Ketika langit malam berkedip dan suara mekanis yang dingin bergema di benak miliaran manusia, Bumi tidak lagi sama. Kiamat tidak datang membawa api dari neraka atau wabah mematikan, melainkan sebuah layar biru transparan yang melayang di udara.
Era damai telah dihancurkan oleh "Sistem". Manusia secara paksa ditarik ke dalam arena kelangsungan hidup semesta, di mana monster bermunculan dari bayang-bayang dan hukum rimba menjadi satu-satunya aturan. Beradaptasi, berevolusi, atau mati.
Yudha, seorang mekanik penyendiri yang lebih nyaman berbicara dengan mesin daripada manusia, secara tidak sengaja meretas anomali sesaat sebelum kiamat dimulai. Berkat sebuah kubus hitam misterius yang ia temukan di pasar loak, Sistem salah mengidentifikasinya dan memberikannya kelas yang belum pernah tercatat dalam sejarah integrasi: Mekanik Kosmik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Darah Pertama dan Cetak Biru
Anjing Neraka Mutan itu melompat menembus sisa-sisa pintu rolling door yang bengkok. Kecepatannya jauh melampaui anjing pitbull mana pun. Udara di sekitarnya mendadak terasa panas, membawa bau busuk belerang dan daging membusuk.
Yudha tidak mundur. Dengan Kecerdasan mencapai 18 poin, persepsinya bekerja jauh lebih tajam dari manusia biasa. Otaknya memproses lintasan lompatan monster itu dalam sepersekian detik.
Ia memiringkan tubuhnya ke kiri tepat saat rahang makhluk itu menutup, membuahkan bunyi gemeretak gigi yang mengerikan hanya beberapa sentimeter dari wajahnya. Cipratan air liur asam mengenai lengan kemeja Yudha, langsung mendesis dan melubangi kainnya.
Mengabaikan rasa perih di lengannya, Yudha memutar pinggulnya, menyalurkan seluruh kekuatannya ke kedua lengannya yang menggenggam kunci inggris baja seberat lima kilogram.
BAM!
Besi padat itu menghantam keras tulang rusuk monster tersebut. Suara retakan tulang terdengar jelas. Makhluk itu terlempar ke samping, menabrak rak perkakas hingga obeng, baut, dan kunci pas berserakan di lantai beton.
Yudha terengah-engah, merasakan getaran hebat menjalar dari telapak tangan hingga ke bahunya. Ototnya menjerit. Kekuatannya yang hanya di angka 7 sangat terasa batasannya sekarang. Jika itu adalah ayunan lengan orang dengan kekuatan di atas rata-rata, tulang rusuk makhluk itu pasti sudah hancur sepenuhnya.
Monster itu merintih marah, bangkit dengan cepat seolah hantaman tadi hanya sekadar tamparan. Mata merahnya kini memancarkan niat membunuh yang murni.
[Peringatan: Anjing Neraka Mutan (Level 2) memasuki fase Marah. Kecepatan meningkat 20%!]
"Sialan," umpat Yudha pelan.
Monster itu kembali menerjang, kali ini mengincar kaki Yudha. Karena ruang geraknya sempit, Yudha terpaksa menendang sebuah tonggak dongkrak mobil ke arah makhluk itu. Namun, rahang kuat monster itu langsung menggigit dan melemparkan dongkrak besi itu ke sudut ruangan.
Di saat celah terbuka, makhluk itu mencakar paha kiri Yudha.
SRAAAK!
Tiga garis luka robek muncul, mengalirkan darah segar. Rasa sakit yang tajam membuat Yudha mengertakkan gigi, tapi ia menolak untuk jatuh. Mundur berarti mati.
Matanya menyapu sekeliling dengan cepat dan tertuju pada meja kerjanya yang hancur. Di sana, aki modifikasi bertegangan tinggi yang ia gunakan untuk menyetrum kubus hitam tadi masih tergeletak di genangan air hujan yang merembes masuk dari pintu.
Monster itu bersiap untuk lompatan ketiga, mengambil ancang-ancang dengan cakar belakangnya yang menancap kuat di lantai beton.
"Coba gigit ini!"
Yudha tidak mengayunkan senjatanya ke arah monster itu. Alih-alih, ia melemparkan kunci inggris bajanya dengan sekuat tenaga tepat ke arah aki modifikasi di atas meja. Benda berat itu menghantam aki, membuatnya terlempar jatuh dan mendarat tepat di genangan air di antara Yudha dan monster tersebut.
Monster itu melompat. Tepat saat cakar depannya menyentuh genangan air, penjepit buaya dari aki yang rusak itu memercikkan listrik.
BZZZTTT!
Sengatan listrik ribuan volt mengalir melalui genangan air hujan. Anjing Neraka itu mengejang hebat di udara. Otot-otot merahnya yang tanpa kulit bereaksi brutal terhadap sengatan listrik, membuatnya lumpuh selama dua detik yang sangat berharga.
