NovelToon NovelToon
Ketika Sang Penindas Jadi Bucin

Ketika Sang Penindas Jadi Bucin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Vina Melani Sekar Asih

Bagi Hani, diterima wawancara di perusahaan besar adalah impian. Namun, impian itu berubah jadi ketegangan saat ia tahu sang pewawancara adalah Reza, cowok nakal yang sering membully-nya saat SMA, yang ternyata adalah anak pemilik perusahaan.

Reza awalnya pangling melihat Hani yang kini bertransformasi menjadi sangat cantik dan memikat. Namun, begitu membaca nama lengkap Hani di CV, Reza langsung ingat bahwa mereka dulu sekelas. Terpesona oleh kecantikan Hani sekarang sekaligus dihantui rasa bersalah masa lalu, Reza langsung meloloskan Hani dan bertekad menebus dosanya.

Reza melakukan segala cara untuk meminta maaf dan mengambil hati Hani. Sayangnya, Hani bukan perempuan lemah yang mudah luluh. Akankah sikap dingin Hani runtuh oleh perjuangan Reza, ataukah Reza harus menerima kenyataan bahwa beberapa luka masa lalu memang mustahil disembuhkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vina Melani Sekar Asih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Penyesalan selalu datang dengan senyap, namun dampaknya mampu meremukkan dada hingga hancur berkeping-keping. Setelah punggung tegap Reza menghilang di balik pintu kaca, Hani hanya bisa memeluk lututnya di atas kursi.

Air matanya mengalir deras, membasahi kemeja kerja barunya yang kini terasa begitu mencekik. Kalimat terakhir Reza berputar-putar di dalam kepalanya bagai kutukan. Sekali dinding kepercayaan ini retak, segalanya tidak akan pernah bisa kembali sama.

Hani menatap kedua telapak tangannya yang masih bergetar. Mengapa ia bisa begitu impulsif? Mengapa ia membiarkan kata-kata Tedi, seorang pria yang bahkan baru ia temui lagi setelah delapan tahun dengan mudah meruntuhkan segala pengorbanan yang telah Reza tunjukkan?

Dengan gerakan rapuh, Hani membuka kembali laci mejanya. Ia mengeluarkan memo internal berlambang Baskara Group yang dibawa oleh Tedi, lalu menyandingkannya dengan Proyek-X dan foto tua yang dilingkari tinta merah.

Ia mencoba melihat lembaran-lembaran itu dengan kepala dingin, menjauhkan ego dan rasa paranoid yang sempat meracuni otaknya.

Ketika jemarinya mengusap permukaan kertas memo dari Tedi, dahi Hani tiba-tiba mengernyit. Ada sesuatu yang janggal. Kertas itu tampak kusam dan lusuh, seolah-olah memang sudah disimpan selama delapan tahun.

Namun, saat Hani mengarahkannya ke bawah pendar lampu meja, ia menyadari bahwa tinta cetak kop surat pada memo itu memiliki ketajaman warna yang terlalu pekat untuk dokumen yang diklaim telah mendekam di dalam gudang berdebu selama hampir satu dekade.

Hani segera meraih ponselnya. Dengan jantung yang kembali berdegup kencang, ia mengetik sebuah pesan singkat kepada Sarah, sahabat sekaligus satu-satunya orang di luar lingkaran kantor yang paling ia percayai untuk urusan analisis dokumen kelayakan.

"Sar, kamu masih di laboratorium cetak kampus? Aku punya dokumen penting yang butuh diperiksa penanggalan tintanya secara digital. Bisa aku kirim fotonya sekarang?"

Hanya butuh waktu kurang dari dua menit bagi Sarah untuk membalas.

"Bisa, Han. Kirimkan foto dengan resolusi tertinggi dan detail serat kertasnya, ya. Ada apa? Kamu kedengaran tegang sekali."

Hani tidak membalas pesan itu. Ia dengan cepat mengambil beberapa foto makro dari dokumen-dokumen tersebut, lalu mengirimkannya kepada Sarah. Setelah itu, ia menyandarkan punggungnya pada kursi, menatap langit-langit ruangan dengan perasaan yang terombang-ambing.

Jika semua dokumen ini palsu, artinya ada seseorang yang memiliki akses luar biasa terhadap format internal Baskara Group.

Seseorang yang sangat mengenal masa lalu ayahnya, tahu persis letak sensitivitas emosional Hani, dan sengaja merancang semua ini untuk menghancurkan hubungannya dengan keluarga Baskara dari dalam. Dan target utamanya jelas memisahkan dirinya dari Reza.

Malam kian larut, namun Hani menolak untuk pulang. Ia menatap buket mawar putih di sudut meja yang kini tampak layu, mencerminkan kondisi hatinya yang gundah. Sekitar pukul sembilan malam, sebuah notifikasi panjang dari Sarah masuk ke ponselnya.

Hani dengan cepat membuka pesan suara dan dokumen hasil pemindaian digital yang dikirimkan sahabatnya.

"Han, aku sudah memasukkan sampel fotomu ke perangkat lunak pembanding saturasi tinta," suara Sarah terdengar serius dari pengeras suara ponsel.

