"Jangan pernah jatuh cinta padaku, karena kontrak ini tidak menyertakan perasaan," itulah aturan nomor satu yang ditulis oleh Arga Dirgantara untuk istrinya.
Selama dua tahun, Keysa hidup dalam bayang-bayang. Sebagai istri kontrak, ia adalah asisten yang tak terlihat, tameng perusahaan, dan sosok yang paling dibenci Arga karena dianggap sebagai penghalang kebahagiaan pria itu dengan wanita lain. Keysa sudah siap untuk menyerahkan surat cerai dan pergi selamanya.
Namun, takdir punya rencana lain. Sebuah kecelakaan fatal menghapus memori Arga selama tiga tahun terakhir.
Saat pria itu membuka mata, ia tidak lagi melihat Keysa sebagai 'istri kontrak' yang menyebalkan. Ia melihat seorang wanita yang dingin, cerdas, efisien, dan memiliki tatapan tajam yang membuat jantungnya berdebar tanpa alasan.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Arga dengan nada posesif. "Dan kenapa setiap kali aku melihatmu, aku merasa aku adalah orang paling bodoh karena pernah membiarkanmu menangis?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Palu Perceraian
"Kamu benar-benar mencabut semua hak bantahanmu?" tanya Harris memastikan. Pengacara cerdas itu menatap tak percaya pada draf kesepakatan di atas meja. Suaranya memecah keheningan ruang mediasi yang baru saja ditinggalkan oleh hakim paruh baya tersebut.
Arga mengangguk kaku. Laki-laki itu menyandarkan punggungnya perlahan ke sandaran kursi besi. "Proses hukum ini sama sekali tidak butuh perdebatan panjang lagi, Harris. Buat semua dokumennya secepat mungkin. Aku menyetujui gugatan cerai ini sepenuhnya tanpa syarat apa pun. Tidak ada sengketa harta gono-gini. Semua saham kompensasi yang tertulis jelas di kontrak awal menjadi milik Keysa seratus persen."
Keysa merapikan tumpukan map tebal di depannya dengan gerakan yang sangat efisien. Perempuan itu sama sekali tidak menunjukkan senyum kemenangan atau kelegaan yang berlebihan. Wajahnya tetap sedingin bongkahan es, persis seperti topeng baja yang selama ini ia pakai.
"Langkah yang sangat logis dan sangat masuk akal," respons Keysa dengan nada suara datar. Ia berdiri dari kursinya secara perlahan, memandang Arga dari atas ke bawah dengan tatapan menilai. "Keputusan menahan egomu hari ini menyelamatkan nilai saham perusahaan dari kejatuhan yang sangat fatal. Sentimen pasar akan merespons perceraian damai ini dengan baik. Terima kasih banyak atas kerja samanya, Bapak Arga."
Arga menatap ujung sepatu hak tinggi Keysa yang mulai melangkah menjauh menuju pintu keluar ruangan. Laki-laki itu menelan rasa pahit yang seketika menyumbat tenggorokannya. Dadanya terasa seolah ditusuk oleh ribuan jarum kasatmata. Ia membiarkan wanita tangguh itu pergi begitu saja, membawa serta seluruh sisa kewarasannya yang semakin menipis. Tidak ada langkah pengejaran. Tidak ada lagi paksaan.
***
Ruang sidang utama Pengadilan Negeri terasa luar biasa dingin dan sangat mencekam saat agenda putusan akhir dibacakan. Proses peradilan berjalan sangat kilat tanpa hambatan karena kedua belah pihak sepakat penuh secara mutlak. Sidang putusan akhir ini digelar secara tertutup untuk menjaga privasi dari endusan para wartawan bisnis.
Keysa duduk sangat tegak di kursi penggugat. Ia mengenakan blazer hitam legam dengan kemeja sutra putih di bagian dalam. Riasan wajahnya sangat tegas, menonjolkan aura kemandirian yang tidak bisa dibantah oleh siapa pun.
Tepat di seberangnya, Arga duduk terdiam kaku di kursi tergugat. Laki-laki itu memakai setelan jas abu-abu gelap yang mahal. Namun kemewahan itu tidak bisa menutupi raut wajahnya yang terlihat jauh lebih tirus dan suram. Matanya menatap lurus ke arah meja majelis hakim di depan sana tanpa berkedip sedikit pun.
"Mengingat pihak tergugat telah menyetujui seluruh poin gugatan secara sadar tanpa perlawanan, dan sama sekali tidak ada sengketa mengenai pembagian harta bersama di antara kedua belah pihak, maka majelis hakim bersepakat untuk mengambil putusan secara bulat," suara bariton hakim ketua menggema berat melalui pelantang suara, memecah keheningan ruangan yang sangat kaku tersebut.
Harris yang duduk setia di sebelah Keysa mencatat poin penting itu di buku agendanya dengan ketukan pena yang cepat. Kemenangan hukum mutlak ini didapat dengan sangat mudah, jauh lebih mulus dari semua perkiraan awal yang sudah ia susun.
