Berlatar di sebuah desa bernama Desa Suka Makmur. Anggap saja salah satu desa di Jawa Barat. Desa dengan beberapa fasilitas yang tersedia, seperti bangunan sekolah dasar, balas desa, puskemas pembantu, posyandu , lapangan sepak bola dan lainnya. Namun dibalik itu desa tersebut menyimpan kisah misteri dan terkenal dengan kemistisan nya. Desa pocong sebutan lain dari nama desa itu. Terdapat pantangan untuk tidak membuka pintu dan jendela di malam hari. Lebih-lebih keluar di waktu malam , apapun alasan nya. Jika melanggar maka siapapun akan terkena musibah. Sebuah teror, celaka , jatuh sakit , bahkan hingga kematian. Namun tak hanya itu , teror lain turut membayangi warga desa. Hingga seorang gadis pendatang baru yang tinggal di salah satu rumah yang terkenal angker berusaha mencari tahu tentang desa itu. Fitri namanya, gadis dengan kemampuan spiritual yang akan membantu warga desa terbebas dari ketakutan nyata teror pocong yang sudah berjalan berpuluh-puluh tahun lamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon qsk sri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengintimidasi
Sekembalinya Fitri dari masjid,gadis itu terkejut melihat kondisi rumah yang sudah kembali berantakan ,malah lebih berantakan dari kondisi pertama kali. Dengan kantung kresek hitam berisi gado-gado yang dia beli tak jauh dari masjid,dia bertolak pinggang.
"Apa-apaan ini ?" Ucap nya terkejut.
Sekelebat Fitri melihat bayangan melintas dari arah dapur. Dia mendengus kasar,"Pasti ulah mereka " Gumam nya pelan.
"Kalian tunggu saja pembalasan gue !" Fitri meraih sepotong kardus ,nampak usang namun masih bisa dia gunakan untuk alas duduk seadanya.
"Mending gue makan dulu abis itu kasih pelajaran mereka. Mereka gak tahu lagi berhadapan sama siapa " Gerutu gadis itu seraya membuka bungkusan makanannya.
Sambil menikmati makan siang nya,mata Fitri tak lepas dari sosok makhluk astral yang memang sengaja menampakan diri untuk membuat Fitri ketakutan.
"Apa lihat-lihat ? Mau ? Beli !" Tanya Fitri ketus.
Satu kuntilanak yang berdiri tak jauh darinya terperanjat,rekan kuntilanak satunya lagi juga bereaksi sama,termasuk rekan-rekan nya yang lain.
"Hahahaha kalian pasti kaget kan,aku bisa lihat kalian ? Ayo keluar ! Ngaku siapa yang udah berantakin ini semua ?" Seru Fitri sambil menatap tajam kuntilanak di depan nya.
Hantu-hantu itu saling bertukar pandang,mereka merasa keki saat ada manusia yang bisa membentak mereka tanpa rasa takut dan justru malah mereka yang merasa takut melihat tatapan intimidasi Fitri.
Gluk'
"Kenapa jadi aku yang merasa terintimidasi...?" Lirih kuntilanak itu.
Perlahan satu persatu dari hantu-hantu itu keluar,seolah ada sesuatu yang menarik mereka keluar, tubuh transparan mereka melayang dengan sendirinya dan berjajar rapih di depan Fitri.
"Loh...kok begini ? Kenapa aku keluar, aku kan masih mau sembunyi ...." Lirih jerangkong.
"Iya aku juga gak ngerti " Timpal kuntilanak.
"Huhuhuhu....kakak itu membuat ku takut ..." Rengek hantu anak kecil dengan tubuh yang bergetar.
"Heh setan ! Harusnya gue yang takut lihat elu ! Kenapa jadi elu yang takut lihat gue ? " Seru Fitri tak habis pikir.
"Huaaa....kakak itu ngatain aku setan.....!" Jerit hantu anak kecil itu sambil menangis.
Fitri mengerjapkan matanya,merasa tak percaya dengan apa yang terjadi.
