NovelToon NovelToon
Dingin Yang Tak Tersentuh

Dingin Yang Tak Tersentuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Duda / Diam-Diam Cinta
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: keipouloe

Arsen Laurent Wijaya, dosen killer yang dingin dan tak tersentuh, hidup dalam bayang-bayang pengkhianatan masa lalu. Sejak itu, ia membenci perempuan—bahkan tubuhnya sendiri menolak setiap sentuhan mereka.

Di rumah, ia hanya sosok ayah tanpa kehangatan.

Hingga hadir Alana Kirana Putri.

Mahasiswi ceroboh, ceria, dan penuh kekacauan kecil di hidupnya. Berbeda dari semua perempuan yang pernah Arsen temui, Alana justru tidak membuatnya mual… tidak ditolak oleh tubuhnya.

Sejak saat itu, dunia Arsen yang dingin mulai retak.

Di antara luka lama, perbedaan yang jauh, dan masa lalu yang kembali menghantui—perlahan muncul sesuatu yang tak pernah ia izinkan lagi:

perasaan.

Namun… apakah hati yang sudah membeku bisa benar-benar kembali hidup?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon keipouloe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Langkah kaki anak laki-laki itu terdengar pelan menyusuri trotoar malam yang mulai lengang.

Tubuh kecilnya berjalan lurus tanpa menoleh sedikit pun ke belakang, sementara Alana mengikuti dari jarak beberapa meter di belakang dengan langkah hati-hati.

Jujur saja, dia sendiri bingung kenapa malah ikut-ikutan menguntit anak orang malam-malam begini. Tapi entah kenapa, melihat punggung kecil itu berjalan sendirian setelah diusir olehnya tadi membuat hati Alana dirayapi rasa tidak enak.

“Duh, Alana… hidup lo kurang ribet apa sih?” gumamnya pelan sambil menarik jaket tipisnya lebih rapat guna menghalau angin malam.

Lampu jalan memantulkan cahaya kekuningan di atas aspal yang masih sedikit basah bekas hujan sore tadi. Anak itu tetap berjalan tenang tanpa menunjukkan ekspresi apa pun. Tangannya masuk ke dalam saku celana, melangkah kecil namun teratur hingga akhirnya mereka tiba di pinggir jalan raya yang lebih ramai.

Di sana, anak itu berhenti sebentar lalu mengeluarkan ponsel dari sakunya. Jemarinya mengetuk layar dengan cepat dan tenang.

Tidak sampai lima menit kemudian, sebuah ojek online berhenti tepat di depannya. Anak itu mengangguk kecil, lalu langsung naik ke atas motor tanpa banyak bicara.

Alana yang berdiri mengintip di balik tiang listrik langsung mengerjap bingung.

“Loh… ternyata bisa pulang sendiri toh?” gumamnya pelan.

Motor itu perlahan melaju pergi membelah jalan raya, meninggalkan Alana yang masih berdiri mematung beberapa detik sambil memegangi dadanya sendiri. Perasaan aneh itu masih belum hilang. Tatapan mata anak itu tadi terlalu dingin untuk anak seusianya.

“Halah, ngapain gue malah kepikiran anak orang,” desahnya pelan sebelum akhirnya berbalik arah.

Namun karena perutnya mendadak terasa lapar lagi, Alana memilih mampir ke sebuah angkringan kecil di pinggir jalan sebelum kembali ke kontrakan. Suasana angkringan malam itu cukup ramai. Asap sate memenuhi udara, bercampur aroma kopi hitam dan nasi bakar yang menggugah selera. Beberapa bapak-bapak duduk santai sambil bermain kartu, sementara yang lain sibuk mengobrol di atas tikar lesehan.

“Mas, nasi kucing dua sama sate usus tiga ya,” pesan Alana sambil mendudukkan diri di bangku kayu panjang.

“Siap, Mbak.”

Sambil menunggu pesanannya datang, mata Alana tanpa sadar memandang ke seberang jalan. Dan di sanalah bangunan itu berdiri tegak. Sebuah restoran besar bercat cokelat tua dengan papan nama baru yang kini tampak jauh lebih modern dan elegan.

Langkah kaki Alana mendadak terasa berat saat keluar dari angkringan sambil membawa bungkus makanannya.

Restoran itu… dulu adalah tempat yang ia anggap sebagai rumah keduanya. Tempat ibunya dulu bekerja mati-matian dari pagi sampai malam. Tempat Alana kecil sering duduk di sudut dapur sambil mencuri gorengan hangat. Dan tempat yang akhirnya hancur berantakan setelah pamannya mengambil alih pengelolaan bisnis tersebut.

