Menjalin hubungan serius dan hari pernikahan pun telah ditetapkan, tentunya membuat gadis manapun akan berpikir bahwa pria itulah yang akan menjadi imam dalam rumah tangganya, tak terkecuali gadis cantik bernama Azira putri. Namun semua mimpi dan harapan indah itu hancur seketika, dengan kedatangan seseorang dari masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9.
Di sepanjang perjalanan menuju taman yang dimaksud olehnya, Zira terus berdoa agar Tuhan menguatkan tekatnya untuk mengakui kondisinya yang sebenarnya dihadapan Leon.
Setengah jam berlalu, di sebuah taman yang terletak di tengah kota, di sinilah Leon dan Zira berada sekarang ini. Duduk bersebelahan di bangku besi bercat putih yang disediakan bagi pengunjung taman.
"Sebenarnya apa yang ingin kamu bicarakan, sayang? Kenapa wajahmu terlihat tegang seperti itu, hm?." Leon menoleh ke arah Zira, mencubit gemas dagu sang pujaan hatinya.
Dengan pandangan lurus ke depan, Zira mulai berbicara dengan kedua bola mata yang berkaca-kaca dan hal itu semakin membuat Leon bingung sekaligus penasaran dibuatnya. "Sebelumnya, aku belum pernah mengenal ataupun mengerti apa itu cinta, tetapi setelah bertemu denganmu akhirnya aku mengenal dan mengerti bagaimana rasanya mencintai dan dicintai dengan setulus hati oleh seorang pria. Sungguh, aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku, Leon."
"Hei....kamu ini bicara apa sih. Tanpa mengatakannya pun, aku sudah tahu itu, sayang." Leon merengkuh pundak Zira.
"Leon.....Jika aku mengakui diriku tidak sebaik yang ada di pikiranmu selama ini, apa kau akan tetap menerimaku?."
"Apa maksud kamu, sayang?." Leon benar-benar tidak paham kemana maksud dan arah pembicaraan calon istrinya itu.
Dengan sekuat hati, Zira memutar badan ke arah Leon, meraih tangan pria itu dan membawanya ke dalam genggaman.
"Aku mohon maaf padamu, Leon. Sungguh, sebelumya aku sama sekali tidak pernah berniat menipumu, aku hanya belum siap untuk mengakuinya di hadapanmu." Leon menghela napas berat atas semua perkataan Zira.
"Sayang, sebenarnya apa yang ingin kamu sampaikan padaku? Please... jangan membuatku penasaran seperti ini!." Kata Leon sambil membalas genggaman tangan Zira.
"Sebenarnya_."
"Sebenarnya aku sudah tidak suci lagi, Leon." Setelah mengumpulkan seluruh keberaniannya akhirnya Zira mengungkapkan kebenaran itu dihadapan calon suaminya.
Leon merespon pengakuan Zira dengan seulas senyum.
"Jangan bercanda, sayang! Sungguh, candaan kamu ini tidak lucu, Zira."
"Aku tidak sedang bercanda, Leon. Aku serius dengan pengakuan ini, aku sudah tidak suci lagi." Kini Zira sudah berlinang air mata.
Deg.
Mendengar itu tubuh Leon langsung lemas tak bertenaga, saking syok nya. Leon sampai tak sanggup berkata-kata, genggaman tangannya pun perlahan melemah hingga jatuh begitu saja ke sisi tubuhnya.
Zira tersenyum miris ketika menyaksikan reaksi Leon atas pengakuannya. Rupanya apa yang dikatakan oleh Lexi benar adanya, tidak semua pria sanggup menerima wanita yang sudah tidak suci lagi, terlebih seorang pria sebaik Leon.
Awalnya Zira berharap Leon bisa menerima kekurangannya namun entah mengapa malam ini Zira justru berpikir bahwa semua ini tidak adil bagi Leon. Pria yang selama ini selalu menjaga sikap terutama terhadap lawan jenisnya, justru mendapat wanita bekas pria lain.
"Leonardo Fernandez, aku sangat mencintaimu lebih dari apapun dan kau tahu betul akan hal itu. Tetapi, untuk memintamu bersedia menerima kekurangan wanita sepertiku rasanya tidak adil bagi pria sebaik dirimu. Mari kita sudahi hubungan ini, Leon!."
"Apa maksudmu, Azira?." Bahkan di saat sedang kecewa seperti ini, Leon sama sekali tidak meninggikan suaranya. "Apa kamu sudah tidak mencintaiku lagi?."
"Justru karena aku sangat mencintaimu makanya aku ingin kamu mendapatkan wanita yang sepadan denganmu, Leon. Wanita baik yang mampu menjaga kesuciannya hingga malam pertamanya bersama suaminya kelak." Inilah tingkat tertinggi dalam mencintai, merelakan orang yang kita cintai mendapatkan pasangan yang setara dengannya.
