NovelToon NovelToon
TAK SELAMANYA IBU TIRI KEJAM

TAK SELAMANYA IBU TIRI KEJAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Duda / Romansa Fantasi
Popularitas:10.5k
Nilai: 5
Nama Author: My_Sunshine

Demi memenuhi wasiat terakhir sahabatnya, Kinanti menikah dengan Keenan, seorang duda yang memiliki tiga anak. Namun pernikahan itu tidak membawa kebahagiaan seperti yang dibayangkan. Yudha, Tiara, dan Daffa menolak kehadirannya dan melakukan berbagai cara agar Kinanti pergi dari rumah mereka.

Bagi ketiga anak itu, tidak ada yang bisa menggantikan sosok ibu mereka yang telah tiada. Setiap kebaikan Kinanti dibalas dengan penolakan dan sikap menyakitkan. Meski begitu, ia memilih bertahan, menghadapi semuanya dengan kesabaran dan kasih sayang.

Mampukah ketulusan seorang ibu tiri meluluhkan hati yang penuh luka? Sebuah kisah mengharukan tentang kehilangan, pengorbanan, dan cinta yang membuktikan bahwa tak selamanya ibu tiri itu kejam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My_Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Darah untuk si pembenci

"Ibu!" teriak Keenan.

Tanpa pikir panjang, ia berlari keluar rumah. Kinanti dan Kalila segera menyusul di belakangnya. Sesampainya di halaman, ketiganya seketika membeku. Bu Salma tergeletak di tengah jalan, tubuhnya bersimbah darah di dekat pagar rumah. Tak jauh darinya, seorang pengendara sepeda motor terduduk di atas aspal sambil meringis kesakitan. Motornya terkapar beberapa meter dari tempat ia jatuh. Tabrakan itu baru saja terjadi.

"Ya Allah... Ibu!" pekik Kalila histeris.

Bu Arum berdiri tak jauh dari lokasi kejadian segera menghampiri.

"Tadi saya lihat Bu Salma berlari keluar rumah," ujarnya dengan nafas masih memburu. "Di waktu bersamaan motor itu melintas. Pengendaranya kelihatan kaget. Dia sudah berusaha mengerem, tapi tetap nggak sempat menghindar."

Dalam hitungan menit, warga kembali berdatangan. Sebagian menolong pengendara motor dan menegakkan kendaraannya, sementara beberapa lainnya membantu memindahkan tubuh Bu Salma ke tepi jalan.

"Bu... Ibu, bangun, Bu," panggil Keenan dengan suara bergetar sembari mengguncang pelan bahu sang ibu.

Tak ada jawaban. Bu Salma tetap terpejam, wajahnya pucat, sementara darah terus mengalir dari luka di kepalanya.

"Pak Keenan, sebaiknya Bu Salma segera dibawa ke rumah sakit," ujar salah seorang warga. "Beliau kehilangan banyak darah."

Belum sempat Keenan menjawab, pengendara sepeda motor itu menyela dengan nada kesal.

"Terus saya gimana? Lihat motor saya rusak begini. Badan saya juga lecet semua."

Keenan menoleh. Meski pikirannya dipenuhi kepanikan, ia berusaha tetap tenang.

"Mas, ikut saya ke rumah sakit. Lukanya sekalian diperiksa. Untuk kerusakan motor, saya bertanggung jawab. Saya akan mengganti semuanya."

.

Pria itu menggeleng.

"Nggak. Saya nggak mau ke rumah sakit. Saya maunya ganti rugi sekarang."

Kinanti yang sejak tadi memilih diam akhirnya angkat bicara. Situasi sudah cukup kacau, dan ia tak ingin persoalan itu semakin berlarut.

"Mas minta ganti rugi berapa?"

"Satu juta. Buat berobat sama biaya benerin motor."

"Tunggu sebentar."

Kinanti bergegas masuk ke dalam rumah. Beberapa saat kemudian, Kinanti kembali sambil membawa sebuah amplop.

"Ini uangnya."

Pria itu segera mengambil amplop tersebut, menghitung isinya sekilas, lalu memasukkannya ke dalam saku tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Setelah memastikan sepeda motornya masih bisa dikendarai, ia langsung pergi meninggalkan lokasi.

Keenan tak lagi mempedulikannya.

Seluruh perhatiannya kini hanya tertuju pada sang ibu. Dengan bantuan beberapa warga, Bu Salma diangkat ke dalam mobil.

