NovelToon NovelToon
Istri Kecil Juragan Tampan

Istri Kecil Juragan Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Romansa pedesaan / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sabia Sky

​“Jangan harap bisa pergi. Sekali kakimu menginjak rumah ini, selamanya kamu adalah milikku.”

Seorang Juragan yang mempunyai segalanya: kekuasaan, kekayaan, dan wibawa. Hanya satu yang tidak bisa ia miliki yaitu hati anak gadis dari salah satu pekerja buru pabrik miliknya.

​Ketika lamaran tulusnya dibalas penolakan, sang Juragan melepaskan topeng kesabarannya. Ia tidak butuh izin untuk memiliki apa yang ia mau. Jika dunia menyebutnya penculik, biarlah. Karena baginya, lebih baik melihat gadis pujaan menangis dalam pelukannya daripada melihat gadis itu tersenyum di pelukan pria lain.

​Satu janji suci telah terucap. Ijab kabul telah sah di mata agama. Namun, akankah gadis itu menyerahkan hatinya setelah sang Juragan "mencuri" kebebasannya? lalu bagaimana dengan gadis lain yang ingin menikah dengan sang Juragan tampan itu, akankah ia Terima atau membalaskan dendamnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia Sky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Godaan Salma dan Awal Sebuah Kisah Baru

Seminggu kemudian, tibalah hari acara ngunduh mantu (resepsi di kediaman mempelai pria). Di dalam kediaman keluarga Wijaya, suasana sudah ramai oleh orang-orang yang datang. Bu Sarasvati, yang dibantu oleh sang adik, Bu Lita, sibuk mondar-mandir. Pelaminan sudah terpasang cantik, begitu pula sistem suara sudah mulai dibunyikan.

Di rumah Pak Wisnu, tepatnya di kamar Kinanti, sudah terdapat tim MUA yang merias Kinanti. Acara akan dilangsungkan pukul sepuluh siang nanti, jadi sejak kini jemari terampil para perias handal itu sudah mendandani Kinanti.

"Ya ampun! Mas Adi gagah banget, lho, ya ampuunnn..." ucap MUA yang bertingkah gemulai.

Kinanti yang duduk di meja rias sontak menoleh ketika suara mendayu itu menyebut nama suaminya. Di belakang sana, salah satu anggota tim MUA sedang menyiapkan baju Aditya.

Dia adalah seorang pria yang terlihat gemulai sekali. Kinanti menahan senyum saat memandang sang suami yang terlihat sedikit tertekan.

"Dikasih bedak sedikit, ya, Kang Mas. Sebentar, hey Mila, kasih aku bedaknya!" ucap MUA yang bernama Saila (nama aslinya Soleh).

Rekannya memberikan sebuah bedak padat, dan langsung disambut oleh si MUA gemulai itu.

"Tidak usah. Saya tidak suka—"

"ust, Mas Adi yang ganteng diam, atau aku cium?"

Sontak rekan-rekannya langsung terbahak mendengar itu. Tak terkecuali Kinanti. Wanita muda berkebaya Jawa itu sudah terkekeh-kekeh. Dari pantulan cermin, ia melihat sang suami yang sudah kesal bukan main, diolesi bedak oleh Saila.

"Dimaklumi ya, Mbak. Suamimu jadi digoda sama si bencong," ucap MUA perempuan itu.

Kinanti tidak marah, malah ia merasa terhibur dengan tingkah lucu Saila. "Sepertinya dia naksir suami saya."

Perias Kinanti tertawa. "Tidak usah khawatir. Modelan seperti Saila tidak akan dilirik Mas Adi, Mbak."

Ketiganya tertawa bersama. Aditya memandang ngeri orang gemulai yang ada di sekitarnya ini.

*Ibu ini, yang benar saja! Memanggil perias, masa aku dipilihkan MUA genit seperti ini...* batin Aditya, menatap Saila dengan bergidik ngeri.

"Sayang," panggil Aditya yang mulai tidak tahan lagi.