"Kop surat dan kertasnya memang asli dari material delapan tahun lalu. Kemungkinan besar diambil dari stok kertas lama yang tidak terpakai. Tapi, tinta yang membentuk tulisan angka miliaran rupiah dan tanda tangan Narendra Baskara itu... itu adalah tinta jenis pigmen modern yang baru diproduksi massal sekitar dua tahun lalu. Bahkan, gaya tekan goresan tanda tangannya terlalu simetris, khas hasil cetakan mesin plotter peniru, bukan goresan tangan manusia yang dinamis. Han, dokumen itu baru dibuat beberapa hari yang lalu. Seseorang sedang membohongimu."

Mendengar penjelasan Sarah, handphone di genggaman Hani hampir saja terlepas. Napasnya tercekat di tenggorokan.

"Palsu..." bisik Hani, suaranya bergetar hebat oleh gelombang fakta baru yang menghantamnya. "Semua ini... jebakan."

Rasa bersalah yang teramat besar kini melingkupi seluruh kesadaran Hani. Ia telah menuduh Narendra. Lebih buruk lagi, ia telah menusuk hati Reza dengan belati tuduhan yang paling keji tepat di saat pria itu baru saja pulih demi melindunginya. Hani ingin berlari ke lantai atas saat ini juga, mencari Reza, berlutut, dan memohon ampun atas segala kebutaan logikanya.

Namun, sebelum Hani sempat bangkit dari kursinya, lampu di dalam ruang kerjanya mendadak padam.

Bukan hanya ruangannya, seluruh pendar lampu di koridor lantai lima juga ikut mati, menyisakan kegelapan pekat yang hanya ditemani oleh rembulan malam dari balik jendela kaca besar.

Hani membeku di tempatnya. Pendingin ruangan mati secara instan, membuat keheningan di lantai itu terasa begitu mencekam.

Sret... Sret...

Suara langkah kaki yang diseret terdengar samar-samar dari arah luar pintu kaca ruangannya. Langkah itu pelan, namun berirama konstan di atas lantai marmer yang sunyi.

Hani menahan napasnya, tangannya bergerak perlahan meraba meja, mencari ponselnya yang layarnya masih menyala redup. Menggunakan cahaya minim dari ponsel, Hani menatap ke arah pintu kaca ruangannya.

Di balik kaca yang tembus pandang, di bawah temaram cahaya bulan yang menembus jendela lobi, sebuah siluet tubuh jangkung tampak berdiri diam tepat di depan pintunya. Orang itu mengenakan pakaian serba hitam, wajahnya tersembunyi di balik kegelapan lorong yang pekat.

Jantung Hani berdegup begitu kencang hingga ia bisa mendengar detaknya sendiri di dalam telinga. Ia mencoba menekan tombol darurat di ponselnya untuk menghubungi pos keamanan basemen, namun nihil. Sinyal selulernya mendadak hilang total. Seseorang telah mengaktifkan alat pengacak sinyal di lantai ini.

Klik.

Suara knop pintu ruang kerjanya bergerak perlahan, berputar membuka dari luar. Pintu kaca itu berayun terbuka dengan decitan halus yang menyayat kesunyian.

Hani melangkah mundur hingga punggungnya membentur dinding kaca di belakang meja kerjanya. Ia tidak bisa melarikan diri ke mana pun.

Sosok tinggi itu melangkah masuk ke dalam ruangan Hani. Aroma parfum yang sangat maskulin namun asing menyeruak masuk, memenuhi indra penciuman Hani. Sosok itu berhenti tepat di seberang meja kerja Hani, membiarkan cahaya bulan menerangi sebagian tubuhnya dari samping.

Dari balik saku jaketnya, orang misterius itu mengeluarkan sebuah benda kecil berbentuk persegi. Sebuah alat perekam suara mini lalu meletakkannya di atas meja kayu dengan ketukan yang pelan.

"Kamu terlalu pintar untuk dibohongi terlalu lama dengan kertas-kertas amatir itu, Hani Adisa Putri," sebuah suara bariton yang halus, terdengar sangat tenang namun dingin, menggema di dalam ruangan. Suara itu bukan suara Tedi, bukan suara Narendra, dan jelas... bukan suara Reza.

Orang itu menekan tombol play pada alat perekam tersebut.

Dari pengeras suara kecil itu, terdengar rekaman percakapan rahasia dua orang yang sangat Hani kenal suaranya. Itu adalah suara Hendra Baskara dan seorang pria lain yang tengah merencanakan malam penyerangan Hani di gang delapan tahun lalu.

Namun, nama yang disebut sebagai otak yang membayar mereka justru membuat seluruh dunia Hani runtuh dalam kegelapan yang sesungguhnya.

Pria misterius itu sedikit menunduk, matanya berkilat di balik bayangan topi, menatap Hani yang sudah pucat pasi menahan horor.

"Mari kita mulai permainan yang sebenarnya. Pilih dengan bijak, Hani... atau malam penganugerahan minggu depan akan berubah menjadi malam pemakaman untuk Reza Baskara."

1
Bu Dewi
up lagi kak😍😍😍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!