NovelToon NovelToon
INVINCIBLE DIVINE EMPEROR NINE HEAVENS HAREM

INVINCIBLE DIVINE EMPEROR NINE HEAVENS HAREM

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Harem / Kultivasi
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Noxalisz

Di dunia kultivasi yang luas, Xiao Chen adalah anomali—diturunkan dari langit dengan ketampanan dan kekuatan absolut tanpa batas. Dibesarkan di Hutan Sunyi oleh Qing Yan, ia tumbuh tanpa memahami asal-usulnya. Saat berusia 15 tahun, ia memulai perjalanan menjelajahi dunia, mengungkap misteri dirinya, menghadapi berbagai faksi, serta membangun hubungan dengan wanita dan kekuatan yang mengguncang tiga alam.

bonus langsung 10 episode pertama

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noxalisz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepulauan Tenggara

Bintang Utara terus meluncur ke utara, membelah lautan awan yang semakin dingin.

Pada hari keempat belas pelayaran, pemandangan di bawah mulai berubah. Lautan awan putih yang tadinya membentang sejauh mata memandang perlahan digantikan oleh kilauan air—bukan awan, melainkan lautan sungguhan. Samudra luas dengan pulau-pulau kecil yang tersebar seperti zamrud di atas permukaan biru.

"Kepulauan Tenggara," kata Freya dari anjungan, tangannya memegang kemudi kapal. "Kita akan singgah di Pulau Naga untuk mengisi perbekalan."

"Pulau Naga?" tanya Wei Ling yang berdiri di dekatnya.

"Rumah bagi Klan Naga Cabang Fana. Mereka bukan naga sungguhan—hanya keturunan jauh yang memiliki sedikit darah naga. Tapi mereka kuat. Dan mereka cukup ramah selama kita menghormati aturan mereka."

"Aturan apa?"

"Jangan mencuri. Jangan membunuh. Dan jangan pernah menghina leluhur naga mereka." Freya melirik Xiao Chen yang berdiri di haluan. "Seharusnya tidak ada masalah. Lagipula, kita hanya singgah sehari."

Kapal mulai menurunkan ketinggian, mendekati pulau terbesar di Kepulauan Tenggara. Pulau Naga dinamakan demikian karena bentuknya yang menyerupai naga raksasa yang melingkar—pegunungan di tengahnya membentuk lengkungan seperti tubuh naga, dengan dua tanjung yang menjorok ke laut seperti kepala dan ekor.

Begitu kapal merapat di dermaga, puluhan pasang mata langsung tertuju pada satu sosok.

Xiao Chen turun dari kapal dengan langkah ringan, jubah putihnya berkibar, rambut putihnya yang panjang berkilau di bawah sinar matahari tropis. Para penduduk pulau—kebanyakan nelayan dan pedagang—langsung menghentikan aktivitas mereka. Beberapa gadis muda yang sedang menjemur ikan hampir menjatuhkan keranjang mereka. Para wanita tua berhenti mengobrol dan menatap dengan mata membelalak.

Seorang gadis muda berambut biru laut—ciri khas keturunan naga—sedang berjalan di dermaga membawa keranjang buah. Begitu dia melihat Xiao Chen, langkahnya terhenti. Keranjangnya miring, dan buah-buah tropis mulai menggelinding ke laut. Dia bahkan tidak menyadarinya.

"Rambutnya..." bisiknya, mata birunya membelalak.

"Putih seperti awan," sambung temannya di sampingnya, yang juga menjatuhkan bawaannya.

"Dia... dia tersenyum..."

Xiao Chen memang tersenyum—senyum sopan pada seorang pria tua yang menyapanya. Senyum itu sederhana, tapi efeknya seperti badai kecil. Gadis berambut biru laut itu merasakan lututnya lemas. Temannya harus memegang tiang dermaga agar tidak jatuh.

"Aku akan menikah dengannya," bisik gadis itu.

"Kau bahkan tidak tahu namanya!"

"Tidak penting."

Freya, yang menyaksikan dari atas kapal, menghela napas. "Setiap kali kami merapat, hal yang sama terjadi."

"Setidaknya kali ini tidak ada yang pingsan," jawab Xu Mei.

Tepat saat dia mengatakannya, gadis berambut biru laut itu akhirnya pingsan. Temannya berhasil menangkapnya tepat waktu.

"Xu Mei," kata Lin Yao datar, "kau baru saja mengatakannya."

"Aku tahu. Ini kesialan."

Pasar Pulau Naga adalah ledakan warna dan aroma.

Terletak di atas platform kayu yang dibangun di atas air, pasar ini menjual segalanya—ikan segar yang baru ditangkap, buah-buahan tropis dalam warna-warna cerah, mutiara spiritual yang bersinar, dan artefak-artefak kecil dari kerang dan tulang naga kuno. Para pedagang berteriak menawarkan dagangan, dan para pembeli tawar-menawar dengan semangat.

