Ana—si “Jutek" cantik yang keras kepala—tidak pernah takut pada siapa pun di kampus. Kecuali satu orang yang benar-benar membuatnya naik darah: **Adi**, dosen muda yang terkenal killer, dingin, dan terlalu sexy untuk diabaikan.
Pertemuan mereka selalu penuh ketegangan—tatapan tajam, debat panas di kelas, dan permainan kecil yang hanya mereka berdua pahami.
Ana yakin ia membenci Adi.
Adi justru menikmati setiap detik perlawanan itu.
Namun di balik kebencian yang keras dan gengsi yang tinggi, ada sesuatu yang perlahan tumbuh—**panas, berbahaya, dan semakin sulit disembunyikan.**
Karena kadang…
orang yang paling ingin kita lawan adalah orang yang paling membuat jantung kita berdebar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HARI HARI BIASA
Hari-hari setelah pertemuan tak terduga di Perpustakaan itu berlalu dengan ritme yang tampak normal, namun ada getaran bawah tanah yang mulai merubah atmosfer kampus —setidaknya bagi Ana.
Bagi mahasiwa lain, gedung fakultas tetaplah labirin tugas yang menyesakkan. Kantin tetap bising dengan keluhan soal IPK. Dan kelas Psikologi Sosial? Kelas itu tetap menjadi "panggung horor" bagi sebagian besar penghuninya.
Adi Pratama masih mempertahankan reputasinya sebagai algojo akademis. Ia mengajar dengan gaya yang konsisten: tenang, tajam, dan memiliki alergi akut terhadap jawaban yang setengah matang apalagi jawaban yang "yang penting bunyi".
Di dalam kelas, Adi jarang sekali menaikkan nada bicaranya. Namun, justru keheningan yang ia ciptakan di sela-sela penjelasan itulah yang membuat bulu kuduk mahasiswa merinding disko.
Biasanya, ketika Adi berhenti menulis di papan tulis, meletakkan spidolnya dengan bunyi tek yang pelan namun terdengar bagaikan lonceng kematian. Saat ia berbalik dan memandangi seisi ruangan dengan tatapan menyelidiknya, seketika itu pula terjadi gerakan refleks massal yang sangat dramatis.
Ada yang mendadak sangat sibuk mencatat, meskipun pulpennya sudah kehabisan tinta sejak zaman prasejarah. Ada yang tiba-tiba menatap layar laptop dengan dahi berkerut, seolah-olah sedang memecahkan kode enkripsi nuklir, padahal cuma menatap wallpaper kosong. Ada pula yang mendadak sangat tertarik mempelajari serat kayu meja. Semua kepala tertunduk, merapal doa yang sama dalam hati: Semoga bukan saya. Ya Tuhan, jangan saya. Saya belum nikah.
Namun, seperti sebuah hukum alam yang sudah terprediksi, bibir Adi akan membentuk satu nama yang selalu sama.
"Ana."
Suara itu rendah, namun bergema di setiap sudut kelas yang senyap. Ana memejamkan mata sesaat. Sial, radar 'unik' pria ini memang nggak pernah meleset, batinnya merana
*
Duel Intelektual di Barisan Tengah
Beberapa kepala langsung menoleh serempak ke arah barisan tengah, seolah ada magnet yang menarik leher mereka. Ana, yang sejak tadi memang sudah waspada, menghentikan gerakan pulpennya. Ia menarik napas pendek—bukan karena takut, tapi karena ia tahu "ritual" ini akan memakan waktu.
Ia mengangkat kepalanya perlahan. Tatapannya langsung terkunci pada sepasang mata di balik kacamata tipis itu. Adi berdiri di depan kelas, menyandarkan pinggulnya di tepi meja dosen sambil memegang spidol, menunggunya dengan ekspresi yang sulit dibaca.
"Saya mau dengar pendapat kamu soal kegagalan teori strukturasi dalam menjelaskan fenomena perlawanan akar rumput yang baru saja kita bahas," kata Adi tanpa basa-basi.
Ana berdiri. Ia merapikan sedikit duduknya, memberikan kesan bahwa ia siap untuk meladeni tantangan itu. Di wajahnya, terlukis ekspresi yang sudah sangat familiar bagi teman-teman sekelasnya: sedikit kesal, namun ada api pembangkangan yang menyala.
"Bapak mau pendapat yang jujur atau yang sekadar bikin Bapak senang?" tanya Ana santai, suaranya jernih dan berani.
Beberapa mahasiswa di barisan depan langsung menutup mulut, menahan tawa yang hampir meledak. Di barisan belakang, bisik-bisik mulai terdengar. "Wah, mulai lagi nih debat panas," bisik seorang mahasiswa pada temannya.
Adi menyipitkan mata sedikit, namun ada binar ketertarikan yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya. "Saya mau pendapat yang masuk akal, Ana."
Ana mengangkat alisnya, seolah meremehkan tantangan itu. "Berarti yang jujur."
Adi tersenyum tipis—senyum yang bagi orang lain mungkin terlihat dingin, tapi bagi Ana, itu adalah undangan untuk berduel. "Terserah kamu."
Diskusi pun meledak. Ana mulai membedah teori tersebut dengan argumen yang tidak main-main. Ia tidak hanya mengutip buku teks, tapi membawa contoh-contoh nyata yang sering ia diskusikan di kafe atau ia baca dari literatur luar.
Adi tidak tinggal diam. Ia memotong penjelasan Ana dengan pertanyaan-pertanyaan jebakan.
"Kenapa kamu berani sampai pada kesimpulan seradikal itu?"
"Kalau teori ini kamu anggap usang, lantas apa penggantinya yang menurutmu masih relevan dengan Psikolog kita hari ini?"
Nada suara mereka tetap serius.
