Orang bilang, cinta masa SMA itu, adalah cinta monyet? Aku rasa iya. Tapi ini berbeda, sejak mengenal gadis cantik bernama Cinta Alisya, disitulah aku sadar, kalau ini lebih dari sekedar cinta monyet. Aku Rangga 18th. Aku akan berjuang demi Cinta, untuk sebuah ungkapan... KATAKAN CINTA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raden Saleh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanah Asing
Langkah kaki Nicholas tertahan di tengah hiruk-pikuk kedatangan Bandara Heathrow. Matanya masih melebar, menatap lurus ke arah punggung cowok berjaket jins usang yang perlahan menghilang di balik kerumunan antrean taksi. Tangan Nicholas yang memegang papan penutup nama bergetar halus antara syok dan amarah yang mendadak bangkit kembali.
"Sialan, gak mungkin itu dia. Anak jalanan kayak begitu mana punya ongkos buat injak tanah London," desis Nicholas, mencoba menenangkan detak jantungnya yang mendadak berdegup kencang karena rasa cemas yang tidak beralasan. Dia segera berbalik untuk menjemput sepupunya yang baru tiba, namun pikirannya malam itu sepenuhnya terganggu oleh siluet yang sangat dia kenali.
Sementara itu, Rangga telah berada di dalam gerbong kereta bawah tanah, *Underground*, menuju daerah Acton di barat kota London, lokasi tempat mes karyawan perusahaan otomotif yang memberinya beasiswa. Rangga duduk bersandar sambil menatap peta jalur kereta yang rumit di atas kepalanya.
Hari-hari pertama di tanah Britania tidak berjalan seperti cerita indah di film romantis. Udara dingin yang menusuk, bahasa Inggris dengan aksen lokal yang cepat dan sulit dipahami, serta fakta bahwa dia tidak mengenal siapa pun di kota ini menjadi ujian mental pertamanya. Rangga menempati sebuah kamar studio kecil yang sangat sederhana, berukuran tidak lebih besar dari kamar kosnya di Jakarta, dengan pemandangan jendela yang hanya menampilkan dinding bata merah khas flat pinggiran London.
Namun, Rangga tidak punya waktu untuk mengeluh. Di sinilah transformasi mentalnya dimulai secara perlahan. Dia bukan lagi anak SMA labil yang gampang tersulut emosi. Kesendirian di tanah asing memaksa jiwanya matang lebih cepat. Rangga menjadi sosok yang jauh lebih tenang, banyak mengamati, dan berbicara hanya seperlunya untuk menghemat energinya demi fokus belajar.
Senin pagi, Rangga resmi menginjakkan kaki di pusat riset teknik otomotif tempatnya magang. Kompleks bangunan itu sangat megah dan modern, dipenuhi oleh mesin-mesin canggih dan para insinyur dari berbagai belahan dunia yang mengenakan seragam putih bersih.
Rangga memulai posisinya benar-benar dari kasta paling bawah, sebagai asisten mekanik magang junior. Tugas pertamanya bahkan hanya membersihkan peralatan kerja, menyusun kunci pas, dan membantu mengangkat blok mesin yang berat.
"Hei, anak baru dari Indonesia. Tolong kalibrasi sistem injeksi pada mesin prototipe ini sebelum jam makan siang," perintah Mr. Smith, kepala montir senior berkebangsaan Inggris yang terkenal sangat galak dan kaku.
Para pekerja magang dari negara lain biasanya akan langsung membuka buku panduan tebal setebal ratusan halaman dan bekerja dengan sangat lambat karena takut salah. Namun, di sinilah kelebihan Rangga yang tidak dimiliki oleh orang lain. Pengalaman bertahun-tahun bergulat dengan mesin bobrok di bengkel Mang Ojak dan motor balap jalanan di Jakarta telah membentuk sebuah "insting mekanik" yang sangat tajam di dalam dirinya.
Rangga mendekati mesin prototipe tersebut. Tanpa membuka buku panduan, dia mendengarkan suara putaran mesin dengan saksama, meraba getaran blok mesin dengan telapak tangannya yang kasar, lalu dengan gerakan tangan yang sangat cekatan dan presisi, dia menyetel sekrup pengatur udara menggunakan perasaan jeli seorang seniman mesin.
Hanya dalam waktu lima belas menit, suara deru mesin prototipe yang tadinya pincang mendadak berubah menjadi sangat halus dan stabil.
Mr. Smith yang sejak tadi mengawasi dari balik meja kerjanya langsung berjalan mendekat dengan dahi berkerut. Dia memeriksa layar monitor digital yang terhubung pada mesin tersebut. Matanya membelalak saat melihat angka efisiensi bahan bakar menunjukkan hasil yang hampir sempurna, melebihi standar yang ada di buku panduan.
