Spion Off "Tuan Muda Amnesia"
Di hari yang seharusnya menjadi momen terindah, kabar buruk menyergap kediaman Alexander. Calon mempelai putra sulung mereka menghilang, tanpa jejak, tanpa pesan.
Namun, upacara tetap disiapkan, tamu tetap berdatangan, akan tetapi kursi di samping Liam Alexander kosong. Liam bersikeras menunggu, meski semua orang mendesaknya untuk menerima kenyataan.
Semakin lama Liam bertahan, semakin jelas bahwa ada sesuatu yang tak beres, dan hilangnya calon istrinya bukanlah kejadian kebetulan
Follow instagram @Tantye untuk informasi seputar novel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benarkah Leon?
Langkah Liam berhenti setelah memasuki lingkungan rumah orang tuanya. Dia mengira semua orang telah sibuk dengan kegiatan masing-masing. Ternyata ia salah saat menemukan adik laki-lakinya berdiri di depan pintu utama.
"Mas dari mana?" tanya Leon.
"Rumah om Rocky."
"Memangnya mas mampu membunuh aku?"
"Maksud kamu?" Kening Liam mengerut. Dia merasa aneh dengan pertanyaan adiknya secara tiba-tiba.
"Aku bercanda." Leon tertawa dan meninggalkan Liam yang masih saja bingung.
Setelah mencerna ucapan adiknya, Liam menyusul hingga di kamar. "H-1 pernikahan mas kamu nggak ada di rumah. Kemana kamu pergi Leon?"
"Menghabiskan waktu bersama teman-temanku. Jangan bilang mas menuduhku."
"Mas nggak menuduh, mas hanya bertanya kemana dan dengan siapa kamu pergi hari itu!" Nada suara Liam naik satu oktaf.
Apa salahnya jika sang adik memberitahukan kemana dan dengan siapa dia pergi jika memang tidak melakukan kesalahan?
"H-2 pernikahan saat malam harinya kamu kemana? Apa kamu menemui Arumi?" Liam masih mencecar adiknya dengan pertanyaan memojokkan.
"Kamu yang membunuh Arumi?"
"Mas!" bentak seorang pria dengan suara beratnya, terlebih Liam sudah menarik kerah baju sang adik.
"Apa-apaan pertanyaanmu itu?" Cakra menarik tangan Liam agar segera terlepas dari leher baju Leon.
"Aku hanya bertanya Pa, apa salahnya?"
"Apa kamu sudah gila sampai menuduh adikmu sendiri? Memangnya motif apa yang Leon punya untuk melenyapkan Arumi!"
"Ya mas sudah gila karena ditinggal Arumi. Apa Papa puas!" balas Liam membentak dan menjauhi adik dan papanya.
Pria itu masuk ke kamar, mengambil ponsel, dompet dan kunci mobilnya. Keputusannya untuk pulang kerumah sepertinya tidak tepat.
"Loh mas mau kemana? Kok mukanya merah banget?" tanya Liora menarik tangan putranya.
"Mas mau pulang."
"Tapi Mas ...."
"Apa mas terlihat gila, Ma?" tanya Liam pada mamanya dan dijawab gelengan.
"Siapa bilang mas gila? Mas hanya butuh dukungan saja saat ini. Maka dari itu mas tetaplah tinggal bersama mama dan papa."
"Mas nggak bisa."
Liam tidak lagi mengidahkan panggilan mamanya, ia terlalu kecewa pada respon sang papa yang memojokkan dirinya. Tidaklah Cakra seharusnya menengahi dan bertanya pada mereka berdua sebelum membela?
....
Liam kembali pada rumah barunya, ditemani sepi tanpa dukungan dari siapapun untuk mengungkap dalang dibalik kecelakaan sang kekasih.
Ia mendaratkan tubuhnya para ranjang empuk, memejamkan mata untuk meredakan emosinya sendiri.
Tidak lama sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman ketika merasakan elusan di kepalanya yang terasa menenangkan. Ia membuka mata dan mendapati Aruminya duduk di bibir ranjang dan tersenyum padanya.
"Arumi?"
"Jangan bersedih mas, aku selalu ada untukmu."
"Arumi."
"Aku ada di sini mas, nggak perlu terus memanggil."
"Arumi."
Napas Liam memburu pada panggilan terakhir, ia terbangun dan mendapati kamarnya kosong. Apakah tadi ia sedang bermimpi? Tapi kenapa rasanya seperti kenyataan.
Pria itu mengusap wajahnya kasar, sungguh sulit baginya keluar dari bayang-bayang kekasihnya. Ia keluar kamar dan mendapati Seaven berada di dapur sedang menyiapkan sesuatu
"Ven?"
