Aris hanyalah seorang petugas instalasi pipa bawah tanah yang dibayar murah untuk melakukan pekerjaan kotor yang dihindari semua orang. Namun, upah rendahnya tidak sebanding dengan apa yang ia temukan.
Seekor tikus yang berubah setelah meminum tetesan air dari pipa.
Tubuhnya mengeras lalu meledak tapi sisa tubuhnya masih bisa bergerak.
Apakah benar hanya tetesan air itu yang membuat tikus itu berubah?
Bagaimana dengan manusia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Catnonimous, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 : Barisan di tepi air
Pagi itu, area sekitar waduk sudah dipenuhi orang-orang yang datang dari berbagai penjuru kota. Aris berdiri di antara kerumunan, menatap tenda-tenda besar milik pemerintah yang didirikan secara mendadak. Udara pagi yang biasanya segar kini terasa berat oleh debu dan aroma tanah kering. Di tangannya, Aris menggenggam kartu identitas, bersiap untuk mendaftarkan diri sebagai relawan pembangunan pipa darurat.
Sambil berjalan perlahan mengikuti antrean yang mengular, Aris mulai berbincang dengan orang-orang di sekitarnya. Di sebelah kanannya, seorang pria paruh baya bernama Jaka tampak kelelahan meski hari baru dimulai.
"Kamu punya pengalaman pasang pipa, Mas?" tanya Jaka sambil menyeka keringat.
"Iya, Pak. Saya biasa menangani instalasi pipa tapi belum terlalu pengalam juga," jawab Aris singkat.
Jaka menghela napas panjang. "Baguslah. Saya sendiri cuma buruh serabutan. Teman-teman di belakang itu juga kebanyakan begitu. Jujur saja, kami ke sini bukan karena paham soal teknik, tapi karena berharap bisa dapat jatah air bersih lebih awal atau setidaknya bawa pulang satu jeriken buat anak istri di rumah."
Aris mengangguk paham. Ia memperhatikan wajah-wajah di sekelilingnya; kebanyakan dari mereka tampak kuyu dan putus asa. Motif mereka seragam: bertahan hidup di tengah krisis yang semakin mencekik. Keahlian instalasi pipa yang dimiliki Aris ternyata merupakan barang langka di antara barisan relawan yang didominasi oleh tenaga kasar ini.
Langkah kaki mereka membawa Aris masuk ke dalam sebuah tenda pendaftaran yang tidak begitu luas. Di dalamnya, barisan meja kayu panjang sudah disiapkan. Aris menerima selembar formulir dan mulai mengisi data diri dengan teliti.
Setelah menyerahkan formulir kepada petugas, Aris berjalan keluar tenda, menghirup udara luar yang sedikit lebih lega. Namun, langkahnya mendadak terhenti. Matanya membelalak kaget melihat sosok yang berdiri tidak jauh dari tenda lainnya.
Di sana, Liora berdiri sambil memegang map plastik dan selembar formulir yang sama. Ia mengenakan pakaian lapangan yang praktis, rambutnya diikat rapi, dan sebuah senyuman tipis tersungging di wajahnya saat melihat ekspresi bingung Aris.
"Liora? Kamu... kenapa ada di sini?" tanya Aris setengah berbisik.
Liora berjalan menghampiri Aris dengan langkah ringan. "Aku pikir-pikir, kamu butuh orang yang mungkin faham sama urusan teknis. Lagi pula, riset kotaku tidak akan berguna kalau aku cuma diam di rumah menunggu berita."
"Tapi kamu tau kan bahaya nya?. Kamu tahu sendiri apa yang kita temukan kemarin," Aris mengingatkan dengan suara rendah.
Liora mengangkat formulirnya, menunjukkan kolom 'Keahlian' yang ia isi dengan pemetaan geografis dan tata kota. "Justru karena berbahaya, aku tidak bisa membiarkan kamu masuk ke masalah ini sendirian."
Aris tidak bisa membantah lagi. Di tengah ribuan relawan yang hanya mencari air, kini ia memiliki rekan yang memiliki visi yang sama. Mereka berdua berdiri berdampingan, menatap waduk luas di depan mereka yang akan menjadi saksi atau mungkin awal dari misteri yang lebih besar.
......................
Aris, Liora, dan relawan lainnya duduk di atas bangku panjang di bawah naungan tenda besar, menunggu instruksi lebih lanjut. Suasana di sekitar mereka cukup bising dengan suara truk-truk pengangkut material yang mulai berdatangan. Tak lama kemudian, seorang petugas dengan seragam lapangan datang membawa papan jalan dan mulai memanggil beberapa nama.
"Aris! Liora! Jaka! Agus, Maman, Ridwan, silakan berkumpul di sini!" seru petugas tersebut.
Mereka pun berdiri dan membentuk lingkaran kecil. Kelompok Aris kini genap berjumlah enam orang, termasuk Jaka, pria buruh serabutan yang Aris temui di antrean tadi. Petugas yang sama juga membagi ratusan relawan lainnya menjadi kelompok-kelompok kecil dengan tugas yang berbeda-beda.
Petugas itu kemudian mendekati kelompok Aris untuk memberikan pengarahan. Ia menatap satu per satu anggota kelompok dengan raut wajah serius. "Tugas kelompok kalian cukup teknis. Saya mau tanya, apakah di antara kalian ada yang punya pengalaman atau pernah melakukan bongkar pasang pipa baja dan instalasi air?"
