NovelToon NovelToon
Siasat Manis Istri Kedua

Siasat Manis Istri Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Konflik etika / Pelakor
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

Update setiap hari

"Di rumah ini, aku adalah madu yang paling manis, namun di dalam nadiku mengalir racun yang paling mematikan."

Gendis hanyalah seorang wanita dengan tutur kata lembut dan senyum yang menenangkan. Tidak ada yang menyangka, di balik wajah polosnya, ia menyimpan dendam membara terhadap Maya—istri pertama dari pengusaha muda sukses, Baskara. Baginya, kebahagiaan yang Maya miliki saat ini dibangun di atas puing-puing kehancuran keluarga Gendis di masa lalu.

Demi menuntaskan dendamnya, Gendis rela menanggalkan harga diri. Ia masuk ke dalam rumah tangga itu sebagai istri kedua, menjadi bayang-bayang yang perlahan-lahan menggerogoti kebahagiaan Maya dari dalam. Dengan siasat yang begitu halus dan manis, Gendis merebut simpati ibu mertua yang kaku, perhatian para pelayan, hingga seluruh ruang di hati Baskara.

Setiap tetes air mata yang jatuh di rumah itu adalah bagian dari simfoni balasan Gendis. Namun, saat rencana besarnya hampir mencapai puncak dan Maya mul

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: TAHTA YANG BERDARAH

Tujuh hari telah berlalu sejak badai di rumah sakit itu mereda, namun sisa-sisanya masih menyisakan puing-puing kehancuran di hati setiap penghuninya. Ibu Rahayu sudah kembali ke rumah, namun wajahnya tak lagi secerah dulu. Ia lebih banyak terdiam, menatap kosong ke arah taman, menyadari bahwa menantu kesayangannya selama bertahun-tahun—Maya—adalah wanita yang tega meracuninya demi sebuah ambisi buta.

Di sisi lain, Baskara bagaikan mayat hidup. Ia mengurung diri di ruang kerja, mengabaikan tumpukan berkas kantor yang semakin menggunung. Setiap kali ia memejamkan mata, ia hanya melihat wajah Gendis—bukan, Larasati—saat wanita itu menatapnya dengan dingin di rumah sakit. Tatapan yang mengatakan bahwa cinta mereka adalah sebuah kesalahan fatal.

Pagi itu, sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti di depan gedung pusat Pratama-Baskara Group. Pintu mobil terbuka, dan seorang wanita melangkah keluar dengan keanggunan yang mengintimidasi. Ia mengenakan setelan power suit berwarna biru navy yang pas di tubuhnya, kacamata hitam yang menutupi matanya, dan rambut yang disanggul modern.

Ia bukan lagi Gendis yang lugu dengan gamis kumalnya. Ia adalah Larasati Hardianto.

Di sampingnya, Aditama sang pengacara berjalan dengan langkah tegap, membawa tas koper berisi dokumen yang akan mengubah sejarah perusahaan ini selamanya.

"Anda siap, Laras?" tanya Aditama pelan.

Larasati menatap gedung pencakar langit itu dengan tatapan tajam. Gedung yang dibangun di atas tanah yang dulunya milik ayahnya. "Aku sudah menunggu sepuluh tahun untuk hari ini, Adit. Langkahku tidak akan goyah sedikit pun."

Mereka melangkah masuk ke lobi. Resepsionis yang biasanya menyapa dengan ramah tampak bingung melihat sosok yang sangat mirip dengan istri kedua bos mereka, namun dengan aura yang jauh berbeda. Larasati tidak berhenti di resepsionis. Ia langsung menuju lift khusus direksi.

Di lantai paling atas, ruang rapat utama sudah penuh dengan para pemegang saham dan jajaran direksi. Mereka sedang membicarakan krisis yang menimpa perusahaan setelah berita perceraian Baskara dan keterlibatan Tuan Pratama dalam skandal lama mulai bocor ke media.

Brak!

Pintu ruang rapat terbuka lebar. Baskara, yang duduk di kursi pimpinan, tersentak. Ia berdiri saat melihat Larasati masuk dengan langkah pasti.

"Gendis? Apa yang kamu lakukan di sini?" suara Baskara bergetar, antara terkejut dan rindu.

Larasati melepas kacamata hitamnya, menaruhnya di atas meja rapat yang panjang dengan denting yang keras. "Namaku Larasati Hardianto, Baskara. Dan aku di sini untuk mengambil kembali kursi yang seharusnya diduduki oleh ayahku sepuluh tahun lalu."

Suasana ruangan seketika riuh. Para pemegang saham saling berbisik panik. Tuan Pratama, ayah Maya yang juga hadir di sana, berdiri dengan wajah merah padam. "Jangan dengarkan dia! Dia hanya wanita gila yang mencoba memeras kita! Keamanan, seret dia keluar!"

"Duduk, Tuan Pratama," suara Aditama menggelegar, membungkam seluruh ruangan. Ia membuka kopernya dan membagikan salinan dokumen audit yang asli kepada setiap orang di sana. "Dokumen ini membuktikan bahwa sepuluh tahun lalu, Tuan Pratama melakukan penggelapan dana sebesar 500 miliar rupiah dan menjebak Tuan Hardianto sebagai kambing hitam. Dan ini..." Aditama mengangkat sebuah sertifikat kepemilikan tanah dan aset asli, "...adalah bukti bahwa akuisisi perusahaan ini oleh keluarga Pratama dilakukan secara ilegal melalui pemalsuan tanda tangan."