"Kenapa, Mas?" sahut Kinanti pelan. Rambutnya sedang ditata.

"Tolongin..." Suara memelas Aditya terdengar begitu lucu.

"Minta tolong kenapa sih, Mas ganteng? Sudah, diam. Biarkan Mbak Kinan dirias sama temanku. Mas Adi sama aku saja aw..."

Pundak Aditya langsung bergidik ngeri. "Berbahaya sekali orang sejenis ini."

"Tidak apa-apa kan, Mbak Kinan?"

"Iya, Mbak Saila, tidak apa-apa..."

Saila tersenyum gemulai dipanggil 'Mbak'. "Tuh, dengarkan, tidak apa-apa, Mas! Awww!"

Kedipan manja dari Salman membuat Aditya langsung merasa mual.

*Ibu benar-benar tega padaku,* batin Aditya.

"Sudah, sudah. Tidak perlu pakai ini..." ucap Aditya, menolak.

"Biar bibirnya lembap, Mas Adi," ucap perias itu.

"Saya tidak usah pakai itu," tolak Aditya.

Salah satu rekannya menoleh mendengar kegaduhan di belakangnya.

"Mas Adi pilih mau aku cium saja, atau pakai pelembap bibir ini? Hayo..."

Kinanti sampai membekap mulutnya, menahan tawa melihat keributan mereka berdua.

Aditya memejamkan matanya. "Sudah cukup!"

"Sayang, Mas mau keluar saja."

Aditya lekas pergi dari sana. Dirinya sudah tak kuat lagi bersama Salman.

*Ya Tuhan, mimpi apa aku semalam bertemu si pria jadi-jadian ini!* batin Aditya, menggerutu.

"Loh, loh? Mas Adii.... ini belum selesai! Tungguin Saila, dong, Maasss, Maasss—"

Saila masih terus mengikuti pria tampan gagah itu. Kinanti geleng-geleng kepala dan menghela napas panjang.

Periasnya berujar jenaka, "Suami Mbak Kinanti sampai kabur."

"Hahaha, semoga saja Mas Adi tidak kaget ditempeli Salman," ucap rekan lain.

Kinanti tertawa juga. Akhirnya para perias pengantin tersebut ikut terkekeh sambil menggeleng-gelengkan kepala, tak habis pikir. Soleh memang begitu jika pengantin prianya tampan, apalagi Aditya, yang bukan hanya tampan tapi juga gagah. Semakin-makinlah genit si Saila alias Soleh itu.

Setelah siap dirias, para MUA itu diantar ke kamar sebelah untuk beristirahat.

Aditya merasa lega, akhirnya terbebas dari Saila. Kinanti tersenyum geli memandang wajah muram suaminya. "Mas."

"Kenapa tadi tidak menolong Mas, Sayang?"

"Menolong apa? Orang tidak diapa-apakan, kok."

"Tidak diapa-apakan bagaimana? Dia menggodai Mas, geli banget, Sayang. Tidak sadar apa kalau dia itu pria?" ucap Aditya, menahan rasa jijik.

Kinanti dibuat tertawa mendengar aduan Aditya barusan. Wanita muda itu bangkit. Bunyi gemerincing aksesori di kepalanya mengalihkan perhatian Aditya. Berjalan pelan, Kinanti terlihat sangat anggun.

*Cantik sekali,* batin Aditya, terpesona.

Di kamar itu hanya ada keduanya. "Dan apa Mas sadar kenapa orang itu gencar menggoda Mas?"

Aditya terperangah. Ia hanya menggeleng pelan untuk merespons sang istri yang terlihat cantik sekali hari ini. Tangan Kinanti terangkat, membelai sayang rahang suaminya.

Mata indah Kinanti memandang lekat pipi suaminya yang sudah mendingan setelah terkena bedak.

"Mas Adi ganteng banget, sampai waria pun tahu kalau suamiku ini gantengnya tidak ketulungan," puji Kinanti dengan lembut.

