IG & Tiktok : Tulisan_Nic
Naufal Adhitama (32), dokter anestesi yang hangat dan mudah bergaul, dikenal sebagai playboy karena sering dekat dengan banyak perempuan.
Meski begitu, ia percaya pernikahan harus berlandaskan cinta—bukan sekadar komitmen tanpa rasa.
Hingga ia bertemu Anin Ratri Maharani (27), perempuan dengan luka masa lalu dan trauma pada pria playboy akibat keluarga yang hancur.
Untuk pertama kalinya, Naufal ingin bertahan.
Namun saat cinta itu mulai tumbuh dan mereka ingin melangkah ke pernikahan, masa lalu dan rasa takut justru menjadi ujian terbesar.
Bisakah cinta mereka bertahan, atau justru hancur sebelum benar-benar dimulai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Anin duduk di antara Paulina dan Regina. sedang Naufal di seberang mereka. Tepat berhadapan dengan Anin.
Tak lama seorang gadis berambut ikal, dengan wajah oriental datang mendekat. "Apa kabar Tante Regina, Om Frans?" sapanya.
Regina dan Frans mengamati dengan seksama. Seperti tidak asing, tapi ia bingung ini siapa?
"Mama, inget nggak sama dia?" ujar Naufal antusias.
"Siapa? Mama merasa wajahnya tidak asing?" tanya Regina penasaran.
"Dia Anes Ma, Zifa Arnesta Darmawan. Anaknya Om Darmawan sama Tante Amara!" terang Naufal.
Regina sontak menutup mulutnya, bola matanya membulat, semakin ia tatap Zifa dengan lekat.
"Ya Allah, Zifa! Pa...di Zifa Pa" pekik Regina pada suaminya.
"Anaknya Darmawan? Ya ...Allah bagaimana bisa. Aku rindu dengan kalian. Sini nak, duduk lah." timpal Frans tak kalah antusiasnya.
"Tunggu, dia Zifa. Anaknya Darmawan Bintara itu kan? Yang tim medis TNI AD?" tebak Megan.
Zifa mengangguk dengan senyum simpul.
"Ya Allah, mana Papa-Mamamu? Kami rindu dengan mereka." ujar Megan.
"Tunggu, ini Darmawan yang dulu di sebelah rumahnya Adi kan?" ujar Jeremy.
"Iya benar, Darmawan itu. Yang bantu kamu keluarin peluru pas kamu berburu babi hutan dulu." kenang Megan.
Jeremy mengangguk. "Ya...Allah, aku banyak hutang budi dengannya. Aku ingin sekali bertemu dengannya." serunya.
"Hei kalian, jangan hujani gadis manis ini dengan pertanyaan yang begitu banyak. Beri dia waktu untuk bernafas." Sela Fredrick.
"Tidak apa-apa Om, Aku juga senang sekali akhirnya bisa bertemu lagi dengan Om dan Tante semua. Sayangnya Papa sama Mama sedang ada urusan di Balik Papan. Jadi tidak bisa hadir di pernikahan Mas Albie dan Qistina ini." terang Zifa, dengan senyum sopannya.
"Ya Allah, rindu sekali rasanya. Tapi nggak apa-apa, mungkin sekarang kita belum bisa bertemu. Tapi nanti kita akan atur jadwal untuk bisa bertemu dengan Papa dan Mama mu. Ucapkan salam kami untuk ya, ya!" ujar Regina.
"Tentu Tante, nanti akan aku sampaikan." timpal Zifa.
Lantas Zifa melirik Anin yang sudah duduk diantara Regina dan Paulina. Terbersit di pikirannya untuk sekadar mencairkan suasana dengan berbasa-basi sedikit.
"Wah, sepertinya sebentar lagi, bakal ada yang nyusul Mas Albie dan Qistina nih?" seloroh Zifa, seraya menaikkan kedua alisnya.
Seketika Anin dan Naufal berpandangan. Cemas, jika Zifa sampai kelepasan membicarakan hubungan mereka di depan semuanya.
"Siapa maksud kamu , Sayang?" tanya Paulina, penasaran.
Naufal semakin gelisah, lamat-lamat ia mendengar suara MC yang mengatur jalannya acara sungkeman untuk pengantin. Ia pun mendapatkan ide, agar Zifa jangan sampai membocorkan semuanya..
"Itu, Bang Naufal dan A..."
"Eh...Zifa kamu tuh, sebagai sahabatnya Qistina. Kamu dampingi Qistina buat acara sungkeman sana!" potong Naufal cepat.
Dan Anin langsung bernafas lega.
"Ha? Emang aku yang di panggil buat dampingin? Bukannya keluarga." sanggah Zifa.
"Enggak, Qistina kan keluarganya cuma orang tuannya doang. Jadi kamu lah yang nemenin." terang Naufal, padahal akal-akalan nya saja.
"Kamu sahabatan sama Qistina ternyata?" Regina bertanya.
"Iya Tante, aku dan Qistina satu fakultas." timpal Zifa.
"Ya udah sana sayang, kasihan juga Qistina kalau tidak ada pendampingnya." tutur Paulina.
Zifa pun berdiri, "Ya sudah, aku kesana dulu ya." lantas melangkah menuju pelaminan.
"Hampir aja" gumam Naufal yang ia kira akan di dengarnya sendiri.
"Apa yang hampir saja, Naf?" tegur Regina.
"Ha? Oh...nggak ada. Nggak ada apa-apa." dalihnya.
"Kamu tuh kenapa aneh banget deh" gerutu Regina.