Arga meremas lututnya sendiri di bawah meja kayu. Jantung laki-laki itu berdetak sangat lambat dan menyakitkan. Setiap patah kata hukum yang keluar dari mulut hakim ketua tersebut terasa persis seperti palu godam raksasa yang menghantam dadanya berkali-kali tanpa ampun. Ia menoleh perlahan ke arah sisi kiri, menatap profil samping wajah Keysa dengan sorot mata putus asa.
Perempuan itu tetap menatap lurus ke depan. Sorot matanya sangat tajam, dipenuhi oleh antisipasi akan kebebasan mutlak yang sudah berada di depan mata. Tidak ada keraguan secuil pun. Tidak ada raut penyesalan. Keysa benar-benar sudah memutus semua ikatan emosional dengannya hingga ke akar-akarnya.
"Oleh karena itu, pengadilan negeri memutuskan mengabulkan gugatan dari pihak penggugat untuk seluruhnya," lanjut hakim ketua dengan nada suara mutlak dan sangat mengikat. "Menyatakan bahwa ikatan hukum perkawinan antara Saudari Keysa dan Saudara Arga Dirgantara putus karena perceraian dengan segala akibat hukumnya."
Arga menahan napasnya seketika. Udara oksigen di sekitarnya seakan tersedot habis tanpa sisa.
Hakim ketua mengangkat palu kayu bundar di tangan kanannya tinggi-tinggi ke udara.
Tok! Tok! Tok!
Palu kayu pengadilan itu menghantam landasannya dengan bunyi nyaring yang luar biasa memekakkan telinga.
Keysa langsung berdiri dari kursinya detik itu juga. Ia menyalami tangan Harris sekilas sebagai tanda terima kasih singkat, lalu membalikkan badannya dengan sangat anggun.
Perempuan itu melangkah pasti menyusuri lorong karpet ruang sidang menuju pintu keluar ganda berbahan kayu jati murni. Sepatu hak tingginya berderap tegas, menciptakan irama kemenangan yang mutlak. Keysa melangkah keluar dari ruangan itu sebagai seorang wanita merdeka seutuhnya tanpa sedikit pun menoleh ke arah belakang.
Sementara itu, di kursi tergugat, Arga masih membeku layaknya sebuah patung batu.
Tepat pada saat ketukan palu ketiga bergema memantul di dinding ruangan, sebuah serangan rasa sakit yang luar biasa dahsyat menghantam bagian dalam tengkorak Arga tanpa peringatan. Rasa sakit yang menyengat ini seribu kali lipat lebih mengerikan daripada serangan-serangan ringan sebelumnya.
Laki-laki itu mengerang sangat keras, kedua tangannya secara refleks mencengkeram kepalanya sendiri dengan sangat kuat hingga urat-urat biru di punggung tangannya menonjol tajam.
"Bapak Arga? Anda baik-baik saja?" tanya salah satu panitera pengadilan yang terkejut panik melihat tergugat tiba-tiba membungkuk kesakitan memegangi kepalanya di depan meja.
Arga sama sekali tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut. Pandangannya menggelap seketika.
Di dalam kepalanya, benteng amnesia tebal yang selama ini menahan seluruh ingatannya seolah hancur berkeping-keping menjadi abu. Kepingan memori selama tiga tahun terakhir kembali masuk menyerbu otaknya layaknya gelombang tsunami raksasa yang mengamuk sangat liar. Semuanya masuk secara paksa dan bersamaan, menghantam akal sehatnya tanpa ampun.
Ia mengingat semuanya.
Ia mengingat proyek kotor pertamanya mengambil alih perusahaan lawan. Ia mengingat suasana rapat dewan direksi yang sangat memuakkan. Dan hal yang paling parah, ia mengingat dengan sangat jernih setiap detail kekejamannya pada Keysa.
Ia melihat kembali wajah Keysa yang sangat pucat saat ia membentak perempuan itu di depan puluhan staf divisi operasional. Ia melihat lagi tangan kasarnya yang melempar map tebal berisi laporan tepat ke arah wajah istrinya karena satu kesalahan ketik kecil. Ia mengingat jelas rasa muaknya saat melihat Keysa menangis diam-diam menahan rasa sakit di sudut ruang arsip yang gelap dan sangat dingin setahun yang lalu.
Semua sifat arogan, kejam, dan tidak punya hati nurani yang ia lakukan di masa lalu kini terputar ulang bagai film horor nyata di dalam otaknya sendiri. Laki-laki monster yang selama ini ia benci setengah mati ternyata adalah wujud aslinya sendiri secara utuh. Tidak ada kerusakan sistem memori. Dia memang seorang bajingan berdarah dingin.
Tubuh besar Arga limbung ke arah depan. Keseimbangan fisiknya hilang total. Ia merosot jatuh dari kursi kayunya dan menghantam lantai marmer ruang sidang yang dingin dengan suara debuman keras. Kesadarannya langsung ditarik paksa ke dalam kegelapan yang sangat pekat, seiring dengan karma nyata yang kini mulai menyiksa batinnya hingga hancur lebur tanpa sisa sedikit pun.
semoga Arga bisa meluluhkan hati Keysa walaupun harus menunggu waktu yg lama..