Rafael Adinata, adalah aktor terkenal yang terjerat skandal memalukan dengan aktris pendatang baru.
Rafael terpaksa menikah dengan wanita biasa demi menyelamatkan reputasinya. Gita Larasati, seorang editor buku yang hidupnya sederhana. Dengan terpaksa menerima tawaran Rafael pernikahan kontrak dengan sang aktor demi melunasi hutang keluarga.
Sebuah pernikahan dimulai, tanpa cinta hanya sebatas hitam diatas putih.
Mampukah Rafael dan Gita menjalani pernikahan kontrak mereka yang penuh liku-liku? berpisah setelah masa kontrak habis, atau justru saling jatuh cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARSYILA qirani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 : Seseorang dari masa lalu
Langit jingga Bali terbentang luas, berpadu dengan debur ombak yang berkejaran di bibir pantai. Aroma laut yang khas membawa ketenangan tersendiri.
Tapi tidak untuk Rafael yang hanya memandang pantai dengan tatapan kosong, pikirannya tertinggal di jakarta. Ia memikirkan Gita.
Ia berdiri di pinggiran lokasi syuting.
" Rafael, siap kita ambil scene lagi!" teriak sutradara dari kejauhan. Rafael dan Sherly mengambil posisi yang tepat sesuai arahan sutradara. Sudah empat kali take dan Rafael belum bisa fokus.
Gambaran Gita dengan mata merah kemarin mengusik pikirannya.
" siaaaap..... action....." teriak sutradara.
Rafael menarik napas, lalu langsung masuk ke dalam karakter. Sherly dan Rafael berdiri berhadapan, mata mereka saling menatap. Adegan romantis dimulai. Tangan Sherly perlahan meraih tangan Rafael. Mata Sherly berkaca-kaca. Sherly mulai masuk ke dialog "kenapa kamu menjauh dari aku?" suara Sherly lembut menatap sendu Rafael.
Rafael membalas tatapan itu, seharusnya penuh perasaan namun fokusnya berantakan saat justru wajah kesal Gita yang muncul.
" cut!!!" teriak sutradara emosi. Sherly menghembuskan napas panjang.
" Rafael, Lo kenapa sih dari tadi!!" omel sutradara.
" Ini adegan romantis bukan adegan Lo lagi mikirin utang!!" beberapa kru tertawa kecil.
" Sorry... sorry," Rafael meminta maaf.
" tenangin diri Lo dan mulai fokus!" Sherly menyemangati Rafael.
"Oke ulang!! Action!!!" teriak sutradara lebih keras lagi.
Malamnya Rafael duduk sendiri di balkon hotel. Lampu kota Bali kelap-kelip dari kejauhan. Andra ijin keluar sebentar untuk cari makan dan membeli beberapa kebutuhan dengan kru yang lain.
Rafael menatap ponselnya, layar chat terbuka menampilkan nama Gita. Rafael berulang kali berpikir apa kata-kata yang cocok untuk di kirimkan ya pada Gita.
Mengetik.
Menghapus.
Mengetik lagi.
Hapus.
Kamu sudah makan?
Hapus.
Gimana, rumah aman?
Hapus. Emang Gita satpam!
" Apaan sih," Rafael meletakkan ponselnya di meja kecil sambil mengacak rambutnya. Menyandarkan tubuhnya kekursi, menutup wajahnya dengan telapak tangan.
Tok...tok...tok...
Suara ketukan pintu, Rafael memejamkan mata. Itu pasti Andra. Rafael membuka pintunya malas.
"Rachel?!" Rachel berdiri dengan senyum mengembang.
"Ngapain kamu kesini?" alis Rafael bertaut tak suka.
"Aku cuma pengen liat kamu, seharian aku mikirin kamu aku jadi gak tenang," suara Rachel manja. Rafael membuang muka. Lalu membuka pintu lebih lebar agar Rachel bisa masuk. Rachel menutup pintu kamar lalu memeluk Rafael dari belakang.
Rafael terkejut, tubuhnya kaku, bulu kuduknya merinding. Tangan Rafael ingin melepaskan tangan Rachel yang bertaut di perutnya.
"Biarkan seperti ini, sebentar saja."Rachel menenggelamkan wajahnya pada punggung Rafael. Rafael terdiam tak bergerak, ia merasakan punggungnya basah. Ia yakin Rachel pasti menangis.
Rachel melepaskan tautan tangannya perlahan. Lalu membalikkan tubuh Rafael pelan, Rafael menurut tubuhnya seperti tersihir oleh Rachel. Aroma dan sentuhan yang dulu sangat disukai Rafael.
Pipi Rachel Basah, jarinya gemetar membelai pipi Rafael. Rafael menatap Rachel Lamat.
