NovelToon NovelToon
Overload: Sang Penghancur Rumah Tangga Orang

Overload: Sang Penghancur Rumah Tangga Orang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Komedi
Popularitas:422
Nilai: 5
Nama Author: HAMBALANGVERSE

⚠️ Disclaimer⚠️
Untuk yang punya humor tingkat tinggi di atas ranah Bahalil Sovereign Immortal Mythic Glory Realm yang bisa menangkap esensi dari perjalanan Slamet dan Faksi-faksi di Overlord.

━━━━━━━━━━━━━━━

⚔️ ORIGINAL HAMBALANGVERSE ⚔️

#Fantasi
#Komedi
#Petualangan
#Respawn
#SalahPahamMassal
#KalongMania62
#BukanKonspirasi
#TapiSemuaPanik


🗓️ Jadwal update:
Sampai Matahari Padam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMBALANGVERSE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Jam menunjukkan pukul 23:47.

Slamet duduk bersandar di kasur, punggungnya menempel pada dinding yang catnya sudah mulai mengelupas. Di hadapannya, sebuah laptop tua yang kipasnya berisik luar biasa—seolah mau lepas dan terbang setiap kali dia gunakan untuk menonton video kucing berwarna merah muda.

Kamar kosan ini ukurannya cuma 3x4 meter.

Cukup muat untuk sebuah kasur, lemari plastik, rak buku, dan meja lipat yang entah kenapa hampir tidak pernah dilipat. Soal harga sewa? Jauh lebih murah daripada harga novel Sistem 2Bit: Dari Sampah Jadi Dewa. Iya, novel itu. Yang bahkan dijual 197 ribu di toko buku bekas pinggir jalan. Sebulan tinggal di sini, Slamet cuma perlu bayar 198 ribu. Murah. Sangat murah untuk ukuran anak kos di kota Maju Mundur.

Tapi ya begitulah hukum alamnya.

Murah, fasilitasnya pun seadanya.

AC? Jangan harap ada.

Kamar mandi ada di luar, dipakai bergiliran bersama lima penghuni kamar lain.

WiFi? Ada sih. Tapi entah kenapa sinyalnya selalu putus nyambung setiap jam dua pagi.

Meski begitu, bagi Slamet, kamar sederhana ini rasanya seperti istana.

Kenapa?

Karena di sinilah tempat dia bisa menjadi dirinya sendiri, sebagai si Kalong Mania +62.

Dinding kamar itu hampir tak terlihat warna aslinya lagi.

Seluruh permukaannya tertutup rapat oleh poster-poster anime.

Ada Topi Jerami yang menempel di sisi kiri. Wajah Narto di sebelah kanan. Si Gundul yang terpajang tepat di atas kepala tempat tidurnya. Bahkan sosok Raja Kuburan pun tergantung di belakang pintu. Tak ketinggalan beberapa poster ilustrasi dari novel Vorthas—karya penulis lokal yang dia beli sungguh-sungguh karena suka, bukan karena ikut-ikutan promo. Dia memajangnya dengan bangga.

Isi rak bukunya pun penuh sesak, tersusun rapi dalam tiga baris.

Baris pertama berisi buku-buku fisik. Sebagian besar koleksi novel Vorthas. Ada juga beberapa edisi terbatas yang harus dia perebutkan saat antre di pameran komik. Lengkap juga ada jilid satu sampai tujuh novel Sistem 2Bit. Rapi tersusun, meski harus diakui, desain sampulnya terlihat agak norak. Sangat khas dengan genre novel sampah lokalisasi.

Baris kedua diisi oleh tumpukan komik: manga dan manhwa berbagai judul.

Baris ketiga isinya barang-barang campur aduk. Powerbank yang sudah rusak. Tiga kabel charger dengan berbagai kondisi. Gulungan tisu yang tinggal separuh. Serta beberapa patung figure murahan hasil beli di toko daring. Mulai dari Ainz yang wajahnya terlihat agak aneh, hingga Luffy wujud Gear Fifth yang warnanya sudah mulai memudar.

"Ah, bagian ini kocak banget," gumam Slamet sambil terus membalik halaman buku di tangannya.

Malam ini dia sedang asyik membaca.

Bukan Vorthas.

Bukan pula Sistem 2Bit.

Melainkan buku ketiga yang sedang dia habiskan maraton malam ini.

Buku itu unik, tidak ada judul yang tertulis di sampulnya. Hanya gambar abstrak hitam putih dan satu nama yang tercetak di sana:

Penulis X.

Slamet sama sekali tak tahu siapa sosok di balik nama pena itu.

Tapi satu hal yang dia tahu: gaya bercerita orang ini benar-benar gila.

Satu halaman bisa berisi percakapan aneh tentang nasi goreng yang tiba-tiba berubah menjadi diskusi filsafat mendalam soal eksistensi manusia. Lalu di halaman berikutnya, suasana berubah drastis menjadi horor psikologis yang bikin bulu kuduk merinding. Dan halaman selanjutnya lagi? Isinya komedi gelap yang sarkas.

Ada yang menulis ulasan di internet, "Karya ini nggak punya genre tetap. Rasanya seolah penulisnya lagi marah besar sama sistem dunia."

Slamet sangat menyukainya.

Mungkin karena dia pun sering merasa marah pada sistem.

Sistem kampus yang suka ganti jadwal ujian mendadak.

Sistem pengelola kosan yang selalu menaikkan harga listrik setiap bulan dengan alasan tak jelas.

