NovelToon NovelToon
Su Yu Memberontak Takdir

Su Yu Memberontak Takdir

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Action / Epik Petualangan / Tamat
Popularitas:21.4k
Nilai: 5
Nama Author: YUKARO

Dia bukan siapa-siapa di keluarganya sendiri. Dihina, dipukul, dan dianggap sampah oleh adik kandungnya sendiri, Su Yu hanya punya satu harga diri tersisa: kepatuhan. Ketika ia diperintahkan masuk ke Hutan Kelabu yang mematikan untuk mencari Tanduk Rusa Malam, ia tidak punya pilihan selain menurut.

Namun di dalam hutan, ia menyaksikan pertarungan antara dua makhluk dahsyat yang seharusnya tidak pernah ia lihat. Ketika seorang peri cantik terjatuh tak berdaya di hadapannya, Su Yu dihadapkan pada pilihan sederhana: pergi menyelamatkan diri, atau mempertaruhkan nyawanya untuk orang asing.

Ia memilih yang kedua.

Tanpa disadarinya, satu tindakan kecil itu akan mengubah takdirnya selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Kota Yang Diberkati Dewa

Su Yu melangkah mendekati pusaran energi putih yang berdiri tegak di tengah hamparan batu. Angin di sekitarnya berputar liar, menarik debu dan serpihan daun ke dalam pusaran yang berdenyut seperti mulut raksasa yang siap menelan apa saja.

"Xioutian, bersiaplah," bisiknya pelan.

Burung kecil di balik kerah jubahnya menegang. "Aku tidak suka tempat ini, Tuan. Tapi kalau kau tetap mau masuk, aku akan ikut."

Su Yu menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah melewati pusaran cahaya itu.

Seketika tubuhnya tersedot begitu kencang hingga isi perutnya terasa naik ke dada. Pandangannya berubah menjadi lorong cahaya putih yang berputar-putar tanpa arah. Ia tidak bisa berteriak. Angin yang menderu menekan seluruh tubuhnya seperti ingin meremas tulang-tulangnya menjadi bubur.

Beberapa napas kemudian...

Bruk!

Kaki Su Yu mendarat kasar di atas permukaan batu. Lututnya hampir tertekuk, tetapi ia segera menahan tubuhnya dengan kedua tangan. Debu beterbangan di sekelilingnya. Begitu matanya terbuka sepenuhnya, napasnya tercekat.

Di hadapannya berdiri kota raksasa yang memanjang sejauh mata memandang. Tembok-tembok putih menjulang tinggi dengan menara-menara yang atapnya melengkung ke atas seperti sayap burung yang sedang membentang. Gerbang utamanya terbuat dari logam berkilau kebiruan, dihiasi ukiran-ukiran awan yang tampak hidup. Cahaya keemasan memancar dari dalam kota, menembus celah-celah bangunan dan memantul ke langit yang berwarna jingga muda.

Para pendekar yang telah tiba lebih dulu berdiri dalam kelompok-kelompok kecil, wajah mereka menengadah ke arah kota dengan mulut terbuka.

"Tempat apa ini..." gumam salah satu dari mereka. "Luasnya tidak masuk akal."

Pendekar di sebelahnya menggeleng pelan. "Kemegahan ini terlalu tidak wajar. Kota apa yang bisa sebesar ini?"

Su Yu ikut menatap kota itu dari tempatnya. Jantungnya berdebar lebih cepat, tetapi bukan karena takut. Ada sesuatu di dalam dirinya yang merasakan panggilan samar dari arah kota.

"Xioutian, kau lihat itu?"

Burung kecil itu menjulurkan kepalanya sedikit dari kerah jubah. Matanya membelalak. "Aku tidak pernah melihat yang seperti ini, Tuan. Bahkan di tempat asalku, tidak ada kota yang memancarkan aura seaneh ini."

"Aneh bagaimana?"

