NovelToon NovelToon
Belenggu Masa Lalu: Menjemput Hatimu Kembali

Belenggu Masa Lalu: Menjemput Hatimu Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: aera_yong

Genre: Romance, Psychological Thriller, Suspense, Drama

Tag: CEO, Mantan Istri, Posesif, Psikopat, Penyesalan, Second Chance Romance

Sinopsis Resmi:
Dua tahun setelah menceraikan Kirana karena keangkuhannya, CEO Adrian Dirgantara didera penyesalan mendalam. Saat ia berniat merebut kembali hati mantan istrinya, Adrian mendapati Kirana telah menikah lagi dengan Rendy Baskoro.

Di mata publik, Rendy adalah suami sempurna. Namun di balik pintu rumah, Rendy adalah seorang psikopat manipulatif yang menyiksa dan menyekap Kirana dalam teror obsesi yang gila.

Menyadari Kirana dalam bahaya maut, Adrian mempertaruhkan nyawa dan seluruh kekuasaannya untuk menghancurkan Rendy. Akankah Kirana yang penuh trauma bisa kembali luluh dan selamat di pelukan Adrian?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Benang yang Terurai

Lampu gantung di dalam ruang pertemuan khusus di kementerian transportasi Singapura memancarkan cahaya putih yang steril. Adrian Dirgantara duduk dengan tegak, mengabaikan denyut nyeri di lengan kirinya yang semakin terasa akibat kelelahan. Di seberang meja panjang, seorang pejabat tinggi otoritas pelabuhan Singapura didampingi dua penasihat hukumnya sedang memeriksa dokumen-dokumen yang diserahkan oleh Rendra.

"Semua dokumen manifes kargo kami bersih dan telah divalidasi oleh bea cukai internasional, Tuan Lim," ujar Adrian, suaranya bariton, tenang, namun menuntut kepatuhan mutlak atas hukum dagang yang berlaku. "Tindakan penahanan dua belas kapal kargo Dirgantara Group tanpa dasar hukum yang jelas bukan hanya merugikan perusahaan saya, tetapi juga melanggar perjanjian koridor logistik bilateral."

Pejabat bernama Tuan Lim itu menghela napas, menyesuaikan letak kacamatanya. "Kami memahami posisi Anda, Pak Adrian. Namun, kami menerima laporan dari... sumber anonim mengenai adanya material yang tidak terdaftar di dalam lambung kapal nomor empat. Prosedur kami mengharuskan inspeksi menyeluruh."

"Sumber anonim itu bernama Tuan Chen, atau lebih tepatnya, didanai oleh buronan bernama Rendy Baskoro," sela Rendra dengan tegas, meletakkan sebuah berkas tambahan yang berisi bukti aliran dana dari rekening nomine Rendy ke salah satu perusahaan cangkang milik kroni Tuan Chen di Singapura. "Kami memiliki bukti konkrit bahwa ini adalah tindakan sabotase bisnis yang disengaja untuk memanipulasi pasar saham kami di Jakarta."

Melihat bukti aliran dana ilegal tersebut, wajah Tuan Lim sedikit berubah. Singapura sangat ketat terhadap isu pencucian uang dan manipulasi birokrasi oleh pihak asing.

"Jika hukum di sini tidak bisa menyelesaikannya dalam waktu dua belas jam," Adrian mencondongkan tubuhnya ke depan, mata elangnya mengunci pandangan Tuan Lim dengan dingin. "Saya akan membawa kasus ini ke tingkat arbitrase internasional dan menarik seluruh investasi logistik Dirgantara Group dari pelabuhan Anda. Saya rasa pemerintah Anda tidak akan menyukai publisitas buruk seperti itu."

Tuan Lim terdiam sejenak, lalu perlahan menutup map berkas di depannya. "Beri kami waktu tiga jam untuk melakukan verifikasi ulang terhadap kapal nomor empat, Pak Adrian. Jika terbukti bersih, seluruh armada Anda akan diizinkan berlayar malam ini juga."

