kisah perjalanan Marsha valerine yang kehadirannya ditolak oleh ibunya, dan saat merencanakan perjalanan ke Eropa bersama keluarga besar, ibunya dengan kejamnya meninggalkan Marsha valerine yang saat itu masih kecil.
Marsha Zaiva Dominic.
Angin malam menyentuh wajahnya, membawa hawa dingin yang tak mampu mengusik ketenangan yang ia bangun selama bertahun-tahun. Ia tidak tahu bahwa nama yang ia bawa sekarang bukanlah miliknya sejak lahir.
Ia hanya tahu—hidupnya dimulai kembali saat ia diadopsi oleh sepasang dokter.
Dokter Erlan Dominic dan Dokter Shafira Hanazawa.
Dari merekalah ia mengenal arti rumah. Bukan tempat yang megah, tapi tempat yang hangat. Bukan sekadar keluarga, tapi orang-orang yang memilih untuk mencintainya tanpa syarat.
Dari mereka pula, Marsha belajar tentang kehidupan tentang merawat, tentang bertahan, dan tentang menjadi seseorang yang berarti bagi orang lain.
Dan dari sanalah… ia memilih jalan yang sama.
Menjadi dokter.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 羽菜, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Kata-kata itu seperti tamparan yang menyadarkan, nafas Marsha tersendat, namun tangannya perlahan menjadi lebih pasti. Ia kembali menekan luka Archio dengan lebih kuat, mencoba menghentikan aliran darah yang semakin deras.
"Archio… dengar aku," bisiknya, lebih tenang meski suaranya masih bergetar. "Kamu tidak boleh tidur sekarang. Lihat aku… kita baru saja bertemu lagi, ingat?"
Jari-jarinya menggenggam tangan Archio yang mulai dingin, sementara itu, paramedis lain mulai menangan Xabiru. "Kami butuh tandu di sini!" teriak salah satu dari mereka.
Andreas berdiri di antara dua putranya, wajahnya hancur oleh rasa takut yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, dunia seolah berhenti dan ia tak tahu harus menyelamatkan siapa lebih dulu.
"Ayah…" suara Xabiru terdengar lemah, namun masih berusaha tersenyum. "Tenang saja… aku belum mau mati… aku masih harus… mengganggu hidupmu lebih lama."
Andreas menutup wajahnya sejenak, bahunya bergetar. "Jangan bicara sembarangan… kalian semua harus selamat. Tidak ada yang boleh pergi lagi… tidak kali ini.”
Dua Ayah, Satu Luka
Andreas sampai di samping mereka, berlutut di tanah yang kini basah oleh darah putra-putranya. Ia merangkul Xabiru dengan satu tangan dan memegang kepala Archio dengan tangan lainnya. Pria perkasa itu hancur. Ia telah menemukan putrinya, namun di saat yang sama, ia nyaris kehilangan kedua putranya karena wanita yang pernah ia cintai
Erlan Dominic berlari keluar membawa tas medis darurat, langsung berlutut di sisi lain Archio. "Marsha, ambilkan tourniquet di tas Daddy! Cepat!"
Dua dokter, ayah angkat dan anak, bekerja dengan sinkronisasi yang luar biasa di tengah kekacauan. Erlan menangani Archio, sementara Marsha dengan tangan yang kini berlumuran darah saudara kandungnya sendiri beralih membantu Xabiru.
Xabiru menatap Marsha, napasnya tersengal. Ia meraih tangan Marsha yang penuh darah. "Maafkan kami... maaf karena terlambat 20 tahun, Sha..."
Marsha menggeleng kuat-kuat, tangisnya pecah sejadi-jadinya. "Jangan bicara lagi, Abang! Diam dan tetaplah hidup! Kalian tidak boleh pergi lagi setelah menemukanku!"
Akhir yang Berdarah
Di bawah lampu jalanan London yang temaram, pemandangan itu begitu menyayat hati. Selena diseret masuk ke mobil polisi, sementara dua ambulans datang dengan raungan sirine yang membelah malam.
Di Jakarta, ia adalah pengusaha hebat. Di mata mafia, ia adalah rekan yang disegani. Namun malam ini, di London, ia hanyalah seorang ayah yang hancur, yang menyadari bahwa harga untuk sebuah kebenaran ternyata dibayar dengan darah anak-anaknya sendiri.
Malam itu, salju London mulai turun perlahan, menutupi noda darah di aspal, seolah mencoba menyucikan dosa masa lalu yang akhirnya tuntas dengan cara yang paling tragis
Dalam ketegangan yang mencekam itu, halaman rumah keluarga Dominic berubah menjadi ruang operasi darurat yang efisien. Ketiganya bergerak dengan sinkronisasi yang luar biasa—sebuah tarian medis yang lahir dari dedikasi bertahun-tahun, mengabaikan fakta bahwa mereka baru saja menghadapi maut.
