NovelToon NovelToon
Frekuensi Kematian

Frekuensi Kematian

Status: tamat
Genre:Action / Teen School/College / Tamat
Popularitas:120
Nilai: 5
Nama Author: Lovey Dovey

Di SMA Nambu, kelas 3-B adalah kelas paling viral-bukan karena prestasi, tapi karena jumlah problem child-nya. Malam itu, hukuman belajar tambahan untuk 30 siswa mereka berubah jadi mimpi buruk hidup-hari saat invasi makhluk asing berawal di sekolah mereka. Makhluk-makhluk fotofobia yang mengerikan, terluka oleh cahaya terang tapi memangsanya seperti ngengat, menjadikan sekolah sebagai arena berburu. Dipimpin oleh ketua kelas yang panik dan wakilnya yang berusaha tegar, mereka harus bertahan dengan satu aturan: JANGAN MENYALA.


Apakah mereka berhasil melawan makluk itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lovey Dovey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20 Vs 9

PUKUL 07:00

Saat jarum jam menunjukkan pukul tujuh, semua orang sudah bangun. Tidak ada yang bisa tidur nyenyak. Mereka berkumpul di tengah ruangan, berbagi sisa air dan makanan yang sangat sedikit. Suasana muram menyelimuti mereka.

Mark membuka sebungkus biskuit dan membagikannya. "Ini terakhir. Habis ini cuma air."

"Gue masih punya dua permen," tambah Yeon, membagikannya pada Juun dan Sunkyung di sebelahnya.

Tepat saat mereka sedang memutuskan bagaimana membagi jatah yang sedikit itu, dering dan getar serentak memecah kesunyian.

Bzzzt! Bzzzt!

Hampir semua ponsel di ruangan itu bergetar dan menyala secara bersamaan, memancarkan cahaya putih yang menyilaukan di ruangan yang masih remang-remang. Beberapa orang sampai terkejut menjatuhkan HP-nya.

"Ini apa lagi?" gumam Chenle dengan takut.

Giselle segera mengambil tabletnya. "Ini... pesan baru. Bukan broadcast umum. Kayaknya spesifik buat zona kita."

Dengan napas tertahan, mereka membaca pesan yang sama di layar masing-masing. Kali ini, pesannya lebih panjang dan lebih detail.

INSTRUKSI LANGSUNG - WILAYAH SEKOLAH NAMBU & SEKITARAN*

Kepada warga yang terperangkap:

*1. Evakuasi udara dan darat skala besar belum memungkinkan. Ancaman masih aktif di area luas.*

*2. Titik Kumpulan Aman (TKA) terdekat: Stasiun Bawah Tanah Gangnam, Pintu 3. Lokasi terlampir di peta offline (download tersedia).*

*3. PERINGATAN KRUSIAL: Ancaman menunjukkan perilaku fototaksis NEGATIF dan sensitif auditori tinggi pada kondisi cahaya rendah (malam hingga subuh). Aktivitas mereka berkurang signifikan pada siang hari, **tetapi tidak nol**. Mereka masih dapat terpicu oleh gerakan tiba-tiba, kilatan cahaya terang, atau suara keras.*

*4. Jika kondisi memaksa pergerakan, LAKUKAN HANYA PADA SIANG HARI (10.00 - 16.00). Bergeraklah dalam kelompok kecil, usahakan selalu dalam bayangan/teduh, dan **JANGAN BERLARI** kecuali dalam situasi darurat ekstrem. Lari menarik perhatian.*

*5. Sumber daya di TKA terbatas. Prioritas untuk anak-anak, ibu hamil, dan yang terluka.*

*6. Pesan ini akan diulang setiap 6 jam selama jaringan bertahan. Jangan mengharapkan respon cepat dari pihak berwenang.

*Peta terlampir. Download sebelum jaringan hilang.*

Suasana di kelas menjadi tegang campur harapan. Ada petunjuk jelas! Ada tujuan! Tapi juga ada pengakuan mengerikan: bantuan tidak akan datang cepat. Mereka harus menyelamatkan diri sendiri.

"KELUAR? GILA MEREKA?!" A-na langsung berseru, suaranya nyaris melengking sebelum langsung ditutup mulutnya oleh Stella. "Mmmph!

"Shhh! Diem!" desis Stella.

Tapi kerusuhan sudah dimulai.