"Emang elu setan ,gak nyadar ? Kalian semua setan !" Ucap Fitri menunjuk hantu-hantu itu. " Terus siapa yang udah bikin ini berantakan ? Ngaku !" Tanya Fitri kemudian.
Hantu-hantu itu saling tunjuk tak ada yang berani mengaku,dan melihat itu Fitri pun akhirnya mengerti siapa pelakunya.
"Ok...kalian semua pelakunya,gue minta kalian beresin lagi seperti tadi,kalau enggak ...."
" Kalau enggak apa ? Kamu mau apa ?" Tanya kuntilanak seolah menantang.
"Kalian sendiri yang menyesal" Fitri mengangkat tangannya lalu berdoa membacakan ayat kursi.
Hantu-hantu itu seketika menggeliat kepanasan ,saking panasnya tubuh mereka sampai mengepulkan asap berwarna hitam.
"ADUH.... PANAS...!" Jerit hantu-hantu itu.
Fitri dalam hati bergumam merasa tak percaya dengan apa yang terjadi. Dirinya bisa membuat hantu-hantu itu menjerit kepanasan merupakan hal yang paling gong dalam hidup nya. Selama ini ia sering membayangkan jika dirinya bisa seperti paranormal yang bisa berkomunikasi dan mengusir hantu. Korban film horor sebenarnya,dan dia begitu mengidolakan paranormal artis cantik Sara Wijayanto. Dia ingin seperti nya. Dan kini apa yang dia bayangkan ternyata benar-benar terjadi.
Semakin Fitri mengeras kan suaranya semakin keras pula jeritan mereka. Bahkan hantu anak kecil sampai nangis guling-guling di lantai kotor saking tak kuasa menahan panas.
"Ampuuuunnn....iya ...iya .. kami ngaku kami yang melakukan nya. Itu karena kami tidak mau terusir, rumah ini sudah menjadi tempat tinggal kami selama ini ,kalau kami diusir kami mau tinggal dimana lagi..." Seru salah satu kuntilanak akhirnya menyerah sambil mengibarkan bendera putih. Entah dapat darimana pula.
Fitri menaikan satu alisnya," heh...siapa yang mau ngusir kalian?" Ucap Fitri seketika menghentikan bacaan nya.
"Gini saja,gue maafin kalian dan gak akan mengusir kalian dari rumah ini ,tapi dengan satu syarat" Ucap nya lagi
"APA ?" Tanya hantu-hantu itu bersamaan.
"Kalian rapihkan dan bersihkan rumah ini. Semuanya ....tanpa terkecuali"
Para hantu saling bertukar pandang,mereka lalu mengangguk kompak.
" Baiklah, kami kerjakan sekarang juga. Kami pastikan sebelum malam tiba rumah ini sudah bersih dan rapih " Ucap pocong begitu menjanjikan.
Fitri memperhatikan pocong itu dari ujung kepala sampai kaki," Emang Lo bisa,badan saja dibungkus rapet begitu udah mirip lontong. Untung warna nya putih kalau hijau mirip lemper " Celetuk Fitri.
"Hmmpptthh..." Kuntilanak di samping nya mendadak ingin tertawa,namun ditahan nya.
"Tadi lontong sekarang lemper ,jadi aku mirip yang mana sebenarnya " lirih Pocong pelan
"Dua-dua nya. Ok.... kalau gitu gue pulang dulu ke rumah bibi Nina,besok sebelum balik Jakarta gue datang lagi buat lihat rumah ini. Kalau sampai rumah ini masih berantakan kalian tau sendiri akibatnya" Ancam Fitri.
Para hantu itu kembali mengangguk dengan kompak. Setelah itu Fitri pun pergi.
"Huuuuuhhh....gila ! Baru kali ini aku nemu manusia sakti seperti itu,cuman dengan ayat kursi doang kita udah kepanasan. Padahal sudah sering aku denger orang-orang baca ayat kursi kalau lewat depan rumah ini tapi gak ada efek apa-apa. Yang ada aku malah pengen lempar tuh orang " Ucap si jerangkong.