Anggota kelompok itu terdiam, saling lirik dengan wajah bingung. Jaka dan tiga orang lainnya hanya menunduk, menyadari bahwa mereka tidak memiliki keahlian tersebut. Aris kemudian mengangkat tangannya dengan mantap.
"Saya, Pak." jawab Aris.
Petugas itu mengangguk lega dan memanggil Aris untuk maju sedikit ke depan. "Bagus. Kita butuh orang yang tahu cara menyambung pipa agar tidak bocor di bawah tekanan tinggi."
Kemudian petugas itu kembali bertanya kepada sisa kelompok, "Lalu, apakah ada yang paham soal struktur atau pemetaan jalur?"
Liora langsung berdiri dari duduknya. "Saya paham struktur tanah dan tata kota, Pak."
Petugas itu tampak sangat lega. Ia tidak menyangka dalam satu kelompok acak ini, ia mendapatkan dua orang dengan keahlian yang sangat spesifik. "Syukurlah. Kalau begitu, saya tidak perlu menjelaskan dari nol lagi kepada kalian berdua. Dengar, tugas kelompok kalian adalah turun ke area bawah tanah di dekat batas waduk dan mungkin bisa menyusuri sampai bawah kota."
Petugas itu menunjukkan sebuah denah teknis yang tampak rumit. "Kalian harus memeriksa struktur tanah di bawah sana sebelum pipa tua ditarik. Tugas utama kalian adalah memastikan pemasangan pipa-pipa kecil yang akan menyalurkan air ke berbagai lokasi pemukiman bisa terpasang dengan tepat dan kokoh. Setiap lubang drainase kota sudah berjaga petugas lainnya untuk memasang pipa baru. Kalian berdua akan memandu empat rekan lainnya dalam pengerjaan teknisnya."
Aris dan Liora saling berpandangan. Tugas ini memberikan mereka akses legal untuk kembali masuk ke bawah tanah, wilayah yang beberapa hari lalu memberikan mereka kengerian, namun kini menjadi satu-satunya tempat untuk menemukan jawaban atas krisis yang terjadi.
"Siapkan peralatan kalian. Kita berangkat ke lokasi sepuluh menit lagi," pungkas petugas itu sebelum beralih ke kelompok lain.
......................
Sembari menunggu waktu sepuluh menit yang tersisa, Aris, Liora, dan Jaka mulai berkenalan dengan tiga anggota kelompok lainnya yang bernama Agus, Ridwan, dan Maman. Sambil berbincang singkat, mereka sibuk menyiapkan peralatan masing-masing ke dalam tas kerja. Mereka mulai mengenakan perlengkapan keamanan lengkap, mulai dari baju safety berwarna oranye terang, sepatu bot, hingga helm pelindung.
Aris memastikan semua peralatan dasar sudah siap, seperti berbagai jenis kunci pipa, senter dengan baterai penuh, tali tambang yang kuat, hingga peralatan teknis lainnya. Liora sendiri tampak sibuk mengatur tasnya yang berisi berbagai dokumen penting, mulai dari gambar struktur tanah hingga denah teknis jalur pipa yang akan mereka teliti.
Sebelum berangkat, Aris mengambil inisiatif untuk melakukan briefing kecil di tengah lingkaran kelompoknya. Meski bicaranya terdengar sedikit kaku karena belum terbiasa memimpin, poin yang ia sampaikan sangat jelas.
"Dengar semuanya, kita akan masuk ke area yang mungkin sudah lama tidak dibuka," ujar Aris sambil menatap rekan-rekannya satu per satu. "Tugas kita penting, tapi yang paling utama adalah keselamatan. Jangan berpencar, tetap saling mengawasi."
Setelah sepuluh menit berlalu, pengeras suara di area pendaftaran mulai memanggil seluruh relawan untuk segera berkumpul sesuai kelompok masing-masing. Aris, Liora, dan empat rekan lainnya segera bergerak mengikuti seorang petugas yang memimpin jalan menyusuri jalan setapak di pinggiran waduk.
Mereka berhenti di depan sebuah pintu besi tua yang terlihat berkarat dan ditumbuhi semak belukar. Petugas itu menjelaskan bahwa lorong tersebut adalah bekas instalasi zaman dulu yang sudah lama ditutup.
"Di bagian atas, tim lain dengan alat berat sudah mulai melakukan pengerjaan galian untuk pipa baja besar," jelas petugas itu sambil membuka gembok pintu lorong. "Tugas kalian di bawah sini adalah mengecek kondisi tanah. Di dalam sana ada banyak pondasi beton. Liora cek map nya karena kita butuh 8 pondasi, tolong cek apakah masih cukup kuat untuk menahan beban pipa baja yang sangat berat nanti. Selain itu, pastikan tidak ada pipa tua lain yang menghalangi jalur. Kalau ada yang menghalangi, langsung lepaskan saja."
Sebelum mereka masuk, petugas tersebut membagikan radio komunikasi kepada masing-masing anggota agar koordinasi tetap terjaga meskipun berada di kedalaman tanah. Setelah semua siap, petugas memberikan tanda agar mereka berenam mulai masuk ke dalam kegelapan lorong tersebut.
Aris menyalakan senter besarnya, memberikan jalan bagi Liora dan yang lainnya untuk melangkah masuk ke dalam perut bumi yang sunyi. Perjalanan mereka untuk menyelamatkan kota dari krisis air kini benar-benar dimulai dari tempat yang paling gelap.
...****************...