NovelToon NovelToon
Ku Cium Wanita Bercadar Itu

Ku Cium Wanita Bercadar Itu

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Romantis / Tamat
Popularitas:35.7k
Nilai: 4.8
Nama Author: Unchi

menceritakan tentang pengalaman seorang Mustafa yang nekat mencium seorang wanita baik-baik dan bahkan bercadar.

Hingga kebejatannya itu membuatnya harus menikahi sang wanita bercadar.


Baca kisahnya di sini...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unchi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#9

"Sebenarnya jika kamu tidak mau jujur sekarang gak apa-apa Dik. Maaf jika mas terlalu maksa kamu. Habis sholat aku mau ajak kamu jalan-jalan," ucapku. Dan kini pandanganku teralih ke layar laptop. Mau memantau toko lewat cctv.

Azzahra terdiam dan sedikit menunduk. Ku lirik dia, dia masih mengenakan cadarnya meskipun sekarang hanya ada kita berdua. Biarin aja soal ini, aku gak maksa. Karena dia bercadar itulah aku jadi suka padanya.

Masih ku lirik. Ternyata dia juga mengambil laptop dari dalam tasnya. Aku hanya lulusan SMK. Jadi gak ngerti soal perkuliahan.

"Banyak tugas?" tanyaku. Jenuh juga hanya begini-gini aja.

"Sedikit kak," jawabnya lirih.

"Mas!" interupsiku.

"I...iya!" katanya agak gugup.

"Ya udah kamu lanjut aja. Mas mau bantu display sepatu di gudang," ijinku pada istriku.

Ku biarkan Azzahra di ruanganku. Aku coba mengecek stok sepatu sandal yang ada.

"Do, sepatu Carvil yang di atas sisa warna apa aja?" tanyaku pada Edo.

"Bentar ya pak. Edo cek dulu," katanya.

Tak terasa hampir setengah jam aku di gudang. Dan sekarang udah terdengar suara adzan.

"Kalian lanjutkan dulu. Setelah ini aku mau keluar sama istri. Kalian istirahat gantian seperti biasa. Yang cowok kalau mau sholat, aku udah siapin sarung plus sajadahnya," kataku. Ya dulu aku biarin karyawanku sesuka hati. Sekarang aku mau insyaf. Sedikit mengingatkan rasanya juga tak masalah.

"Iya Pak."

Saat aku masuk ke ruangan, rupanya Azzahra udah bersiap untuk sholat.

"Mas mau jamaah?" tanyanya.

Ku tatap dia tanpa mengenakan cadar. Putih, mulus, bersih dan berseri. Sungguh indah ciptaan Allah yang satu ini.

"Ehm, apa tadi? Mas?" ledekku sambil melontarkan senyum menggoda.

Dia juga tersenyum tipis. Sepertinya kalau dilihat dari wajahnya yang memerah, dia agak malu.

"Kalau mau senyum gak usah ditahan?" ledekku lagi.

"Udah mas, wudhu sana!" Dia menunduk menahan malu. Ih, gemesnya. Rasanya ingin ku cubit pipinya itu.

Alhamdulillah, sedikit ada kemajuan hubungan kita berdua. Tinggal kejujuran Azzahra aja. Tapi gak apa-apa, pelan-pelan. Ku harap suatu saat dia bisa terbuka.

***

Di tempat yang berbeda.

"May, lu kenapa sih harus keluar dari toko sepatu itu?" Itu adalah Sinta teman Maya kerja di warung makan.

"Adalah Sin. Emosi ngene iki rasane (emosi rasanya kayak gini)," ucap Maya dengan kesal.

"Lho, lha nyapo? Bosmu kereng ta? Jaremu bose sek enom, penak, tegas yok an. Timbang nek kene. Kuesel, gak iso leren! (Lho, kenapa? Bosmu galak ya? Katanya bosnya masih muda, enak, tegas juga. Daripada di sini. Capek, gak bisa istirahat)," keluh teman Maya.

"Ya ku pikir pak Mustafa gak akan berbuat kayak gitu ke cewek. Soale pas ndek toko kayak gak tertarik sama cewek. Tau-tau wes dilabrak ae. Sesok e rabi (nikah). Sopo seng gak patah hati?" ungkap Maya. Ya, alasan kuat Maya keluar dari toko karena dia menyukai Mustafa.

"Parah emang kamu May. Tapi sabar ae, namanya ora jodoh. Dibuat piye ae yo panggah gak jodoh." Sinta mengakhiri percakapan mereka dan melanjutkan kerja.

***

Usai sholat dhuhur berjamaah. Sesuai dengan janjiku tadi. Aku langsung mengajak Azzahra ke suatu tempat. Ini adalah sebuah alun-alun kota. Yang sangat ramai dengan pengunjung dan juga para pedagang kaki lima.

"Kamu mau beli apa Dik? Es jeruk, es kelapa atau jus?" tanyaku. Ya sebagai orang biasa, hiburannya ya seperti ini. Jika Azzahra gak biasa ke sini, mungkin suatu saat dia akan terbiasa. Liburan gak harus mewah dan buang-buang duit. Yang penting seneng aja.

"Samain aja Mas," ucapnya setengah malu-malu. Dia malu-malu, malah aku yang senyum-senyum.