"Aku tidak tahu. Rasanya seperti... keberuntungan. Ya, seperti keberuntungan luar biasa sedang menunggu di dalam sana."

Seluruh pendekar yang hadir mulai saling berbisik. Wajah-wajah mereka berubah dari kebingungan menjadi semangat. Beberapa orang bahkan sudah melangkah maju tanpa sadar, seolah kota itu menarik kaki mereka untuk segera masuk.

Pemimpin Sekte Serigala Putih, pria berjubah putih atau dikenal sebagai Tetua Wu, menoleh ke arah pemimpin Sekte Singa Perak.

"Kita sebelumnya sudah sepakat untuk bersekutu di tempat ini. Kuharap tidak ada pengkhianatan nanti."

Pemimpin Singa Perak, yang sering disebut Tetua Bai, dan bertubuh jangkung itu tersenyum tipis.

"Pengkhianat itu sifatnya serigala. Seharusnya kau lebih mengerti soal itu, Tetua Wu."

Wajah Tetua Wu langsung menegang. Pedang melengkungnya bergetar di pinggang seolah merasakan amarah tuannya.

"Apa kau bilang?!" bentaknya sambil melangkah maju.

Tetua Bai tidak mundur. Ia justru menepuk gagang tombak pendek di punggungnya. "Kau pasti dengar ucapanku. Atau kau ingin membuktikan sekarang?"

Suasana di antara kedua kelompok memanas. Para pendekar dari masing-masing sekte mulai meraba senjata masing-masing. Para pendekar bebas yang lain memilih menjauh, takut terseret konflik.

Su Yu tidak tinggal diam di tengah kerumunan itu. Ia berjalan pelan menjauh dari pusat keributan, menyusuri sisi luar area batu, hingga akhirnya bersandar pada bongkahan batu besar yang cukup jauh dari kedua kelompok.

"Biarkan mereka bertengkar," gumamnya sambil melipat kedua tangan di depan dada. "Aku akan masuk paling terakhir nanti."

Xioutian menoleh ke arah para pendekar yang masih saling berhadapan. "Pilihan yang bijak, Tuan. Tapi kalau mereka saling bunuh di sini, bukankah itu menguntungkan kita?"

Su Yu menggeleng kecil. "Belum tentu. Kalau dua pemimpin itu mati, anak buah mereka akan kacau dan saling serang tanpa kendali. Kita bisa terjebak di tengahnya."

"Hm... masuk akal."

Perdebatan di antara Tetua Bai dan Tetua Wu akhirnya tidak berlanjut menjadi pertumpahan darah. Salah satu murid dari Sekte Singa Perak maju dan menengahi, sementara dua murid senior dari Serigala Putih menarik mundur pemimpin mereka.

"Kita sudah buang-buang waktu di sini," ujar Tetua Bai dengan nada dingin. "Semua orang, masuk ke kota. Kalian bebas bergerak setelah melewati gerbang."

Tetua Wu mendengus keras, lalu mengangguk ke arah anak buahnya. "Serigala Putih, ikuti aku."

Kedua kelompok besar itu berjalan beriringan menuju gerbang kota. Para pendekar bebas mengikuti di belakang dengan jarak aman. Langkah-langkah mereka bergema di atas hamparan batu, sementara cahaya keemasan dari dalam kota semakin terang menyambut kedatangan mereka.

Su Yu tetap bersandar di bongkahan batu. Ia mengamati setiap orang yang masuk satu per satu, menunggu hingga area di depannya benar-benar sepi.

"Kita masuk sekarang?" tanya Xioutian.

Su Yu mendorong tubuhnya dari batu dan menarik tudung jubahnya lebih rendah.

"Ya. Tapi setelah masuk, kau harus bantu aku mengamati keadaan."

"Aku tahu. Ayolah, aku penasaran apa sebenarnya isi kota itu."

Su Yu mulai berjalan menuju gerbang. Setiap langkahnya terasa ringan, namun ia menahan dirinya dan tetap berada di jarak aman.

