NovelToon NovelToon
Monokrom

Monokrom

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Sci-Fi / Anak Genius
Popularitas:576
Nilai: 5
Nama Author: aytysz_

Bertahan atau melangkah pergi?

Memberi pertolongan atau malah menyudutkan?

Banyak hal yang harus di mengerti dengan meluaskan pendengaran ataupun penglihatan. Agar mempercayai tidak mendapat balasan dari seorang penghianatan-- yang tersembunyi di balik kesalahannya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aytysz_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

00^11

Hingga langkahnya terhenti saat menik mahoninya tidak sengaja melihat dimana dua insan familiar di penglihatannya. Membuat senyum masam tercetak sangat jelas di bibirnya.

"Bukankah sudah kukatakan semalam, jika gadis itu benar-benar seorang penggoda." Cetus seseorang yang seperti hantu.

"Dan, kenapa kau menutupi jika pemuda tampan itu kekasihmu? Seharusnya kau membiarkan semua orang tahu, jika kalian menjalin hubungan yang tidak akan lagi adanya pengganggu." Imbuh seorang penghasut.

"Diamlah jika kau hanya ingin mengarang cerita palsu." Kesal Yuna sembari membalas tatapan dari sang penghasut dengan sorot mata tajam.

"Kenapa kau selalu membelanya? Padahal kau tahu_"

Dorr..

Seketika teriakan kecil keluar dari mulut sang penghasut karena merasa terkejut akan suara dari seorang pemuda yang kini tertawa jahil melihat wajah penghasut. Dengan kesal melayangkan pukulan pelan kearah sang pemuda yang refleks menghindar, agar tidak mendapat pukulan dari sang penghasut.

Sedangkan Yuna hanya bisa membuang napas lega. Menggeleng pelan, melihat tingkah dua insan di depan matanya yang benar-benar seperti anak kecil. Dan untungnya, Yuna tidak mengumpat saat dikejutkan oleh Aldi.

"Apa kau tidak ada kerjaan lain selain mengejutkan orang lain?" Tanya sang penghasut yang tak lain Austyn, masih merasa kesal akan sikap Aldi.

"Apa kau tidak ada kerjaan lain selain mencuci otak orang lain?" Timpal Aldi yang menarik turunkan kedua alisnya sebentar. Ampuh membuat mulut Austyn mencibir tidak jelas.

"Apa kalian tidak ada kerjaan lain selain menggangguku?" Tak kalah kesalnya Yuna melontarkan perkataannya, dengan melihat dua insan di depan matanya saat ini secara bergantian.

"Bagaimana dengan mu sendiri? Apa kau tidak ada kerjaan lain selain melihat mereka berdua?" Entah dengan sengaja atau tidak, Aldi mengatakan hal yang seharusnya tidak pemuda itu cetuskan. Karena itu akan semakin membuat Yuna geram.

Dan saat itu juga sebuah pukulan mendarat sangat santai di kepala Aldi, mengaduh kesakitan. Memegang kepalanya sendiri sembari melayangkan tatapan kesal kearah Austyn yang menjadi pelakunya.

"Apa kau pantas mengatakan hal itu padanya?" Tajam Austyn penuh peringatan.

"Maaf, maaf telah mengatakannya." Sesal Aldi yang berusaha untuk mendapat maaf dari Yuna.

Saat itu juga pandangan Yuna bertemu dengan milik Anrey yang spontan menampilkan senyumannya. Ampuh membuat Anrey membuang napas lelah, dan memilih enyah dari tempatnya berdiri.

"Seharusnya dia sadar, siapa kekasihnya saat ini." Pelan Austyn. Sebelum menatap Aldi. "Apa aku harus memberinya pelajaran?"

"Kau akan berurusan denganku." Tanpa berpikir dua kali, Aldi memberi jawaban.

"Itu tidak masalah, asalkan gadis itu pergi sekolah ini." Tidak begitu cepat Austyn mencetuskan perkataannya. Yang entah kenapa ampuh membuat rahang Aldi mengeras, kedua tangan mengepal. Menahan diri untuk tidak menukul wajah polos milik Austyn.

Di lain sisi Anrey yang melunturkan senyumannya, melihat kepergian Yuna. Menarik perhatian sang lawan bicara yang mengikuti arah pandang Anrey, dengan raut wajah sulit diartikan.

"Anrey?" Sangat rendah gadis itu memanggil nama Anrey.

"Aku harus menenangkan seseorang terlebih dahulu." Tanpa menunggu tanggapan dari sang lawan bicara, Anrey berlari ke arah di mana Yuna melangkah pergi. Melewati Austyn dan Aldi begitu saja.