"Aku benci, aku gak tahan liat kamu nikah sama orang selain aku. Aku gak suka kamu tertawa dengan perempuan lain selain aku. Aku cemburu Rafael. Apa aku sudah tidak bisa masuk di kehidupanmu sekarang?" tanya Rachel parau. Lalu Rachel berjinjit meraih tengkuk Rafael mendekatkan wajah mereka. Bibir mereka bersentuhan, bibir Rafael menghangat. Rafael memejamkan mata, aroma Rachel adalah aroma yang Rafael rindukan selama ini.
Rafael hilang kendali. Lengannya memeluk erat pinggang Rachel. Ciuman mereka makin inten dan panas. Tiba-tiba bayangan Gita dengan mata memerah dan wajah pucat melintas di kepala Rafael. Rafael mendorong Rachel menjauh.
" Ini salah Rachel " nafas Rafael terengah. Kepalanya pening.
" Rafael, aku....." belum sempat Rachel melanjutkan kata-katanya. Andra membuka pintu. Otomatis mereka menoleh kearah pintu.
"Andra tolong antarkan Rachel keluar!" perintah Rafael lalu pergi ke kamar mandi.
Sedangkan di tempat lain.
Pyaaaar....
Tangan Gita berkeringat hingga gelas yang ia pegang melorot dan jatuh ke lantai. Gita menatap lagi pesan yang baru saja ia terima
Dari nomor yang tidak diketahui
0857xxxxx
kamu makin cantik...
Tubuh Gita membeku.
Satu pesan lagi ia terima.
Sampai jumpa di kantor besok, selamat tidur ya git.
Gita melempar ponselnya di meja makan. Air matanya jatuh. Tubuhnya lemas, napasnya sesak. Adegan demi adegan perbuatan Sena berputar berulang kali di kepalanya, membuat kepala Gita makin berat. Tangannya gemetar meraih ponsel dan segera memblokir nomor tersebut. Gita memeluk lututnya. isakan tangisnya semakin mengeras. Agar menuntaskan rasa sakit hatinya.
...****************...
Pagi ini terasa lebih berat dari biasanya, Gita rasanya enggan berangkat kerja hari ini. Membayangkan wajah Arjusena saja sudah membuat Gita mual.
Gita berdiri didepan cermin. Wajahnya pucat, matanya sembab tidak lupa lingkaran hitam dibawah mata masih terlihat walaupun sudah ditutupi dengan concealer.
Gita melatih senyumnya sekali lagi di cermin. Ia harus kuat, hadapi semuanya jangan jadi pengecut. Berulang kali Gita menyemangati dirinya sendiri.
Lagi-lagi langit Jakarta kelabu, seperti tahu bagaimana isi hati Gita saat ini.
Sesampainya di kantor, Gita bertemu Sella dan Diana. Yang biasanya ia akan menyapa kedua temannya itu dengan riang namun kini. Ia hanya berjalan lunglai di samping Diana. Dan Sella.
"Lo kenapa kusut banget,?" tanya sella.
"Lo sakit, Lo pucat banget. Kenapa gak ambil cuti sih?" lanjut sela. "Mending Lo ijin pulang aja, bawa surat dokter dari klinik." sambung Diana khawatir dengan keadaan temannya itu.
"Gua gapapa, efek lagi dapet mungkin." sahut Gita sekenanya. Gita segera duduk di kursinya lalu menelungkupkan wajahnya. Mungkin ia harus ambil cuti beberapa hari. Selama ini Gita tidak pernah ambil cuti sama sekali. Sayang katanya, waktu itu karena Gita sangat butuh uang.
Pekerjaan Gita sama seperti biasanya, bersyukur Arjusena tidak berulah. Mereka hampir tidak berinteraksi sama sekali. Kali ini Gita tidak makan di kantin namun memakan beberapa jajanan yang ia stok dilaci kerjanya. Di temani Ari, Utami dan nevan yang masih bergelut di kubikel masing-masing.
Tiba-tiba sebuah tangan membelai tengkuknya yang sedikit terlihat karena Gita mengikat rambutnya keatas. Gita menegang.
"Jangan terlalu memforsir diri, samapai lupa makan." suara itu lembut tapi menusuk. Gita hanya melihat dari sudut matanya. Sena bersikap biasa lagi setelah membelai tengkuk Gita. Pria itu menaikkan alisnya sembari duduk di kursinya.
"sialan!" umpat Gita. Tangannya mengepal. Gita benci ketidak berdayaan ini.
Ponselnya berdenting. Tanda pesan masuk Gita membukanya.
Rafael
Rumah aman?
Gita menyerngit dengan isi pesan yang dikirim Rafael, dengan cepat Gita membalas pesan Rafael.
Aman!
Lalu menekan tombol sent lalu tidak ada balasan lagi dari Rafael. Memang Rafael pikir Gita bakal menghancurkan apartemen Rafael. Gita menggeleng heran.