NovelToon NovelToon
Kamu Datang Saat Aku Hampir Menyerah

Kamu Datang Saat Aku Hampir Menyerah

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Cintapertama / Tamat
Popularitas:410
Nilai: 5
Nama Author: Yusuf Jf

BAB 1 (Opening kuat & emosional)
Kamu Datang Saat Aku Hampir Menyerah
Bab 1: Titik Terendah
Malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya.
Arga duduk sendirian di pinggir trotoar, tepat di bawah lampu jalan yang cahayanya redup. Tangannya menggenggam ponsel yang sejak tadi tak berdering. Tidak ada pesan, tidak ada panggilan. Seolah dunia benar-benar lupa bahwa dia masih ada.
Hujan baru saja reda. Bau tanah basah bercampur dinginnya angin malam menusuk sampai ke tulang.
Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.
“Gini ya rasanya… jadi gagal,” gumamnya pelan.
Beberapa bulan terakhir hidup Arga seperti runtuh satu per satu. Pekerjaan yang ia banggakan hilang begitu saja karena pengurangan karyawan. Tabungan yang ia kumpulkan habis untuk bertahan hidup. Dan yang paling menyakitkan… perempuan yang ia cintai memilih pergi.
Bukan karena tidak cinta.
Tapi karena keadaan.
“Maaf ya, Ga… aku capek nunggu kamu sukses,” kalimat itu masih terngiang jelas di kepalanya.
Arga tertawa kecil,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusuf Jf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9 — Bahu untuk Bersandar

Malam di rumah sakit terasa sunyi. Hanya suara langkah perawat dan bunyi alat medis yang sesekali terdengar dari lorong panjang itu. Lampu-lampu putih di langit-langit membuat suasana terasa dingin dan asing. Arga duduk di samping ranjang ayahnya sambil memegang gelas kopi yang mulai dingin. Matanya merah karena kurang tidur, tetapi yang paling lelah sebenarnya adalah pikirannya.

Sudah beberapa hari hidupnya terasa seperti benang kusut yang tidak tahu harus mulai diurai dari mana.

Di sampingnya, Nayla duduk tenang sambil membuka bungkus makanan yang tadi ia beli di warung depan rumah sakit. Aroma nasi hangat dan ayam goreng sederhana perlahan memenuhi ruangan kecil itu.

“Kalau kamu terus begini, nanti malah ikut sakit,” ucap Nayla pelan sambil melirik wajah Arga yang pucat.

Arga tersenyum kecil, senyum yang lebih mirip usaha untuk terlihat baik-baik saja.

“Aku udah biasa.”

“Justru itu yang bahaya,” jawab Nayla sambil menatapnya serius.

Arga terdiam. Kalimat itu sederhana, tetapi terasa menampar dirinya pelan. Selama ini ia memang selalu terbiasa menahan semuanya sendiri. Sejak kecil hidup mengajarkannya bahwa tidak ada waktu untuk mengeluh. Kalau ia berhenti berjalan, tidak ada yang akan datang menyelamatkannya.

Nayla menyerahkan nasi bungkus itu ke tangan Arga.

“Makan dulu.”

“Kamu sebenarnya nggak perlu repot-repot datang,” kata Arga lirih.

Nayla menghela napas kecil lalu tersenyum tipis.

“Kadang orang cuma butuh ditemenin, bukan disuruh kuat terus.”

Kalimat itu membuat dada Arga terasa hangat. Sudah lama sekali tidak ada seseorang yang benar-benar peduli pada dirinya tanpa menghakimi atau menuntut apa pun.

Arga akhirnya membuka bungkus makanan itu dan mulai makan perlahan. Tangannya sedikit gemetar karena sejak siang ia belum mengisi perutnya dengan benar. Nayla memperhatikannya diam-diam sambil sesekali melihat keadaan ayah Arga yang masih tertidur lemah di ranjang.

“Dokter bilang gimana?” tanya Nayla pelan.

“Katanya cuma kecapekan. Tapi harus dirawat beberapa hari,” jawab Arga.

“Syukurlah bukan yang parah.”

Arga mengangguk kecil, meski pikirannya masih penuh kecemasan.

“Biayanya gimana?”

Pertanyaan itu membuat Arga langsung diam. Ia menunduk pelan sambil menggenggam sendok erat-erat.

Kepalanya terasa semakin berat memikirkan semuanya. Tabungannya hampir habis untuk kebutuhan rumah dan pengobatan ayahnya sebelumnya. Gaji dari kerja di toko fotokopi bahkan tidak cukup untuk menutup semua pengeluaran bulan ini.

“Aku nggak tahu,” jawabnya jujur.

Nayla menatap Arga beberapa detik. Dari sorot mata lelaki itu, ia bisa melihat rasa lelah yang selama ini disembunyikan.

“Kamu hebat,” ucap Nayla tiba-tiba.

Arga langsung tertawa kecil, hambar.

“Hebat dari mana? Hidup aku aja berantakan.”

“Orang yang tetap bertahan walau hidupnya berat itu lebih hebat dari yang keliatan sempurna.”

Ucapan itu membuat Arga kembali diam. Entah kenapa, setiap kata dari Nayla selalu terasa tulus. Tidak berlebihan, tidak dibuat-buat, tetapi cukup untuk membuat hatinya tenang.