Adrian bangkit berdiri, merapikan jasnya dengan tangan kanan yang sehat. "Tiga jam, Tuan Lim. Tidak lebih."

---

Sementara itu, di vila tersembunyi kawasan Orchard Road, Rendy Baskoro sedang menatap layar tabletnya dengan napas yang memburu. Di depannya, Satria baru saja menerima pesan terenkripsi dari tim pemantau rahasia mereka di Indonesia.

"Pak Rendy! Posisi Kirana sudah dipastikan!" ujar Satria dengan nada bicara yang cepat dan tegang. "Dia tidak berada di Jakarta, melainkan di sebuah rumah aman tua milik keluarga besar ibu Adrian di daerah Megamendung, Bogor. Lokasinya sangat terisolasi di tengah perkebunan teh."

Seringai kepuasan yang mengerikan langsung merekah di wajah Rendy. Kegilaan psikopatnya yang sempat memuncak karena merasa ditipu kini mereda, digantikan oleh kalkulasi dingin yang mematikan.

"Bogor..." gumam Rendy, berjalan mendekati dinding kaca sambil memutar-mutar pemantik api emasnya. "Adrian, kamu pikir kamu sangat pintar dengan menyembunyikannya di sana. Kamu terbang ke Singapura untuk mengunci tanganku, sementara kamu membiarkan milikku berada di tempat yang jauh dari jangkauan jaringamu."

Rendy berbalik, menatap Satria dengan mata yang berkilat tajam. "Hubungi kelompok bayaran hitam yang kita siapkan di Jawa Barat. Katakan pada mereka untuk bergerak ke koordinat rumah aman itu sekarang juga. Jangan tunggu sampai besok pagi."

"Apakah kita akan membawa Ibu Kirana langsung ke sini, Pak?" tanya Satria.

"Tidak. Jalur keluar bandara dan pelabuhan Indonesia terlalu berisiko sekarang," jawab Rendy dengan nada dingin. "Bawa dia ke gudang tua milik Baskoro Logistics di kawasan industri Cikarang yang sudah tidak beroperasi. Tempat itu tersembunyi dan tidak terdaftar atas namaku lagi. Aku sendiri yang akan kembali ke Indonesia lewat jalur laut tikus untuk menjemputnya."

Rendy meremas pemantik apinya hingga buku jarinya memutih. "Jika Adrian ingin menyelamatkan wanitanya lagi, dia harus merangkak di kakiku di gudang itu. Bergerak sekarang, Satria!"

---

Di rumah aman Megamendung, kabut malam mulai turun menyelimuti perkebunan teh, membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Kirana berdiri di dekat jendela ruang tengah, menatap kegelapan di luar yang hanya diterangi oleh beberapa lampu taman yang temaram. Perasaannya mendadak tidak tenang. Ada rasa sesak yang aneh di dadanya, seolah-olah udara dingin di sekitarnya membawa firasat buruk.

Penjaga rumah aman, seorang pria paruh baya bernama Pak joko yang merupakan mantan orang kepercayaan keluarga Adrian, berjalan mendekat sambil membawa nampan berisi wedang ronde hangat.

"Silakan diminum dulu, Non Kirana. Udara malam ini sangat dingin, tidak baik untuk kesehatan Non yang baru pulih," ujar Pak Joko dengan senyuman ramah seorang ayah.

"Terima kasih, Pak Joko," jawab Kirana, menerima mangkuk hangat itu. "Apakah... apakah di sini selalu sepi seperti ini?"

"Iya, Non. Tempat ini sangat rahasia. Bahkan penduduk desa di bawah pun jarang ada yang tahu kalau rumah ini ada penghuninya. Jadi Non Kirana tidak perlu khawatir, di sini sangat aman," jelas Pak Joko, mencoba menenangkan kecemasan yang jelas terpancar dari wajah tamunya.

Namun, tepat setelah Pak Joko menyelesaikan kalimatnya, lampu taman di luar tiba-tiba padam secara serentak. Rumah aman itu seketika dikepung oleh kegelapan malam pegunungan yang pekat.