Sebelum masuk, Kinanti menoleh kepada Kalila.

"Kalila, tolong temani Tiara di rumah, ya. Aku ikut Mas Keenan ke rumah sakit."

Kalila mengangguk mantap.

"Iya, Mbak. Tenang saja. Biar aku yang menjaga Tiara."

Tak lama kemudian, mobil Keenan melaju meninggalkan rumah, membawa Bu Salma yang masih terbaring tak sadarkan diri menuju rumah sakit.

Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, suasana di dalam mobil diselimuti keheningan yang mencekam. Dengan kedua tangan mencengkeram erat setir, Keenan terus melajukan mobil secepat mungkin. Sesekali pandangannya beralih ke kaca spion, menatap tubuh ibunya yang terbaring lemah di kursi belakang. Rasa bersalah menggerogoti hatinya.

"Bu... maafkan aku. Aku benar-benar nggak bermaksud menyakiti hati Ibu,” lirihnya dengan suara bergetar.

Setiap kalimat yang keluar dari bibirnya terdengar seperti doa' yang dipenuhi penyesalan. Di sampingnya, Kinanti hanya terdiam. Ia dapat merasakan betapa hancurnya perasaan suaminya saat ini.

Jauh di lubuk hatinya, Kinanti tidak menyalahkan Keenan. Ia tahu, pertengkaran itu bermula bukan karena suaminya ingin durhaka, melainkan karena Keenan tak lagi sanggup melihat istrinya terus-menerus dihina dan direndahkan.

Meski demikian, Kinanti juga tidak menyimpan sedikit pun keinginan agar musibah ini terjadi. Ia memejamkan mata, menangkupkan kedua tangannya di atas pangkuan.

"Ya Allah, ampunilah segala khilaf kami. Selamatkan ibu mertua hamba. Berikan beliau kesempatan untuk sembuh. Jangan biarkan penyesalan ini menjadi penyesalan seumur hidup bagi Mas Keenan."

Do’a itu terus ia ulang dalam hati hingga mobil akhirnya memasuki halaman rumah sakit.

"Dokter... tolong! Ibu saya tertabrak sepeda motor!" seru Keenan begitu memasuki instalasi gawat darurat.

Seorang dokter yang sedang berada di ruang triase segera menoleh. Melihat kondisi Bu Salma yang tak sadarkan diri dengan darah membasahi pakaiannya, ia langsung bergerak cepat.

"Brankar! Cepat!" perintahnya kepada para petugas.

Dua orang perawat segera menurunkan Bu Salma dari mobil dan membaringkannya di atas brankar. Tanpa membuang waktu, mereka mendorongnya menuju ruang tindakan.

"Pak, Bu, silakan tunggu di luar. Kami akan segera menangani pasien," ujar dokter sebelum pintu ruang tindakan tertutup rapat.

Keheningan kembali menyelimuti lorong rumah sakit. Keenan tak mampu duduk diam. Ia mondar-mandir di depan ruang tindakan dengan wajah pucat dan kedua tangan saling menggenggam erat. Sesekali ia menatap pintu yang tertutup itu, berharap dokter segera keluar membawa kabar baik.

Sementara Kinanti hanya duduk di kursi tunggu. Bibirnya tak henti mengucap do’a, memohon agar ibu mertuanya bisa diselamatkan.

Beberapa saat kemudian, pintu ruang tindakan akhirnya terbuka. Dokter keluar dengan raut wajah serius. Keenan dan Kinanti langsung menghampirinya.

"Bagaimana keadaan ibu saya, Dok?" tanya Keenan penuh harap.

"Kondisi pasien masih kritis. Beliau kehilangan banyak darah akibat benturan yang cukup keras," jelas dokter. "Kami membutuhkan donor darah bergolongan AB secepatnya. Sayangnya, stok darah dengan golongan tersebut di rumah sakit saat ini sangat terbatas."

Belum sempat Keenan berpikir, Kinanti lebih dulu melangkah maju.

"Dok, golongan darah saya AB," ucapnya mantap. "Silakan ambil darah saya."

Dokter mengangguk.

"Baik. Suster, tolong lakukan pemeriksaan kecocokan dan persiapkan prosedur donor."

"Baik, Dok."

Seorang perawat segera menghampiri Kinanti.

"Mari, Bu. Ikut saya."

Tanpa sedikit pun keraguan, Kinanti mengikuti langkah perawat menuju ruang pemeriksaan. Keenan hanya mampu menatap punggung istrinya hingga menghilang di balik pintu.

