"Dewa Penulis... kenapa Kau bikin kami hidup, tapi gak kasih kami arti?" — Lord Valgus, Penyihir Jahat
Gue Leon, dan gue yang bikin dunia ini. Gue yang nulis siapa hidup, siapa mati, siapa kuat, siapa lemah. Tapi gue ngelakuinnya santai banget, asal ketik aja di keyboard. Buat gue, ini cuma cerita hiburan doang.
Sampai akhirnya gue malah terjebak masuk ke dalam cerita itu sendiri.
Ternyata, jadi penulis itu gak enak ya kalau ceritanya sendiri berantakan. Kerajaan megah tapi bentuknya aneh, tokoh-tokohnya punya perasaan sendiri di luar naskah, terus musuh utama malah pengen bunuh gue karena ngerasa hidupnya cuma dipermainkan.
Sekarang gue gak cuma nulis cerita lagi. Gue harus hidup di dalamnya, benerin semua kesalahan gue, dan bikin akhir cerita yang adil buat mereka... sebelum gue dihukum sama karya gue sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 23. ternyata bukan mimpi
Leon terus memutar kembali setiap kejadian itu dalam pikirannya, seolah sedang menonton sebuah film yang sangat jelas dan terasa nyata. Ia bisa merasakan hembusan angin di Hutan Kenangan, mendengar alunan lagu dari Pegunungan Suara, bahkan merasakan hangatnya pelukan Liora dan tawa lepas Zarek. Semua itu terasa begitu hidup, jauh lebih terperinci dibandingkan mimpi-mimpi biasa yang pernah ia alami. Namun kenyataan di hadapannya sekarang justru berbicara lain: ia sudah terbaring koma selama lima tahun, dan tempat yang ia anggap sebagai titik awal kepergiannya kamar kos ternyata tidak pernah ada dalam sejarah hidupnya.
“Gimana kalau itu cuma khayalan yang terbentuk selama otak gue tidak sadarkan diri?” gumam Leon pelan, hampir tak terdengar. Ia mengusap pelipisnya yang terasa sedikit berdenyut, berusaha menyatukan dua kenyataan yang terasa bertolak belakang.
Melihat putranya yang semakin tertekan, Bu Ina segera mendekat dan memegang tangan Leon dengan lembut. “Sudah, Nak… jangan dipikirkan terlalu berat. Nanti kalau waktunya tiba, pasti semuanya akan jelas dengan sendirinya. Sekarang yang terpenting adalah kesehatanmu pulih sepenuhnya,” ucapnya menenangkan, berusaha menghapus rasa cemas yang terlihat jelas di wajah anaknya.
Pak Indra pun mengangguk setuju. “Iya benar kata Ibu. Lima tahun itu waktu yang sangat lama untuk tubuh dan pikiranmu. Beristirahatlah yang cukup, makan dengan teratur, biarkan tubuhmu menyesuaikan diri kembali. Jangan dipaksa untuk mengingat apa pun yang terasa membingungkan.”
Leon hanya mengangguk lemah, meski keraguan di hatinya belum juga sirna. Ia mencoba menuruti saran orang tuanya, berbaring kembali dan memejamkan mata, namun bayangan-bayangan dari dunia itu terus melintas di benaknya sepanjang malam.
Beberapa hari berikutnya berlalu dengan lambat. Kondisi fisik Leon membaik sangat pesat, melebihi perkiraan dokter. Ia sudah bisa berjalan-jalan kecil di koridor rumah sakit, makan dengan lahap, dan bercakap-cakap seperti sedia kala. Namun satu hal yang tidak berubah ingatan tentang dunia ciptaannya tetap terasa nyata, sementara ingatan tentang lima tahun terakhir di dunia ini masih kosong melompong.
Suatu sore, saat kedua orang tuanya pulang sebentar untuk mengambil keperluan di rumah, Leon duduk sendirian di tepi jendela kamar. Ia menatap langit senja yang berwarna jingga kemerahan, dan tiba-tiba jantungnya berdegup kencang. Di dalam saku baju rumah sakit yang baru saja ia kenakan, ia meraba sesuatu yang keras dan tidak biasa.
Dengan rasa penasaran, ia mengeluarkan benda itu. Matanya terbelalak tak percaya. Di tangannya tergenggam sebuah buku catatan kecil berkulit cokelat tua, pinggirannya terlihat sedikit usang namun tetap terawat. Itu adalah buku yang sama..buku catatan tempat ia menulis seluruh kisah dunia itu, yang selalu ia bawa ke mana pun selama berada di sana.
“Tidak mungkin… ini hanya ada di dalam cerita, kan?” gumam Leon dengan suara bergetar.
Tangannya gemetar saat membuka halaman pertamanya. Di sana tertulis tulisan tangannya sendiri, rapi dan jelas Dunia Cerita Sembarangan. Semua catatan perjalanan, sketsa pemandangan, hingga nama-nama tempat dan orang yang ia temui tertera dengan lengkap. Halaman terakhir yang ia biarkan kosong kini tertulis satu kalimat tambahan yang membuat air matanya tanpa sadar menetes.
“Kisah tidak harus memilih satu dunia. Ia bisa hidup di hati, melintasi ruang dan waktu.”
Saat itu juga, samar-samar ia mendengar suara lembut yang hanya bisa didengar olehnya..suara Liora yang terdengar hangat dan menenangkan, seolah berbisik tepat di samping telinganya.
“Kamu tidak bermimpi, Leon. Kami tetap ada, di tempat yang sama. Ingatan ini adalah bukti bahwa ikatan yang terjalin tidak akan pernah putus, meski jarak dan kenyataan memisahkan kita sementara waktu.”
Leon memeluk buku itu erat-erat di dadanya, merasakan beban keraguan yang selama ini membebani hatinya perlahan menghilang. Ia akhirnya mengerti: apa yang ia alami bukanlah sekadar khayalan atau mimpi. Itu adalah bagian dari hidupnya yang nyata, sama seperti kehidupan yang sedang ia jalani sekarang. Ia memiliki dua dunia, dua keluarga, dan dua kebahagiaan yang harus ia jaga dengan sepenuh hati.
Saat pintu kamar terbuka dan kedua orang tuanya kembali dengan senyum di wajah mereka, Leon mengangkat wajahnya, kali ini dengan ketenangan yang utuh. Ia tidak lagi merasa bingung atau terbelah. Ia adalah Leon Arleno ,penulis, putra, sahabat, dan seseorang yang telah diberi kesempatan luar biasa untuk menjalani dua kehidupan yang sama berharganya.