NovelToon NovelToon
REPLAY

REPLAY

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / CEO
Popularitas:325
Nilai: 5
Nama Author: Anyelir 02

Berawal dari pertemuan di sebuah pernikahan menjadi kisah cinta yang rumit. Kisah antara Devika Nala Arutala dengan Raditya Arya Wijaya. Bagi Arya, Nala bukan hanya masa kini namun juga masa lalu. Masa lalu yang tak mungkin bisa ia lupakan begitu saja.

Berawal dari pertemuan tanpa sengaja di sebuah pernikahan. Sekian lama kembali bertemu, Arya mengetahui sebuah rahasia tentang kisah mereka di masa lalu, membuat tekadnya yang padam menjadi membara.

Pertemuan mereka bukanlah hanya sebuah kebetulan, namun takdir. Bertemu kembali, mengulang kisah. Jika dahulu berakhir menyedihkan, maka kini haruslah indah. Air mata yang dulu tumpah haruslah berganti menjadi pelangi.

Waktu mungkin saja berjalan, namun hati selalu tahu tempat mereka pulang. Bunga yang layu mampu kembali mekar, sama seperti manusia. Ada saatnya kita layu untuk merenung dan mekar untuk bersinar. Cinta sejati tidak pernah benar-benar mati, ia hanya layu untuk mengajarkan kita cara merawatnya dengan lebih baik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyelir 02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14 - Awal Kelam

Di penthouse-nya Arya merenung. Dirinya sangat ingin Vika-nya mengingat dirinya, kenangan manis diantara mereka. Kekasihnya, cintanya, tak mengingatnya. Bukankah itu pukulan yang berat dalam hidupnya. Apalagi saat dirinya melihat dampak bagi Nala saat mengingat ingatan lamanya.

“Tuan, nona Nala sudah pulang dari rumah sakit.” ujar Kevin melaporkan keadaan Nala pada Arya.

Kevin sedikit iba terhadap Arya. Kevin tau bahwa bosnya itu sudah merancang berbagai hal agar Nala mengingat dia, mengingat kenangan lama mereka. Namun, dampak yang timbul akan hal itu akan menyakitkan, dan Arya tak akan tega tentang hal itu.

“Kevin, apa yang harus aku lakukan? Aku ingin dia kembali, tapi kenapa sulit sekali,”

Kevin menunduk. Tak tau harus menjawab apa. Semua jalan tampak buntu. Untuk memaksa ingatan Nala soal masa lalu, dampak hal itu akan sangat besar. Nala kesakitan dan restu dari Dipta selaku kakak kandung akan terputus total.

“Tuan, apakah harus mengingat masa lalu soal kalian?” tanya Kevin pelan

“Apa maksudmu?” Arya tak memahami maksud pertanyaan Kevin. Matanya menatap tajam Kevin. Dalam benaknya, Arya berpikir soal Kevin yang ingin dirinya menyerah soal Vika.

Kevin yang di tatap seperti itu langsung kebingungan. Dirinya tak ada maksud lain. Hanya saja, ada sebuah ide yang mungkin tuannya akan cocok.

“Maaf tuan, bukan maksud apa-apa. Saya hanya berpikir, kalian bisa bersama kembali tanpa harus ingatan lama. Mulai dari awal misalnya?” Kevin menjelaskannya secara perlahan. Dirinya takut idenya akan menyakiti tuannya tanpa ia sadari.

“Kembali bersama, tanpa ingatan lama.” Arya menggumamkan kalimat itu secara berulang. Tak lama, Arya tersenyum saat mendengar ide itu.

“Ahh, itu ide yang bagus!” girang Arya. Arya berdiri lalu memegang bahu Kevin, mencengkeramnya cukup kuat. Kemudian berbalik menuju foto Vika yang terpasang cukup besar di penthouse. Foto Vika yang berhasil ia temukan di media sosialnya, Vika tampak begitu cantik dengan pemandangan bunga sakura.

