NovelToon NovelToon
Warisan Kitab Inti Jagat

Warisan Kitab Inti Jagat

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Mahesa seorang OB culun dan miskin mendapatkan kitab sakti dan merubah hidupnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Melindungi dari Belakang

Siang itu, selepas jam kuliah terakhir selesai, Alena bersama Clarissa dan Fanny memilih untuk bersantai di sebuah kafe berkonsep kaca minimalis yang terletak hanya beberapa ratus meter di luar gerbang Universitas Bina Bangsa. Kafe bernama "The Glasshouse" itu tampak cukup ramai oleh kalangan mahasiswa borjuis yang ingin mendinginkan diri dari sengatan terik matahari Jakarta. Mereka duduk di sudut sofa melingkar yang dekat dengan pintu keluar darurat, memesan beberapa cangkir kopi estetis dan camilan premium.

Sementara itu, sesuai dengan batasan ketat dalam "Aturan Main" yang belum dicabut, Mahesa tetap mengambil posisi di area luar kafe. Fisik tegapnya berdiri konstan di bawah rindangnya pohon palem, tepat sepuluh meter dari posisi duduk Alena yang terpisahkan oleh dinding kaca transparan. Jas hitam premiumnya tetap terpasang rapi membungkus bahu lebarnya yang kokoh. Sepasang mata elangnya bergerak dinamis, tidak sedetik pun lepas dari mengawasi pergerakan orang-orang di sekitar sang nona besar.

"Al, sumpah ya, pengawal lu itu dari tadi berdiri terus di luar kayak patung pajangan butik," bisik Fanny sembari menyeruput jus stroberinya, matanya melirik genit ke arah siluet tubuh Mahesa di balik kaca. "Gua perhatiin dia sama sekali nggak main handphone atau clingukan males gitu. Keren banget sih, kelihatan jantan dan protektif parah. Lu beneran nggak mau tukeran sama sopir gua?"

Alena melirik sekilas ke arah luar jendela, merasakan desiran aneh yang mendalam di lubuk batinnya. Rasa kesal dan gengsi yang semalam membubung tinggi entah kenapa mulai terkikis, digantikan oleh sepercik rasa nyaman dan aman yang belum pernah ia rasakan dari pengawal-pengawal sebelumnya. "Ih, apa sih lu, Fan. Dia itu cuma jalanin perintah ketat dari Papa gua, makanya nggak berani macem-macem," sahut Alena dengan nada suara manja yang sengaja dibuat ketus, walau egonya tak lagi sepenuhnya menolak kehadiran pria itu.

"Tapi tetep aja, Al. Karismanya itu lho, dapet banget," timpal Clarissa ikut memuji, membuat Alena hanya bisa terdiam sembari memainkan sedotan di gelasnya sendiri.

Namun, di tengah obrolan santai ketiga gadis tersebut, indra super Mahesa mendadak menangkap sekelebat anomali. Dua orang pria bertubuh gempal dengan jaket jip longgar baru saja melangkah masuk melalui pintu samping kafe. Gerakan mereka sangat senyap, namun pandangan mata mereka langsung mengunci ke arah posisi duduk Alena dengan tatapan dingin penuh intrik, mirip dengan tatapan para eksekutor Wijaya Group di basement dua hari lalu.

Salah satu dari pria itu merogoh saku jaketnya, menggenggam sebuah sapu tangan kecil yang tercium samar oleh penciuman tajam Mahesa aroma obat bius jenis kloroform cair dosis tinggi. Mereka bergerak memutar, memanfaatkan keramaian antrean barista untuk mendekati sofa Alena dari arah belakang pilar penopang.

Rencana penculikan terselubung, batin Mahesa menganalisis dengan ketenangan jiwa sekeras karang.

Tanpa menimbulkan riak kegaduhan sedikit pun di area luar, Mahesa melangkah maju. Gerakannya begitu halus, memotong jarak sepuluh meter dalam hitungan detik seolah-olah ia menyatu dengan embusan angin siang. Sebelum kedua pria mencurigakan itu sempat melintasi batas pilar dekat sofa Alena, Mahesa sudah berdiri tegak tepat di jalur lintas mereka, menghadang dengan postur tegapnya.

"Permisi, Mas. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Mahesa dengan nada suara berat, terdengar sangat tenang namun sarat akan energi intimidasi tingkat tinggi yang menekan mental.

