NovelToon NovelToon
Unbound By Royalty

Unbound By Royalty

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:260
Nilai: 5
Nama Author: Yuan La

Alin dikirim ke negara asing untuk menjadi tenaga sukarelawan, negara berbentuk monarki. Terlibat percintaan yang dalam dengan sang pangeran. Pangeran yang mencintainya dengan sepenuh hati dan jiwanya. Namun takdir harus memilih antara tahta dan wanita. Disaat sistem monarki menuntutnya meneruskan kerajaannya, namun Alin hanya ingin hidup bebas tanpa terikat norma dan adat dibalik tembok besar. Akankah cinta mereka berakhir bersama atau justru melepaskan satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuan La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 33 : “Kabur”

Di sudut suite hotel yang mewah, Alin tampak tenggelam dalam kesibukan. Panggilan telepon dari Profesor Alan, pembimbingnya, baru saja berakhir, hanya untuk digantikan oleh rentetan pesan dari Zizi dan Ham yang masuk bergantian.

Bahkan di hari liburnya pun, tumpukan tugas sudah mengantre. Rei, yang duduk tak jauh dari sana, menyesap wine-nya dalam diam sembari memperhatikan Alin. Hari ini seharusnya mereka pulang, namun Rei masih enggan mengakhiri waktu mereka. 

Sayangnya, keinginan itu terbentur oleh norma dan adab yang ia junjung tinggi. Jangankan mengajak pergi jauh, untuk sekadar mencium Alin saja, Rei merasa harus meminta izin. Lantas, bagaimana ia bisa mencuri waktu untuk berduaan saja dengan wanita itu?

“Yuchen… Pondok salju di atas tebing itu, apa aku bisa—”

“Kau ingin membawanya ke sana?” sela Yuchen, seolah mampu membaca pikiran tuannya.

“Dia jarang menikmati libur. Aku hanya ingin dia menyukai negaraku,” dalih Rei dengan nada sombong yang dibuat-buat. “Lagi pula, aku jenuh. Seminggu penuh mengurus konflik perbatasan dan pembangunan jalan membuat kepalaku hampir pecah. Istirahat sejenak mungkin akan membuatku lebih tenang.”

Yuchen terdiam. Ia tahu benar belakangan ini emosi sang Pangeran mudah tersulut akibat beban kerja yang masif.

“Kalau begitu, saya akan menyiapkan pengawalan. Kita berangkat sore ini,” putus Yuchen.

“Bagus. Urus semuanya sekarang,” perintah Rei mutlak.

Alin menoleh saat melihat bayangan Yuchen menghilang di balik pintu kamar.

“Ke mana Yuchen? Kita pulang sekarang?” tanya Alin tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya.

“Ada urusan yang harus dia selesaikan. Kau sendiri, apa sudah ingin pulang?” Rei bertanya balik dengan suara lembut.

“Entahlah. Apa urusanmu di sini sudah selesai?”

“Ya, hampir. Kau... bersedia menemaniku sebentar lagi?”

Alin tidak langsung menjawab. Wajahnya menyiratkan kelelahan yang mendalam. “Rei, apa harus aku yang menjadi dokter pribadimu?” tanya Alin, terdengar hampir putus asa.

Rei tertegun. Ini bukan pertama kalinya Alin seolah mencoba menarik diri dari radarnya.

“Kenapa? Ada masalah? Jika soal bayaran, Yuchen bisa bernegosiasi dengan rumah sakit pusatmu. Dia sudah mengirim semua berkas mu ke—“

“Kau tahu—-“ Alin mulai kesal menunjuk-nunjuk ponselnya, hanya Alin yang berani menyela segala perkataan Pangeran Yan. Dan tentu pria itu tidak melarangnya, “Profesor Alan, mengira aku akan mengambil studi ku disini. Dia menyerahkan tumpukan jurnalnya juga rekan-rekan nya pada ku. Ah— Lihat, dia bahkan memakiku karena aku telat merespons!”

“Dia berani memakimu?” Mata Rei berkilat tajam. “Aku akan—”

“Apa? Mau apa?” gertak Alin telak. “Jika kau berani menyentuh orang-orang yang kukenal, aku bersumpah akan menghabisimu.”

Ancaman itu bukannya membuat Rei ciut, malah terlihat menggemaskan di matanya. Tanpa kata, Rei mengambil ponselnya dan mengirimkan sebuah gambar ke ponsel Alin.

BIP.

“Tempat apa ini?” tanya Alin saat membuka pesan tersebut. Seketika, rona matanya berbinar, seolah beban pekerjaan yang baru saja ia keluhkan menguap begitu saja.

“Villa pribadiku,” jawab Rei pelan, menyunggingkan senyum tipis saat menyadari ia berhasil memancing ketertarikan wanita itu.

Rei sengaja menyesap kembali wine-nya, berpura-pura acuh tak acuh meski matanya terus mengamati binar di wajah Alin yang masih terpaku pada layar ponsel.

"Itu pondok kayu di puncak tertinggi tebing Xinglan. Salju di sana tidak pernah mencair sepenuhnya, dan dari balkonnya, kau bisa melihat matahari terbit tepat di atas hamparan awan. Tapi yah..." Rei menghela napas panjang yang terdengar sangat dibuat-buat, "...tempat itu terlalu terpencil. Kau pasti akan bosan karena tidak ada sinyal untuk membalas makian Profesor Alan-mu itu."

