Demi melunasi hutang sang ayah, Maureen terpaksa menggantikan kakak nya sebagai mempelai. la dinikahi oleh Alarick Carlson, pria yang digambarkan kejam dan buruk rupa, hingga keluarga nya enggan menyerahkan Maura putri kesayangan mereka.
Kini Maureen harus menghadapi pernikahan yang sarat misteri dan ketidakpastian dari suami nya. Mampukah ia menjalankan takdir yang dipaksakan kepada nya? Dan mampu kah Maureen bertahan dengan pernikahan yang dilandasi keterpaksaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ausilir Rahmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Maureen terduduk lemas di kursi tunggu, ia menutup wajah dengan kedua tangan mungil nya, hati dan pikiran nya saat ini seolah tengah berperang sangat hebat.
Dia sangat dilema antara impian dan bakti nya pada kedua orang tua. Kedua hal itu saat ini membayangi isi kepala. "Apa yang harus aku lakukan?" Tanya nya dalam hati penuh kebingungan dan kegelisahan.
Sementara Maura dan mama nya duduk di sebrang, sebagai putri pertama yang selalu di manja oleh kedua orang tua nya, membuat Maura tak bosan mengingatkan.
"Ma, Mama harus membujuk Maureen bagaimana pun cara nya. Aku tidak mau jika kita sampai jatuh miskin. Bisa-bisa karier ku ikut terancam juga," ucap Maura menggerutu sembari menatap nyalang ke arah Maureen yang ada di depan nya.
Susan memegang erat tangan Maura, wanita paruh baya itu pun meyakinkan.
"Maura, kamu tenang saja nak, Mama tidak akan membiarkan putri membanggakan seperti mu, menghabiskan waktu untuk menikahi pria yang berwajah cacat dan kejam, biarkan Maureen saja," Bisik Susan mengusap lembut rambut panjang putri kesayangan nya itu.
Maura memancarkan senyum licik, hati nya merasa sedikit tenang. "Makasih ma, mama memang mama terbaik," ujar Maura merangkul dan memeluk erat ibu nya.
Maureen menatap nanar pemandangan pahit, saat mama nya memeluk penuh ketulusan pada sang kakak. Bohong jika dia tidak cemburu karena selama ini dia tidak pernah merasakan nya.
"Mama dan papa sangat menyayangi kak Maura, kenapa aku tidak pernah mendapatkan pelukan seperti itu? "Batin Maureen bertanya-tanya.
Tapi Maureen berusaha menepis semua pemikiran negatif. "Papa dan Mama pasti juga sangat menyayangi ku," tegas Maureen mengepalkan kedua tangan dan berusaha menghibur diri sendiri nya.
Suara pintu terbuka membuyarkan lamunan Maureen, terlihat seorang pria berjas putih baru keluar ruangan IGD. Membuat nya segera beranjak lalu menghampiri.
"Dokter, bagaimana kondisi Papa saya?" tanya Maureen.
"Suami ku kondisi nya bagaimana dok?" Dokter tersebut menghela nafas sejenak, perlahan dia melepaskan kaca mata putih nya lalu menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh Maureen dan nyonya Susan.
"Pasien mengalami serangan jantung ringan beruntung segera di bawa ke sini, jadi kami masih bisa menangani nya, tapi.." Ujar sang Dokter yang terjeda sejenak.
Maureen, Susan dan kakak nya Maura menghela nafas lega. Akan tetapi melihat raut wajah sang dokter terlihat begitu serius membuat kening Maureen berkerut.
"Ta-tapi kenapa Dokter?" Maureen meminta dokter itu untuk memperjelas perkataan nya.
"Jangan sampai pasien marah atau syok berat, karena mungkin akibat nya akan lebih fatal dan kami tidak bisa menjamin keselamatan nya," imbuh Dokter tersebut dengan nada tegas.
Lalu dia pergi setelah memberikan penjelasan. Maureen terdiam dan mencerna semua peringatan Dokter itu, Mama dan kakak nya lebih dulu masuk ke dalam ruangan memastikan keadaan sang ayah.
"Untung Papa selamat, aku tidak boleh membuat nya marah dan kaget lagi," janji Maureen pada diri nya sendiri.
Suara langkah kaki pelan nya mulai memasuki dan menggema di ruangan di mana tuan Herman kini tengah terbaring tak berdaya, beberapa alat medis terlihat menghiasi tubuh nya. Terutama alat elektro kardiogram terlihat tak stabil. Membuat Maureen sangat sedih.
"Papa!" panggil Maureen lirih.
Tuan Herman perlahan membuka kedua bola mata nya, saat mendengar suara Maureen. Ingin sekali dia berbicara namun mulut nya terhalang oleh alat bantu pernapasan.
