NovelToon NovelToon
Kontrak Sandiwara Sang Pewaris Tunggal

Kontrak Sandiwara Sang Pewaris Tunggal

Status: sedang berlangsung
Popularitas:464
Nilai: 5
Nama Author: Ruang_Magenta

Menikahi pria paling berkuasa di kota ini adalah mimpi buruk bagi semua orang, tapi bagi Nara, ini adalah tambang emas untuk novelnya."

​Nara adalah seorang penulis berbakat yang sedang terjebak dalam krisis kreatif. Demi mendapatkan riset nyata untuk novel terbarunya, ia nekat masuk ke dalam kehidupan Aris, sang pewaris tunggal kerajaan bisnis yang dikenal dingin dan tak tersentuh.

​Sebuah tawaran pernikahan kontrak selama satu tahun menjadi pintu masuk yang sempurna bagi Nara. Di mata dunia, Nara adalah istri yang patuh dan penuh cinta. Namun di balik pintu kamar, Nara diam-diam mencatat setiap detail perilaku Aris—mulai dari cara pria itu menatapnya dengan tajam hingga sisi rapuh yang tak pernah diperlihatkan kepada siapa pun—lalu menerbitkannya sebagai bab baru di aplikasi novel yang viral.

​Keadaan menjadi rumit ketika novel fiksi Nara meledak di pasaran dan para pembaca mulai menyadari kemiripan karakter utamanya dengan sang CEO legendaris. Di sisi lain, Aris mulai merasa ada

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruang_Magenta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ritme yang Menemukan Jalurnya

Ada sebuah teori kuliner tak tertulis yang mengatakan bahwa rasa soto ayam akan jauh lebih meresap dan sedap justru pada hari kedua setelah dia dimasak. Katanya, bumbu-bumbunya sudah tidak lagi saling egois menunjukkan rasanya masing-masing, melainkan sudah melebur jadi satu kesatuan yang pas.

Nah, memasuki bulan ketiga kehidupan kami sebagai orang tua baru, saya merasa pernikahan kami mirip seperti soto hari kedua itu.

Rasa canggung, panik, dan ketakutan-ketakutan tidak beralasan yang sempat mendominasi di awal-awal kepulangan Laksamana dari rumah sakit, sekarang sudah mulai mencair. Kami tidak lagi seperti dua orang amatir yang panik setiap kali bayi kami bersin. Kami sudah punya ritme. Sebuah koreografi tanpa musik yang entah bagaimana bisa berjalan dengan sangat selaras.

Pagi ini, udara Jakarta agak mendung, tipe cuaca yang membuat orang malas beranjak dari kasur. Saya sedang duduk di karpet bulu ruang tengah, membiarkan Laksamana melakukan tummy time di depan saya. Bayi mungil itu sekarang sudah mulai kuat mengangkat kepalanya, matanya yang bulat dan hitam legam menatap saya dengan rasa ingin tahu yang besar.

"Ayo, Laksamana... sedikit lagi. Angkat kepalanya yang tinggi," ucap saya menyemangati sambil menggoyang-goyangkan mainan kerincingan berbentuk jerapah.

Bimo keluar dari kamar mandi dengan handuk yang masih melingkar di lehernya. Rambutnya basah, dan dia sudah rapi mengenakan kemeja kasual berwarna biru langit. Dia langsung duduk di sebelah saya, mengulurkan jari telunjuknya yang langsung digenggam erat oleh tangan mungil Laksamana.

"Dia makin mirip kamu kalau lagi serius kayak gini, Nara," kata Bimo, matanya tidak lepas dari wajah putranya. "Alisnya itu loh, suka mengkerut seolah-olah lagi mikirin plot twist buat bab selanjutnya."

"Sembarangan. Ini namanya ekspresi fokus, Bim. Dia lagi latihan jadi pemimpin yang tangguh," balas saya sambil mencubit pelan pinggang Bimo.

Bimo tertawa, lalu beralih merebahkan tubuhnya di samping Laksamana, menyamakan posisinya dengan sang anak. "Hei Jagoan, hari ini Papa harus ke kantor yayasan sebentar ya. Mau ketemu Eyang Hendra sama Om Panji. Kamu di rumah jaga Mama, oke? Jangan bikin Mama capek."