Begitu melewati gerbang, pandangannya langsung disambut oleh jalanan lebar dari batu pualam putih yang membentang lurus ke depan. Di kiri dan kanan jalan berdiri bangunan-bangunan bertingkat dengan pilar-pilar berukir awan, burung, tungku, pedang, tombak dan naga emas. Tidak ada debu, lumut, ataupun tanda-tanda kehancuran.

"Kota ini..." Su Yu berhenti di tengah jalan. "Terlalu bersih."

Xioutian menegakkan bulunya. "Aku tidak suka ini. Tidak mungkin kota sebesar ini kosong begitu saja."

Para pendekar di depan mereka mulai menyebar ke berbagai arah. Ada yang masuk ke bangunan-bangunan di sisi jalan, ada pula yang terus berjalan ke pusat kota. Suara langkah mereka memantul di antara dinding-dinding batu, menciptakan gema yang terdengar seperti langkah seribu orang.

Su Yu memilih jalan yang lebih sempit di sisi kanan. Ia bergerak menjauh dari keramaian, menyusuri gang-gang kecil yang diapit bangunan tinggi. Jubah abu-abunya berkibar pelan tertiup angin aneh yang tidak ia ketahui asalnya.

Sementara itu, dari kejauhan, perempuan muda berjubah biru yang sejak di luar sempat mengamati Su Yu kini ikut masuk. Matanya tidak lepas dari punggung pemuda itu.

"Tuan benar..." bisiknya pelan. "Ada yang aneh dengan aura tubuhnya."

1
Ilham Yono
/Determined//Determined//Determined//Determined/
Ilham Yono
misteri lahar panas/Proud/
septian arista
aduh aku juga bingung Kak Kenapa beberapa karya novelmu yang baru ini seperti kurang peminatnya
padahal Kalau menurut aku secara pribadi sih karya-karya dari Kakak ini sangat menarik dan juga bagus ceritanya🥺🥺🥺
septian arista: nggak apa-apa
tetap semangat dan semoga selalu sehat Kak
ditunggu Karya yang terbaru lagi dan semoga yang baru nanti banyak mendapatkan atensi dan apresiasi dari para pembaca👍👍👍
total 4 replies
septian arista
Apakah ikan itu nantinya akan berevolusi seiring dengan bertambahnya ranah kultivasi dari sang tokoh utama
septian arista
apa yang tersimpan di dalam lahar tersebut
pastinya itu adalah sesuatu yang bisa membantu untuk meningkatkan kekuatan
Marun Ka
Semangat Thor!!
AAAAAA: Ya... terimakasih🙏
total 1 replies
Ilham Yono
nice
Ilham Yono
koki 👻
Ilham Yono
menanam kebaikan👍
Ilham Yono
good
Ilham Yono
good choice
Fajar Fathur rizky
thor tolong di buat nanti suyu punya tubuh klone seperti xuhao thor bikin nanti alur cerita tubuh klone menolong seseorang yang mempunyai hubungan dengan keluarga istrinya suyu
Ilham Yono
sikat/Cleaver//Cleaver//Cleaver//Cleaver//Cleaver/👻☠️
Ilham Yono
bantai
Ilham Yono
👻👻👻👻☠️
Ilham Yono
sikat☠️⚔️👻
septian arista
pasti dia akan mendapatkan apa yang dia mau👍👍👍
septian arista
Apakah dia akan segera membalas dendam kepada klannya ataukah menahan diri dulu sambil meningkatkan kekuatan lalu menghancurkan seluruh Klan yang telah menyiksanya selama bertahun-tahun
septian arista
bagus memiliki perkembangan kultivasi yang cepat dan dengan cara yang berbeda dengan cultivator biasa👍👍👍
AAAAAA: Betul sekali/Angry//Determined/
total 1 replies
Ilham Yono
beuh ..apa yang diliat tidak seperti prasangkaan gaes
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!