lagi sebelum malam ini, Alana! Jika kau menolak, video asli rekaman konspirasi Ibu tiri saat menjebak Devano dua tahun lalu akan langsung kukirim ke dewan komisaris Adhitama Group. Biarkan suamimu tahu seberapa busuk darah keluarga kita!"
Membaca deretan kalimat itu, wajah Alana seketika pucat pasi bagaikan kehilangan seluruh pasokan darah. Napasnya tercekat di tenggorokan. Kedua tangannya gemetar hebat hingga ponsel di genggamannya hampir tergelincir jatuh ke atas lantai.
Siska benar-benar monster yang tidak pernah puas! Uang lima ratus juta yang kemarin diberikan Devano ternyata justru memicu keserakahan yang jauh lebih mengerikan. Satu miliar? Dari mana Alana bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu beberapa jam? Jika rahasia konspirasi masa lalu itu terbongkar ke dewan komisaris, posisi Devano sebagai CEO bisa terancam, dan Devano pasti akan mencabik-cabik Alana terlebih dahulu sebagai bentuk pelampiasan amarahnya.
"Siapa?"
Suara bariton yang sangat berat dan sedingin es tiba-tiba memecah keheningan ruangan.
Alana terperanjat, refleks menyembunyikan ponselnya di bawah tumpukan dokumen dengan wajah penuh kepanikan. Ia mendongak dan mendapati Devano sudah menghentikan aktivitasnya. Sepasang mata elang pria itu berkilat tajam, memancarkan aura kegelapan yang siap menerkam.
"T-bukan siapa-siapa, Tuan Devano... Hanya pesan sampah dari operator," bohong Alana dengan suara yang bergetar hebat. Kebohongannya begitu kentara, pertahanan mentalnya runtuh di bawah tatapan intimidatif sang suami tirani.
Devano tidak menjawab. Sudut bibirnya terangkat, membentuk sebuah seringai sinis yang sangat mematikan. Pria itu mengulurkan tangannya ke bawah meja kerja, menekan sebuah tombol remote kontrol rahasia.
Sreeet... Sreeet...
Secara otomatis, gorden hitam tebal yang melapisi dinding kaca raksasa bergerak menutup, menghalangi seluruh sinar matahari siang dan menenggelamkan ruang kerja luas itu ke dalam kegelapan yang remang-remang. Hanya menyisakan lampu meja kerja yang berpendar kuning dramatis.
Jantung Alana berdegup dua kali lebih cepat. Sensasi bahaya langsung merayap ke seluruh saraf tubuhnya.
Klek.
Suara itu terdengar lagi. Alana membelalakkan matanya saat melihat Devano perlahan mendorong sandaran kursi rodanya, lalu berdiri tegak! Kedua kakinya yang panjang menumpu dengan sangat kokoh di atas lantai marmer. Tubuhnya yang tinggi tegap, dengan bahu lebar yang dibalut kemeja hitam melekat erat, melangkah maju mendekati meja kerja Alana.
Setiap langkah kaki Devano di dalam kegelapan ruangan terasa seperti ketukan lonceng kematian bagi Alana.
"T-Tuan Devano... Anda... jangan berdiri..." cicit Alana, tubuhnya beringsut mundur hingga punggungnya menempel keras pada sandaran kursi kerjanya, tidak memiliki jalan untuk kabur.
Devano berhenti tepat di depan meja Alana. Dengan satu gerakan yang sangat kasar dan dominan, pria itu menyapu seluruh tumpukan berkas di atas meja hingga berhamburan berantakan di atas lantai. Ponsel usang milik Alana yang tersembunyi pun langsung terekspos dengan jelas.
Devano memungut ponsel itu, membaca pesan dari Siska dengan cepat. Detik berikutnya, Alana bisa melihat bagaimana rahang tegas Devano mengeras sempurna. Urat-urat di leher dan dahinya menonjol, memancarkan amarah yang meledak-ledak.
Brak!
Devano menghantamkan kedua telapak tangannya di atas meja kerja Alana, mencondongkan tubuh kekarnya yang besar hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. Aroma parfum maskulin yang sensual bercampur wangi tembakau mahal langsung mengepung indra penciuman Alana, memicu ketegangan R-15 yang sangat pekat dan membakar udara di sekitar mereka.