Dadanya terasa sesak. Ia teringat bagaimana selama ini ibunya berkali-kali melukai hati Kinanti dengan ucapan yang tajam dan penuh kebencian. Namun, perempuan yang paling sering disakiti itu justru menjadi orang pertama yang mengulurkan pertolongan tanpa meminta balasan. Tak ada dendam ataupun kebencian. Yang ada hanyalah ketulusan.

Beberapa menit kemudian, proses pengambilan darah selesai. Kinanti keluar dari ruang donor. Wajahnya tampak sedikit pucat, tetapi ia tetap berusaha tersenyum ketika menghampiri Keenan yang sejak tadi menunggunya dengan gelisah.

"Kamu nggak lemas ‘kan, habis diambil darah?" tanya Keenan penuh perhatian. Nada suaranya terdengar lembut, dipenuhi rasa khawatir. Seumur hidup, ia sendiri belum pernah mendonorkan darah untuk siapa pun, sehingga ia tak bisa membayangkan bagaimana rasanya.

Kinanti tersenyum tipis,

"Aku baik-baik saja, Mas."

Keenan menghembuskan napas lega. Tanpa sadar, rasa harunya kembali memenuhi dada. Di tengah kondisi seperti ini, Kinanti masih berusaha menenangkan dirinya, padahal perempuan itu baru saja memberikan sebagian darahnya demi menyelamatkan orang yang selama ini sering menyakitinya.

Tak lama kemudian, seorang perawat keluar membawa kantong darah yang baru diambil dari Kinanti. Tanpa membuang waktu, ia segera masuk kembali ke ruang tindakan.

Tatapan Keenan dan Kinanti mengikuti langkah perawat itu hingga pintu kembali tertutup rapat. Setelah itu, tak ada lagi yang bisa mereka lakukan selain menunggu.

Keduanya saling terdiam, larut dalam kecemasan yang sama. Di balik keheningan lorong rumah sakit, mereka menengadahkan doa dalam hati: Semoga darah itu mampu menyelamatkan Bu Salma.

1
partini
marah" Mulu tensi tinggi gampang Kena stroke
My_Sunshine: wkkkk. umur segitu kan lagi lucu-lucunya kak😄
total 1 replies
Agunk Setyawan
ibu egois
partini
ozi boleh bikin mereka mikir tapi jangan kriminal juga
Mahesa hemmmm ada something ini
Ifana
Aku padamu pak 👍 seolah Tiara pelaku kriminal pdhl dia korban kejahatan
partini
sekolah apan itu ,,berengsek sekali
Ifana
tau gtu bikin tu nenek lampir sekarat aja thor ini udh ditolongin tp gk tau terima kasih
partini
kalau sekarat baru lah dia sadar ,,aihh Thor kasih lagi lah yg instan juga lebih parah lagi macam stroke bibirnya gitu Biar ga nyrocos jahar
My_Sunshine: iya kak... nanti dapat karma kok dia😄
total 1 replies
partini
keren Thor karma instan semua 👍👍👍
My_Sunshine
Iya, Kak. Nanti aku bakalan bikin panjang ceritanya kalau banyak yang setia ngikutin 🤗
partini
biasanya kalau minta jangn tumbuh malah tumbuh kuat pula si jabang bayinya,
partini
gantian Yudha Thor
partini
maaf terlambat Tiara yg sangat berharga bagi wanita ya itu kehormatan mu tekah si renggut pasti trauma Shok berat merasa kotor dan satu lagi semoga dapat jodoh yg menarima kamu tulus so sad
partini
wow
Agunk Setyawan
enak Tiara jadi anak sombong blagu ya ini balasan lebih sakit kan
partini
jangan di di unboxing Thor ,,itu nanti trauma bisa gila di lecehkan saja udah bikin trauma apa lagi dengan bobol kejem sekaleeeeee harusnya Yogha yg paling parah ini kan ide dia
Agunk Setyawan
ben kapok tu si Tiara blagu amat Yudha juga Ben kapok
partini
ngeri di perkaos kah
Nelita Nopitasari
ih gilaaa nggk ada rasa bersalahnya bocah setan
partini
selamat yah berhasil rencana nya,, tapi kita lihat kedepan nya akan seperti apa
partini
masuk ke pondok pesantren aja lah pak biar. berjauhan dari ortu biar mikir mereka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!