“Memulai dari awal. Aku bisa dekat tanpa harus menyakiti. Aku bisa—“

“Tuan, tenanglah!” Kevin berusaha menenangkan Arya yang tampak terlalu semangat.

Arya kembali duduk sambil memandangi foto Vika. Melirik ke arah foto Vika dengan dirinya saat mereka liburan di pantai. Dalam foto itu, dirinya berlari mengejar Nala yang mengerjainya. Tampak manis sekali momen di foto itu.

“Kevin, ambil alat lukisku. Aku ingin melukis Vika-ku. Hadiah pertemuan pertama haruslah hadiah yang manis dan berasal dari tanganku sendiri.”

“Baik tuan!”

...****************...

Di dalam kamar, Nala memandangi isi kamarnya. Tampak sangat rapi dan bersih. Namun, pandangannya beralih ke boneka kelinci yang terpajang di raknya. Boneka kelinci berwarna merah muda yang tampak sangat familiar. Selama ini, dia hanya mampu melihatnya tanpa menyentuhnya. Pernah sekali dirinya menyentuhnya, terasa kerinduan akan seseorang namun dirinya tak tau siapa.

Ingatan masa lalunya tak pernah ia anggap penting. Apalagi kakaknya selalu mengatakan apapun yang terjadi, dirinya adalah adiknya. Namun, ada beberapa hal yang selalu ingin ia ingat. Seperti pemilik gelang yang ia pakai dan ibunya. Saat menanyakan soal ibunya, kakaknya akan menghindar. Bahkan raut wajahnya tampak marah saat menanyakan hal itu.

“Sebenarnya bagaimana sosok ibu itu?” gumam Nala

Dirinya sudah mampu mengingat soal ayah, kakek dan neneknya. Bukan berasal dari cerita dan foto lagi, semua cerita tentang mereka sudah mampu ia ingat. Hanya saja masih terasa ada lubang dalam ingatannya, tapi dirinya tak tau apa itu.

Tok..

Tok...

“Dek, abang boleh masuk?”

Nala yang sedang rebahan melirik ke arah pintu kamarnya. Terdengar suara kakaknya, Nala bangkit dari tidurnya.

“Masuk saja kak!”

Dipta masuk dengan membawa sebuah buku. Nala memperhatikan buku itu. Tampak usang, namun masih terlihat sangat bagus.

“Apa itu?” tanya Nala yang penasaran.

Dipta tersenyum, kemudian ia duduk di kasur Nala. “Ayo, kakak tunjukkan sesuatu. Ini milik ayah!”

Nala mendekat ke arah kakaknya. Terlihat tulisan ayahnya yang sangat rapi. Bahkan ada foto dalam setiap lembar tulisannya.

“Kak, foto USG siapa ini?” Nala menunjuk ke arah foto hasil USG yang tertempel di lembar awal buku.

“Ini fotomu saat masih dalam kandungan. Buku ini di khususkan untukmu. Ayah ingin mengabadikan momen milikmu meskipun tak bisa selalu bersamamu.”

Nala tersenyum. Ia merasa tersentuh melihat cinta ayahnya yang begitu besar. Dirinya merasa bahwa ayahnya adalah ayah terbaik di dunia.

“Kau tau, saat ayah bertugas ia meminta anggota yang tinggal untuk mengabadikan momenmu.”

“Kalau buku abang?”

“Ada. Tapi rahasia, itu kan cerita punya abang. Mana mungkin ditunjukkan ke adek.” Nala cemberut mendengar hal itu.

“Tapi kakak kenapa menunjukkan hal ini?” tanya Nala

Dipta tersenyum. “Kakak tau ingatan Nala kembali. Pasti merasa ada lubang yang tertutup perlahan, hanya saja masih ada yang mengganjalkan?”

Tepat. Itulah yang dirasakan Nala saat ini. Ganjalan soal ibunya adalah yang terbesar. Hanya saja respon kakaknya yang berlebih, membuatnya merasa sungkan.