Alana menatap bangunan itu cukup lama. Kini restoran tersebut terlihat jauh lebih hidup dibanding dulu. Ramai, terang, dan area parkirannya dipenuhi oleh deretan mobil mahal.

Berbeda jauh dengan saat terakhir dia melihatnya beberapa tahun lalu dalam keadaan bangkrut dan hampir disita bank.

Alana tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terasa sangat pahit.

“Lucu ya hidup…” gumamnya pelan.

Dulu dia pikir tempat itu akan menjadi bagian dari hidupnya selamanya. Nyatanya, sekarang dia bahkan cuma bisa berdiri di luar pagar pembatas seperti orang asing.

Angin malam berembus pelan, menerbangkan sedikit anak rambutnya. Alana menarik napas panjang sebelum akhirnya memantapkan langkah untuk berbalik pergi.

“Udahlah… masa lalu mah tetap masa lalu.”

Saat sampai di kontrakannya, suasana gang sudah jauh lebih sepi dibanding tadi. Lampu teras kecilnya masih menyala redup. Alana langsung membuka pintu kayu, lalu menjatuhkan tubuhnya begitu saja di atas lantai beralas karpet tipis tepat di depan kipas angin yang berputar.

“Capek banget, Ya Allah…”

Namun setelah selesai menyantap nasi kucing dan beberapa tusuk sate, matanya justru tidak sengaja tertuju pada tumpukan buku kuliah di meja kecil dekat kasur. Seketika itu juga, sisa-sisa semangat hidupnya menguap lagi.

“Tugas…” lirihnya horor.

Dengan langkah seberat narapidana yang hendak menuju ruang sidang, Alana akhirnya menyeret tubuhnya untuk duduk di depan meja kecil tersebut.

Satu per satu buku dibuka. Satu tugas, dua tugas, tiga tugas... muka Alana makin lama makin terlihat kosong.

“Ini dosen kasih tugas apa balas dendam hidup sih?”

Tangannya mulai menulis dengan malas sambil sesekali menguap lebar. Jam terus berjalan merangkak semakin malam, sementara suara kipas angin tua berdengung pelan menemani kesunyian kontrakan kecil itu.

Beberapa kali kepalanya hampir jatuh membentur meja. Namun, Alana tetap memaksa jemarinya menyelesaikan tugas tersebut satu per satu.

Sampai akhirnya…

Bruk.

Kepalanya benar-benar tumbang di atas buku catatan. Pulpen masih menggantung longgar di sela jarinya saat gadis itu resmi tertidur pulas di atas lantai.

...----------------...

Sementara itu, di sisi kota yang jauh berbeda.

Anak laki-laki tadi turun dari ojek dengan wajah datar seperti biasa.

“Terima kasih,” ucapnya pendek sebelum berjalan masuk ke dalam rumah tanpa ekspresi.

Anak itu tak lain adalah Axel Laurent Wijaya.

Putra sulung Arsen.

Axel awalnya berpikir rumah megah itu akan tetap sepi seperti biasanya, hanya dihuni oleh para pelayan dan penjaga. Sebab, Arsen hampir tidak pernah benar-benar pulang akhir-akhir ini. Pria itu jauh lebih sering menginap di kantor dibanding menghabiskan waktu di rumah.

Namun, begitu Axel melangkah memasuki ruang keluarga, langkah kakinya langsung terhenti sepersekian detik.

Seseorang sudah duduk di sofa utama. Pria itu duduk tegak sambil memeriksa beberapa dokumen kerja di tablet miliknya. Kemeja hitamnya masih terpasang rapi tanpa cela, sementara ekspresi wajahnya sedingin es. Aura di dalam ruangan itu seketika berubah menekan dan mencekam.

Namun, Axel hanya diam. Bocah itu kembali berjalan lurus melewati ayahnya begitu saja tanpa ada niat untuk menyapa sedikit pun. Tindakan acuh tak acuh itu sontak memantik emosi Arsen.

“Axel.” Suara berat dan berwibawa itu menggema keras di ruang keluarga yang sunyi.

Namun, Axel tetap melanjutkan langkahnya.

“Papa panggil kamu.”

Axel menghentikan langkahnya. Perlahan, dia menolehkan kepalanya sedikit tanpa menampilkan ekspresi apa pun. Tatapan mata anak itu begitu dingin, terlalu dingin untuk anak seusianya.

“Habis dari mana saja kamu jam segini baru pulang?” tanya Arsen tegas, mengintimidasi.