Mendengar pujian terlontar dari bibir lembap terpoles lipstik sang istri, Aditya mengulum senyum.

"Oh, ya? Mas ganteng?"

"Ganteng banget."

Kinanti mendekat. Keduanya saling pandang.

"Kamu juga banget hari ini, tampak anggun," balas Aditya.

Sang istri tersenyum lebar. "Jadi, sebelumnya aku tidak cantik, Mas?" sahut Kinanti dengan suara khasnya yang lembut. Sorot matanya memandang penuh harap pada suaminya.

"Cantik, kok," ucap Aditya seraya mencium telapak tangan sang istri.

Dengan jarak yang mulai terkikis semakin dekat, Aditya menunduk hendak mencium Kinanti. Perlahan ia memejamkan matanya, tetapi...

TOK! TOK!

"Kinanti, Aditya, ayo! Sudah siap belum?"

Kinanti tersenyum melihat Aditya gagal menciumnya.

"Sabar, ya. Sekarang kita berangkat dulu," ucap Kinanti sambil terkekeh.

♛♜♛ ♛♜♛ ♛♜♛ ♛♜♛ ♛♜♛

👑 Prosesi Ngunduh Mantu

Gendhing (musik)boyong pengantin mengalun dengan merdu. Seperangkat gamelan Jawa dimainkan untuk mengiringi kedatangan kedua pengantin beserta pangombyong atau pengiringnya, yang terdiri dari orang tua pengantin wanita beserta kerabatnya yang ikut serta dalam acara ngunduh mantu tersebut. Aditya dan Kinanti berjalan dengan perlahan, diikuti oleh rombongan mereka dari belakang, menuju kediaman keluarga Wijaya.

Setibanya di depan pintu masuk, rombongan berhenti. Di hadapan mereka sudah ada Bu Sarasvati beserta Pak Wijaya untuk menyambut kedatangan kedua pengantin dan keluarga besan.

Prosesi sakral ini dilanjutkan dengan Wijik Pupuk, yaitu sesi mencuci kaki kedua mempelai dengan air bunga setaman yang dibantu oleh Bu Sarasvati selaku ibu mempelai pria. Hal ini dilakukan agar segala energi buruk yang mungkin sempat hinggap selama perjalanan dapat dihilangkan.

Tahap selanjutnya, Unjukan Tirto Wening. Bu Sarasvati menghampiri anak dan menantunya, memberikan dua cangkir minuman kepada mereka, yang melambangkan kasih sayang orang tua kepada kedua pengantin. Aditya dan Kinanti secara bergantian menerima minuman yang diberikan oleh Bu Sarasvati.

Setelah Bu Sarasvati selesai memberi minum kedua pengantin, selanjutnya adalah Sinduran Binayang. Pak Wijaya menyampirkan kain sindur di pundak Aditya dan Kinanti, lalu menuntun mereka sampai duduk di pelaminan, dibantu oleh Bu Sarasvati dengan cara merangkul pundak kedua pengantin dari belakang. Para rombongan pun mengikuti, lalu duduk di tempat yang telah disediakan.

Pak Wisnu, orang tua dari pengantin perempuan, duduk di sisi kiri kursi pelaminan, tidak lupa bersama Bibi Kinanti sebagai pengganti mendiang ibu Kinanti. Sementara Bu Sarasvati dan Pak Wijaya selaku pemilik hajat duduk di sisi sebelah kanan.

Prosesi selanjutnya adalah Sungkeman. Aditya dan Kinanti secara bergantian bersimpuh dan meminta doa restu kepada para orang tua, memohon doa untuk kehidupan baru yang akan mereka jalani.

Sungkeman berlalu dengan khidmat. Air mata tidak bisa dibendung di antara mereka. Ada rasa bahagia dan tidak rela membaur menjadi satu, namun bagaimanapun, suka cita tetap mendominasi suasana.

