NovelToon NovelToon
Ibu Susu Yang Tak Pernah Dipilih

Ibu Susu Yang Tak Pernah Dipilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu susu / Duda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Puji170

Empat tahun Inara menjadi ibu susu bagi Zidan. Selama itu pula, ia mendapatkan cinta dari Reno, ayah Zidan, bahkan mereka berencana untuk menikah.

Namun semuanya berubah saat Zoya, mantan istri Reno sekaligus ibu kandung Zidan, kembali dengan niat menebus kesalahan. Sejak saat itu, kehidupan Reno dan Zidan perlahan berpusat pada Zoya. Sementara Inara justru merasa tersisih dan selalu menjadi pihak yang disalahkan.

Inara tidak pernah tahu di mana letak kesalahannya, hingga membuat Reno yang dulu mencintainya kini berubah dingin.

Apa yang sebenarnya terjadi? Akankah Inara memilih bertahan atau justru akan pergi karena merasa sudah tidak dipilih lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Tangan Reno langsung bergetar setelah tamparan itu mendarat di pipi Inara. Suara nyaring yang sempat menggema di ruangan mendadak berubah menjadi kesunyian yang menyesakkan. Bahkan Reno sendiri seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lakukan. Untuk pertama kalinya, tangannya terangkat pada wanita yang selama ini selalu ia cintai.

"Ara, aku… maaf, ini—"

Kalimat itu berhenti begitu saja. Tenggorokannya terasa tercekat saat Inara perlahan menoleh ke arahnya.

Mata wanita itu mulai berkaca-kaca. Namun yang membuat dada Reno semakin sesak bukanlah air matanya, melainkan tatapan di dalamnya. Ada luka, kecewa, dan sesuatu yang perlahan berubah menjadi kebencian.

Inara tidak langsung menangis. Ia hanya memegangi pipinya yang memerah sambil menatap Reno cukup lama, seolah masih mencoba menerima kenyataan bahwa lelaki yang selama ini selalu ia pertahankan benar-benar menamparnya demi wanita lain.

Lalu perlahan, tawa kecil keluar dari bibirnya. Pelan dan lirih, tetapi justru terdengar jauh lebih menyakitkan daripada tangisan.

"Jadi sekarang… kamu sampai menampar aku?" suaranya bergetar halus.

"Ara, dengarkan aku dulu—"

"Apa lagi yang harus aku dengar, Mas?" potong Inara cepat. Napasnya mulai tidak teratur. "Dari tadi aku terus mencoba jelasin semuanya, tapi kamu bahkan gak pernah benar-benar mau dengar."

Reno terdiam tanpa jawaban.

Di belakangnya, Zoya perlahan menundukkan wajah. Sesaat sudut bibirnya sempat bergerak tipis sebelum ia kembali memasang ekspresi cemas.

"Inara, jangan seperti ini," ucapnya lembut. "Reno cuma emosi karena mikirin Zidan. Dia juga gak suka kalau ada yang nuduh sembarangan."

Ucapan itu langsung membuat Inara menoleh tajam. "Diam kamu," sahutnya dingin. "Kamu paling tahu semua ini terjadi karena ulah siapa."

Wajah Zoya seketika berubah. Bibirnya bergetar kecil seolah tersakiti oleh ucapan itu.

"Inara, kenapa kamu terus nyalahin aku?" tanyanya lirih. "Aku ini ibunya Zidan. Gak mungkin aku sengaja nyakitin anakku sendiri."

Matanya mulai dipenuhi air mata, membuat dirinya terlihat begitu rapuh di hadapan Reno.

"Aku cuma pengen dekat lagi sama anakku… itu aja."

Reno langsung menoleh ke arah Zoya. Melihat wanita itu menahan tangis, rahangnya kembali mengeras.

"Sudah cukup, Ara," ucapnya dingin. "Jangan semua kesalahan dilempar ke Zoya."

Inara tertawa kecil lagi, tetapi kali ini terdengar begitu pahit. "Tentu saja," gumamnya pelan. "Kalau soal aku, kamu memang gak pernah mau cari tahu."

Ruangan itu kembali hening. Hanya suara monitor dan napas tertahan yang terasa memenuhi udara.

"Kalian mau percaya atau enggak, terserah," lanjut Inara dengan suara lelah. "Tapi satu hal yang harus kalian tahu… aku gak pernah nyakitin Zidan."

Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga. "Karena kalau aku memang mau nyakitin dia, aku gak akan begadang semalaman buat jagain dia waktu kalian semua gak ada di sisinya."

Kalimat itu membuat Reno sedikit mengernyit. "Apa maksud kamu?" tanyanya pelan.

Namun sebelum Inara sempat menjawab, Zoya buru-buru memegang lengan Reno. "Ren… jangan bahas itu dulu," ucapnya pelan, seolah sedang menenangkan keadaan. "Zidan masih sakit."

Sikapnya terlihat lembut dan penuh perhatian, tetapi justru membuat Inara sadar kalau wanita itu sedang berusaha memotong arah pembicaraan.

Reno tampak ragu sesaat, tetapi perhatiannya buyar ketika kelopak mata Zidan mulai bergerak perlahan.

"Zidan…" panggil Zoya cepat.

Reno langsung menghampiri ranjang sang anak dengan kepanikan.

Zidan membuka matanya perlahan. Wajah kecilnya tampak pucat, bibirnya kering, sementara selang infus masih menempel di tangan mungilnya. Pandangannya sempat kosong beberapa detik sebelum akhirnya berhenti pada sosok Inara yang berdiri tidak jauh dari sana dengan pipi merah bekas tamparan.

"Mama…" gumamnya lirih.