Axel bergeming.

“Jawab kalau ditanya.”

“Bukan urusan Papa,” jawab Axel pendek.

Kalimat singkat namun menusuk itu sukses membuat rahang Arsen mengeras seketika. Tatapan mata pria itu berubah menjadi jauh lebih tajam dan menusuk.

“Kamu habis membuat onar lagi di sekolah lalu pergi begitu saja?”

Axel tetap memilih diam. Dan justru sikap diam itulah yang paling membuat Arsen murka. Sikap keras kepala anak sulungnya ini bener-bener semakin menjadi-jadi setelah pengkhianatan ibunya beberapa tahun lalu.

Axel berubah menjadi sosok yang sangat tertutup, dingin, dan hampir tidak pernah mau berbicara lebih dari seperlunya. Sementara Arsen sendiri tidak pernah benar-benar tahu bagaimana cara menjadi seorang ayah yang baik.

“Axel. Papa sedang bicara sama kamu.”

Namun, bocah itu tetap menutup mulutnya rapat-rapat. Kesabaran Arsen akhirnya habis berada di ambang batas.

Brak!

Tablet di tangannya dibanting ke atas meja kaca dengan sangat keras hingga menimbulkan dentang yang memekakkan telinga.

“Lihat Papa saat diajak bicara!”

Axel akhirnya memutar tubuhnya, menatap sang ayah lurus-lurus tepat di matanya. Tatapan tanpa rasa takut itu justru semakin membakar emosi Arsen yang sudah menyulut dada.

“Kenapa diam?!”

Hening. Detik berikutnya—

Plak!

Satu tamparan keras mendarat telak di pipi Axel. Suara hantaman itu menggema nyaring memenuhi ruangan besar tersebut.

Tubuh kecil Axel bahkan sampai sedikit terdorong ke samping akibat kuatnya tenaga orang dewasa itu.

Para pelayan yang berdiri di sudut ruangan langsung menegang ketakutan, menundukkan kepala dalam-dalam.

Suasana mendadak menjadi sangat senyap. Namun yang mengejutkan, Axel tidak menangis sama sekali. Bocah itu hanya diam sambil memegangi pipinya yang perlahan mulai memerah dan terasa panas.

Tatapan matanya tetap kosong, tidak memancarkan emosi apa pun. Dan justru kekosongan itulah yang membuat dada Arsen mendadak terasa semakin sesak entah kenapa.

“Aku benci Papa.” Suara kecil Axel terdengar sangat pelan, namun getarannya cukup untuk membuat seluruh ruangan terasa membeku seketika.

Setelah menjatuhkan kalimat itu, Axel langsung berbalik arah dan berjalan pergi menaiki anak tangga satu per satu tanpa menoleh lagi sedikit pun.

Sementara itu, Arsen tetap berdiri mematung di tempatnya. Rahang pria itu mengeras, tangannya perlahan mengepal kuat menahan gejolak di dalam dada.

Namun untuk pertama kalinya di malam itu, tatapan mata dingin Arsen terlihat retak tipis.

1
Lisa
Oke Kak..kami tunggu kelanjutan kisahnya y Kak..semangat & sukses y Kak utk revisi nya 💪🙏
Lisa
Semangat y Alana 💪
rokhatii
ayo mampir guys dijamin suka
Lisa
Arsen² sadarlah..jgn terbawa masa lalu..anak² mu butuh kasih sayang ortunya..
Lisa
Wah makin kacau aj rumah itu..kasian banget Axel..sampe kpn si Arsen itu dpt berubah
rokhatii: doakan semoga segera dapat hidayah🤭🤭
total 1 replies
Lisa
Arsen harus mengubah sikapnya terhadap anak² nya
rokhatii: orang tua seperti itu kebanyakan sulit berubah nggak sih kak??
total 1 replies
aisy
bagus ceritanya
Lisa
Arsen² benar² ayah yg aneh..sekrg baru mencari Axel..
Suryanti Yanti
lanjut toor kenapa kok setenga²tor
rokhatii: maafin othor ya sehari cuma bisa up satu bab...🙏🙏
total 1 replies
Lisa
Kasihan banget Axel..moga neneknya dpt menolongnya..ayah macam apa Arsen itu..
rokhatii: ayah jahat dia,,semoga dapat karmanya nanti🤭🤭
total 1 replies
Suryanti Yanti
lanjut toor
Lisa
Salut banget sama Alana..semangat terus y belajar sambil jualannya..sukses ya 👍🙏
Lisa
Aku mampir Kak
rokhatii: terima kasih kakak😍😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!