Tamu undangan mulai memadati area acara. Acara masih berlanjut. Kini pasrah dan terima serta sambutan telah disampaikan oleh sang tuan rumah, sedangkan kedua pengantin dan para orang tua tengah duduk manis di kursi pelaminan.

Di tengah halaman, kursi-kursi tersusun rapi. Meja-meja penuh hidangan tradisional, mulai dari nasi liwet, gudeg, sate ayam, hingga es dawet tersaji untuk para tamu. Suasana begitu ramai namun penuh kehangatan.

Kinanti tampil memesona dalam kebaya beludru hitam khas Jawa. Rambutnya disanggul dengan ronce melati yang menjuntai hingga bahu. Sementara Aditya mengenakan beskap dengan blangkon senada. Keduanya tampak begitu serasi duduk di pelaminan berhias bunga segar berwarna putih dan kuning gading.

Bu Sarasvati dan Pak Wijaya berdiri di sisi pelaminan, menyambut tamu-tamu yang datang dengan penuh keramahan. Pak Wijaya sesekali melempar tawa bersama para kerabat yang memuji menantunya.

"Wah, menantumu cantik sekali, Juragan! Cocok sekali dengan Juragan Aditya, seperti pasangan keraton," celetuk seseorang sambil terkekeh.

"Iya, kan? Cantik, lembut, tapi tangguh juga," jawab Pak Wijaya bangga sambil melirik Kinanti yang tengah menunduk malu.

Aditya tersenyum lembut, lalu menggenggam tangan istrinya di bawah meja pelaminan. Sentuhan hangat itu membuat Kinanti melirik sekilas. Pipinya bersemu merah. Ia tahu di balik sikap tegas Aditya, tersimpan kasih yang tulus dan lembut.

Tak lama, rombongan dari desa Kinanti datang. Pak Wisnu beserta para tetangga dan keluarga dekat. Sorak menyambut mereka. Beberapa ibu-ibu desa tampak membawa hantaran kecil sebagai simbol kasih dan doa.

"Nah, ini dia pengantin wanitanya! Sudah cocok banget dengan pengantin prianya!" seru salah satu tamu wanita paruh baya dengan logat khas Jawa.

"Alhamdulillah, semoga langgeng ya, Nak," sahut yang lain.

Kinanti membungkuk sopan dan tersenyum ramah.

"Terima kasih, Bu, Pak. Kinanti juga mohon doa restu," jawabnya lembut.

Pak Wisnu diajak Pak Wijaya untuk masuk ke dalam rumah agar bisa beristirahat.

Tamu juga mulai berkurang. Sementara para rewang (pembantu acara) yang mewakili masih sibuk.

"Eh, Winda."

Seorang wanita paruh baya yang merasa namanya dipanggil pun menoleh, berjalan mendekat ke arah kakak kandungnya.

"Ya, ada apa, Mas?"

"Minta tolong ambilkan makanan, ya. Mas lapar. Sekalian buat Pak Wisnu."

Dan di situlah, dua pasang mata bertemu.

DEG!

Winda Dwi, adik kandung Pak Wijaya, dibuat berdebar tatkala melihat Pak Wisnu untuk pertama kalinya. Pak Wijaya merasa aneh dengan sang adik. Alisnya mengernyit bingung, lalu tak lama senyum tersungging di bibirnya.

"Winda."

"Eh—apa tadi, Mas?"

"Malah melamun. Kamu mau kenalan dulu sama Pak Wisnu?"

"Eh?!" Keduanya kompak terkejut.

*Sepertinya akan ada romansa yang kedua setelah ini,* batin Pak Wijaya, tertawa geli.

"Ini Pak Wisnu, ayahnya Kinanti, besan Mas. Winda, Wisnu ini adik kandung saya."

Pak Wijaya mengkode sang besan untuk berkenalan. Pelan-pelan, Pak Wisnu mengulurkan tangannya, dan disambut oleh Bu Winda, meskipun malu-malu.

"Wisnu."

"Winda."