Ampuh membuat sang lawan bicara semakin yakin, jika, Anrey dan Yuna memang memiliki hubungan khusus. Lebih dari seorang teman. Tetapi, kenapa Yuna tidak pernah menegurnya saat bersama Anrey? Apa hanya karena pertemuannya dengan Anrey tidak sengaja? Atau, Yuna punya rencana lain untuk menyingkirkannya?

...ʚɞ...

Hal yang paling Anrey sukai dari sang kekasih adalah, sikap dan perilakunya yang benar-benar membuatnya kagum. Sanggup menahan diri untuk tidak melukai siapapun di saat api amarah mengelilingi raganya itu.

Tersenyum simpul dengan kaki jenjang yang berjalan cepat untuk mengajarkan langkahnya pada sang kekasih, benar-benar sangat terlihat menggemaskan saat ini.

Mengabaikannya, dan tidak peduli dengan kehadirannya.

"Apa yang ada di pikiran mu? Hingga kau selalu pergi saat aku melihatmu." Goda Anrey, kini merubah posisi berjalannya menjadi mundur. Karena pemuda itu ingin melihat bagaimana raut wajah sang kekasih. Tanpa peduli akan banyaknya pasang mata yang mereka lewati.

"Apa kau tidak menyukainya?" Tanpa melunturkan senyumannya, Anrey melontarkan kembali perkataannya.

"Atau,"

"Kau tidak membalas pesanku semalam." Sangat pelan tapi masih bisa Anrey dengar dengan jelas.

"Kau mengirim ku pesan?" Tanya Anrey, sembari menaikan kedua alisnya yang tidak begitu tebal itu.

"Kau bersamanya semalam di toko buku, dan mengabaikan pesanku. Apa salah jika aku ingin menyingkirkannya?" Timpal sang gadis yang perlahan memelankan langkah kakinya.

Terhenti tepat di depan ruang seni yang mau tidak mau Destan harus menghentikan kedua kakinya juga.

"Kenapa perempuan selalu menyalahkan orang lain dari pada kekasihnya sendiri?" Dengan tenang Anrey mengatakannya.

"Jika kau tergoda dengan sikapnya, pergilah. Berarti posisimu tidak setara dengan ku." Sangat rendah kalimat itu tercetus dari mulut sang gadis. Dia Yuna, menatap Destan dengan sorot mata penuh arti.

Diam sejenak, membuang napas. "Kau ingin ikut dengan ku setelah pulang sekolah nanti?"

Tidak langsung memberi jawaban, Yuna menelan lebih dulu ludahnya. "Aku harus menemui guru pembimbing."

Mengangguk paham, dan Anrey pun juga tidak bisa memaksa Yuna untuk ikut dengannya. "Aku akan menunggu mu."

"Pergilah bersamanya, jika itu bisa menyelesaikan tugas kelompok itu secepat mungkin." Akhir Yuna yang berniat melangkah pergi, akan tetapi, tangan kekar milik Anrey melingkar di pergelangan tangan Yuna .. mau tidak mau mengurungkan niatnya.

"Aku akan meminta ijin pada ibumu, dia pasti akan memberikannya." Menawarkan diri sendiri pada orang tersayang itu bukan halangan besar bagi hidup Anrey. Yang terpening, Anrey memiliki waktu berdua bersama Yuna, walau itu hanya sebentar.

"Kau yakin?" Ragu Yuna, yang berusaha menahan diri agar tidak goyah akan rayuan manis dari Anrey.

"Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini Yuna. Jika kau yakin, jika kau berani melawan, kemenangan yang sesungguhnya pasti kau dapatkan dengan mudah. Tanpa harus menyakinkan banyak orang, jika kebenaran ada pada dirimu." Tutur Anrey. Ampuh membawa Yuna pada ketenangan jiwa yang awal mula merasa sangat gelisah.

Moment sederhana yang senang sekali di ganggu oleh siapapun, tidak membuat dua insan itu menyalahkan semesta yang kerap sekali menghadirkan seorang pengganggu.

Kompak menoleh ke sumber suara yang terdengar sangat ricuh, dimana banyak murid perempuan yang menyampaikan sapa pada seorang wanita cantik penuh keanggunan itu .. sangat familiar di kedua netra Yuna.

"Ibu?" Gumam Yuna. Sebenar menarik perhatian Anrey.

"Apa yang dia lakukan disini?" Sambung Yuna mulai merasa tidak enak sendiri. Karena kesalahan tahun lalu yang tidak sengaja Yuna buat benar-benar membuat ibunya marah besar. Di mana angka dalam lembar nilainya sangat turun dratis.

"Mungkin dia ingin mengunjungi kepala sekolah. Kau tidak perlu khawatir_" belum juga Anrey menuntaskan perkataannya kepada Yuna. Kini melangkah mendekati Diandra.

1
Ros 🍂
hallo mampir ya Thor 💪🏻
M ipan
halo🌹 salam kenal
aytysz: haii, salam kenal jugaa🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!