Napas Inara langsung tertahan mendengar panggilan itu. Namun sebelum secercah harapan sempat tumbuh di hatinya, tangan kecil Zidan justru terangkat lemah ke arahnya.

"Mama jahat…"

Kalimat sederhana itu menghantam Inara jauh lebih keras daripada tamparan Reno sebelumnya. Dadanya langsung terasa sesak hingga ia harus menahan napas beberapa detik. Jemarinya mengepal kecil di sisi tubuh, berusaha menahan dirinya agar tidak benar-benar runtuh di depan anak itu.

Sementara itu, Zoya buru-buru mendekat ke sisi ranjang dan menggenggam tangan kecil Zidan dengan lembut. "Iya, sayang. Sudah, jangan bicara dulu ya," bisiknya sambil mengusap rambut anak itu penuh kasih.

Namun saat matanya sempat melirik ke arah Inara, ada kepuasan tipis yang gagal ia sembunyikan sepenuhnya.

Reno yang melihat semuanya hanya bisa diam. Entah kenapa, untuk pertama kalinya ia merasa ada sesuatu yang janggal dari semua ini, tetapi pikirannya terlalu kacau untuk memahami semuanya.

"Ara…" panggil Reno pelan. "Sekarang pembelaan apa lagi yang mau kamu katakan?"

Inara tidak langsung menjawab. Ia melangkah perlahan mendekati ranjang Zidan, menatap anak itu dengan mata yang dipenuhi harapan kecil yang tersisa. Ia berharap sekali saja hanya ingin sekali saja anak itu melihatnya seperti dulu. Namun harapan itu kembali runtuh ketika Zidan justru memalingkan wajahnya.

"Idan ndak mau Mama lagi," ucapnya serak. "Idan benci Mama."

Tubuh Inara langsung membeku. Tangannya yang tadi sempat terangkat untuk mengusap rambut Zidan perlahan turun kembali. Rasanya seperti ada sesuatu yang diremas paksa di dalam dadanya.

Selama empat tahun, anak itu selalu mencarinya, menangis saat jauh darinya, dan tertidur dalam pelukannya. Namun sekarang, bahkan melihat wajahnya saja Zidan tidak mau. Air mata perlahan jatuh di pipinya. Inara tersenyum kecil meski senyum itu terlihat begitu rapuh.

"Iya…" lirihnya pelan. "Kalau itu bikin Zidan lebih tenang, Mama gak apa-apa."

Reno menatap Inara tanpa berkedip. Untuk pertama kalinya, melihat wanita itu berdiri sendirian seperti sekarang justru membuat dadanya terasa semakin berat.

Di sisi lain, Zoya kembali menggenggam tangan Zidan erat sambil mengusap punggung tangan kecil itu perlahan.

"Inara," ucapnya lembut. "Kalau memang kamu sayang sama Zidan, mungkin sekarang yang dia butuhin itu ketenangan dulu."

Kalimat itu terdengar halus, tetapi terasa seperti pisau yang ditusukkan perlahan tepat ke luka yang masih terbuka.

Inara menatap Zoya beberapa saat sebelum kembali mengalihkan pandangannya pada Zidan. Tatapannya cukup lama pada wajah kecil yang selama ini sudah ia anggap anaknya sendiri.

"Mama cuma mau bilang satu hal," ucapnya pelan dengan suara yang mulai melemah. "Mau Zidan marah sama Mama, benci sama Mama, atau nanti gak mau ketemu Mama lagi… Mama tetap sayang sama Zidan."

Setelah mengatakan itu, Inara perlahan mundur. Kali ini ia tidak lagi mencoba menjelaskan apa pun, tidak lagi berusaha membuat siapa pun percaya padanya. Tatapan matanya yang sejak tadi masih bertahan perlahan berubah kosong, seolah ia akhirnya mulai lelah memperjuangkan sesuatu sendirian sementara orang-orang yang paling ia sayangi justru berdiri di sisi yang berlawanan.

1
Anonim
Ambil aja reno sama kamu zoya,inara mah sama altaf aja.buat inara sama altaf thor biar bisa bareng baba
Anonim
Semangat inara tinggalkan reno,ayo gas altaf pepet terus inara
Anonim
Lanjut up thor banyakan dong seru ,semangat thor
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: siap kak, masih satu bab 1 lagi tapi review
total 1 replies
Dew666
🩵🩵🩵🩵
Anonim
Dih jangan mau inara emang maaf doang bakal kelar gitu aja laki g jelas
Anonim
Lah emang si zoya belum cerai sama di reno?aneh banget si reno mau ngawinin si inara tapi belum cerai laki laki g jelas
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: nah iya, 4 th pergi jadi udh cerai belum ya 🤭
total 1 replies
Anonim
Jangan bikin inara balik sama reno y thor biarin aja si szidan sama emak bapak nya
A'ra
Cepet up lagi yah kak dan semangat nulisny 🥰🫶🏻💪🏻💪🏻
Anonim
Jangan sampe inara balik sama reno ya thor g iklas aku,biar inara jadi ibu sambung baba aja
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: 🤭🤭🤭 coba tanya inara apa dia mau atau gak kak
total 1 replies
Dew666
💝💝💝
Anonim
Inara ko bloon sih menye menye banget jadi cewe,laki masih demen ama mantan ko masih aja di pikirin
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: sabar kak, dia gak bodoh, hanya terbawa perasaan🤭
total 1 replies
Dew666
👄👄👄👄
Dew666
Pigi aja drpd jd bulan bulanan mereka huffff
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: hooh, mending pergi ya kak
total 1 replies
Dew666
☀️☀️☀️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!