"Aku dengar kamu bertengkar dengan om Cakra, jadinya aku mampir. Takut kamu malah menyusul Arumi," ujar Seaven sembari meletakkan makanan yang baru saja dia pindahkan dari box.
"Bertengkar karena apa?" tanya Seaven duduk di hadapan Liam yang langsung mengambil ayal goreng di piring.
"Aku menuduh Leon membunuh Arumi."
"Kamu gila?"
"Reaksimu sama persis dengan papa,"
"Sorry-sorry aku hanya terkejut kamu menuduh adikmu sendiri. Memangnya atas dasar apa?"
"Dia bertanya apa aku mampu membunuhnya. Di sanalah muncul kecurigaanku, apalagi dia nggak ada di rumah setiap waktu yang aku curigai."
"Memangnya waktu apa yang kamu curigai?"
"Sudahlah, aku malas membahasnya."
Liam kembali fokus menyantap ayam goreng yang dibawa oleh Seaven. Sebenarnya bukan menikmati tetapi memenuhi rasa laparnya.
Sejak Arumi pergi rasanya ia tidak pernah menikmati hidupnya lagi. Dia berkorban banyak hal untuk hidup bersama Arumi, tetapi ketika akan mengapainya kekasihnya malah pergi jauh.
Mengorbankan waktu bersama adik-adik dan orang tuanya saat memasuki bangku SMP. Mengorbankan masa anak-anaknya dan fokus belajar agar bisa seperti keinginan sang papa biar apa yang dia mau dituruti.
"Om Rocky menutup kasus Arumi begitu saja," ucap Liam tiba-tiba. "Tapi aku nggak akan menyerah Ven. Lagi pula aku nggak berniat menempuh jalur hukum untuk kematian Arumi. Aku akan balas dendam dengan caraku," ujarnya penuh keyakinan.
"Jangan terlalu obsesi apalagi mencurigai keluarga sendiri. Takutnya kamu menyesal di kemudian hari."
"Hm," gumam Liam.
Tidak ada pembicaraan lagi antara Seaven dan Liam. Sampai akhirnya Seaven pulang ke rumahnya menyisakan Liam berteman dengan kesepian.
Pria itu mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang yang mungkin bisa membantunya.
"Apa kamu bisa membantu saya mendapatkan rekamanan cctv di tkp sehari sebelum kecelakaan?"
"Saya tidak yakin Tuan muda, tapi saya akan berusaha jika ...."
"Berapapun akan saya berikan."
"Siap, bisa."
Liam menghela napas panjang setelah panggilan telepon terputus. Kembali ke dapur untuk mengambil sebotol wine dan membawanya ke pinggir kolam.
Dia menuangkan wine tersebut pada dua gelas kosong.
"Hari ini sangat melelahkan Sayang, bahkan papa pun nggak percaya padaku," ucapnya seolah Arumi di sampingnya.
"Bagaimana jika benar adikku adalah pembunuhnya? Apa aku sanggup menghukum seperti sumpahku?"
"Arumi kalau benar Leon, apa motifnya?"
Liam terus bicara sembari menyesap wine sampai tidak terasa satu botol telah habis untuknya sendiri. Pria itu berdiri dan tidak sengaja menyenggol gelas hingga gelas berisi wine yang dia khususkan untuk Arumi terjatuh di kelantai.
"Maaf Sayang, aku nggak sengaja menumpahkannya." Liam berlutut dan memungut pecahan kaca itu dengan sisa kesadarannya. "Apa pecahannya melukai kakimu?"
"Pasti pecahannya melukaimu kan, buktinya kamu menangis," lirih Liam. Ia berdiri untuk menghapus air mata di pipi wanita itu.
"Sadarlah mas, sampai kapan mas akan seperti ini," lirih Liora yang langsung memeluk putranya.
Wanita paruh baya itu datang ke rumah putranya setelah tahu penyebab Liam pergi dalam keadaan marah tadi.
"Mama."
"Iya ini mama mas. Besok ikut mama kerumah sakit ya. Mas sepertinya butuh teman untuk bicara."
"Mas hanya butuh Arumi ma."
"Iya mama tahu." Liora mengangguk dan air matanya tidak pernah berhenti mengalir, padahal orang yang ia tangisi sama sekali tidak menitikkan air mata selama ini.
"Mama bagaimana jika benar yang membunuh Arumi adalah Leon?"
"Jernihkan pikiran mas dan kita pikirkan baik-baik solusinya."
Liam mengangguk masih memeluk mamanya, tidak lama pria 27 tahun itu terlelap dengan posisi berdiri. Sudah biasa bagi Liam jika mabuk akan tidur dalam posisi apapun.
Menyadari hal itu, Liora pun memanggil Cakra agar membawa putra mereka ke kamar. Yap, Cakra datang untuk memintamaaf pada putranya atas insiden tadi siang.
....
jijik