"Bagaimana kamu bisa tahu takaran yang pas tanpa melihat alat ukur digital, young man?" tanya Mr. Smith dengan nada suara yang tidak lagi meremehkan.
Rangga menyeka keringat di pelipisnya, lalu menjawab dengan bahasa Inggris yang meskipun masih agak kaku namun terdengar sangat percaya diri. "Mesin punya bahasanya sendiri, Sir. Jika kita mendengarkan getarannya dengan hati, kita tahu apa yang dia butuhkan."
Mr. Smith tertegun mendengar jawaban filosofis dari seorang anak muda asal Jakarta tersebut. Dia menepuk pundak Rangga dengan sangat kuat, sebuah tanda penghormatan yang jarang dia berikan kepada anak magang baru. "Kerja bagus, Rangga. Mulai besok, kamu ikut saya di tim riset utama."
Bulan pertama berlalu, kesuksesan kecil di tempat kerja mulai mengubah penampilan Rangga secara perlahan seiring dengan gaji pertamanya yang dia terima. Rangga tidak menghabiskan uangnya untuk foya-foya. Dia membeli beberapa potong pakaian yang lebih layak untuk menghalau dingin: sebuah *sweater* rajut hitam yang pas di tubuh tegapnya, mantel panjang berwarna abu-abu gelap, dan sepasang sepatu bot kulit tebal.
Jaket jins usang Bina Karya miliknya tidak pernah dia buang. Jaket itu dia lipat dengan rapi di dalam lemari kamarnya, menjadi jimat pengingat dari mana dia berasal dan untuk siapa dia berjuang di tempat sejauh ini.
Kini, penampilan fisik Rangga telah bertransformasi menjadi seorang pria muda yang sangat maskulin, rapi, dan memiliki aura karisma yang tenang, khas pekerja profesional Eropa. Cara jalannya lebih tegap, dan tatapan matanya jauh lebih tajam serta penuh perhitungan.
Sore itu, setelah menyelesaikan jam kerjanya yang panjang, Rangga berjalan menyusuri trotoar jalanan Regent Street yang ikonik di pusat kota London untuk mencari udara segar. Di sela-sela langkah kakinya, dia mengeluarkan ponselnya, menatap layar kuncinya yang masih menampilkan foto siluet Cinta yang sudah mulai buram.
Rangga menghentikan langkahnya di depan sebuah jendela kaca besar milik sebuah butik perhiasan mewah. Tanpa sengaja, pantulan bayangan dari kaca butik itu menampilkan sesuatu yang membuat tubuh Rangga seketika membeku.
Di seberang jalan raya yang ramai oleh bus tingkat merah, sebuah mobil sedan mewah Rolls-Royce hitam perlahan berhenti di depan pintu masuk sebuah hotel bintang lima. Seorang sopir berpakaian rapi membukakan pintu penumpang belakang.
Tuan Kresna turun lebih dulu dengan setelan jas mahalnya yang angkuh, diikuti oleh Nicholas yang tampak selalu berada di dekatnya. Dan di belakang mereka berdua, melangkah turun seorang wanita muda dengan gaun wol anggun berwarna krem yang sangat cantik.
Itu Cinta Alisya.
Jantung Rangga berdentum sangat keras hingga rongga dadanya terasa sesak. Setelah dua tahun lamanya hanya bisa menatap foto buram, sosok yang selalu dia sebut namanya dalam setiap hela napas kini berada tepat hanya terpisah oleh jarak beberapa puluh meter di seberang jalan.
Namun, sebelum Rangga sempat melangkah untuk menyeberang jalan, Nicholas tiba-tiba merangkul pundak Cinta dengan mesra sambil menunjuk ke arah pintu masuk hotel. Cinta tampak tersenyum tipis, sebuah senyuman formal yang terpaksa, sebelum mereka bertiga berjalan masuk ke dalam lobi hotel mewah tersebut yang dijaga ketat oleh petugas keamanan.
Rangga mengepalkan kedua tangannya di dalam saku mantel panjangnya. Rasa rindu yang membuncah kini bersatu dengan kobaran tekad yang semakin membara. Pertemuan pertama di tanah asing ini menjadi penanda bahwa waktu untuk menagih janji setia kini sudah resmi dimulai, dan Rangga yang sekarang tidak akan lagi bisa diusir dengan mudah dari kehidupan Cinta.
btw saya pun baru mula menulis novel kalau ada masa boleh tinggalkan komen.. Tinggal tekan profile saja, terima kasih /Hey//Smile/