Jalan Cinta Menuju Ridha Ilahi adalah kisah Alya, seorang gadis yang lembut dan taat, yang harus menerima takdir dijodohkan dengan Zidan (seorang pemuda yang dikenal bebas dan jauh dari nilai-nilai agama). Tapi di tengah perbedaan itu, Alya berusaha menjalani semuanya dengan sabar dan tetap berpegang pada prinsipnya. Sementara itu, tanpa disadari, kehadiran Alya perlahan mengubah Zidan menjadi dekat dengan Agama.
Novel ini mengisahkan bahwa cinta sejati bukan hanya tentang perasaan, tetapi tentang proses saling memperbaiki, mendekat kepada Allah, dan menerima takdir dengan penuh keikhlasan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Radia Adawiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9. Jawaban yang Menentukan
Suasana ruang tamu terasa hening.
Bahkan suara jam dinding terdengar lebih jelas dari sebelumnya.
Alya masih menunduk, menggenggam tangannya erat di atas pangkuan. Ia bisa merasakan tatapan Abi dan Uminya yang menunggu, begitu juga Zidan yang duduk di seberangnya dengan ekspresi datar.
Pertanyaan itu masih menggantung di udara.
“Apakah kamu yakin… atau kita batalkan saja?”
Alya menarik napas pelan.
Ini bukan lagi percakapan biasa, tapi ini lebih dari itu. Ini adalah sebuah keputusan yang menentukan arah kehidupan dia kedepannya.
Alya perlahan mengangkat wajahnya.
Matanya menatap Zidan dengan tenang, tidak terburu-buru, tidak panik.
“ Zidan… ” suaranya pelan namun jelas.
Zidan sedikit menoleh.
“ Seperti saya belum bisa menjawab sekarang , karena menurut saya pertanyaan ini terlalu terburu-buru, ” lanjut Alya lembut.
“ Tapi satu hal yang saya tahu… saya tidak ingin menjalani sesuatu dengan keraguan yang tidak jelas.”
Zidan terdiam.
Alya kemudian melanjutkan perkataannya,
“ Sebenarnya menurut saya tentang apa yang kamu tanyakan apakah saya yakin atau tidak… Saya tidak tahu juga karena saya belum mengenal kamu sepenuhnya.”
Tiba tiba suasana menjadi hening kembali.
Abi dan Umi saling berpandangan, namun tetap diam mendengarkan.
Alya menarik napas lagi.
“ Tapi aku menerima ini karena aku percaya, jika Allah yang mempertemukan, pasti ada kebaikan di dalamnya. ” kata Alya dengan suara yang tenang, tidak meninggi, tetapi terkesan tegas.
Zidan menatapnya kali ini lebih lama dari sebelumnya.
Alya menunduk sedikit, lalu menambahkan,
“ Tapi jika kita memang ditakdirkan untuk bersama, saya ingin kita bisa sama-sama menjalani proses ini dengan benar. Bukan sekadar ‘lanjut atau batal’, tanpa memahami satu sama lain. ”
Zidan menghela napas pelan.
Untuk pertama kalinya, ia tidak langsung menjawab.
Biasanya, ia yang memegang kendali dalam percakapan. Tapi kali ini….. ia justru diam.
Abi akhirnya berbicara pelan,
“ Jadi gini Nak Zidan, pernikahan itu bukanlah sesuatu keputusan yang bisa kita ambil karena ragu sesaat. Tapi juga bukan sesuatu yang dipaksakan tanpa saling mengenal satu sama lain.”
Zidan mengangguk pelan.
“ Baik Abi,” jawabnya singkat.
Lalu ia menatap Alya lagi.
“Jadi maksud kamu… kita coba kenal dulu? Atau kita mau pacaran dulu ? ”
Alya mengangguk.
“ Iya, saya ingin kita saling mengenal lebih dalam satu sama lain terlebih dahulu, tapi saya tidak ingin berpacaran. Saya ingin kita saling mengenal sesuai ajaran agama dan batasan yang benar, yaitu lewat jalur ta'aruf selama 2 Minggu ini . Dan setelah itu baru kita putuskan apakah kita akan melanjutkan perjodohan ini atau tidak ! "
Zidan terdiam beberapa detik.
Entah kenapa, jawaban itu tidak membuatnya menolak. Justru… membuatnya berpikir.
“ Kalau begitu…” Zidan berkata pelan,
“ gue setuju.”
Alya sedikit terkejut, tapi tetap tenang.
Zidan melanjutkan,
“ Tapi gue nggak bisa janji sama lo kalau semuanya bakal mudah.”
Alya mengangguk kecil.
“ Saya juga tahu kalau ini tidak akan berjalan mudah .Pasti ada rintangan dan cobaan yang akan terus menyertai.”
Lalu tak berapa lama, Zidan berdiri perlahan ,
“ Kalau begitu, gue pamit dulu. ”
Abi mengangguk.
“ Silakan Nak Zidan ”
Zidan menatap Alya sekilas sebelum berbalik. Tatapan itu tidak lama, tapi cukup untuk membuat Alya kembali terdiam.
Saat pintu tertutup, suasana ruang tamu kembali tenang.
Namun di dalam hati Alya…ada sesuatu yang berubah. Bukan jawaban, tapi bukan juga keputusan. Tapi ini lebih dari itu…...ini adalah awal dari sesuatu yang belum ia mengerti sepenuhnya.