Bab: Jahitan yang Menyatukan Luka
Marsha menarik napas dalam, memaksakan tangannya yang bergetar untuk menjadi stabil. Di sampingnya, Erlan Dominic bekerja dengan kecepatan seorang ahli bedah senior. Dengan cekatan, Erlan memotong kain baju Archio yang basah oleh darah, sementara Marsha menekan titik perdarahan dengan kasa steril
"Arteri brakialis aman, tapi pelurunya masih bersarang. Kita harus menstabilkan perdarahannya sekarang, Marsha," instruksi Erlan tenang, namun matanya memancarkan kebanggaan melihat putrinya tetap tegar.
Marsha mengangguk cepat. "Siap, Dad. Hemostatic clamp, sekarang!"
Di sisi lain, Shafira bergerak tanpa suara namun pasti. Ia memasangkan kantong infus pada tiang darurat yang dibawa Erlan, lalu dengan tangan yang lembut namun mantap, ia menyuntikkan antibiotik dosis tinggi ke selang infus Archio. "Tekanan darahnya mulai stabil, Archio sayang... tetaplah bersama kami," bisik Shafira, mengusap dahi putra kandung Andreas itu seolah ia adalah putranya sendiri.
Sentuhan Seorang Kakak
Setelah kondisi Archio dinyatakan stabil untuk sementara sebelum dievakuasi ke rumah sakit, Marsha segera berpindah ke sisi Xabiru. Pria itu duduk bersandar di ban mobil, wajahnya pucat namun matanya tidak pernah lepas dari wajah Marsha.
Marsha membuka tas medis, mengeluarkan benang bedah dan jarum. Ia menatap luka robek di pinggang Xabiru.
"Ini akan sedikit perih, Bang," ucap Marsha pelan. Ini adalah pertama kalinya ia memanggil Xabiru dengan sebutan 'Abang'
Xabiru meringis, bukan karena luka di kulitnya, tapi karena haru yang menyesakkan dada. "Lakukan saja, Sha. Luka ini tidak ada apa-apanya dibanding 20 tahun mencarimu."
Marsha mulai menjahit. Setiap tarikan benang yang ia lakukan terasa seperti sedang menjahit kembali kepingan hidupnya yang hilang. Ia bekerja dengan teliti, memastikan setiap jahitan rapi, sementara dua petugas polisi London berdiri di dekat mereka, mencatat pernyataan awal sambil terpesona melihat profesionalisme keluarga ini.
"Ayahmu..." Xabiru berbisik, melirik ke arah Andreas yang berdiri mematung di samping Erlan, menatap kedua dokter itu menyelamatkan nyawa putra-putranya. "Dia tidak pernah berhenti menyebut namamu di setiap doanya, Marsha."
Pertemuan Dua Dunia
Andreas mendekat saat Marsha menyelesaikan jahitan terakhirnya. Pria itu tampak begitu rapuh di bawah lampu jalanan London. Ia menatap Erlan Dominic, lalu menunduk hormat.
"Terima kasih," suara Andreas parau. "Terima kasih telah membesarkannya menjadi wanita sehebat ini. Dan terima kasih telah menyelamatkan putra-putraku."
Erlan menatap Andreas dalam diam beberapa detik, tidak ada kesombongan di wajahnya, hanya ketenangan seorang pria yang memahami arti kehilangan dan kesempatan kedua. "Dia tidak pernah benar-benar hilang dari Anda," jawab Erlan pelan. "Kami hanya menjaganya sampai waktu mengembalikannya."
Andreas mengangkat wajahnya perlahan, matanya berkaca-kaca saat menoleh ke arah Marsha putri yang selama dua puluh tahun hanya ia kenal melalui doa dan penyesalan. Marsha berdiri di sana, dengan tangan yang masih berlumur darah, napas yang belum sepenuhnya stabil, namun sorot matanya begitu kuat.
Untuk pertama kalinya, Andreas melihatnya bukan sebagai anak kecil yang hilang, melainkan sebagai wanita yang telah tumbuh melalui luka.
Erlan berdiri, melepaskan sarung tangan medisnya yang berlumuran darah, lalu menjabat tangan Andreas dengan erat. "Kami hanya melakukan apa yang harus dilakukan seorang orang tua, Mr. Halvard. Marsha adalah napas kami, dan siapa pun yang melindunginya adalah bagian dari keluarga kami juga."
Di tengah aroma antiseptik dan dinginnya malam London, sebuah garis tegas ditarik. Masa lalu yang penuh racun dari Selena telah dibawa pergi oleh mobil polisi, menyisakan puing-puing yang kini sedang dibangun kembali.
Marsha berdiri, menatap dua pasang orang tua di hadapannya dan dua saudara kandungnya yang terluka. Ia menyadari bahwa takdir tidak mengambil keluarganya, takdir hanya menggandakannya.
"Archio harus segera dibawa ke rumah sakit untuk operasi pengangkatan peluru," ucap Marsha pada petugas medis ambulans yang baru sampai. Ia menoleh pada Andreas dan Xabiru. "Dan setelah semua ini selesai... aku ingin mendengar semua cerita tentang masa kecil kita."