"Bener,gadis itu seperti punya sesuatu yang bikin kita takluk gak sih ,coba saja tadi kita tiba-tiba keluar,kita juga nurut saja,mana wajahnya serem,padahal yang setan kan kita kenapa dia yang manusia malah lebih serem " Sahut pocong.
"Aku takut ,kakak itu lebih serem dari om ocong " Timpal hantu anak kecil.
" Nah kan,bocil aja setuju " Ucap pocong.
"Apapun itu lebih baik kita cepat bereskan rumah ini , sebelum kita jadi hantu panggang "Ucap kuntilanak yang diangguki kuntilanak satunya.
"Siap ! Aku juga gak mau jadi tulang rebus" Sahut jerangkong.
"Kenapa tulang rebus ?" Tanya pocong.
"Kan manusia biasanya rebus tulang buat bikin kuah kaldu" Sahut pocong.
"Tulang apa dulu...masa iya tulang setan macam kamu dibuat kaldu,bisa keracunan massal manusia " Celetuk kuntilanak yang dilanjutkan dengan suara cekikikan khas mereka.
Si jerangkong mendengus pelan lalu mulai menggeser meja dan kursi dengan sekuat tenaga, terdengar suara gemeretak tulang nya setiap kali dia bergerak mengalahkan suara derit benda-benda yang bergesekan. Duo kuntilanak dengan gerakan gesitnya mulai bekerja ,hantu anak kecil membantu dengan menyapu sementara pocong karena kedua tangan dan kakinya terbungkus dia hanya bisa mengelap kaca menggunakan ujung kain yang diikat di kepalanya.
"Hancur sudah harga diri kita sebagai hantu" lirih pocong sambil menggerak-gerakkan kepalanya.
Sementara itu, Fitri baru saja sampai di rumah Nina. Dia segera merapikan barang-barang nya agar besok pagi dia tidak kelimpungan sebelum berangkat.
"Kamu mau balik lagi ke Jakarta?" Tanya Nina di ambang pintu kamar.
"Iya bi,besok pagi aku berangkat" jawab Fitri sambil menarik resleting tas ranselnya.
"Kirain mau menetap di desa ini..." Ucap Nina sambil melangkah masuk. Nina lalu duduk di tepi ranjang.
"Aku cuman mau lihat-lihat rumah peninggalan bapak saja bi. Lagipula aku harus bekerja kalau di sini aku mau kerja apa coba " Ucap Fitri.
"Iya juga sih,tapi di Jakarta kamu kan sendirian. Bibi jadi khawatir" Ucap Nina benar-benar terlihat tulus.
Fitri memejamkan mata ,menghela nafas nya pelan. " Bibi doain saja yang baik-baik biar aku juga baik-baik di Jakarta. Nanti kalau aku udah dapet kerja terus gajihan aku transfer ke bibi buat renovasi rumah bapak. Sayang kalau dibiarkan rusak begitu saja. Yaah ..minimal kalau nanti aku pulang kampung aku gak numpang di rumah bibi" Tutur Fitri
...
Waktu berjalan begitu saja,kini malam pun tiba. Seperti malam sebelumnya,di luar terdengar suara-suara berisik. Kadang terdengar seperti suara orang mengobrol,berjalan ,dan bahkan berlari. Semua suara-suara itu terdengar biasa saja jika siang hari,tetapi di malam hari terdengar begitu mencekam. Semua warga menutup rapat-rapat jendela dan juga pintu. Tak sedikit warga yang juga melapisi kain gorden dan mengunci ganda pintu rumah mereka.
Tetapi lain lagi dengan Fitri. Gadis itu seakan tidak mendengarkan nasihat Nina. Jendela kembali ia buka ,rasa panas dan gerah membuat nya terpaksa kembali membuka jendela kamar nya. Akan tetapi tiba-tiba satu pocong mendekat berdiri tepat di depan jendela kamar , lalu kemudian diikuti pocong lain nya.
Fitri sempat terkejut,namun dia segera bisa mengendalikan diri. Fitri dengan cepat kembali menutup jendela kamar nya.
"Apes banget sih,niat hati mau ngadem malah disamperin para setan bungkus ! Mana gak ada yang good looking lagih ...."
.....