NovelToon NovelToon
Di Balik Pintu Kamar Sebelah

Di Balik Pintu Kamar Sebelah

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nisaul Mardhiyah

" Ahh ugh Dia suamiku, Aksa... Kita tidak boleh melakukan ini," bisik Valerian di tengah napasnya yang memburu. "Tapi dia tidak pernah melihatmu sebagai wanita, Kak. Sedangkan aku? Aku menginginkanmu sampai hampir gila," balas Aksa dengan tatapan mata yang penuh obsesi.

Bagi Damian, Valerian hanyalah sebuah kewajiban di atas kertas kontrak bisnis keluarga. Dua tahun pernikahan berjalan, Damian tidak pernah sekali pun menyentuh istrinya, membiarkan Valerian layu dalam kesepian di rumah megah yang sedingin es.Namun, malam badai itu mengubah segalanya. Berawal dari rasa iba yang berubah menjadi ketegangan tak terkendali, Aksa—adik kandung Damian yang tinggal serumah dengan mereka—melanggar batas suci.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaul Mardhiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23. Belenggu Rahasia

Aura di dalam kamar Aksa terasa begitu dingin, pekat, dan mencekik hingga ke titik nadi. Damian masih berdiri mematung di dekat ranjang kayu jati, mencengkeram ponselnya yang retak dengan tangan yang bergetar hebat oleh amarah yang meledak-ledak. Sepasang netra elangnya yang tajam bergantian menatap rekaman video ciuman panas di layar ponsel dan foto fisik usang milik Dave yang baru saja ia amankan dari jemari dingin istrinya.

Di atas lantai karpet beludru yang tebal, tubuh ramping Valerian masih terkapar pingsan tak berdaya, wajahnya seputih kapas dan napasnya berembus tipis.

Tap. Tap. Tap.

Suara derap langkah kaki yang berat, cepat, dan tergesa-gesa tiba-tiba menggema dari arah anak tangga, menembus keheningan koridor lantai dua yang sunyi. Itu adalah langkah kaki Aksa. Pria itu baru saja menapakkan kakinya di aula utama rumah setelah menempuh perjalanan darat yang menegangkan dari kantor Sudirman. Firasat buruk yang terus merayapi benaknya sepanjang jalan seolah menuntun langkahnya untuk langsung menuju ke kamarnya sendiri.

Dengan satu gerakan cepat yang sarat akan kelicikan, Damian menyembunyikan foto fisik Dave dan ponsel retaknya ke dalam saku dalam jas hitam yang ia kenakan. Ia menarik napas dalam-dalam, menata kembali raut wajahnya yang sempat mengeras, tepat setengah detik sebelum sosok Aksa muncul di ambang pintu kamar yang terbuka lebar.

Aksa seketika mematung di tempatnya. Sepasang netra gelapnya menyempit pekat, memancarkan kilat permusuhan yang teramat tajam saat mendapati kakak kandungnya berdiri di tengah ruang pribadinya. Namun, sedetik kemudian, fokus Aksa sepenuhnya teralih ke arah lantai. Sudut matanya menangkap siluet tubuh ramping Valerian yang tergeletak diam dengan blazer marun yang sedikit tersingkap.

Tanpa memedulikan tatapan mengintimidasi dari kakaknya, Aksa melangkah lebar, memotong jarak dengan nekat untuk langsung mendekati dan mengangkat tubuh Valerian dari lantai.

"Apa yang kau lakukan padanya, Damian?!" geram Aksa parau, suaranya rendah namun bergetar oleh aura membunuh yang teramat pekat.

"Jaga batasanmu, Aksa! Menyingkir dari hadapanku!" bentak Damian dengan suara baritonnya yang tertahan di tenggorokan, langsung melangkah maju dan memasang badan jangkungnya tepat di depan Aksa, memutus jalur pandang adiknya ke arah Valerian. "Dia istri sahku! Dia pingsan karena kelelahan setelah seharian beraktivitas di luar. Jangan berani-berani kau menyentuh kulitnya dengan tangan kotormu!"

Namun, sebelum hantaman fisik pertama sempat melayang, suara derap langkah kaki lain yang tergesa-gesa dari arah koridor luar mendadak membuyarkan atmosfer mematikan tersebut.

"Ya Tuhan... Damian! Aksa! Ada apa dengan suara ribut-ribut ini?!" Pekik Nyonya Zen yang rupanya terbangun dari tidur sorenya akibat mendengar gema benturan pintu kamar tadi. Di belakangnya, Tuan Bagian Wardhana berjalan dengan kening berkerut dalam, memancarkan wibawa seorang kepala keluarga yang tidak menyukai adanya kekacauan.