"Terima kasih atas cinta, kasih sayang, serta kebahagiaan yang selama tiga tahun terakhir kamu curahkan untukku. Aku akan selalu berdoa untuk kebahagiaanmu, semoga suatu hari nanti kamu dipertemukan dengan wanita sebaik dirimu, Leon."
Perpisahan yang terucap dari mulut Zira seolah menyadarkan Leon dari rasa syok yang dialaminya.
"Kenapa kamu bicara seperti itu, Zira? Sungguh, aku tidak mempermasalahkannya, aku akan tetap menemanimu apa adanya, sayang." Seharusnya Zira senang mendengarnya, tapi kenyataannya tidak demikian, Zira justru merasa menjadi wanita paling jahat di dunia ini jika masih saja membelenggu Leon dalam hubungan yang tidak diawali dengan keterbukaan.
"Jika kamu benar-benar mencintaiku, tolong jangan biarkan aku merasakan perasaan bersalah seumur hidupku, Leon. Tetap meneruskan hubungan kita sama seperti membuatku terus-menerus berada di dalam belenggu perasaan bersalah dan berdosa kepadamu Leon.
Leon pun pada akhirnya tak sanggup membendung air matanya. Seperti inikah beratnya merelakan wanita yang begitu kita cintai demi melihatnya keluar dari perasaan bersalah.
"Asal kamu tahu Azira putri, pengakuanmu malam ini tidak sedikitpun mengubah perasaanku padamu. Jika suatu hari nanti kamu ingin kembali padaku, pintu hatiku akan selalu terbuka untukmu, sayang."
"Jangan seperti itu Leon, kamu pantas mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dariku. Buka hatimu untuk menerima kehadiran orang baru di dalam hidupmu!." Zira sudah bulat dengan tekat dan keputusannya untuk menyudahi hubungan diantara mereka. "Untuk masalah pertunangan kita, aku akan membicarakannya dengan kedua orang tuaku. Aku pastikan tidak akan menyalahkan dirimu karena kenyataannya kamu tidak bersalah sedikitpun. Aku juga akan mengakui kebenaran ini dihadapan kedua orangtua serta kakakku."
"Jangan! Jangan lakukan itu, karena mereka pasti akan menghukum mu, Zira." Di saat hatinya tengah hancur berkeping-keping, Leon masih mengkhawatirkan nasib Zira.
"Jangan khawatirkan aku, Leon! Aku pasti bisa menjaga diriku dengan baik. Lagipula semarah apapun, mereka tetaplah keluargaku. Tidak mungkin mereka sampai tega membu-nuhku." balas Zira.
"Leon...."
"Hm." Leon bergumam tanpa memandang ke arah Zira. Ia tak ingin Zira melihat air matanya.
"Bolehkah aku memelukmu untuk terakhir kalinya?." Tanpa menjawab, Leon langsung membawa Zira ke dalam pelukannya.
Tangis Zira semakin pecah ketika berada di dalam pelukan hangat Leon. Pelukan hangat yang pastinya tidak akan pernah bisa dirasakannya lagi setelah malam ini.
Meskipun hatinya hancur karena harus berpisah dengan pria pujaan hatinya, namun di dalam lubuk hati terdalam, Zira merasa lega karena telah mengungkapkan kebenaran tentang dirinya dihadapan Leon. Kini ia akan berusaha menerima kenyataan bahwa semua kebahagiaan yang pernah diimpikan nya bersama Leon harus berakhir seperti ini.
"Aku harap setelah ini kamu tidak akan membenciku, Leon. Segera, aku akan mengajak kedua orang tuaku menemui orang tua kamu untuk memohon maaf atas keputusanku ini." Setelah mengatakan kalimat tersebut, Zira berdiri dari duduknya.
"Kamu mau kemana?." Tanya Leon yang kini ikut bangkit dari duduknya.
"Aku mau pulang."
"Aku akan mengantarmu pulang."
Zira berusaha mengukir senyum di wajah sembabnya.
"Tidak perlu, Leon! Mulai malam ini, aku akan belajar mandiri. Aku akan menghubungimu setelah tiba di rumah nanti."
Zira memang telah mengakui kondisinya dihadapan Leon namun untuk mengakui siapa pria yang telah merenggut kesuciannya, Zira tidak berani. Ia takut jika pengakuannya nanti justru membuat Lexi kembali berbuat jahat terhadapnya. Menjauh dari keluarga Fernandez, itulah yang ingin dilakukan oleh Zira setelah mengajak kedua orangtuanya meminta maaf kepada keluarga tersebut.
Maaf baru bisa up hari ini sayang-sayangku....🙏🙏🙏
kamu benci banget ma Lexi,tanpa kamu sadari suami mu banyak pengagumnya
dan aku begitu juga 😆😆😆
kesian dia karena ambisi gila orang tuanya yang ingin berbesan dengan orang tua mu
Mimi aja Lex 🤣