Pak Joko mengernyitkan dahi, meletakkan nampannya kembali. "Aneh, generator cadangan di belakang seharusnya tidak mati. Sebentar ya, Non, saya periksa ke belakang dulu bersama penjaga depan."

Kirana mematung di tempatnya, cangkir di tangannya mulai bergetar. Pengalaman traumatis di *penthouse* Menteng beberapa hari lalu membuat otaknya langsung mengaitkan pemadaman listrik ini dengan satu hal: *Rendy.*

"Pak Joko... jangan keluar," bisik Kirana, suaranya tercekat oleh rasa takut yang tiba-tiba melumpuhkan sendi-sendinya.

*KRETEK! BUGH!*

Suara dahan pohon yang patah di halaman samping disusul oleh suara erangan tertahan dari salah satu penjaga di luar terdengar samar menembus dinding kayu rumah kolonial tersebut. Pak Joko yang baru saja hendak melangkah ke arah pintu belakang langsung waspada, ia meraba pinggang belakangnya, bersiap menarik senjata keamanannya.

Namun, sebelum Pak Joko sempat berbalik, pintu kaca teras depan dihantam dari luar hingga hancur berkeping-keping.

*PRANGGG!*

Tiga orang pria bertubuh kekar dengan pakaian hitam dan penutup wajah menerobos masuk ke dalam ruangan melalui pecahan kaca. Pak Joko mencoba menghadang mereka, namun salah satu penyusup bergerak lebih cepat, melayangkan hantaman popor senjata laras pendek tepat ke arah pelipis Pak Joko hingga pria tua itu jatuh tersungkur di lantai, tidak sadarkan diri.

"Pak Joko!" jerit Kirana histeris.

Kirana mundur dengan panik, mencoba berlari menuju tangga lantai dua, namun langkahnya kalah cepat. Salah satu penyusup berhasil menjangkau lengan sweater rajutnya, menarik tubuh Kirana dengan kasar hingga wanita itu terjatuh ke atas sofa.

"Lepaskan aku! Tolong! Jangan bawa aku!" teriak Kirana sambil meronta sekuat tenaga, memukul dan mencakar apa saja yang bisa ia raih.

Penyusup yang memeganginya tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Dengan dingin dan taktis, ia mengeluarkan sebuah saputangan yang telah dibasahi oleh cairan kloroform berkadar tinggi, lalu membekap mulut dan hidung Kirana dari belakang.

Kirana berusaha menahan napasnya, membelalakkan matanya yang dipenuhi oleh bayangan ketakutan yang luar biasa. Namun, aroma kimia yang menyengat itu memaksa masuk ke dalam indra penciumannya. Dalam hitungan detik, pandangan Kirana mulai mengabur, siluet ruangan bergaya kolonial itu berputar, dan tubuh ringkihnya perlahan melemas total di dalam cengkeraman sang penculik.

Penyusup itu memeriksa denyut nadi Kirana sejenak untuk memastikan target hanya pingsan, lalu mengangkat tubuh wanita itu ke atas bahunya. "Target sudah diamankan. Bersihkan sisa jejak, kita bawa dia ke Cikarang sekarang juga," perintah sang pemimpin tim melalui radio panggil pendek.

Mereka bergerak cepat menembus kabut malam Bogor yang pekat, meninggalkan rumah aman yang kini porak-poranda, membawa kembali sang burung merpati ke dalam sangkar kegelapan yang baru.

---

Bersambung ke Episode 16

1
Aera_yong
terimakasih ya teman-teman udah support novel aku😍😍
Afri
deg deg an baca nya ..👍👍
Afri
sama sama adu kekuatan 💪💪👍
Afri
seruu
Aera_yong
jangan lupa juga beri dukungan dan support novel ini yah🤭
Aera_yong
jangan lupa baca novel terbaru aku yah tentang The Four Elite
Batriani
gaya mafia......
Batriani
dendam membara
Batriani
seru juga baca nya ditengah derunya drachin dan drakor....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!