Kedua pria bertubuh gempal itu tersentak kaget, tidak menyangka pergerakan senyap mereka bisa dihadang dengan begitu presisi oleh seorang pengawal berjas. Pria yang memegang sapu tangan bius mencoba mengelak dengan berpura-pura hendak menuju toilet. "Bukan urusan lu! Minggir, gua mau lewat!" gertak pria itu dengan berbisik tajam, tangannya mulai bergerak hendak menarik sesuatu dari balik pinggangnya.

Sebelum senjata atau kegaduhan sempat tercipta di dalam kafe yang tenang itu, tangan kanan Mahesa bergerak secepat kilat yang tak tertangkap oleh mata awam. Dengan teknik profesional yang sangat efisien, jemari kekarnya mencengkeram pergelangan tangan pria pertama, sementara siku kirinya menekan titik saraf di bawah ketiak pria kedua secara simultan.

Klek. Deg.

Suara gesekan sendi yang sangat halus terdengar, disusul oleh tubuh kedua penjahat itu yang mendadak lemas tak berdaya laksana kain basah akibat aliran energi murni Mahesa yang mengunci sistem saraf motorik mereka seketika. Seluruh aksi pelumpuhan itu terjadi hanya dalam hitungan dua detik, tampak dari luar seperti tiga orang pria yang sedang bersalaman dan berangkulan akrab di dekat lorong sepi.

"Jika kalian membuat satu saja gerakan tambahan atau suara bising di tempat ini, saya pastikan tulang selangka kalian tidak akan pernah bisa tersambung lagi seumur hidup," bisik Mahesa dengan intonasi suara yang sangat dingin, tenang, namun memancarkan aura membunuh yang sangat pekat di telinga kedua penjahat tersebut.

Kedua penculik terselubung itu langsung membelalakkan mata mereka dengan tubuh bergetar hebat ketakutan. Mereka menyadari bahwa pria berjas di depan mereka ini memiliki tingkat kesaktian fisik yang berada di luar jangkauan manusia biasa. "Ba... baik, Ampun, Mas. Kita cuma jalanin perintah," bisik pria pertama dengan nada suara yang serak dan pasrah.

"Jalan keluar lewat pintu darurat di sebelah kanan kalian sekarang pergi, secara perlahan," perintah Mahesa lagi, melepaskan cengkeramannya dengan gestur profesional seolah sedang menuntun tamu yang sedang mabuk.

Kedua penjahat itu menurut tanpa bantahan, berjalan tertatih-tatih dengan wajah pucat pasi keluar melalui pintu darurat, diikuti oleh Mahesa yang memastikan mereka benar-benar pergi dan naik ke atas motor matic di luar area kafe sebelum akhirnya menghilang di tengah kepadatan jalan raya. Seluruh insiden pencegahan darurat itu selesai tanpa mengganggu satu pun pengunjung kafe, bahkan para barista di meja depan sama sekali tidak menyadari adanya badai darah yang baru saja diredam.

Alena yang sejak tadi sesekali melirik ke arah luar kaca melalui sudut matanya, menyadari bahwa Mahesa sempat menghilang selama semenit dari posisinya sebelum akhirnya kembali berdiri tegap di tempat semula dengan sikap sempurna, seolah tidak terjadi apa-apa. Namun, ketajaman insting wanita Alena menangkap ada sesuatu yang baru saja terjadi di area pilar belakang sofanya.

"Guys, gua ke toilet sebentar ya," pamit Alena pada Clarissa dan Fanny sembari beranjak berdiri dari sofa.

Saat melintasi area pilar dekat pintu darurat, Alena menghentikan langkah kakinya sejenak. Di atas lantai marmer, ia melihat sebuah sapu tangan kecil yang terjatuh dan berbau menyengat, serta beberapa bekas goresan sepatu yang samar. Pikiran Alena langsung terkoneksi dengan insiden basement, ia menyadari bahwa Mahesa baru saja menggagalkan rencana penculikan terselubung lainnya tanpa membuat dirinya panik atau malu di depan teman-teman kuliahnya.

Alena melangkah keluar dari pintu utama kafe, berjalan perlahan hingga jaraknya kini hanya tersisa tiga meter dari Mahesa yang sedang berdiri waspada. Semburat emosi yang hangat dan rasa syukur yang mendalam kini benar-benar memenuhi rongga dada Alena, meruntuhkan sisa-sisa keangkuhan manjanya yang tersisa sejak kemarin.