Begitu matanya menangkap sosok Valerian yang terkapar di lantai, wajah tua Nyonya Zen langsung memucat. "Astaga, Valerian! Kenapa menantuku bisa pingsan di kamar ini?!"

Melihat kedatangan kedua orang tua mereka, Damian dan Aksa terpaksa menarik kembali ego dan kepalan tangan mereka ke dalam saku. Damian dengan cepat menguasai keadaan.

Demi menjaga penyamarannya dan mencegah ibunya menyelidiki lebih jauh mengapa Valerian bisa berada di kamar adiknya, Damian langsung berlutut. Ia mengangkat tubuh ramping Valerian ke dalam dekapan lengan kekarnya dengan gerakan yang sengaja dibuat selembut dan sehangat mungkin di depan pandangan Nyonya Zen.

"Ibu, tenanglah. Vale hanya pingsan karena kelelahan. Aku akan membawanya ke kamar utama sekarang juga. Tolong panggilkan dokter keluarga untuk memeriksa keadaannya," ucap Damian dengan nada suara yang tertata rapi, sepenuhnya menyembunyikan badai murka yang sedang membakar batinnya.

Satu jam berlalu dengan keheningan yang canggung di dalam kamar utama yang luas. Dokter keluarga kepercayaan Wardhana Group perlahan meletakkan stetoskopnya, lalu berbalik menatap seluruh anggota keluarga yang berkumpul mengelilingi ranjang besar dengan raut wajah yang mendadak berubah cerah, mengikis habis sisa ketegangan yang sempat membekukan ruangan sejak sore tadi.

Di atas ranjang, Valerian perlahan membuka sepasang kelopak matanya. Dunianya terasa berputar, dan kepalanya masih berdenyut pelan oleh sisa rasa pening yang luar biasa. Namun, kesadarannya langsung tersentak seutuhnya saat pandangan matanya menangkap keberadaan Tuan Bagian, Nyonya Zen, Damian, dan Aksa yang berdiri berjejer di dalam satu ruangan.

"Bagaimana keadaan menantuku, Dokter? Apakah ada sesuatu yang serius dengan kesehatannya?" tanya Nyonya Zen dengan nada suara yang dipenuhi oleh kecemasan yang teramat sangat mendalam.

Dokter paruh baya itu tersenyum lebar, sebuah senyuman hangat yang seketika meruntuhkan seluruh kabut kekhawatiran di wajah kedua orang tua Wardhana. "Anda tidak perlu cemas, Nyonya Zen. Pingsannya Nyonya Valerian sore tadi sama sekali bukan karena penyakit kronis atau kelelahan biasa. Ini adalah reaksi biologis dan efek sekunder dari perubahan hormon yang sangat wajar bagi seorang wanita.

Selamat, Tuan Damian... Nyonya Valerian saat ini sedang mengandung. Usia kehamilannya baru saja memasuki minggu keempat."

Deg.

Kata-kata dokter itu bagaikan dentuman guntur di siang bolong yang seketika menghentikan detak jantung Valerian. Seluruh tubuhnya mendadak kaku membeku di bawah selimut tebal. Ia hamil? Jauh di dalam rahimnya, sebuah kehidupan baru ternyata sedang mulai terbentuk tanpa ia duga sebelumnya.

Anak siapakah ini? Benih siapakah yang sebenarnya sedang tumbuh di dalam tubuhku? tanya Valerian dalam batinnya yang seketika hancur berantakan.

Di sisi lain, reaksi yang bertolak belakang seketika meledak di dalam kamar tersebut.

Hamil?! Oh, ya Tuhan, terima kasih banyak!" Pekik Nyonya Zen dengan air mata kebahagiaan yang langsung berlinang di sudut matanya. Tanpa menunggu lama, wanita tua itu langsung melangkah maju, duduk di tepi ranjang dan mendekap tubuh menantunya dengan kehangatan yang luar biasa besar.

Tuan Bagian pun tidak bisa menyembunyikan senyuman lebarnya, menepuk bahu Damian dengan penuh rasa bangga. Setelah dua tahun pernikahan yang hambar dan penuh tanda tanya di kalangan sosial mereka, kabar kehadiran calon pewaris takhta utama Wardhana Group akhirnya datang, membawa euforia kebahagiaan yang luar biasa masif bagi kedua orang tua tersebut.