Baskara membaca dokumen di depannya dengan tangan yang gemetar hebat. Ia menatap ayah mertuanya dengan rasa tidak percaya. "Papa... jadi semua ini benar? Semua kekayaan yang kita miliki adalah hasil curian?"

Tuan Pratama tidak bisa menjawab. Ia jatuh terduduk di kursinya, napasnya tersengal. Kebohongan yang ia simpan rapat selama satu dekade akhirnya meledak di depan matanya sendiri.

Larasati berjalan mendekati Baskara. Ia berdiri tepat di samping pria yang masih berstatus suaminya itu. "Baskara, aku tidak datang untuk menghancurkanmu secara pribadi. Tapi keadilan harus ditegakkan. Perusahaan ini akan kembali ke tangan keluarga Hardianto. Secara hukum, aku adalah pemegang saham mayoritas tunggal mulai detik ini."

"Laras..." Baskara menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca. "Kenapa kamu tidak mengatakannya padaku sejak awal? Kenapa harus dengan cara seperti ini?"

"Karena jika aku mengatakannya padamu, kamu tidak akan percaya. Kamu terlalu mencintai keluargamu yang busuk itu," jawab Larasati dingin. "Sekarang, aku minta kalian semua meninggalkan ruangan ini. Kecuali Baskara."

Satu per satu direksi keluar dengan wajah pucat, termasuk Tuan Pratama yang digiring oleh petugas keamanan karena Aditama telah melaporkannya ke pihak berwajib atas kasus penipuan lama.

Kini tinggal Larasati dan Baskara di ruangan luas itu. Keheningan yang menyiksa menyelimuti mereka.

"Apa yang akan kamu lakukan sekarang?" tanya Baskara lirih.

Larasati berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke pemandangan kota. "Aku akan membersihkan nama ayahku. Aku akan mengembalikan hak-hak karyawan yang dulu dipecat secara tidak adil. Dan aku akan memastikan Maya dan ayahnya mendapatkan hukuman yang setimpal."

Baskara mendekati Larasati, mencoba menyentuh bahunya, namun Larasati menghindar. "Laras, aku minta maaf. Aku benar-benar tidak tahu apa-apa tentang apa yang dilakukan ayah mertuaku. Aku mencintaimu, Gendis... atau Laras... siapapun namamu, perasaanku padamu itu nyata."

Larasati berbalik, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menetes juga. "Cinta tidak cukup untuk menghapus nisan ayahku yang berdebu karena dihina orang, Baskara! Cinta tidak cukup untuk mengembalikan ibuku yang meninggal karena sakit hati! Kamu adalah bagian dari mereka. Setiap kemewahan yang kamu berikan padaku selama kita menikah, berasal dari darah ayahku."

Baskara tertunduk. Ia merasa sangat kecil di depan wanita yang ia cintai. "Lalu, apakah tidak ada kesempatan bagiku? Apakah pernikahan kita hanya bagian dari siasatmu?"

Larasati terdiam sejenak. Dadanya terasa sesak. "Awalnya, iya. Semuanya adalah siasat. Caraku bicara, cara aku tersenyum, bahkan caraku merawat ibumu. Tapi saat aku mulai melihat ketulusanmu... aku membenci diriku sendiri karena mulai mencintaimu."

Larasati mengambil sebuah map kecil dari tasnya. "Ini adalah surat gugatan cerai dariku. Aku sudah menandatanganinya. Aku tidak bisa hidup dengan pria yang menyandang nama keluarga yang menghancurkan hidupku."

Baskara menerima map itu dengan tangan yang lemas. Air matanya jatuh membasahi kertas putih itu. "Laras... tolong..."

"Selamat tinggal, Baskara. Kembalilah pada ibumu. Rawatlah beliau. Aku akan mengizinkanmu tetap tinggal di rumah itu sampai kamu menemukan tempat baru, karena Ibu Rahayu tidak bersalah dalam hal ini," ucap Larasati sebelum melangkah pergi.

Larasati keluar dari ruangan itu dengan hati yang hancur berkeping-keping. Ia telah memenangkan peperangan, ia telah mendapatkan kembali tahtanya, namun ia kehilangan satu-satunya pria yang berhasil menyentuh hatinya yang beku.

Sementara itu, di sebuah rumah persembunyian yang kumuh, Maya sedang duduk dengan rambut berantakan. Ia melihat berita di televisi tentang penangkapan ayahnya dan pengambilalihan perusahaan oleh Larasati Hardianto.

"Larasati... Gendis..." Maya tertawa histeris, tawa yang terdengar sangat gila. "Kamu pikir kamu sudah menang? Kamu pikir kamu bisa hidup bahagia setelah mengambil suamiku dan hartaku?"

Maya mengambil sebuah korek api dan membakar foto pernikahannya dengan Baskara. Matanya berkilat penuh kegilaan. "Jika aku harus masuk neraka, aku akan memastikan kamu terbakar bersamaku, Larasati. Aku punya kartu as terakhir yang tidak kamu ketahui."

Maya merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah tes kehamilan yang menunjukkan dua garis merah. Ia hamil anak Baskara. Sebuah senjata baru yang akan ia gunakan untuk menghancurkan kebahagiaan Larasati di babak selanjutnya.

"Mari kita lihat, apakah Baskara akan benar-benar menceraikanku saat dia tahu ada darah dagingnya di rahimku," desis Maya jahat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!