Prosesi sungkeman kedua pengantin itu berlangsung khidmat. Semua mata tertuju dengan megahnya prosesi. Hampir semua tamu undangan berdecak kagum dengan kemewahannya.
Tatapan Naufal dan Anin bertemu, masing-masing saling melemparkan senyum. Tak cukup itu, Naufal mengangkat tangannya, lantas menautkan jari telunjuk dengan jeri jempolnya, dan tak lupa mengedipkan sebelah matanya. Manis. Anin suka dengan perlakuannya. Hingga ia tak tahan untuk tidak menahan tawa.
Setelah prosesi itu selesai, entah arah dari mana. Ada seorang gadis yang kini mendekati meja mereka.
"Hai Elena, sudah dari tadi kamu di sini? Kenapa kami baru melihat kamu?" Megan menyapanya.
"Nggak kok Tante aku baru saja datang." Elena menjawab, lantas duduk bergabung bersama mereka.
Namun semua mata menatap heran padanya. Pasalnya, apa yang di kenakan oleh Elena justru seperti orang yang sedang dalam suasana duka. Memakai pakaian serba hitam, lengkap dengan kacamatanya.
Namun Elena sekilas melirik Naufal, ia kenal Naufal. Bahkan jauh sebelum mengenal Albie dia sebenarnya sudah mengincar Naufal untuk ia jadikan pacar. Menurutnya Naufal lebih mudah di dekati, ketimbang Albie yang terkesan kaku dan karismatik itu. Ia pun ingin melancarkan aksinya, dengan mendekati Regina dan teman-teman nya sebagai langkah awalnya.
Elena membuka kaca mata hitamnya, dan tersenyum manis pada Regina.
"Tante Regina kapan sampai Indonesia?" tanyanya di buat-buat selembut mungkin.
"Oh...kemarin, Tante dadakan terbang kemari. Karna baru mendapat kabar dari Om Adi, bahwa hari ini Albie menikah. Kamu sendiri? kamu baru pulang dari Ausy kan?" timpal Regina ramah.
"Iya Tante, tapi sepertinya aku sudah ingin menetap di Indonesia saja." sahut Elena.
"Iya kah? Kenapa?" Regina penasaran.
"Karna, ehm...di sini ada Naufal" jawab Elena terus terang.
Sontak membuat Naufal terbatuk-batuk. Dan Regina cekatan menyodorkan minum padanya. "Kamu nih kenapa sih? Dari tadi perasaan keselek mulu?"
Naufal hanya menggeleng, dan menatap Anin yang yang mulai menautkan ujung alisnya.
"Wah bagus, jadi Naufal ada temannya. Tante suka." timpal Regina, yang mulai khawatir dengan dugaan Naufal yang menyukai Albie. Setidaknya, jika bersama dengan Elena, ia tidak khawatir soal penyimpanan penyuka sesama jenis.
Bagaimana dengan perasaan Anin?
Ia menahan kesal, karna menurutnya Naufal justru nyaman-nyaman saja duduk bersebelahan dengan Elena. Dan bukan hanya itu, ia juga tidak suka melihat jari Elena menyentuh lengan Naufal. Seketika ia menatap Naufal dengan sangat tajam.
Naufal sendiri tidak tahu arti tatapan itu, lantas ia melirik, bahwa jari Elena sudah menyentuh lengannya. Secepat kilat Naufal menarik lengannya, dan melipatnya di depan dada.
"Naf, kamu ke sini bawa mobil sendiri kan?" tanya Regina tiba-tiba.
"Ha? Iya!" Naufal menjawab singkat. Karna memang fokusnya tengah terpecah sekarang.
"Kamu Elena? Bawa mobil sendiri juga?"
"Nggak sih Tan, tadi aku ke sininya pake taksi online. Soalnya supir aku lagi cuti, istrinya melahirkan." Elena mana mungkin melewatkan kesempatan, yang di berikan Regina padanya.
"Kalau begitu, nanti pulang bareng Naufal aja. Ya kan Naf, kamu anterin tuh Elena, kasian gadis cantik harus pulang sendiri." timpal Regina, yang membuat Naufal mendadak mual.
"Itu, aku...nggak bisa. Mau ke rumah sakit langsung." tolak Naufal.
"Rumah aku kan se-arah sama Rumah sakit Pusat. Kamu lupa?" tanya Elena.
Naufal terkesiap, bingung mau kasih alasan apa. Namun tatapannya selalu melirik ke arah kekasihnya.
Tentu Anin tidak baik-baik saja, ada nyala api yang berkobar-kobar di dadanya. Siap di muntahkan kalau saja sampai Naufal mengantar Elena pulang.
"Nggak, aku lebih suka pulang sendiri. Kamu naik taksi aja. Aku nggak bisa satu mobil sama perempuan." dalih Naufal asal-asalan.
Tapi jawaban ini justru meresahkan Regina. Apa sebegininya Naufal antipati dengan perempuan? Oh...astaga!
"Udah, kamu anter aja kenapa sih Naf." titah Regina.
"Tapi Ma..."
"Nggak, sekali ini aja kamu turutin perintah Mama, oke?"
Naufal berdecak, tentu ia tidak terima. Terlebih kini ia sedang sangat mengkhawatirkan kekasihnya. Karna sedari tadi kobaran api di dada Anin sudah terpancar jelas di mata. Naufal tidak sanggup jika harus menghadapinya, karna ia begitu cemas dengan kemungkinan api itu menggosongkan hubungan mereka, hanya karna pasal Elena.
'Oh...tolong lah!'
*
*
*
~Salam hangat dari Penulis🤍