Alin mendongak, matanya menyipit. "Tanpa sinyal? Benarkah?"

"Sama sekali tidak ada," bohong Rei dengan wajah datar yang meyakinkan. "Hanya ada perapian, perpustakaan tua, dan ketenangan. Aku berencana ke sana untuk menenangkan pikiran sebelum kembali ke rutinitas istana yang menyesakkan. Tapi kurasa kau lebih suka pulang ke rumah sakit dan berkutat dengan tumpukan jurnal itu, bukan?"

Alin terdiam. Kata "ketenangan" dan "tanpa sinyal" terdengar seperti surga di tengah badai pesan singkat yang membombardirnya. Ia melirik foto villa itu lagi; terlihat sangat hangat, privat, dan jauh dari dunia luar.

"Kau bilang kau butuh pengawalan tadi?" tanya Alin hati-hati.

"Tentu saja. Yuchen dan tim medis istana akan berada di pos bawah tebing. Di atas tebing hanya ada pondok itu. Sangat eksklusif. Tapi lupakan saja, kau pasti lelah," pancing Rei lagi. Ia sengaja berdiri, hendak meletakkan gelasnya seolah pembicaraan itu sudah selesai.

"Tunggu," Alin menahan lengan jas Rei.

Rei berhenti, jantungnya berdegup sedikit lebih kencang, namun ia tetap menjaga ekspresinya tetap dingin dan berwibawa. "Ya?"

"Jika... jika aku ikut, apa kau keberatan?" Alin menggigit bibir bawahnya, merasa sedikit gengsi. "Maksudku, kau butuh dokter pribadi, kan? Kau sendiri yang bilang sedang stres karena urusan perbatasan. Sebagai dokter, aku tidak bisa membiarkan pasienku pergi ke tempat terpencil dalam kondisi mental yang tidak stabil."

Rei menyembunyikan senyum kemenangannya di balik wajah serius. "Kau yakin? Aku tidak memaksamu, Alin. Aku menjunjung tinggi adab; aku tidak ingin orang berpikir aku membawamu lari."

“Kakak mu, maksud ku— Pangeran Lie meminta ku untuk menjaga mu. Jadi izinkan aku untuk ikut dalam perjalanan mu.” Ujarnya mencari alasan.

Rei menatap Alin dalam-dalam, lalu mengangguk perlahan seolah-olah ia sedang memberikan bantuan besar. "Baiklah, jika itu permintaanmu. Aku akan menyuruh Yuchen menyiapkan segalanya. Tapi ingat, di sana hanya ada kita. Jangan menyesal jika kau merasa bosan."

Bosan adalah hal terakhir yang akan terjadi, batin Rei licik. Di dalam kepalanya, ia sudah membayangkan bagaimana ia akan mengunci dunia luar dan hanya membiarkan ada dirinya dan Alin di bawah guyuran salju Xinglan.

...****************...

Diparkiran basement langkah Alin terhenti, tak ada pengawalan disekitar mereka. Ia bahkan tidak melihat Yuchen.

“Kau akan menyetir sendiri?” Ragunya.

“Ada yang salah?”

"Tapi bagaimana dengan Yuchen? Dia akan panik," ujar Alin khawatir.

"Yuchen bekerja untukku, Alin. Tugasku adalah memerintah, dan tugasnya adalah mengerti," sahut Rei dingin namun elegan.

“Lalu dimana para pengawalmu?”

"Aku sudah meninggalkan pesan singkat pada Yuchen bahwa aku ingin berkendara sendiri. Dia tidak akan berani membantah. Mereka akan menyusul kita dibelakang.” Alasan Rei.

“Kalau begitu biarkan aku yang mengemudikannya untuk mu.” Alin bergegas masuk kedalam mobil dan duduk dibelakang kemudi, sontak membuat Rei kaget, “Aku tidak mungkin membiarkan seorang Pangeran agung untuk menyetir sendiri.” Lanjutnya.

Rei tak ingin membuang waktu hanya untuk berdebat. Ia membiarkan Alin yang membawa mobil itu.

Saat mesin mobil menderu halus, Ali mengemudikan kendaraan itu keluar melalui jalur logistik hotel yang tersembunyi, ia tidak tahu jalur itu semata mengikuti arahan Rei. Alin memperhatikan profil wajah Rei dari samping; rahang yang kokoh dan tangan yang stabil di atas kemudi. Tidak ada kepanikan, hanya aura seorang pemimpin yang sedang memutuskan untuk bebas.

"Kau sering melakukan ini?" tanya Alin, merasa adrenalinnya mulai terpacu.

Rei meliriknya sekilas, ujung bibirnya terangkat sedikit. "Hanya saat aku menemukan sesuatu yang cukup berharga untuk tidak dibagi dengan mata dunia. Hari ini, aku tidak ingin menjadi Pangeran bagi Xinglan. Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri.”

Alin menambah kecepatan saat mobil mulai menanjak ke arah tebing bersalju. Di belakang mereka, lampu-lampu kota mulai mengecil, "Kau tahu, Rei..." Alin bersandar di kursinya, merasa beban pekerjaannya benar-benar tertinggal di hotel. "Kau benar-benar pandai memanipulasi keadaan."

Rei tertawa rendah, suara yang terdengar maskulin dan tenang. "Aku menyebutnya 'diplomasi pribadi'. Dan sejauh ini, kau adalah tamu diplomatikku yang paling sulit ditaklukkan."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!