Aksa mengepalkan tangannya di balik saku celananya begitu kuat hingga kuku-kukunya menancap dalam ke telapak tangan. Logikanya langsung menghitung mundur setiap malam-malam rahasia yang mereka habiskan bersama. Sisi protektifnya meronta, ingin sekali ia menarik Valerian keluar dari sana dan mengklaim janin itu sebagai miliknya, namun ia terpaksa menahan diri di bawah tatapan tajam ayahnya.

Sementara itu, Damian berdiri membatu dengan wajah yang memerah padam menahan gejolak amarah yang luar biasa pekat di balik topeng ketenangannya. Damian meragukan janin tersebut seutuhnya. Mengingat bagaimana keliaran hubungan antara istri pajangannya dan adiknya di luar rumah selama ini, Damian merasa mustahil untuk percaya bahwa janin di dalam rahim Valerian adalah darah dagingnya sendiri. Harga dirinya sebagai suami sah, sebagai seorang pria penguasa hukum, terasa diinjak-injak seutuhnya di bawah hidungnya sendiri oleh benih yang tidak jelas asal-usulnya itu.

Setelah dokter berpamitan dan kedua orang tua mereka akhirnya keluar dari kamar dengan senyuman yang tak putus untuk memberikan waktu istirahat, keheningan yang sesungguhnya—keheningan yang dipenuhi aura kematian—kembali mengunci mereka bertiga di dalam kamar utama yang luas.

"Keluar dari kamarku sekarang juga, Aksa," desis Damian parau, suaranya begitu rendah, dingin, dan penuh dengan getaran ancaman yang tidak mengenal kata ampun.

Aksa tidak mundur setapak pun. Ia menyempitkan matanya, menatap kakaknya dengan seringai tipis.

"Dia sedang mengandung dan kondisinya sangat lemah, Damian. Jangan berani-berani kau menyentuhnya lagi dengan kekasaran atau keangkuhan kotormu itu."

"Aku bilang KELUAR DARI KAMARKU!" bentak Damian, amarahnya pecah seutuhnya, namun suaranya tetap ia tekan serendah mungkin di tenggorokan agar tidak terdengar menembus dinding kamar orang tua mereka di ujung lorong.

Kini, pintu kamar utama telah dikunci rapat dari dalam. Ruangan yang luas itu mendadak terasa begitu sempit dan mencekik bagi Valerian. Damian berbalik dengan perlahan, melangkah mendekati tepi ranjang dengan raut wajah seorang predator yang telah memegang seluruh bukti kebusukan korbannya.

Tanpa aba-aba, Damian merogoh saku jasnya, lalu melemparkan ponsel pribadinya yang telah retak tepat ke atas selimut di pangkuan Valerian. Bersamaan dengan itu, ia juga menjatuhkan foto fisik usang milik Dave dengan kasar. Di layar ponsel yang retak, video rekaman rahasia dari Clarissa terus berputar, memperlihatkan dengan teramat sangat jelas adegan kemesraan intim, pelukan hangat intens, dan ciuman panas antara Valerian dan Aksa di dalam ruang kerja privat Sudirman siang tadi.

"Jelaskan padaku, Valerian Dirgantara!" geram Damian, suaranya parau oleh amarah yang meledak-ledak. Ia melangkah maju, mencengkeram dagu Valerian dengan gerakan kasar yang merendahkan kebebasannya sebagai seorang istri. "Kau bermain gila dengan adikku di kantor rahasia itu, kau menyimpan foto laki-laki lain di dalam lemarinya, dan sekarang kau tiba-tiba pingsan lalu dinyatakan hamil?! Anak siapa yang ada di dalam rahimmu ini, hah?! Anak haram dari hubungan kotor kalian?!"

Cengkeraman tangan Damian begitu kuat hingga membuat tulang rahang Valerian terasa nyeri. Air mata Valerian mengalir deras membasahi jemari kasar suaminya. Jika ini adalah Valerian yang dulu—wanita lemah yang hanya bisa menangis pasrah dan menerima setiap intimidasi—ia pasti sudah memohon ampun dalam ketakutan yang kerdil.