Tangan mereka saling berjabat, namun kenapa hati Winda yang bergetar? Pak Wijaya tersenyum geli, kepalanya menggeleng pelan.

*Cocok ini, sama-sama single*, batin pria paruh baya itu.

Menjelang malam, pesta usai. Lampu gantung di pelataran rumah besar itu menyala lembut, menambah suasana romantis. Para tamu mulai pamit satu per satu, beserta para kerabat Aditya dan Kinanti.

Kini saatnya Pak Wisnu pamit, melepaskan sang putri semata wayang pada lingkungan dan keluarga barunya. Bu Sarasvati yang duduk di samping Pak Wijaya menatapnya dengan senyum penuh pengertian.

"Kinanti anak yang baik, Pak Wisnu. Kami akan menjaganya seperti anak sendiri," katanya tulus.

Pak Wisnu mengangguk pelan. "Terima kasih, Nyonya Juragan. Semoga Tuhan membalas kebaikan Anda."

"Kamu tidak perlu risau, Wisnu. Jika Adi berbuat kasar, maka aku yang akan turun tangan langsung," ucap Pak Wijaya berwibawa.

"Terima kasih, Juragan," ucap Pak Wisnu.

"Nak, jaga diri baik-baik, ya," ucap Pak Wisnu sambil memeluk sang putri dengan sendu.

"Iya, Pak. Bapak hati-hati pulangnya," ucap Kinanti sedih.

Setelah berpamitan pada keluarga Wijaya, kini Pak Wisnu pulang ke rumah, diantar oleh Pak Surya, kerabat Pak Wijaya yang masih di sana. Pak Surya memang bertugas sebagai utusan keluarga mempelai pria saat ngunduh mantu, dan kini tugasnya mengantar Pak Wisnu kembali pulang.

Sampai di ambang pintu, Pak Wisnu bertemu Ibu Winda, adik Pak Wijaya.

"Mas," sapa Bu Winda, menatap sang kakak.

Pak Wijaya dibuat tersenyum kecil. Beliau melirik sekilas besannya yang menundukkan wajahnya.

*Menarik,* batin Pak Wijaya.

"Mas Jaya mau antar Pak Wisnu pulang, Win."

Bu Winda beralih menatap ayah Kinanti. Mengangguk pelan, ia berujar, "Oh, sudah mau pulang. Hati-hati, Pak Wisnu."

Pak Wisnu langsung mendongakkan wajahnya, menatap wanita seusianya itu yang tampak cantik sekali.

Pak Wijaya semakin mengulum senyumnya. Benar-benar jodoh tak ada yang tahu, ya?

"Iya, Bu Winda."

"Ehem. Kalau begitu, ayo Wisnu, silakan..." Pak Wijaya mengantar sang besan keluar, sedangkan Bu Winda sampai memutar badannya untuk terus memandang pria paruh baya berkemeja batik itu.

Pipinya terlihat bersemu. Senyum tertahannya tampak malu-malu terukir di bibir. Ia kembali teringat ingin mengecek sang putri, apakah sudah tidur. Kakinya kembali menuju kamarnya.

♛♜♛ ♛♜♛ ♛♜♛ ♛♜♛ ♛♜♛

😴 Teman Tidur di Tengah Malam

Setelah perpisahan ayahnya, Kinanti dan Aditya sudah melepaskan baju-baju pengantin. Apalagi Kinanti, pakaian yang ia gunakan cukup rumit dan hiasan di rambut terasa berat, belum lagi harus memakai heels yang tinggi. Kini, akhirnya mereka sudah berpakaian seperti biasanya.

Suaminya sedang keluar sebentar menemui teman yang terlambat hadir tadi. Kinanti lebih memilih berdiam di kamar sambil rebahan seusai mandi. Ia memakai daster tipis sepaha. Lekuk tubuhnya, terutama bagian dada, terlihat menonjol terbalut bra, dan selimut tebal menutupi sebatas perutnya.

