⚠️ ***+ | Kisah Cinta segitiga
Valencia kehormatannya direnggut, hatinya terbelah.
Valencia hancur saat kehormatannya direnggut oleh Ansel—pria yang hadir diantara cinta Valencia dan Zyro,. Namun Zyro, kekasihnya yang sangat mencintainya, tetap ingin menerima apa adanya dan ingin menikahinya.
Keduanya mengaku mencintainya, keduanya tak ada mau mengalah. Perkelahian sengit pun terjadi, hingga di batas keputusasaan, Valentina harus melukai dirinya sendiri hanya agar mereka mau berhenti...
Melihat wanita yang mereka cintai terbaring penuh darah, akhirnya kedua pria itu mengambil keputusan berat: mereka berdua akan menikahi Valen dan berjanji menjaganya bersama-sama.
Dua pria, satu wanita.
Akankah cinta bisa menyatukan mereka, atau malah membawa pada kehancuran yang lebih dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Wisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidur
Ansel melangkah masuk perlahan mendekati tempat tidur. Ia meraih tisu yang tersedia di meja samping ranjang, lalu melemparnya ke arah Zyro dengan nada suara yang tenang namun sedikit terdengar berat.
"Bersihkanlah pelurumu dikaki Valen, Zyro..." katanya singkat.
Setelah itu, Ansel mendekat ke sisi Valencia, menatap wajah wanita itu yang masih tampak terengah-engah dan bersemu merah karena kenikmatan. Tanpa banyak bicara, Ansel mulai mencium dan membelai wajah serta leher Valencia dengan penuh gairah dan keinginan yang sama besarnya.
"Apakah aku tidak mendapatkan mendapat kannya Valen?" bisiknya dengan nada manja namun menuntut, matanya menatap tajam namun penuh kasih sayang.
Zyro yang baru saja selesai membersihkan peluru pelurunya, menoleh dan berkata dengan nada tegas namun santai:
"Ansel, Valencia tidak ingin memiliki anak di luar ikatan pernikahan. Jangan sampai kau melakukan penyatuan dengannya. Dia sungguh-sungguh tidak ingin memiliki anak di luar pernikahan. Kalau kau tidak sanggup mengendalikan dirimu dan nafsumu sendiri, lebih baik jangan kau mulai membangkitkan has***t mu itu, apalagi jika kau tak bisa menahannya," tegur Zyro dengan nada mengingatkan.
Ansel tidak menjawab, ia hanya tersenyum tipis sambil terus melumat bibir dan leher Valencia dengan penuh semangat.
"Tenang saja... akan aku ingat itu. Aku bisa mengendalikan diriku sebaik-baiknya," jawabnya pendek, namun gerakannya semakin menggebu dan penuh gairah.
Setelah memastikan semuanya bersih dan rapi, Zyro bangkit menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya sepenuhnya sebelum akhirnya beristirahat nanti.
Sementara itu, Ansel semakin tidak bisa menahan gairahnya. Ia menghisap dan membelai setiap lekuk tubuh Valencia dengan penuh kekaguman dan keinginan, menjelajahi setiap inci kulit wanita itu dengan bibir dan tangannya yang lembut namun hangat. Ia melepaskan sedikit pakaiannya agar merasa lebih leluasa dan nyaman, membuka kancing baju bagian atasnya, dan melepas celananya , sementara tangannya sendiri sibuk mengendalikan dan menyalurkan hasratnya sendiri seiring dengan kenikmatan yang ia berikan dan ia rasakan bersama Valencia. Semuanya dilakukan dengan penuh perasaan, romantis, dan tetap menjaga batas yang sudah disepakati bersama.
Akhirnya, tubuh Valencia kembali menegang kaku, napasnya tertahan sejenak sebelum lolos desahan panjang yang penuh kenikmatan. Kakinya kembali meremas kuat bahu Ansel, dan kali ini ia mencapai puncaknya untuk kedua kalinya dengan perasaan yang sama dahsyatnya. Di saat yang bersamaan, Ansel pun ikut melepaskan segala hasratnya. Semburan hangat itu keluar deras dan mengenai perut serta bagian dalam paha Valencia, membasahi kulit halus wanita itu.
Namun, bukannya segera beranjak atau membersihkan diri, Ansel justru tetap bertahan di sana dengan tenang. Ia meninggikan bantal di kepalanya, melanjutkan kecupan dan hisapan lembut di puncak dada Valencia seolah tidak ada apa-apa yang terjadi. dia memposisikan agar wanita itu bisa berbaring dengan nyaman dan tidak harus tidur dalam posisi menyamping. Valencia sendiri sudah terlelap pulas, napasnya terdengar teratur dan lembut, tanda bahwa ia benar-benar kelelahan setelah menerima sentuhan dan kasih sayang dari kedua pria yang dicintainya itu. Wajahnya tampak damai dan bahagia dalam tidurnya.
Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Zyro keluar dengan keadaan sudah bersih, rambutnya sedikit basah dan ia hanya mengenakan handuk di pinggangnya. Saat matanya menangkap pemandangan di atas ranjang itu, wajahnya seketika berubah tak percaya.
"Kau menjijikkan, Ansel," ujar Zyro dengan nada ketus dan tajam.