Namun, Valerian yang ada di hadapan Damian malam ini bukanlah wanita pajangan yang sama lagi. Transformasi dirinya di bawah bimbingan rahasia Aksa, serta kepemilikan aset besar V-Property Group yang kini berada di bawah kendalinya, telah menumbuhkan sepasang taring ketegasan di dalam jiwanya. Kehadiran janin di dalam rahimnya, entah itu anak siapa, mendadak membangkitkan insting seorang ibu yang harus berdiri tegak demi melindungi masa depannya sendiri.

Dengan satu gerakan sentakan yang kuat dan tegas, Valerian mengempaskan tangan Damian dari wajahnya. Ia mendongak, menatap lurus ke dalam sepasang netra elang suaminya dengan tatapan mata yang begitu dingin, tajam, dan tak lagi mengenal rasa takut.

Cukup, Damian! Lepaskan tanganmu dariku!" ucap Valerian dengan nada suara yang teratur, datar, namun bergetar oleh ketegasan yang mutlak. Ia menyeka air matanya dengan punggung tangan, lalu melempar kembali foto Dave dan ponsel retak itu ke dada Damian.

Kau ingin tahu ini anak siapa? Aku sendiri tidak tahu! Tapi satu hal yang harus kau sadari, Damian... kau tidak punya hak untuk menghakimiku dengan cara sekasar ini setelah apa yang kau lakukan pada pernikahan kita selama dua tahun ini!"

Damian tertegun, sedikit terperangah melihat perubahan sikap istrinya yang mendadak menjadi begitu berani dan melawan dominasinya.

Jika kau merasa harga dirimu terhina, jika kau menganggap janin di dalam rahimku ini adalah anak haram yang menjijikkan, maka ceraikan aku malam ini juga!" tantang Valerian dengan kalimat yang terdengar begitu lugas dan humanis, tanpa ada lagi keraguan di dalam suaranya.

"Ceraikan aku, Damian! Lempar surat cerai itu ke wajahku, biarkan aku pergi dari rumah terkutuk ini, dan bawa skandal video ini ke hadapan publik jika kau berani melihat saham Wardhana Group hancur berantakan esok pagi!"

Valerian menarik napas panjang, memajukan tubuhnya hingga wajah cantiknya berada tepat beberapa jengkal di depan wajah Damian yang mengeras. "Tapi kita berdua tahu, kau tidak akan pernah berani melakukannya, bukan? Kau terlalu pengecut untuk kehilangan investasimu, dan kau terlalu angkuh untuk mengakui kekalahanmu di depan Aksa!"

Ego maskulin Damian benar-benar menolak untuk kalah dari Aksa. Ditambah lagi, kehangatan nyata dari tubuh seksi Valerian belakangan ini telah menjadi candu tersendiri yang mengikat jiwanya dalam obsesi kepemilikan yang sakit.

Damian menolak untuk melepaskan wanita ini. Ia tidak akan pernah membiarkan Valerian melangkah keluar dari rumah ini untuk hidup bahagia bersama adiknya, apalagi membawa janin yang bisa saja menjadi senjata baru bagi Aksa untuk menggulingkan posisinya di Wardhana Group.

Damian mundur satu langkah, lalu perlahan terkekeh sinis—sebuah tawa dingin yang terdengar begitu hampa dan menakutkan di dalam keheningan kamar.

Kau benar-benar sudah berubah, Valerian. Kau mengira dengan bersikap tegas seperti ini, aku akan melepaskanmu begitu saja?" desis Damian parau, menatap istrinya dengan pandangan mata yang kian menggelap oleh obsesi kepemilikan yang merendahkan kebebasan istrinya. "Tidak. Jangan pernah bermimpi untuk melangkah keluar dari sangkar ini.

Damian melangkah mendekati lemari pakaian, mengambil beberapa helai pakaian tidurnya dengan gerakan kaku. "Aku akan menyimpan video sialan dari Clarissa ini seutuhnya di dalam brankas pribadiku. Aku akan menyembunyikan seluruh kelakuan berengsekmu dan Aksa dari Ayah dan Ibu. Di depan mereka, di depan lingkaran sosial luar, kau akan tetap menjadi Nyonya Wardhana yang suci, istri sahku yang sedang mengandung pewaris utama keluarga ini."

Brak!

Valerian terduduk lemas di atas ranjang, mencengkeram selimutnya dengan jemari yang bergetar.

1
Unicha
komen dong teman seperjuangan klw suka 😍
Unicha
komen dong teman" seperjuangan klw suka 😍
Unicha
Terimakasih telah membaca ,jangan lupa beri dukungan kalian ya ,,agar aku makin semangat 😍, dukungan kalian sangat berarti untukku
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!