Sistem hidup yang menuntut orang harus selalu punya ambisi besar, padahal keinginan Slamet sederhana saja: hidup tenang dan bisa baca buku sepuasnya.

Ah, tapi sudahlah.

Malam ini, biarlah dia hanya ingin menyelesaikan bacaan ini sampai tuntas.

Halaman terakhir.

Dia membacanya.

Lalu menutup buku itu.

"Aneh juga endingnya," gumamnya. Dia tidak yakin dia mengerti. Tapi rasanya seperti selesai. Seperti ada sesuatu yang berpindah tangan tanpa dia sadari.

Dia meletakkan buku itu di atas kasur.

Jam menunjukkan pukul 00:12.

Tiba-tiba Slamet menyadari ada yang tidak beres dengan tubuhnya.

Perutnya mulai terasa aneh.

Bukan sakit biasa.

Tapi rasanya... bergolak hebat.

Seperti ada sesuatu yang bergerak-gerak di dalam sana, ingin keluar, tapi bukan buang angin, bukan juga ingin buang air besar. Sesuatu yang benar-benar asing dan ganjil.

"Anjir, tadi malam gue makan apa sih sebenarnya?" gumamnya sambil menekan perut pelan-pelan.

Dia mencoba mengingat kembali.

Mie instan rebus, ditambah telur dan sosis. Pakai sambal ekstra pedas level dewa.

Itu menu makan malamnya jam delapan tadi.

Lalu dilanjut camilan keripik super pedas jam sepuluh.

Terakhir minum es teh manis dingin yang sudah ada di gelas atas meja sejak kemarin sore. (Padahal dalam hati kecilnya dia tahu minuman itu sudah lewat dari dua puluh empat jam, tapi sayang kalau dibuang, pikirnya waktu itu).

Mungkin itu penyebab utamanya.

Dia mencoba mengabaikan dan kembali membaca bukunya.

Jam 00:27.

Kali ini Slamet mulai merasa benar-benar tidak enak badan.

Perutnya terasa seperti ditarik paksa dari dalam. Mual melanda, tapi tak ada yang mau dimuntahkan. Ada dorongan kuat yang terasa, namun arahnya entah ke mana.

"Ah, mending ke kamar mandi dulu deh."

Dia berdiri.

Namun saat melewati rak buku, matanya menangkap sesuatu.

Sepotong kertas. Di lantai, tepat di bawah rak baris ketiga. Dia tidak ingat pernah menaruhnya di sana. Bahkan tidak ingat pernah melihatnya sebelumnya.

Slamet memungutnya.

Satu kalimat. Tulisan tangan sangat rapi, hampir seperti cetakan.

"Area Terlarang 404 menerima pendatang baru. Bacalah jika kau ingin tahu jawaban dari segala pertanyaan yang tak pernah berani kau tanyakan pada sistem."

Slamet membacanya sekali.

"Nyebelin banget," gumamnya.

Dia melipat kertas itu dan memasukkannya ke saku celana pendeknya. Bukan karena penasaran. Dia hanya ingin tangannya kosong.

Sekarang, prioritas utamanya cuma satu: cepat-cepat sampai ke kamar mandi.

Slamet melangkah keluar pintu kamarnya.

Lorong kosan tampak gelap gulita. Lampu utama memang sudah dimatikan sejak jam sepuluh malam. Satu-satunya penerangan hanyalah lampu darurat di ujung lorong yang cahayanya remang-remang, seolah mau mati kapan saja.

Dia berjalan tertatih.

Satu langkah.

Dua langkah.

Tiga langkah.

Lalu...

Rasa sakit di perutnya meledak menjadi kram yang luar biasa hebat.

Bukan kram perut biasa. Rasanya seperti ada sesuatu yang menarik paksa seluruh isi perutnya—ke bawah, ke dalam, ke suatu tempat yang entah di mana.

Tubuh Slamet ambruk seketika.

Lututnya membentur lantai keramik yang dingin.

Mulutnya terbuka ingin berteriak, namun tak ada suara yang keluar.

Pandangannya yang tadi jelas melihat lorong kosan, perlahan mulai kabur dan berbayang. Seolah kabut tebal mulai turun menutupi segalanya.

Hingga akhirnya, semuanya menjadi gelap total.

Slamet tak sadarkan diri sepenuhnya.

Namun tubuhnya tak lagi tergeletak di lantai lorong kosan itu.

Karena di saat yang bersamaan, di tempat yang sangat, sangat jauh dari sana...

Di tengah semak-semak lebat tak jauh dari ibukota Elf Kingdom, sebuah dimensi yang dikenal sebagai New World...

Sesosok tubuh tiba-tiba muncul begitu saja.

Pakaiannya kaos oblong lusuh dan celana pendek kain, beralaskan sandal jepit.

Rambutnya berantakan tak karuan.

Wajahnya masih menyisakan jejak kantuk yang berat.

Dan tangannya masih erat mencengkeram perutnya yang sakit.

"Anjir..." gumamnya lirih.

Beberapa detik berlalu. Tidak ada suara. Tidak ada angin.

Lalu, jauh di kedalaman hutan—arah yang tidak bisa ditentukan dari mana—sesuatu bergerak.

Bukan binatang. Bukan angin.

Sesuatu yang tidak membuat suara sama sekali, justru karena itulah terasa.

Lalu diam kembali. Seolah tidak pernah ada.

Slamet tidak mendengar apapun. Dia sedang fokus memegang perutnya.

"Kamar mandi di mana..."

1
🏵YI FENG🐲
Anjay
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!