"Mana mungkin kita keluar! Di luar ada itu... monster yang makan orang!" Chenle bersuara, wajahnya kembali pucat.

"Iya! Di sini aja kita hampir mati! Di jalan? Langsung jadi makanan siap saji!" tambah Jisung, menggigil.

"TAPI DI SINI KITA BAKAL KELAPARAN!" balas Jimin, mencoba menenangkan.

"Mereka kasih instruksi, ada alasannya!"

"Alasannya biar kita mati lebih cepet!" sahut Hina, yang biasanya tenang, sekarang ikut panik. "Kita di sini aja udah aman selama semalam! Kenapa harus ambil risiko?"

Sunkyung mulai menangis lagi. "Aku gak mau... aku gak mau jalan kaki... takut..."

"Gue setuju buat tinggal," ujar koeun dengan suara kecil tapi jelas. "Di sini kita tau medannya. Pintunya kuat. Jendelanya udah kita tutup pake lemari. Lebih aman."

"Aman?! Kita dikepung, koeun!" Mark mencoba meyakinkan

"Tapi ini aman yang kita tau! Diluar? Itu belum kita tau apa-apa!" balas yuha, ikut terbawa panik.

"Tapi persediaan habis dalam dua hari max!" potong Minjeong, logikanya dingin. "terus kita makan apa? Minum apa? Kalo mereka nyerbu lagi gimana?"

"Jangan berisik! Semua, tenang!" teriak Jaemin, kali ini suaranya memecah keributan. Semua menoleh padanya. "Kita ribut, kita yang menarik perhatian. Argumennya nanti."

Kelas kembali senyap, tapi ketegangan masih menggantung. Pernapasan mereka terdengar berat.

Mark, sebagai ketua kelas, menarik napas. "Oke. Voting aja. Siapa yang setuju buat coba ke stasiun sesuai instruksi? Siapa yang milih bertahan di sini?"

Pengangkat tangan dilakukan dalam gelap. Hasilnya:

Setuju ke stasiun: Jaemin, Minjeong, Jimin, Jeno, Giselle, Shotaro, Eunseok, Wonbin, Renjun, Yeri, Sohee, Anton, Mark, Sungchan, Haechan, Ningning, Yeon, Jiwoo, Ian, Oh Sion. Total: 20 orang. Milih bertahan: A-na, Chenle, Jisung, Sunkyung, Juun, Hina, Koeun, Carmen, Yuha. Total: 9 orang. Ragu-ragu (belum memutuskan): Stella.

"9 orang mau tinggal," Mark menghitung. "Itu hampir sepertiga kelas."

"Kita gak bisa maksa," kata Jimin, wajahnya pucat. "Tapi kita juga gak bisa tinggalin mereka sendirian."

"terus gimana? " tanya Haechan, bingung.

Kelas pecah menjadi dua kubu yang saling bersuara, meski masih berbisik-bisik histeris. Yang satu ingin bertahan dengan ilusi keamanan yang sudah mereka raih, yang lain melihat neraka kelaparan di depan mata jika tidak bergerak.

Jimin melihat semuanya dengan hati berat. Dia menatap Jaemin. Jaemin mengangguk pelan. Mereka harus bersatu. Pecah berarti mati.

"Denger!" Jaemin bersuara, kali ini lebih tegas. "Kita ribut, itu sama aja bunuh diri. Kita musti putusin bareng"

"kalo kalian milih tinggal di sini, dan suatu saat mereka nyerbu lagi, siapa yang bantuin? Kalo kalian kehabisan air, siapa yang cariin? Kalo salah satu dari kalian sakit atau panik dan teriak, siapa yang tenangin? Disini kita 30. Kekuatan kita di jumlah. Kalau di Pecah? Kita lemah."

Logikanya sederhana dan brutal. Ruangan menjadi hening.

Jimin mengambil alih. "Jaemin bener. Ini bukan soal mau atau gamau. Ini soal bertahan hidup. Dan kita cuma bisa bertahan hidup jika tetap bersama. Kalo ada yang ketakutan, gue ngerti. Gue juga takut. Tapi ketakutan kalian itu alesan kenapa kalian harus ikut, bukan alesan buat tinggal sendirian di kuburan ini."