Argumen tetap tajam dan berat.
Namun, ada sesuatu yang berbeda sekarang. Ada frekuensi komunikasi yang tidak tertangkap oleh mahasiswa lain. Di sela-sela debat itu, Adi beberapa kali menyeringai kecil, jenis seringai yang menunjukkan kekaguman terselubung.
Dan Ana? Ia membalas dengan ekspresi sinis, sesekali memutar bola mata atau memberikan senyum miring yang hampir terlihat seperti sedang meledek sang dosen.
Mereka tidak lagi terlihat seperti dosen yang sedang menginterogasi mahasiswa malang. Mereka terlihat seperti dua orang yang sedang menikmati sebuah percakapan intelektual yang sangat privat di tengah keramaian.
*
Radar Mahasiswa Favorit?
Di sela-sela diskusi panas Adi dan Ana, temna-teman Ana barisan belakang, Andini, Tya dan kini ada Maya ditengah-tengah mereka saling bertukar pandang dengan dahi berkerut.
"Perasaan tiap kelas selalu Ana ya yang dipanggil," bisik Maya pelan.
"Iya, Pak Adi kayak punya radar khusus buat dia," balas Tya.
"Radar mahasiswa favorit atau radar korban tetap nih?" Celetuk Andini, mencoba meramaikan suasana.
"Entahlah, tapi cara mereka ngomong... kayak nggak ada jaraknya ya?," Jawab Maya mencoba menganalisis.
Setelah Ana menyelesaikan argumen terakhirnya yang cukup telak, Adi mengangguk kecil. Ia terdiam sejenak, membiarkan poin-poin Ana menggantung di udara kelas.
"Lumayan," kata Adi akhirnya, lalu berbalik untuk menulis sesuatu di papan tulis.
Ana langsung mendengus keras, cukup untuk didengar oleh barisan depan. "Cuma lumayan? Tadi Bapak bilang analisis saya tajam."
Adi menoleh sedikit, sudut bibirnya terangkat. "Untuk ukuran mahasiswa tingkat akhir seperti kamu, jawaban tadi itu... bagus."
Ana menyilangkan tangan di dada, tidak puas dengan validasi setengah hati itu. "Itu pujian atau sindiran halus, Pak?"
"Kamu bebas menafsirkannya sesuka hati," jawab Adi tenang, kembali fokus pada coretan spidolnya.
Beberapa mahasiswa tertawa kecil melihat interaksi itu. Ana memutar mata, lalu duduk kembali ke kursinya dengan gerakan yang sedikit dihentak. Maya langsung mencondongkan badan ke arahnya.
"Serius deh, Na. Kenapa sih Pak Adi hobi banget nanya kamu? Kayak nggak ada orang lain di kelas ini," tanya Maya penasaran.
Ana membuka kembali buku catatannya, mencoba meredam detak jantungnya yang sedikit lebih cepat dari biasanya. "Dia emang hobi ngerjain orang. Kamu tahu sendiri kan dia arogan."
Maya masih belum puas. "Tapi kalian kayak... sering saling nyindir gitu. Kayak orang yang udah kenal lama. Santai banget."
"Perasaan kamu aja, May. Aku cuma nggak mau dipermalukan di depan kelas," bantah Ana cepat.
*
Tatapan Satu Detik
Di depan kelas, Adi masih melanjutkan penjelasannya tentang dinamika kekuasaan. Suaranya mengisi ruangan dengan ritme yang stabil. Namun, di tengah-tengah kalimatnya, ia melakukan sesuatu yang hanya disadari oleh seseorang yang sedang memperhatikannya dengan intens.
Ia melirik ke arah barisan tengah. Hanya beberapa detik. Tatapannya jatuh tepat pada Ana yang saat itu sedang pura-pura sangat fokus mencatat setiap kata-katanya.
Ana, yang entah bagaimana memiliki insting yang tajam, langsung mendongak. Dan benar saja—tatapan mereka bertemu lagi. Untuk kesekian kalinya, Adi memberikan senyum tipis yang penuh rahasia itu sebelum kembali menatap papan tulis.
Ana segera memalingkan wajah, wajahnya terasa sedikit panas. "Nyebelin," gumamnya pelan.
Maya yang duduk di sebelahnya mendengar gumaman itu. "Siapa?"
"Gak, bukan siapa-siapa," jawab Ana ketus.
Maya terkekeh pelan, ia melihat perubahan rona di wajah sahabatnya. "Tapi kamu kayaknya nggak terlalu kesel deh sekarang. Biasanya kalau kamu beneran marah, kamu bakal diem seribu bahasa dan mukanya kayak mau makan orang."
Ana membuka mulut untuk membantah, kata-kata penolakan sudah di ujung lidahnya. Namun, ia berhenti. Ia kembali melihat ke arah depan kelas. Adi sedang menjelaskan sesuatu dengan tangan yang bergerak lincah, terlihat sangat cerdas, sangat tenang, dan ya... sangat menarik, dan sesungguhnya itu sangat.... Sexy.
Ana menghela napas, akhirnya ia hanya mendengus dan memilih untuk bungkam. Ia kembali menatap buku catatannya, menyadari satu fakta yang mulai membuatnya curiga pada dirinya sendiri: kelas Psikologi Sosial yang dulu ia anggap sebagai "medan perang" yang menakutkan, perlahan-lahan berubah menjadi agenda yang paling ia tunggu-tunggu setiap minggunya.
Ada sesuatu yang menarik dari cara Adi menyebut namanya, dan ada sesuatu yang lebih menarik lagi dari cara ia menantang pria itu. Rasa kesal itu mulai bertransformasi menjadi sesuatu yang jauh lebih rumit untuk didefinisikan.
dr pertama cerita nya kngsng seru ka
lanjut kak....🤭🙏👍