Begitu Xiao Chen memasuki pasar, suasananya berubah.

Seorang penjual ikan—wanita setengah baya dengan lengan berotot dan kulit kecokelatan—sedang memotong tuna raksasa. Pisau besarnya terangkat ke udara, siap menghantam ikan. Tapi begitu dia melihat Xiao Chen, pisaunya berhenti di tengah jalan.

"Bu... Bu..." bisiknya pada penjual di sebelahnya.

"Apa?"

"Itu... siapa dia?"

Penjual di sebelahnya—seorang wanita tua yang menjual mutiara—menoleh. Kacamatanya yang tebal hampir jatuh dari hidungnya. "Astaga. Dalam tujuh ratus tahun hidupku, aku belum pernah melihat..."

"Ibu bilang sudah tidak tertarik pada pria."

"Ini pengecualian! Jelas pengecualian!"

Di kios kain, seorang gadis penenun—mungkin enam belas tahun—sedang memintal benang dari serat teratai laut. Benang yang tadinya rapi tiba-tiba kusut saat dia melihat Xiao Chen lewat. Dia bahkan tidak menyadarinya, terlalu sibuk menatap.

"Kak... lihat rambutnya..." bisiknya pada kakaknya.

"Jangan ganggu. Dia pasti bangsawan."

"Tapi dia tersenyum padaku!"

"Itu hanya angin. Jangan GR."

"Itu bukan angin!"

Sementara itu, Xiao Yu berjalan di samping Xiao Chen, memegang tangannya. Dia menatap sekeliling dengan kagum—belum pernah melihat tempat seperti ini.

"Ayah, kenapa semua orang menatap kita?"

"Mereka menatapku, bukan kita."

"Kenapa?"

"Karena rambutku putih."

"Tapi rambut putih itu keren!"

Xiao Chen tersenyum, mengusap kepalanya. "Menurutmu?"

"Menurutku! Dan aku juga akan punya rambut putih suatu hari nanti!"

"Itu... tidak mungkin secara genetis."

"Apa itu genetis?"

"Nanti kau akan belajar."

Wei Ling, Lin Yao, Xu Mei, Liu Ruyan, dan Freya berjalan di belakang mereka, menyebar untuk mencari perbekalan masing-masing.

Liu Ruyan berhenti di depan kios yang menjual kristal-kristal aneh—beberapa berwarna biru laut, beberapa berwarna ungu, beberapa berkilau seperti pelangi kecil. "Kristal Naga," katanya. "Aku pernah membaca tentang ini. Konon, mereka mengandung esensi darah naga yang bisa digunakan untuk kultivasi."

"Harga?" tanyanya pada penjual.

Penjual itu—seorang pria tua dengan sisik kecil di pipinya, tanda keturunan naga—menatap Liu Ruyan, lalu menatap Xiao Chen yang berdiri tidak jauh. "Untukmu... setengah harga."

"Kenapa setengah harga?"

"Karena..." Pria tua itu menunjuk Xiao Chen dengan dagunya. "...dia bersamamu, kan?"

Liu Ruyan menghela napas. "Efeknya bahkan sampai ke transaksi bisnis."

"Aku tidak bisa menolak. Darah nagaku bilang dia... spesial."

"Kau tidak sendirian dalam hal itu."

Sementara itu, Lin Yao sedang memeriksa sebuah pedang di kios senjata. Pedang itu terbuat dari tulang naga kuno—ringan tapi kuat, dengan aura yang tidak biasa.

"Artefak Fana tingkat Puncak," kata pemilik kios, seorang wanita muda dengan rambut biru diikat ekor kuda. "Dibuat oleh kakekku. Dia Grandmaster Artefak."

Lin Yao mengangkat pedang itu, merasakan keseimbangannya. "Bagus."

"Kau mau beli?"

Lin Yao meletakkan pedang itu kembali. "Aku sudah punya pedang."

"Pedang dari mana?"

"Dari seseorang yang spesial." Mata Lin Yao melirik ke arah Xiao Chen tanpa sadar.

Pemilik kios mengikuti arah pandangannya, dan mulutnya langsung terbuka. "Itu... itu orangnya?"

"Ya."

"Beruntung sekali kau."

"Aku tahu."

Sore harinya, mereka berkumpul di penginapan dekat dermaga—sebuah bangunan kayu bertingkat dua dengan balkon yang menghadap ke laut. Angin laut membawa aroma garam dan bunga tropis, dan matahari terbenam menciptakan langit ungu dan jingga yang memantul di permukaan air.

"Aku sudah mengisi perbekalan," kata Freya, duduk di kursi rotan. "Kita bisa berangkat besok pagi."

"Aku menemukan sesuatu yang menarik," tambah Liu Ruyan, mengeluarkan kristal biru laut dari sakunya. "Kristal Naga. Konon, ini bisa membantu kultivasi kultivator level rendah. Mungkin berguna untuk Xiao Yu."