“Abang tau kau selalu ingin menanyakan soal mama. Tapi abang tak ingin membahasnya. Jika kau ingin tau, kau bisa membaca buku ini. Ada soal mama yang ayah tulis disini.” Dipta memberikannya kepada Nala.

“Sudah ya, kakak keluar dulu. Kakak dan kakak iparmu ingin ke rumah mertua dulu. Jangan lupa makan siang ya,”

Dipta keluar kamar Nala. Sebelum keluar Dipta tak lupa mengelus rambut adiknya itu.

“Hati-hati ya!”

“Ya, jaga rumah dengan baik. Jangan lupa istirahat juga!”

Nala memandangi kakaknya. Melihat kakaknya yang telah keluar, Nala membuka buku milik ayahnya.

Day-1

Hari pertama kabar hadirnya putriku. Sungguh kabar yang membahagiakan. Putriku, putriku tersayang telah hadir. Dipta akan menjadi seorang kakak dan aku akan menjadi ayah dua anak. Aku akan kerja keras, agar anak-anak hidup tercukupi. Tak sabarnya bertemu denganmu, nak. Pasti kau akan sangat cantik seperti ibumu.

Kalimat yang menyentuh. Ayahnya sangat mengharapkan kehadirannya. Dirinya ingat ayahnya bermain dengannya. Bahkan saat lelah pun, ia tak mengeluh. Menyuapinya dengan tangannya sendiri. Menuruti apapun permintaannya dan kakaknya tanpa menolak. Mengajarinya banyak hal, termasuk bela diri. Saat dirinya sakit, ayahnya paling khawatir. Apalagi saat asma-nya kambuh.

Lembar demi lembar iya buka. Cerita soal dirinya tertuang dengan rapi disana. Bahkan fotonya saat kecil tertempel dengan rapi. Bahkan ada bunga kering disana sebagai hiasan. Tampak sangat cantik.

“Ayah sangat lucu!” Nala tertawa saat membaca soal ayahnya yang menyimpan cincin bunga darinya.

Putriku melamarku. Bagaimana mungkin aku akan menolaknya. Semua lelaki tak akan kubiarkan mendekati putriku. Putriku itu tuan putri tercantik, tak ada yang pantas untuknya. Jika pun ada, harus ia seleksi dengan sangat ketat.

“Ayah, mana mungkin aku melamarmu. Itu hanya hadiah!” Nala tertawa membacanya. Sungguh ayahnya sangat lucu.

Kemudian saat membaca lembaran berikutnya, ia mengerutkan keningnya. Ayahnya menuliskan soal ibunya.

Sarah, aku tau kau tak mencintaiku. Tapi aku sangat berterima kasih karena kau bersedia memberikanku seorang pangeran dan tuan putri untukku. Aku tau, ini perpisahan yang sangat kau nantikan. Dan kau sangat ingin membawa tuan putri kita tanpa memikirkan pangeran kita. Hanya saja, aku sedih namun aku ikut senang melihat kau bahagia. Aku tak pernah melihatmu sesenang itu saat bersamaku. Kau sangat senang saat pembacaan hasil sidang kita. Aku tau kau memiliki cinta yang lain, bahkan saat bersamaku. Aku hanya berharap kau bahagia. Dan tolong, jaga putri kita dengan baik dan aku akan menjaga pangeran kita dengan baik.

Tes..

Air mata Nala menetes begitu saja. Tak ada foto dalam lembaran itu. Hanya ada simbol hati yang patah di dalam lembaran itu. Dirinya terharu saat membacanya. Nala dapat melihat ketulusan dari ayahnya yang begitu mencintai ibunya. Cintanya tak berbalas, namun dia tak pernah menuntutnya. Bahkan dia menutup matanya, seolah tak mengetahui perselingkuhan ibunya.

“Ayah, kenapa kau begitu baik?”

1
Noona Rara
Aku mampir yah kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!