Laksamana mengeluarkan suara "ooooh" kecil yang panjang, seolah-olah dia benar-benar mengerti dan menyetujui perintah papanya. Kami berdua langsung tertawa lepas. Momen-momen sederhana seperti inilah yang membuat saya sadar bahwa kebahagiaan itu tidak perlu dicari dalam kemewahan yang rumit. Dia ada di sini, di atas karpet berbulu yang penuh dengan sisa bedak bayi dan aroma minyak telon.

Gugatan yang Menjadi Debu

Siang harinya, setelah Bimo berangkat ke kantor yayasan, Panji datang ke apartemen untuk mengantarkan beberapa dokumen yang membutuhkan tanda tangan saya. Kali ini, wajah Panji tidak tegang. Malah, ada senyum lebar yang menghiasi wajah pria berkacamata itu.

"Ada kabar baik, Mbak Nara," kata Panji sambil meletakkan map biru di atas meja makan. "Gugatan dari sisa-sisa dewan komisaris Wijaya Group soal dana perwalian itu resmi dicabut pagi ini."

Saya yang sedang membuatkan es sirup untuk Panji langsung menoleh. "Oh ya? Kok cepat banget? Bukannya minggu lalu mereka masih kelihatan ngotot banget di media?"

Panji terkekeh sambil menerima segelas es sirup dari saya. "Itu dia hebatnya Pak Bimo, Mbak. Kemarin sore, Pak Bimo mengadakan pertemuan tertutup dengan pengacara mereka. Pak Bimo nggak pakai urat atau marah-marah. Beliau cuma menyodorkan satu bundel dokumen tebal yang isinya adalah rincian aliran dana ilegal yang pernah mereka terima dari Ratih selama sepuluh tahun terakhir."

Saya ikut duduk di kursi makan. "Jadi... Bimo pakai kartu as yang disimpan Panji dulu?"

"Betul sekali," Panji mengangguk mantap. "Pak Bimo bilang ke mereka, 'Kalau kalian mau lanjut ke pengadilan soal dana yayasan, saya tidak keberatan. Tapi besok pagi, seluruh dokumen korupsi internal ini akan berada di meja penyidik KPK dan Kejaksaan Agung.' Begitu mendengar gertakan itu, muka mereka langsung pucat, Mbak. Tadi pagi-pagi sekali, surat penarikan gugatan langsung dikirim ke pengadilan negeri."

Saya menarik napas lega. Bimo benar-benar sudah berubah, tapi kemampuan analisis dan insting bisnisnya yang tajam tidak pernah hilang. Dia hanya mengalihkan kemampuannya itu untuk sesuatu yang benar. Dia tidak lagi menggunakan kekuasaannya untuk menindas, melainkan untuk membentengi keluarga kecil kami dari orang-orang yang berniat jahat.

"Lalu, bagaimana dengan sisa saham yang masih dipegang Pak Bimo di Wijaya Group?" tanya saya penasaran.

"Pak Bimo sudah menginstruksikan saya untuk menjual seluruh sisa saham itu minggu depan, Mbak. Hasil penjualannya akan dialihkan sepenuhnya ke dalam bentuk obligasi negara atas nama Yayasan Adrian-Hendra. Pak Bimo bilang, beliau tidak mau ada satu rupiah pun uang yang mengalir ke popok Laksamana yang berasal dari sisa-sisa keuntungan perusahaan lama itu. Beliau mau semuanya benar-benar bersih."

Mendengar penuturan Panji, ada rasa bangga yang luar biasa merayap di dada saya. Pria yang dulu menikahi saya lewat selembar kertas kontrak dingin, kini telah menjelma menjadi seorang ayah dan suami yang memiliki prinsip hidup begitu kokoh.

Suara dari Masa Lalu yang Menenangkan

Sore harinya, saat Laksamana sedang tidur siang dengan sangat pulas di boksnya, saya masuk ke dalam studio menulis saya. Saya menghidupkan tape kecil yang biasa saya gunakan untuk mendengarkan kaset rekaman dari kotak kayu pemberian Tante Andini.

Saya memasukkan salah satu kaset yang belum sempat saya dengarkan minggu lalu. Terdengar suara kresek-kresek khas pita kaset lama sebelum sebuah suara bariton yang hangat dan tegas mulai terdengar mengisi ruangan studio.