Yudha tidak membuang waktu. Ia menerjang maju, mengabaikan rasa kebas di kakinya yang ikut terkena cipratan air. Ia meraih kunci roda berbentuk palang yang tergantung di dinding terdekat, melompat, dan menghujamkan ujung besinya tepat ke tengkorak monster yang sedang mengejang itu.
KRAAAK!
Besi itu menembus tengkorak dan merusak otak makhluk tersebut. Tubuh Anjing Neraka itu tersentak keras untuk terakhir kalinya sebelum akhirnya ambruk ke genangan air, tak bernyawa. Darah hitam kemerahan mengalir perlahan dari kepalanya.
Yudha jatuh terduduk, napasnya memburu. Keringat dingin bercampur darah membasahi pakaiannya. Tangannya gemetar akibat adrenalin yang memuncak.
Tiba-tiba, suara mekanis kembali bergema di kepalanya, disusul teks biru keemasan yang muncul di udara.
[Entitas 'Anjing Neraka Mutan' (Level 2) berhasil dieliminasi.]
[Perbedaan level terdeteksi. Bonus pengalaman diberikan.]
[+150 EXP]
[LEVEL UP!]
[Level 1 -> Level 2]
[Anda mendapatkan 5 Poin Atribut Bebas.]
Yudha menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya. "Sistem sialan... Ini bukan mimpi."
Namun, layar peringatan lain langsung berkedip merah di depannya.
[Peringatan! Sisa Waktu Misi Bertahan Hidup: 3 Menit 40 Detik.]
[Segera tinggalkan Zona Pemijahan Monster!]
Yudha mengumpat. Ia tidak punya waktu untuk beristirahat. Jika satu monster level 2 saja hampir membunuhnya, ia tidak ingin tahu apa yang akan muncul jika batas waktu sepuluh menit itu habis.
Ia segera bangkit, menahan perih di pahanya. Dengan cepat, ia merobek ujung kemejanya dan mengikatkannya kuat-kuat di luka cakar untuk menghentikan pendarahan. Ia berlari ke loker di sudut bengkel, menyambar tas ransel militernya yang sudah usang, dan menjejalkan beberapa perkakas penting: selotip tebal, senter, korek api, pisau lipat, dan beberapa botol air mineral.
Ia memungut kembali kunci inggris bajanya dari genangan air. Itu adalah senjata terbaiknya saat ini.
Saat ia melangkah melewati bangkai Anjing Neraka itu, sebuah bola cahaya putih kecil tiba-tiba melayang dari mayat makhluk tersebut dan masuk ke dalam layar holografiknya.
[Syarat Misi Terpenuhi lebih awal. Misi Selesai!]
[Hadiah: +100 EXP, Pembaruan Cetak Biru Senjata Tingkat 1]
[Membuka Fitur Kelas: Pohon Cetak Biru (Blueprint Tree)]
[Daya Komputasi yang tersedia: 100/100]
Layar baru terbuka di depannya. Di sana, ratusan siluet senjata, pelindung, dan kendaraan mekanis yang digembok tampak berjejer. Di bagian paling atas, sebuah cetak biru bersinar terang, menandakan bahwa ia bisa diakses.
[Cetak Biru Tersedia: Pisau Kejut Elektromagnetik (Prototipe)]
Material yang dibutuhkan: 1x Bilah Besi/Baja, 1x Baterai Lithium/Kapasitor Kecil, 1x Kabel Tembaga, 50 Daya Komputasi.
Fungsi: Mengalirkan tegangan listrik kejut saat terjadi kontak fisik, mengabaikan pertahanan fisik dasar musuh.
Mata Yudha berbinar. Sebagai seorang mekanik, membaca spesifikasi ini sama menyenangkannya dengan membaca puisi. Jika ia memiliki senjata ini, bertarung melawan monster kulit tebal tidak akan lagi mengandalkan kekuatan murni yang bukan keahliannya.
GRAAAARR!
Suara raungan yang jauh lebih besar dan mengerikan bergema dari ujung jalan raya di luar bengkelnya, menyadarkan Yudha dari euforianya. Suara itu disusul oleh getaran tanah yang membuat kerikil di lantai bengkel melompat-lompat kecil.
Apapun yang baru saja "dipijahkan" oleh Sistem di luar sana, itu bukanlah sesuatu yang bisa ia hadapi dengan kunci inggris atau sebilah pisau kejut.
Yudha menyandang ranselnya, mengeratkan pegangannya pada kunci inggrisnya, dan melangkah keluar menembus hujan deras.
Saat ia keluar dari gang bengkelnya dan menatap jalan raya utama, napasnya tercekat. Pemandangan di depannya benar-benar layaknya neraka yang bocor ke dunia manusia. Mobil-mobil saling bertabrakan dan terbakar, lampu jalanan berkedip-kedip tak karuan, dan di tengah hujan badai, siluet monster-monster dengan berbagai ukuran sedang memburu orang-orang yang berlarian panik.