"Untukku?!" Xiao Yu berbinar.

"Ya. Tapi hanya setelah kau mencapai Pemurnian Qi tingkat 5. Sebelum itu, tubuhmu terlalu lemah."

"Aku akan cepat mencapai tingkat 5!"

"Pelan-pelan," kata Xiao Chen. "Kau baru mulai seminggu yang lalu."

"Tapi aku mau cepet!"

"Kultivasi itu maraton, bukan sprint."

"Apa itu maraton?"

"Nanti kau akan belajar."

Malam harinya, setelah Xiao Yu dan yang lain tidur, Freya menemui Xiao Chen di balkon penginapan. Suara ombak terdengar dari kejauhan, dan bintang-bintang bertaburan di langit tropis yang jernih.

"Aku sudah membuat keputusan," katanya.

"Tentang?"

"Tentang bergabung secara permanen." Freya menyandarkan lengannya di pagar. "Aku akan mengangkat wakil kapten baru saat kita tiba di Benua Utara. Dia akan mengambil alih Bintang Utara. Dan aku... aku akan ikut denganmu."

"Kau yakin? Kapal ini hidupmu."

"Aku sudah seratus tahun di kapal ini. Mungkin sudah waktunya untuk sesuatu yang baru." Freya menoleh, menatapnya. "Kau membuatku merasa bahwa hidup lebih dari sekadar pekerjaan. Itu... berharga."

Xiao Chen meraih tangannya. "Selamat bergabung, Freya."

"Terima kasih." Freya tersenyum, lalu menciumnya—lembut, berbeda dari ciuman penuh gairah mereka sebelumnya. Ciuman ini seperti janji. "Aku tidak akan menyesal?"

"Kau tidak akan."

Keesokan paginya, saat mereka bersiap berangkat, seorang tamu tak terduga muncul di dermaga.

Seorang gadis muda—yang sama yang pingsan kemarin—berdiri di depan gangway kapal, tangannya mengepal di sisi tubuhnya, wajahnya merah padam. Di belakangnya, sekitar selusin penduduk pulau berkumpul, penasaran.

"Aku... aku ingin bicara dengan Tuan Berambut Putih!" serunya, suaranya bergetar tapi keras.

Xiao Chen, yang sedang membantu menaikkan perbekalan, menoleh. "Ya?"

Gadis itu menelan ludah. Dadanya naik-turun, dan untuk sesaat, dia terlihat seperti akan pingsan lagi. Tapi dia bertahan. "Aku... aku hanya ingin bilang... Tuan adalah orang paling tampan yang pernah kulihat!"

Beberapa orang di kerumunan bersorak. Seorang pria tua berteriak, "Katakan, Nak! Katakan!"

"Dan... dan aku akan menunggumu! Jika suatu hari Tuan kembali ke sini... aku akan menjadi kultivator kuat! Dan... dan..." Dia kehabisan napas. "...itu saja!"

Dia berbalik dan berlari secepat mungkin, menghilang ke dalam kerumunan.

Keheningan singkat. Lalu Wei Ling tertawa kecil. "Itu... berani."

"Dia punya potensi," tambah Lin Yao.

"Harus kuakui, dia lebih berani dari kebanyakan gadis yang hanya menatap dari jauh," kata Freya.

Xiao Chen tersenyum, lalu melangkah ke gangway. "Kita berangkat."

Saat Bintang Utara mulai mengudara, meninggalkan Pulau Naga di bawah, Xiao Yu berdiri di pagar, melambai pada gadis yang berlari tadi—yang sekarang berdiri di ujung dermaga, melambai balik dengan kedua tangannya.

"Ayah," kata Xiao Yu, "apa dia akan jadi ibu angkatku juga?"

Xiao Chen hampir tersedak. "Kau... darimana kau dapat ide itu?"

"Dari Kak Wei Ling. Dia bilang semua wanita yang jatuh cinta pada Ayah akhirnya akan jadi ibu angkatku."

Wei Ling, yang berdiri tidak jauh, tiba-tiba sibuk memeriksa sesuatu di balik tiang kapal.

"Wei Ling..."

"Aku tidak bilang apa-apa!"

"Kau benar-benar bilang."

"...mungkin."

Xiao Yu tertawa riang. "Aku suka punya banyak ibu!"

Lin Yao mendengus. "Kau akan punya lebih banyak lagi sebelum perjalanan ini selesai."

"Aku tidak sabar!"

Freya, Liu Ruyan, dan Xu Mei bertukar pandang. Ada senyum di wajah mereka—senyum yang mengatakan bahwa mereka sudah menerima kegilaan ini. Sebuah keluarga yang terbentuk di atas kapal terbang, dalam perjalanan menuju ujung dunia.

Bersambung ke Episode 12...

1
TGT
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!