"...Hendra, kalau kamu mendengarkan rekaman ini suatu hari nanti, berarti aku mungkin sudah tidak ada lagi di dekat Nara. Aku tidak takut mati, Ndra. Yang aku takutkan adalah jika Nara tumbuh tanpa tahu seberapa besar aku dan ibunya menginginkan kehadirannya di dunia ini. Tolong sampaikan padanya, jika dia sudah besar nanti dan mulai suka menulis sepertiku... katakan padanya untuk tidak pernah takut pada kebenaran. Kebenaran mungkin jalannya berliku dan penuh kerikil, tapi ujungnya selalu membawa kita pulang ke rumah yang damai."

Air mata saya menetes, tapi kali ini bukan air mata kesedihan atau penyesalan. Ini adalah air mata kebebasan. Saya menyentuh perut saya yang kini sudah kembali mengecil, lalu melihat ke arah luar jendela.

Matahari sore Jakarta sedang berwarna oranye keemasan, memantul di kaca-kaca gedung tinggi. Dulu, pemandangan ini selalu membuat saya merasa kesepian dan terasing. Tapi sekarang, pemandangan yang sama terasa begitu ramah.

Saya berjalan ke meja kerja, membuka laptop, dan membiarkan jemari saya menari di atas keyboard. Rasa kaku yang sempat saya rasakan beberapa minggu lalu kini sudah hilang sepenuhnya. Cerita ini harus dilanjutkan, bukan lagi sebagai bentuk terapi penyembuhan trauma, melainkan sebagai sebuah warisan sejarah yang berharga.

Pelabuhan Terakhir

Malam harinya, Bimo pulang membawa martabak telur kesukaan saya dan sebuah bungkusan kecil dari toko mainan. Wajahnya terlihat lelah, tapi begitu dia melihat Laksamana yang baru saja bangun dari tidur siangnya, lelah di wajahnya langsung hilang digantikan oleh senyuman lebar.

Kami makan malam bersama di meja makan kecil kami. Tidak ada pelayan, tidak ada meja panjang mewah seperti di rumah lama keluarga Wijaya. Hanya ada kami bertiga, ditemani suara televisi yang menyala pelan menyiarkan berita malam.

"Nara," panggil Bimo di sela-sela kunyahan martabaknya.

"Ya?"

"Tadi di kantor yayasan, Ayah Hendra bilang dia mau pensiun total dari urusan operasional panti tahun depan. Beliau mau fokus jadi eyang penuh waktu buat Laksamana. Beliau bahkan punya ide mau bikin kebun sayur kecil di belakang rumah Bogor supaya nanti Laksamana bisa belajar berkebun kalau sudah besar."

Saya tersenyum hangat. "Itu ide yang bagus, Bim. Ayah Hendra sudah bekerja keras sepanjang hidupnya untuk menjaga rahasia dan melindungi kita. Sekarang adalah waktunya bagi beliau untuk menikmati masa tuanya dengan tenang tanpa ada rasa bersalah lagi."

Bimo mengangguk setuju, lalu menggenggam tangan saya di atas meja. "Dan soal kita... aku rasa kita sudah berhasil melewati bab paling sulit dalam buku hidup kita, kan?"

Saya menatap matanya yang teduh. "Kita bukan cuma berhasil melewatinya, Bim. Kita berhasil menulis ulang seluruh isinya menjadi sesuatu yang jauh lebih indah."

Laksamana yang berada di boks bayi di dekat meja makan kami tiba-tiba mengeluarkan suara tawa kecil yang renyah, seolah-olah dia ikut merayakan keberhasilan kedua orang tuanya. Kami berdua langsung menoleh ke arahnya, ikut tersenyum.

Malam semakin larut di Jakarta. Kota ini mungkin akan tetap bising dengan segala intrik dan urusannya sendiri. Tapi di dalam apartemen lantai dua belas ini, dinding-dindingnya hanya merekam suara tawa, langkah kaki yang tenang, dan detak jantung dari sebuah keluarga kecil yang akhirnya berhasil menemukan jalurnya sendiri.

Pena saya malam ini berhenti dengan perasaan yang sangat utuh. Cerita tentang "Istri Kontrak" dan "Skandal Wijaya" sudah resmi ditutup dan disimpan di laci terdalam. Yang ada sekarang adalah cerita tentang Nara, Bimo, dan Laksamana—sebuah draf kehidupan baru yang akan kami tulis bersama, hari demi hari, dengan tinta yang penuh dengan cinta dan pengampunan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!