Awalnya ia ingin rebahan saja untuk mengistirahatkan tubuh, namun karena kelelahan, meski belum sempat makan siang, wanita muda itu pun terlelap juga.

Tidur miring menghadap pintu, Kinanti menyelami alam mimpi. Sebelah tangannya sebagai bantal, tangan yang satunya menyentuh selimut di pinggangnya. Wajah cantik itu terlihat letih sekali, napasnya terdengar teratur.

Tak lama, pintu terbuka dari luar. Seorang pria berperawakan tinggi kekar masuk ke dalam. Bibirnya tersungging senyuman kecil. Menutup pintunya pelan, ia berjalan menuju ranjang. Meloloskan kaus yang ia pakai, terpampang badan atletisnya. Menyibak selimut perlahan, ia ikut bergabung di bawah selimut.

GREP!

Lengan kekarnya menyelip di sisi pinggang Kinanti, lalu mendekapnya erat. Wajahnya diposisikan di leher istrinya, sembari ikut memejamkan mata.

"Eeemmm,"

Kinanti terusik sedikit, merasa ada yang menimpa tubuhnya. Ia bergerak samar dan wajahnya menoleh ke samping.

"Mas?"

"Hmm..."

"Kapan masuk kamar? Tamunya sudah pulang semua?" tanya Kinanti lirih.

Aditya mengangguk sambil bergumam saja. Pria itu tampak ikut mengantuk.

"Mandi dulu, gih, Mas. Kan belum sempat mandi," pinta Kinanti.

"Cih, tidak usah, Sayang. Mas mau kelonin kamu saja," jawab Aditya.

Kinanti terkekeh geli. "Jorok, ih, tidak mandi," candanya. Aditya ikut terkekeh-kekeh.

Ia semakin menyerukkan wajahnya ke leher sang istri. "Meskipun tidak mandi, Mas tidak pernah bau, ya. Wangi terus."

Kinanti berdecak lirih. Tangannya mengelus lengan yang melilit pinggangnya itu.

"Aku capek banget. Tidur sebentar boleh, ya, Mas? Di bawah apa masih ada tamu yang baru datang?"

Aditya mencium pipi sang istri sebelum menjawabnya lembut, "Tidur saja, tidak apa-apa. Sudah diurus Ibu di bawah."

Kinanti pun mengangguk. Sungguh, ia tak tahan menahan kantuk.

"Mas Adi sudah tidak ke mana-mana lagi, kan?"

"Sudah tidak, Sayang. Kenapa?" sahut Aditya dengan suara beratnya saat memeluk tubuh istrinya.

"Temani aku tidur siang," bisik Kinanti malu-malu.

Aditya pun tersenyum. Tentu saja, tanpa disuruh pun ia akan ikut bergabung dengan sang istri.

"Mas kelonin," pria bertelanjang dada itu menyamankan posisi keduanya.

"Mau hadap Mas tidurnya?"

"Mau." Kinanti pun berbalik dan langsung memeluk tubuh suaminya. Lengannya sudah melingkar cantik di pinggang sang suami. Wajahnya sudah berada di dada bidang itu.

Hangat dan nyaman sekali.

CUP!

Aditya mencium kening istrinya sekilas.

"Tidur, ya. Mas di sini keloni kamu," punggung wanita muda itu terasa dibelai-belai.

Kinanti semakin jatuh cinta pada suaminya, Aditya, dengan segala tutur kata dan sifat lembutnya.

Tangan besar pria tampan itu terangkat membelai rambut sang istri penuh kasih. Sesekali ia mengecupnya juga.

Kinanti pun terlelap. Hembusan napas mulai teratur. Aditya menatap lekat sang istri. Aditya kembali mencium kening Kinanti sebelum akhirnya beranjak menuju kamar mandi.

Tak lama setelah selesai membersihkan diri, Aditya pun kembali memeluk erat istrinya hingga tertidur. Sepasang suami istri baru itu terlihat sangat mesra.

Bersambung__

____

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!