Malam semakin larut. Ibunya akhirnya dibujuk pulang oleh Arga untuk istirahat sebentar di rumah. Kini tinggal Arga dan Nayla di lorong rumah sakit yang mulai sepi.

Hujan di luar turun perlahan. Tetesannya terdengar samar dari balik kaca jendela.

“Kalau capek, tidur bentar aja,” kata Nayla.

“Aku nggak bisa tidur.”

“Kenapa?”

Arga memandang ke arah jendela rumah sakit cukup lama sebelum akhirnya menjawab.

“Aku takut kehilangan ayah.”

Suara itu terdengar begitu pelan, hampir seperti bisikan.

Nayla tidak langsung menjawab. Ia hanya duduk lebih dekat lalu berkata lembut, “Semua orang pasti takut kehilangan.”

Arga tersenyum pahit.

“Dulu aku pikir aku kuat. Tapi ternyata enggak.”

“Manusia memang nggak harus selalu kuat.”

Kalimat itu membuat Arga menunduk. Selama ini ia terlalu sibuk berpura-pura kuat sampai lupa kalau dirinya juga manusia biasa.

Untuk beberapa saat mereka sama-sama diam. Namun anehnya, diam bersama Nayla tidak pernah terasa canggung bagi Arga. Justru keheningan itu terasa nyaman.

Tiba-tiba ponsel Arga berbunyi. Sebuah pesan dari pemilik kontrakan masuk malam itu juga.

“Kalau bulan ini belum bayar, kamar terpaksa saya kasih ke orang lain.”

Arga langsung memejamkan mata pelan. Rasanya hidup tidak pernah memberinya kesempatan bernapas.

“Ada apa?” tanya Nayla pelan.

“Kontrakan,” jawab Arga singkat.

Nayla bisa melihat jelas rasa putus asa di wajah lelaki itu.

“Kamu pernah nggak sih ngerasa hidup kayak nggak berpihak sama sekali?” tanya Arga lirih.

Nayla menatapnya cukup lama sebelum menjawab.

“Pernah.”

Arga menoleh pelan.

“Aku juga pernah ada di titik paling hancur dalam hidup,” lanjut Nayla. “Makanya aku ngerti rasanya capek jadi orang kuat.”

Untuk pertama kalinya, Arga sadar bahwa perempuan di depannya juga menyimpan luka yang tidak pernah ia ceritakan.

Dan malam itu, mereka bukan lagi dua orang asing yang sekadar saling mengenal.

Mereka adalah dua orang yang sama-sama pernah hancur, lalu dipertemukan oleh keadaan.

Tak lama kemudian, ayah Arga terbangun perlahan. Melihat Nayla duduk di sana, beliau tersenyum kecil.

“Pacar kamu, Ga?” tanyanya pelan.

Arga langsung salah tingkah.

“Yah… bukan.”

Nayla justru tertawa kecil sambil menunduk malu.

Namun di balik suasana sederhana itu, hati Arga terasa jauh lebih ringan dibanding hari-hari sebelumnya.

Karena akhirnya, di tengah hidup yang terus menghantamnya tanpa belas kasihan… Ia menemukan satu bahu untuk bersandar.

Beberapa menit kemudian, ayah Arga kembali tertidur. Suasana ruangan kembali tenang. Arga berjalan keluar menuju lorong rumah sakit untuk membeli kopi hangat dari mesin otomatis di ujung koridor.

Saat kembali, ia melihat Nayla sedang tertidur sambil menyandarkan kepala di kursi tunggu. Tangannya masih memegang tas kecilnya erat-erat.

Arga berhenti sejenak memandangi perempuan itu.

Ia tidak mengerti kenapa Nayla mau sejauh ini peduli padanya. Padahal hidupnya sendiri saja masih berantakan. Tidak punya masa depan jelas, tidak punya uang, bahkan untuk membayar kontrakan pun kesulitan.

Pelan-pelan Arga meletakkan jaketnya di pundak Nayla agar perempuan itu tidak kedinginan.

Gerakan kecil itu membuat Nayla terbangun perlahan.

“Kamu belum tidur?” tanyanya dengan suara serak.

Arga menggeleng sambil menyerahkan satu gelas kopi hangat.

“Nih.”

Nayla menerimanya sambil tersenyum kecil.

“Makasih.”

Mereka kembali duduk berdampingan di lorong yang sepi itu.

“Aku boleh jujur nggak?” tanya Nayla tiba-tiba.

“Apaan?”

“Aku kagum sama kamu.”

Arga langsung tertawa kecil.

“Kayaknya kamu salah lihat orang deh.”

“Aku serius,” jawab Nayla. “Nggak semua orang bisa tetap bertahan di keadaan kayak kamu.”

Arga menatap lantai.

“Kadang aku capek,” katanya pelan. “Capek banget sampai pengen nyerah.”

Nayla mengangguk pelan.

“Tapi kamu masih di sini. Itu artinya kamu lebih kuat dari yang kamu kira.”

Kalimat itu membuat Arga diam cukup lama.

Di luar, hujan perlahan mulai reda. Udara malam terasa lebih dingin, tetapi entah kenapa hati Arga justru terasa hangat.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa tidak benar-benar sendirian.

Dan mungkin… kehadiran Nayla adalah alasan kenapa ia masih ingin percaya bahwa hidupnya suatu hari nanti akan membaik.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!