"Satu miliar, huh?" desis Devano dengan suara rendah yang serak, namun sarat akan ancaman kepemilikan yang gelap ekstrem. "Tikus kecil itu benar-benar menantang batas kesabaranku. Dan kau... kau berniat menyembunyikannya lagi dariku, Alana?!"
"T-tidak, Tuan! Saya bersumpah!" Air mata Alana akhirnya luruh, membasahi pipinya yang mulus. Ia mendongak menatap wajah tampan nan kejam di depannya dengan pandangan memelas. "Saya hanya tidak ingin merepotkan Anda lagi... Saya takut... saya takut Anda akan membenci saya..."
"Membencimu?" Devano terkekeh rendah, sebuah tawa iblis yang terdengar begitu seksi namun mematikan.
Pria itu tiba-tiba mengitari meja, mencengkeram pergelangan tangan Alana dengan kekuatan yang luar biasa, dan menarik wanita itu hingga berdiri dari kursinya. Dalam satu sentakan kuat, Devano membalikkan tubuh Alana, menyudutkan punggung ringkih wanita itu langsung pada dinding ruangan yang dingin.
Devano mengunci tubuh Alana menggunakan seluruh berat badannya. Dada bidangnya yang keras menekan dada Alana yang naik turun akibat napas yang memburu panik. Kedua tangan kekar Devano mencengkeram sisi kanan dan kiri kepala Alana di dinding, mengurung wanita itu dalam dominasi mutlak yang tak menyisakan jarak barang satu milimeter pun.
"Dengar baik-baik, Nyonya Adhitama yang palsu," bisik Devano tepat di depan bibir Alana yang bergetar hebat. Ibu jarinya yang panjang dan dingin bergerak naik, mencengkeram dagu Alana dengan sangat kuat, memaksa wanita itu menatap langsung ke dalam kilat obsesi yang berkobar di matanya. "Kau adalah hak milikku. Setiap masalahmu, setiap helai napasmu, adalah urusanku! Jika ada orang lain yang mencoba mengancammu, itu sama saja mereka sedang mengusik ketenanganku!"
"Maafkan saya, Tuan Devano... Maaf..." bisik Alana lirih, tubuhnya melemas seiring dengan getaran aneh yang mulai menjalar ke seluruh tubuhnya akibat kedekatan yang terlalu intim ini.
"Aku tidak butuh maafmu, Alana. Aku butuh kepatuhanmu!" desis Devano serak.
Pria itu memiringkan wajahnya, membungkuk dan langsung membungkam bibir mungil Alana dalam sebuah ciuman yang sangat kasar, dalam, dan menuntut. Alana melenguh pelan di dalam tenggorokannya saat lidah Devano mulai menjelajah tanpa ampun, mengklaim kepemilikannya atas seluruh jiwa dan raga Alana. Tangan Devano yang bebas merayap turun ke pinggang Alana, meremasnya dengan kejam seolah ingin menyatukan tubuh wanita itu ke dalam tubuhnya sendiri.
Ciuman tirani itu berlangsung lama di tengah kegelapan ruang kerja yang remang-remang, membakar seluruh sisa akal sehat dan kewarasan Alana. Rasa takut yang melumpuhkan dan gairah asing R-15 yang memabukkan bercampur aduk, meracuni kesadaran Alana hingga ia hanya bisa pasrah bersandar pada kekuatan lengan kekar Devano.
Ketika Devano melepaskan tautan bibir mereka, napas keduanya tersengal-sengal di udara, saling berkejaran. Devano menatap bibir Alana yang memerah bengkak dan basah dengan tatapan puas seorang penguasa sejati. Ia menyeka sisa saliva di sudut bibir Alana dengan gerakan ibu jari yang kasar.
"Biarkan Siska mengirimkan rekaman itu, Alana," bisik Devano dengan seringai kejam yang sangat tampan di wajahnya. "Aku sudah menyiapkan skenario pembantaian untuknya malam ini. Tapi ingat... satu miliar yang dia minta akan menjadi utang barumu padaku. Dan kau... harus membayarnya dengan melayaniku di kamar ini setiap kali aku menginginkannya."
Sebelum Alana sempat merespons ancaman sensual itu, suara ketukan pintu yang terburu-buru dari luar seketika memecah ketegangan mereka.
Tok! Tok! Tok!
"Tuan Devano! Ini Jefri! Ada situasi darurat mengenai pergerakan Siska di pelabuhan!"