"OB... eh, maksud gua, Mahesa," panggil Alena dengan nada suara yang melembut, kehilangan seluruh aksen ketus dan sombongnya yang biasa ia pamerkan di depan umum.

Mahesa segera berbalik, menundukkan kepalanya sedikit dengan sikap hormat profesional yang konsisten. "Iya, Nona Alena. Ada yang bisa saya bantu? Apakah Nona ingin pulang ke rumah sekarang?" tanya Mahesa dengan suara beratnya yang menenangkan.

Alena menggelengkan kepalanya perlahan, menatap sepasang mata elang Mahesa dengan tatapan mata indahnya yang kini memancarkan rasa aman yang seutuhnya. "Enggak... gua cuma mau bilang, mulai sekarang... lu nggak usah jalan sepuluh meter lagi di belakang gua," tutur Alena dengan suara pelan namun sarat akan perubahan batin yang kuat. "Lu boleh jalan di samping gua, atau dua langkah di belakang gua kayak aturan Papa." Ucap penuh canggung.

Mahesa tertegun sejenak, melihat kegugupan aneh dari sikap nona besarnya terpancar dari wajah cantik sang nona besar yang kini tidak lagi memakai topeng keangkuhannya. Senyuman tipis yang sangat menawan tersungging di bibir tegas Mahesa. "Itu sudah menjadi tugas dan tanggung jawab profesional saya, Nona Alena. Terima kasih atas kelonggaran aturannya," sahut Mahesa dengan kehangatan suara yang tulus.

Alena membalas senyuman itu dengan sedikit tersipu malu, sebelum akhirnya berbalik untuk kembali masuk ke dalam kafe dengan langkah yang jauh lebih ringan dan damai. Di bawah bayang-bayang pohon palem yang bergerak ditiup angin siang, hubungan antara sang putri mahkota dan sang pelindung terselubung kini mulai memasuki babak baru yang lebih selaras, merajut untaian rasa aman yang kokoh di tengah badai ancaman Wijaya Group yang masih terus mengintai pada hari-hari esok.

1
anggita
ikut dukung like👍aja.
Dewa Naga 🐲🐉
pandai Mahesa bermain kata..kata...👍
Dewa Naga 🐲🐉
mantap..seru...👍👍👍
Dewa Naga 🐲🐉
seru...
Dewa Naga 🐲🐉
mantappp....👍
Agus Susilo
💪💪💪💪
Agus Susilo
makin terkenal musuh makin banyak dan kuat Thor MC nya harusnya dibekali ilmu beladiri serta kekuatan magis untuk pengobatan kronis dan jaga diri dari musuh yg mengancam
Gege
kaaan...kaaan... ketebak Thor jalan ceritamu..🤣🤭..ulur teroos sampai ratusan episode Thor..💪
Gege
ceritanya menghibur mirip sinetron ikan terbang
Gege
aku ga kepancing Thor sama narasimu.. paling juga Alena mabok di club trus terjadilah adegan dewasa tanpa disengaja.. trus ada plot wanita lain menyukai Mahesa dan Alena cemburu.. tarik teruus sampe episode berjilid Thor..🤣🤣🤭
Gege
yaah gaji OB 4jt All in, dikalikan 20 baru 80jt Thor.. pikir ditawari gaji 200jt gitu si Sasa Mahesa...🤭🤣
Paksu82: sisanya buat author boskyu... 🤭🤭🙏
total 1 replies
Gege
apakah MC bakalan dapat gaji ratusan juta? yoooklah gass updatenya 10k kata thor
Paksu82: di bayar pakai cinta boskyu...🤭🙏
total 1 replies
Gege
pikir Mahesa mau jadi tukang pijet dengan keahlian kita warisan kuno, eeeh malah mau jadi tukang kawal a.k.a bodyguard...🤭🤣
Paksu82: 🤭 idenya tadinya dari film jetli boskyu, kemren lihat filemnya jadi aja keluar ide ini, semoga suka boskyu...
total 1 replies
Gege
bahas padi ada pepatah Thor dijaman sekarang. ilmunya seperti padi tapi berasnya import...🤣
Paksu82: beras lokal mahal boskyu 🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Hentri Gunawan
lanjut kn thor
Gege
Yoo gass lagi Thor..ide ceritanya keren ini... bikin enteng saja, yang penting ngalir Thor...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!