apa jadinya jika seorang pemuda berumur 17 tahun transmigrasi ketubuh seorang duda berumur 36 tahun karena di seruduk oleh seekor domba?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fiyaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Pukul 08.14. RS Medika Sentral.
“Aga, buka mulut,” kata Arion sambil nyendokin bubur.
Saga duduk di ranjang, infus udah lepas. Pipinya masih diperban, tapi matanya udah nyala lagi. “Aaaa~”
Arion senyum, nyuapin pelan. Di kursi sebelah, Langit melipat tangan. Revan main HP. Rasya lagi telepon sama pengacara di luar.
“Papa,” panggil Langit. “Sakit nggak?”
Saga geleng, tapi tangannya nggak lepas dari kemeja Arion. Remas terus. “Nggak. Ada Ion, nggak sakit.”
Revan melirik. “Pa, itu baju Om Ion mau sobek dicengkeram mulu.”
“Biarin,” jawab Saga cepat. “Aga takut. Kemarin Edwin...”
Satu ruangan langsung diem.
Arion naruh mangkuk, ganti genggam tangan Saga dua-duanya. “Udah lewat, Sayang. Edwin udah di tahanan. Nggak bakal keluar.”
“Tapi Aga mimpi buruk,” lirih Saga. Matanya berkaca. “Mimpi Edwin bawa pisau. Mimpi Aga nggak bisa ketemu Ion, Rasya, Revan, Langit lagi.”
Langit berdiri, narik kursi mepet ranjang. “Papa, aku di sini. Nggak ke mana-mana.”
Saga nangis. Tapi tetep nyari Arion. “Ion... gendong...”
Arion naik ke ranjang tanpa mikir, meluk Saga ke dadanya. “Sst. Ada aku. Nggak ada yang bisa ambil kamu lagi.”
Rasya masuk, nutup telepon. Melihat itu, dia cuma diem di pintu.
“Om,” panggilnya pelan. “Bisa bicara? Di luar.”
Arion mengangguk. “Aga, aku bentar ya? Sama Rasya.”
“Nggak mau!” Saga makin erat. “Ion jangan pergi! Sedetik aja Aga takut!”
Arion mengecup puncak kepala Saga. “Aku di depan pintu. Kamu masih bisa lihat aku. Janji.”
Saga ngintip lewat bahu Arion. “Janji?”
“Janji.”
Di lorong, Rasya bersandar di dinding. Matanya lelah, tapi tegas.
“Om Ion,” katanya. “Papa trauma. Aku lihat sendiri. Dia nggak mau lepas dari Om.”
Arion mengangguk. “Aku tau.”
“Jadi,” Rasya ngeluarin map dari tas. “Ini surat kuasa perwalian. Notaris udah siap. Aku, Revan, Langit udah tanda tangan.”
Arion kaget. “Rasya...”
“Papa butuh Om. Kami bertiga sibuk. Aku di kantor, Revan-Langit sekolah. Nggak bisa 24 jam jagain. Tapi Om bisa.” Rasya nyodorin map. “Dengan ini, Om punya hak ambil keputusan medis, keamanan, semuanya buat Papa. Kami percaya Om.”
Arion menatap map itu lama. Di dalam kamar, Saga masih ngintip dari celah pintu, muka cemas.
“Aku terima,” kata Arion akhirnya. “Aku jaga Aga seumur hidup aku.”
Rasya senyum tipis. Senyum pertama sejak kejadian. “Kalau Om nyakitin Papa, surat ini batal. Dan aku yang nyeret Om ke pengadilan sendiri.”
“Ngga akan kejadian.”
Malamnya, Apartemen Skyline.
Saga udah boleh pulang. Tapi dari parkiran sampai kamar, dia nggak turun dari gendongan Arion.
“Ion, Aga mau mandi. Temenin.”
“Ion, Aga mau pipis. Tungguin depan pintu.”
“Ion, Aga mau tidur. Jangan matiin lampu.”
Arion nurut semua. Sekarang mereka di kasur. Saga meluk pinggang Arion, kaki nangkring di paha Arion, kepala di dada.
“Ion,” panggilnya pelan.
“Hmm?”
“Kalau Aga mimpi buruk lagi, bangunin Aga ya?”
Arion ngusap punggung Saga. “Iya. Aku nggak tidur nyenyak sebelum kamu nyenyak.”
“Terus kalau Aga kebangun tengah malem, Ion ada kan?”
“Selalu ada, Aga.”
Saga diem. Lalu berbisik, “Aga sayang Ion. Makasih udah dateng pas Edwin... pas Aga dipanggil ‘Sayang’ sama orang jahat.”
Arion mengeratkan pelukan. “Kamu panggil aku Ion. Cuma aku yang boleh manggil kamu Aga. Inget itu.”
Saga senyum di dada Arion. “Iya. Aga punya Ion. Ion punya Aga.”
Di kamar sebelah, Langit ngetuk pintu Rasya.
“Bang,” katanya. “Papa udah tidur?”
Rasya ngintip CCTV mini yang dia pasang di ruang tamu. Di layar, Arion lagi selimutin Saga, ngecup keningnya.
“Udah,” jawab Rasya. “Sama Om Ion.”
Langit menghela napas lega. “Bagus. Gua takut Papa sendirian.”
Revan nyelonong masuk. “Udahlah. Om Ion tuh udah kayak satpam, suster, pacar, semua diborong. Papa aman.”
Rasya nutup laptop. “Iya. Sekarang giliran kita yang amanin Edwin. Biar dia busuk di penjara.”
Di kamar utama, Saga mimpinya bagus.
Nggak ada Edwin. Nggak ada gudang.
Cuma ada Ion, bilang “Aku di sini, Aga.”