Minjeong berjalan mendekati Sunkyung yang masih menangis. Dia jongkok, suaranya turun menjadi sangat lembut, tidak seperti biasanya. "Lam, lo inget gak, waktu kita praktik evakuasi gempa? Lo selalu panik dan nangis. Tapi gue janjiin bakal gandeng tangan lo sampe keluar. Sekarang gue janji yang sama. Gue gandeng tangan lo sepanjang jalan. Kita sampe stasiun bareng."

Sunkyung melihat Minjeong, air mata terus mengalir. "Beneran? Lo gak bakal lepasin?"

"Beneran. Sumpah," jawab Minjeong tegas.

Chenle melihat Sungchan, lalu melihat Jaemin. "Jaem, beneran kita bisa?"

Jaemin menghela napas. "Gak ada yang tau, Le. Tapi kalo kita di sini, kita pasti mati. Kalo kita keluar, ada kemungkinan hidup. Itu satu-satunya peluang."

Pendekatan personal itu bekerja. Stella mendekati Hina dan A-na. "Heii, kita temenan dari SD. Percaya gak sama gue? Gue gak bakal ngebawa kalian ke jurang. Kalo menurut gue ini gak mungkin, gue juga bakal demo. Tapi... menurut gue, Jaemin sama Jimin bener. Ini satu-satunya jalan."

Hina menatap Stella lama, lalu menunduk. "Gue... gue percaya lo, Stel."

Satu per satu, dengan bujukan, janji, dan logika dari teman-teman terdekat mereka, yang menolak mulai goyah. Mereka tidak yakin dengan rencana itu, tetapi mereka percaya pada orang-orang di samping mereka.

Jisung, yang dari tadi diam, tiba-tiba berkata, "Carmen bilang dia ikut. Kalo Carmen ikut... ya gue ikut lah." Carmen tersenyum kecil dan memegang tangannya.

A-na adalah yang terakhir. Dia melihat sekeliling. Semua teman dekatnya-Stella, Hina, bahkan Minjeong-akan pergi. Wajahnya yang cemberut perlahan lunak, digantikan oleh ketakutan yang lebih dalam: ketakutan untuk ditinggalkan. "Gue... gue ikut"

Tidak ada lagi yang tertinggal. Ketigapuluh siswa itu akhirnya bersatu kembali di bawah satu keputusan: mereka akan bergerak bersama. Ketakutan belum hilang, bahkan mungkin lebih besar. Tapi sekarang, ketakutan itu disalurkan menjadi sebuah tekad kolektif yang rapuh namun nyata.

"Tapi, bentar, Stasiun Gangnam itu..." hitung Shotaro dengan cepat. "Kalau jalan kaki... minimal 45 menit kalo normal. Tapi dengan kondisi sembunyi-sembunyi..."

"Bisa jadi 2 jam, atau lebih," sambung Eunseok dengan suara rendah.

Jaemin sudah membuka peta yang terlampir di HP-nya. "Kita harus lewat jalan utama. Banyak gedung tinggi, jadi banyak bayangan. Tapi mereka bisa sembunyi dimana aja."

Jimin memandangi wajah-wajah teman-temannya. "Kita prepare dulu. Periksa tas, bawa cuma barang penting. Air, makanan kalau ada, pakaian hangat, dan... apa pun yang bisa jadi senjata,buku , make up barang-barang gak penting tinggal."

"Bentar-bentar, Senjata?" A-na terlihat panik. "Lawan makhluk kayak gitu mau pake apa?"

"Bukan untuk lawan. Tapi untuk... membela diri jika terpaksa. Atau untuk memecah kaca jika kita terperangkap," jawab Jaemin dengan logis, meski ngeri.

Persiapan berlanjut dengan suasana yang berbeda. Tidak ada lagi bisikan-bisikan saling menyalahkan. Hanya fokus pada tujuan: bertahan, dan membawa setiap orang sampai ke stasiun. Mereka mengikatkan tali tambang di pinggang mereka, menghubungkan satu kelompok dengan kelompok lain, sebagai simbol bahwa mereka tidak akan terpisahkan.

Mereka siap menghadapi kegelapan di luar, karena kegelapan di dalam ruangan-ketakutan dan keraguan-telah sedikit terpecahkan oleh cahaya persatuan yang mereka temukan di ujung keputusasaan.

....

1
tׁׁׅׅhׁׁׅׅ֮֮ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅׅ
oalah👏👏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!