"Setidaknya kau, bersihkan dulu sisa 'peluru' itu sebelum kau terus menempel padanya.?"
Tanpa menunggu jawaban, Zyro melepaskan handuk kecil yang tadi ia gunakan untuk mengeringkan wajah dan tangannya. Dengan gerakan cepat dan tepat, ia melemparkan handuk itu ke arah Ansel, dan kain itu mendarat pas persis menutupi bagian bawah tubuh Ansel, tepat di atas rudalnya yang masih tampak keras dan basah oleh cairan yang baru saja dikeluarkannya.
"Bersihkan pelurumu di paha Valen sebelum dia bangun nanti dan merasa tidak nyaman," tambah Zyro dengan nada tegas, lalu ia berjalan mendekati sisi ranjang untuk berbaring di sebelah Valencia, menatap Ansel dengan pandangan yang masih sedikit sinis namun sebenarnya sudah biasa dengan kelakuan Ansel.
Ansel mengulurkan tangannya, meraih tisu yang tergeletak tak jauh dari jangkauannya. Ia sama sekali tidak beranjak dari posisinya, hanya sedikit menegakkan badannya sekadar untuk membersihkan cairan yang keluar dan membasahi paha Valencia. Setelah merasa cukup bersih, ia kembali menurunkan badannya dan melanjutkan kegiatannya semula, kembali menempelkan bibirnya di puncak gunung milik Valencia, menghisapnya dengan lembut dan penuh kenyamanan. Tak lama kemudian, karena rasa lelah dan kantuk yang menyerang, napas Ansel mulai teratur dan berat, hingga akhirnya ia pun terlelap dalam posisi itu, masih menempel erat pada tubuh wanita itu.
Sementara itu, Zyro yang sejak tadi berbaring memeluk pinggang Valencia dengan nyaman, mendengar suara dengkuran halus yang keluar dari mulut Ansel. Ia tersenyum kecil, lalu perlahan dan sangat hati-hati, tangannya mulai bekerja. Ia mencabut puncak gunung Valencia yang masih terjepit dan dihisap lembut oleh bibir Ansel, melakukannya dengan sangat pelan agar tidak membangunkan keduanya. Setelah terlepas, Zyro perlahan menggeser tubuh Valencia sedikit demi sedikit hingga berbaring menyamping menghadap ke arahnya.
Ia mengambil guling dan meletakkannya rapat di belakang punggung Valencia sebagai ganjalan agar posisinya kokoh dan tidak mudah berubah kembali. Kemudian, ia mengambil bantal yang ada di sampingnya dan menaruhnya di bagian depan dada Valencia, sehingga secara alami tangan wanita itu bergerak memeluk bantal tersebut dengan erat seolah memeluk dirinya sendiri. Setelah memastikan bahwa posisi tubuh Valencia sudah nyaman, aman, dan tidak akan membuatnya pegal saat bangun nanti, barulah Zyro mengatur posisinya sendiri.
Zyro memposisikan tubuhnya lebih rendah, kepalanya menunduk mengarah tepat ke lembah tersembunyi milik Valencia yang masih terlihat basah dan memikat. Ia dengan lembut mengangkat kedua kaki jenjang wanita itu dan meletakkannya di atas bahu dan kepalanya, sementara tangannya erat memeluk bagian kaki bawah Valencia agar tetap dalam posisi nyaman. Tanpa membuang waktu, ia mendekatkan wajahnya, lalu mencium dan menghisap bagian paling sensitif itu dengan lembut dan penuh rasa cinta, seolah menandai bahwa bagian itu juga miliknya. Setelah merasa puas menumpahkan kasih sayangnya dan rasa rindunya, akhirnya Zyro pun ikut terlelap dalam posisi itu, tenggelam dalam mimpi indah bersama wanita yang dicintainya.
Menjelang dini hari, saat suasana masih sangat gelap dan sunyi, Ansel tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Matanya masih sayu, namun seketika ia merasa kesal dan geram saat mendapati posisi Valencia sudah berubah total dari yang terakhir kali ia ingat. Ia mengerutkan keningnya, menatap tajam ke arah Zyro yang masih tertidur pulas di bagian bawah sana. Tanpa bersuara, ia bangkit perlahan dan menggeser tubuhnya mendekat ke arah Valencia.
Dengan gerakan yang sangat pelan dan hati-hati, ia perlahan menarik bantal yang sedang dipeluk erat oleh Valencia, lalu menggantikan posisi bantal itu dengan tubuhnya sendiri. Ia membaringkan dirinya menyamping dengan posisi terbalik dari sebelumnya, hingga dada bidangnya kini berada tepat di hadapan wajah Valencia. Tangannya melingkar erat di pundak wanita itu, menarik tubuhnya agar menempel sempurna pada tubuhnya. Dan tak lama kemudian, bibirnya kembali mencari puncak gunung milik Valencia, men*usu dan menikmati kelembutan serta kehangatan itu kembali dengan puas, seolah menuntut haknya yang sempat terambil. Tubuhnya meringkuk dihadapan wajah Valencia dengan , memastikan bahwa saat ini wanita itu benar-benar berada dalam posisi nyaman hingga pagi tiba.