"Oke. Yuk kita ke sana!" ajakku. Takkan aku biarkan dia menungguku. Jadi kalau bisa barengan, ya barengan aja kemanapun kita pergi.

"Mau pentol? Bakso? Jagung bakar?" tanyaku.

Dia menggeleng. Mungkin kesulitan makan jika bercadar.

"Ya udah, nanti mas bungkusin aja ya. Sekalian buat adik Sulaiman. Biasanya dia suka apa ya? Mi gacoan, mixue atau apa gitu?" tanyaku pada Azzahra. Kali aja pentol gak mau.

"Mas mau beliin Sule?" Azzahra terlihat sumringah.

"Iya dong. Adikmu berarti adikku juga. Lagian aku gak punya adik, jadi rasanya seneng banget bisa punya adik," ucapku sambil senyam-senyum memandang tulisan jus buah.

Usai beli minuman tadi, Azzahra jadi terdiam. Entah apa yang terjadi?

"Adik gak suka tempat ini?" tanyaku memastikan.

Dia menggeleng.

"Terus kenapa? Kok dari tadi kamu diam aja?" Fiuh, padahal aku udah mengesampingkan egoku. Apa emang kayak gini ya nikah sama anak kecil itu? Rasanya gak dimanja, tapi ngemanja dan terus coba mengerti. Aku harus kuat pokoknya.

"Sebenarnya aku udah lama gak pernah main ke sini Mas," ceritanya kemudian.

"Oh ya, terus kemana?" tanyaku penasaran.

"Dari SD aku udah mondok. Jadi gak pernah jalan-jalan. Ditambah lagi... Abi dan umi sibuk ke pengajian. Hanya Sule yang gak mau dipondokin pas SD."

Oh jadi begitu ceritanya. Kasihan juga ya.

"Tapi kan bagus Dik. Mulai sekarang kamu bisa ajarin mas. Mas gak pernah mondok soalnya, hehe." Aku cengengesan sambil garuk-garuk kepala.

Dia menatapku sekilas lalu dia menunduk lagi. Kenapa ya? Apa wajahku sangat jelek jadi dia gak mau memandangku. Ah masa sih? Perasaan aku rajin perawatan muka. Ya minimal cuci muka sama ke salon sesekali.

"Kalau itu bisa pelan-pelan mas," ucapnya sambil menunduk.

"Oh ya Dik. Kapan kamu bisa ikut pindah ke rumah mas? Bukan apa-apa, cuma rumah mas sekarang kosong," ucapku memastikan. Setidaknya aku juga butuh kepastian.

"Em, boleh gak Azzah berpikir beberapa hari lagi. Bukannya Azzah gak mau, tapi Azzah belum siap!" Azzahra terdiam tanpa melanjutkan kata-katanya.

"Lalu kenapa? Mas gak maksa. Cuma mas butuh kepastian aja." Aku menatap lurus ke depan. Banyak anak-anak kecil berlarian kesana-kemari. Rasanya aku juga pengen cepat-cepat punya anak. Tapi Azzahra? Apakah dia mau?

Ku tarik nafas panjang. Lalu ku tatap matanya secara intens meskipun matanya terfokus pada minuman cup yang ia pegang.

Melihat Azzahra yang masih muda. Masih kuliah, apakah mungkin dia mau cepat hamil? Nyentuh aja belum, gimana caraku buat hamilin dia?

Tiba-tiba HP Azzahra berbunyi. Ku lihat dia dan dia balik menatapku.

"Abi," ucapnya. Dan aku mengangguk.

Bahkan saat kita sudah menikah pun, abinya masih khawatir soal Azzahra. Jadi benar-benar aku ini serba salah.

"Iya Abi, bentar lagi Azzahra pulang," ucapnya dan kemudian diakhiri dengan salam.

"Mau pulang sekarang?" tanyaku memastikan. Dan dia mengangguk.

"Baiklah. Kita belikan mereka apa?" tanyaku lagi.

"Bisa gak mm-mas kalau martabak manis dan martabak telur," ucapnya setengah malu-malu.

Aku tersenyum tipis. "Ya tentu boleh dong? Yuk!" ajakku. Meski hatiku kurang nyaman, tapi aku berusaha untuk santai. Biar Azzahra tidak merasa tertekan. Setidaknya ini suatu kemajuan bagi hubungan kami berdua.

Bersambung...

1
Arul Faiz
penasaran sama wajah azzahranya🤣
Sena
lanjut
cut Meutia
awas aja klo mustafa lengah
cut Meutia
lah diterima
Nana
next
Putri💗
lama gak up thor
cut Meutia
jangan mau maya, bisa2 ngrusak rt mu nanti
Juniya Ar
up
✰͜͡w⃠JENINA༄㉿ᶻ⋆
next
✰͜͡w⃠JENINA༄㉿ᶻ⋆
thor, lanjut jangan lama
Nana
bagus
Juwitha Arianty Ibrahim
ini kapan lagi up thor
cut Meutia
bagus thor
Juwitha Arianty Ibrahim
bagus crita nya update lagi domg thor
💜Balqish H😻
😍penasaran
Bella༄㉿ᶻ⋆
sabar ya mus🤭
💜Balqish H😻
next
💜Balqish H😻
gantengnya ma xioyu
Jack
next
Mia Ijaya
ya allah bneran ini tamat????????
Jack: belum
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!