Maureen menggelengkan kepala, ia menatap nanar wajah tua sang ayah dengan penuh rasa penyesalan. "Papa jangan banyak bergerak dulu, maafkan aku, aku sangat menyesal." Ungkap Maureen meremas kedua jemari dengan wajah yang tertunduk.
Baru saja nyonya Susan ingin menegur Maureen, karena sudah berani berdebat dan membangkang perintah suami nya.
Tiba-tiba saja terdengar suara ponsel tuan Herman yang terus saja berdering, membuat kebisingan di sana. Karena kesal nyonya Susan segera meraih benda pipih persegi canggih itu, lalu membuka dan membaca pesan yang membuat nya sangat terkejut.
"Ma ada apa?" Tanya Maura penasaran, saat melihat raut wajah mama nya yang berubah menjadi muram.
Nyonya Susan memperlihatkan pesan chat dari tuan Hans, yang bernada peringatan jika pernikahan kedua putra mereka tinggal menghitung hari dan harus benar-benar di langsungkan sesuai yang sudah di sepakati.
Jika tidak semua aset dan rumah nya akan di sita sebagai pelunas hutang tuan Herman yang sudah menumpuk pada mereka.
Maura seketika sangat cemas, dia tidak ingin jika sampai jatuh miskin. Ia menoleh dan membidik ke arah Maureen.
"Kamu lihat kan Maureen, Papa sangat tertekan dengan perjodohan ini. Selain para karyawan yang demo, sekarang kolega nya menekan tidak kah kamu merasa kasihan?" tanya Maura.
Satu pertanyaan Maura membuat Maureen semakin terpojok, di tambah lagi dengan nyonya Susan yang semakin menatap tajam, membuat gadis yang baru berusia dua puluh tiga tahunan itu pun memejamkan kedua pelupuk mata nya.
"A-aku bersedia menikah, selama itu membuat Papa sembuh dan terbaik untuk keluarga kita," ucap Maureen setuju, suara nya terdengar gemetar. Meskipun hati nya sangat berat.
Entah sosok pria macam apa yang akan menjadi suami nya nanti, yang jelas kesembuhan sang ayah adalah prioritas utama yang lebih penting dari segala-gala nya untuk saat ini.
Kedua bola mata Nyonya Susan dan Maura membeliak, senyum sinis penuh kepuasan terjerat jelas di raut wajah kedua nya.
"Nah, begitu dong. Harus nya kamu dari tadi setuju tidak harus berdebat dengan papa dulu, mama sangat bangga pada mu nak," Imbuh Susan mendaratkan tangan tepat di bahu putri bungsu nya.
Maureen hanya mengangguk patuh dia menatap sang ayah, terlihat tuan Herman yang tengah terbaring bernafas lega.
Begitu juga dengan Maura, hati nya sangat lega setelah sang adik mau patuh atas keputusan mereka.
"Ingat Maureen, kamu jangan sampai berubah pikiran lagi. Kalau tidak mau keluarga kita hancur dan jadi gembel. Lagi pula menjadi ibu rumah tangga sangat cocok untuk mu," Ledek Maura menatap remeh pada Maureen sembari melipat kedua tangan di dada dengan penuh kesombongan.
Maureen tidak ingin menyanggah lagi, karena dia tidak ingin ayah nya sakit yang nanti akan menjadi penyesalan di sepanjang hidup nya.
***
Sementara di kediaman tuan Hans Carlson terlihat seorang pria berdiri di atas balkon kamar besar dalam suasana gelap yang hanya di terangi cahaya bulan.
Langkah kaki besar pria paruh baya yang di kenal sebagai konglomerat nomor satu di seluruh kota, mendekati putra sulung nya yang saat ini tengah berdiri membelakangi nya.
"Arik! sebentar lagi pernikahan kalian akan segera di langsungkan. Papi harap kamu segera memberikan keturunan." ucap Tuan Hans pada Alarick atau dipanggil Arik itu.
Tuan Hans tak pernah absen untuk mengingatkan putra tertua dari ketiga saudara itu, mengingat begitu banyak isu liar yang beredar di circle bisnis nya atau pun di dunia maya.
Jika setelah mengalami kecelakaan itu putra nya sangat jarang mengandeng seorang wanita ke setiap acara formal perusahaan atau pun acara resmi lain.
Lelaki yang bertubuh tinggi dan berbahu tegak itu hanya menjawab dengan sebuah deheman saja, sesekali terlihat menghembuskan asap filter rokok nya.
Melihat sang putra yang diam membuat Tuan Hans sangat kesal. "Ingat Arik! jangan hanya karena satu wanita kau menghancurkan hidup mu!" peringat Tuan Hans pada sang putra.
\*
Bersambung.................